Founderplus
Tentang Kami
Leadership & Team

Apa itu OKR? Framework Goal-Setting yang Dipakai Google hingga Startup Indonesia

Published on: Sunday, Mar 22, 2026 By Tim Founderplus

Apa itu OKR? Framework Goal-Setting yang Dipakai Google hingga Startup Indonesia

Anda pasti pernah mengalami ini. Awal kuartal, semua bersemangat. Target dipasang, rencana dibuat, tim sepakat. Tiga bulan kemudian, semua orang sibuk, tapi target masih jauh. Yang paling menyebalkan: tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa.

Masalahnya biasanya bukan di kerja kerasnya. Masalahnya di cara menetapkan dan melacak target itu sendiri. Di sinilah OKR masuk sebagai solusi yang sudah terbukti, dari perusahaan sebesar Google sampai startup 5 orang di Jakarta.

OKR: Singkatan dari Objectives and Key Results

OKR adalah framework goal-setting yang terdiri dari dua komponen sederhana:

Objective adalah tujuan yang ingin Anda capai. Sifatnya kualitatif, jelas arahnya, dan idealnya membuat tim termotivasi. Objective menjawab pertanyaan: "Apa yang ingin kita capai?"

Key Results adalah ukuran kuantitatif yang membuktikan Objective tercapai. Key Results harus spesifik, bisa diukur, dan punya batas waktu. Key Results menjawab pertanyaan: "Bagaimana kita tahu sudah berhasil?"

Satu Objective biasanya punya 2-4 Key Results. Tidak lebih. Kalau lebih dari itu, fokus Anda sudah terpecah.

Dari Mana OKR Berasal?

Konsep OKR pertama kali dikembangkan oleh Andy Grove, CEO legendaris Intel, pada era 1970-an. Grove mengembangkannya dari konsep Management by Objectives (MBO) milik Peter Drucker, tapi dengan sentuhan yang lebih praktis dan terukur.

OKR kemudian menjadi terkenal secara global setelah John Doerr membawanya ke Google pada 1999, ketika Google masih startup kecil dengan sekitar 40 karyawan. Hasilnya? Google menggunakan OKR hingga hari ini, dengan lebih dari 180.000 karyawan. Framework yang sama juga diadopsi oleh LinkedIn, Spotify, Twitter, dan ratusan startup di seluruh dunia.

Pesan pentingnya: OKR bukan hanya untuk perusahaan besar. Framework ini justru lahir di lingkungan yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, persis seperti kondisi startup dan UKM di Indonesia hari ini.

Kenapa OKR Relevan Sekarang?

Ada tiga alasan mengapa semakin banyak startup dan UKM yang mengadopsi OKR, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

Pertama, kebutuhan alignment di tim yang tersebar. Dengan semakin lazimnya remote work dan hybrid work, Anda tidak bisa lagi mengandalkan "ngobrol di pantry" untuk memastikan semua orang bergerak ke arah yang sama. OKR memberikan kerangka yang jelas sehingga setiap anggota tim tahu apa prioritas utama, meskipun mereka bekerja dari lokasi berbeda.

Kedua, fokus. Startup punya seribu hal yang bisa dikerjakan, tapi sumber daya terbatas. OKR memaksa Anda memilih: apa 2-3 hal terpenting kuartal ini? Dengan batasan ini, tim berhenti "sibuk mengerjakan segalanya" dan mulai "produktif mengerjakan yang paling berdampak."

Ketiga, transparansi dan akuntabilitas. OKR biasanya bersifat terbuka, semua orang di organisasi bisa melihat OKR tim lain. Ini menciptakan rasa tanggung jawab yang natural. Ketika progress Anda terlihat oleh semua orang, Anda akan lebih serius mengejarnya.

OKR vs KPI: Apa Bedanya?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Singkatnya:

OKR KPI
Fungsi Mendorong perubahan dan pertumbuhan Menjaga kesehatan operasional
Sifat Ambisius, stretch target Realistis, harus tercapai
Siklus Kuartalan Ongoing, biasanya bulanan
Contoh "Tingkatkan close rate dari 10% ke 25%" "Revenue bulanan Rp 500 juta"

KPI menjaga apa yang sudah berjalan. OKR mendorong perubahan ke arah baru. Bisnis Anda butuh keduanya.

Untuk pembahasan lebih dalam, baca OKR vs KPI: Apa Bedanya dan Kapan Pakai yang Mana.

Struktur OKR: Bagaimana Bentuknya?

