Kamu sudah paham konsep OKR. Objective di atas, key result di bawah, review setiap minggu. Teorinya masuk akal. Tapi begitu duduk di depan spreadsheet untuk menyusun OKR tim marketing, layar tetap kosong.
"Meningkatkan brand awareness" -- itu objective atau key result? "Posting 20 konten per bulan" -- itu key result atau task list? Dan bagaimana caranya OKR marketing tim kecilmu nyambung dengan target revenue perusahaan?
Kalau kamu pernah stuck di titik ini, kamu tidak sendirian. Banyak founder dan marketing lead startup yang paham framework OKR secara teori, tapi kesulitan menerjemahkannya ke konteks marketing yang konkret. Artikel ini memberikan contoh OKR marketing yang bisa langsung kamu adaptasi, lengkap dengan template per fungsi marketing dan panduan menghindari kesalahan umum.
Sebelum masuk ke contoh-contoh spesifik, pastikan kamu sudah memahami dasar-dasar OKR. Jika belum, baca dulu panduan lengkap OKR untuk startup: dari goal setting ke eksekusi sebagai fondasi.
Prinsip Menyusun OKR Marketing yang Efektif
Sebelum langsung ke template, ada beberapa prinsip yang perlu kamu pegang saat menulis OKR marketing.
Objective Harus Menggambarkan Dampak, Bukan Aktivitas
Objective marketing yang baik menjawab pertanyaan: "