Berikut format standar OKR yang bisa langsung Anda gunakan:

Objective: [Tujuan kualitatif yang jelas dan memotivasi]

  • KR1: [Ukuran kuantitatif pertama]
  • KR2: [Ukuran kuantitatif kedua]
  • KR3: [Ukuran kuantitatif ketiga]

Beberapa prinsip penting dalam menyusun OKR:

  • Objective harus inspiring, bukan teknis. "Menjadi brand pilihan utama untuk UMKM di Jabodetabek" lebih memotivasi daripada "Naikkan market share 5%."
  • Key Results harus bisa diverifikasi. Kalau tidak bisa dijawab dengan angka, itu bukan Key Result. "Meningkatkan kualitas layanan" itu bukan Key Result. "NPS score naik dari 30 ke 50" itu Key Result.
  • Batasi jumlahnya. Menurut best practice dari Asana, idealnya 3-5 Objective per kuartal dengan 2-4 Key Results per Objective. Untuk startup dan UKM, mulai dari 1-2 Objective saja sudah cukup.

Contoh OKR Sederhana untuk Startup dan UKM Indonesia

Berikut contoh yang relevan untuk konteks bisnis di Indonesia.

Contoh 1: Startup SaaS Tahap Awal

Objective: Buktikan bahwa produk kita benar-benar dibutuhkan pasar.

  • KR1: Dapatkan 100 pengguna aktif mingguan di akhir Q1
  • KR2: Capai NPS score 40 atau lebih dari survei pengguna
  • KR3: 30% pengguna trial melakukan upgrade ke paket berbayar

Contoh 2: UKM F&B dengan 3 Cabang

Objective: Bangun sistem penjualan yang tidak bergantung pada owner.

  • KR1: Close rate tim sales naik dari 10% ke 20% tanpa owner terlibat langsung
  • KR2: Rata-rata waktu follow-up lead turun dari 48 jam ke 12 jam
  • KR3: Revenue dari repeat customer naik 25% dibanding kuartal sebelumnya

Contoh 3: Tim Marketing Startup

Objective: Jadikan konten sebagai mesin utama akuisisi pelanggan.

  • KR1: Traffic organik naik dari 5.000 ke 15.000 sessions per bulan
  • KR2: Konversi dari blog ke sign-up naik dari 1% ke 3%
  • KR3: Publish 12 artikel berkualitas tinggi yang masing-masing mendapat minimal 500 views

Butuh lebih banyak contoh untuk tim spesifik? Cek contoh OKR marketing dan contoh OKR sales.

Tiga Kesalahan Umum Saat Menerapkan OKR

Berdasarkan pengalaman mendampingi startup dan UKM, ada tiga kesalahan yang paling sering terjadi.

1. Menulis Key Results yang Sebenarnya adalah To-Do List

"Launch fitur X" atau "Kirim 500 email" itu bukan Key Results. Itu aktivitas. Key Results yang benar mengukur dampak dari aktivitas tersebut. Bukan "kirim 500 email," tapi "email open rate naik dari 20% ke 35%."

Cara cek gampang: kalau Key Result Anda bisa di-checklist sekali lalu selesai, itu to-do, bukan Key Result.

2. Terlalu Banyak Objective

Banyak tim yang antusias dan langsung membuat 5-7 Objective per kuartal. Hasilnya? Tidak ada satu pun yang benar-benar tercapai. OKR bukan tempat menampung semua keinginan. OKR adalah alat untuk memilih prioritas. Menurut panduan dari Mooncamp, batasi 3-5 Objective di level perusahaan, dan untuk startup tahap awal, 1-3 saja sudah ideal.

3. Set and Forget

OKR bukan dokumen yang dibuat di awal kuartal lalu dilupakan. Tanpa weekly check-in untuk mengecek progress Key Results, OKR hanya menjadi pajangan. Jadwalkan 15 menit setiap minggu untuk review singkat. Sederhana saja: apa yang bergerak, apa yang stuck, dan apa yang perlu diubah.

Ingin tahu cara melakukan review yang efektif? Baca panduan cara review OKR kuartalan.

Mulai dari yang Sederhana

OKR bukan framework yang harus sempurna dari hari pertama. Cycle pertama biasanya berantakan, dan itu normal. Yang penting adalah mulai, review, dan perbaiki di kuartal berikutnya.

Kalau Anda baru pertama kali mencoba, mulai dari sini:

  1. Tentukan 1 Objective yang paling penting untuk kuartal ini.
  2. Tuliskan 2-3 Key Results yang bisa diukur dengan angka.
  3. Check-in setiap minggu, cukup 15 menit.
  4. Di akhir kuartal, evaluasi: apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa yang perlu berubah.

Sesederhana itu. Tidak perlu software mahal. Spreadsheet sudah cukup untuk memulai.


Mau implementasi OKR di tim Anda? Baca panduan lengkapnya di OKR untuk UKM: Panduan Lengkap atau cek program BOS di bos.founderplus.id.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang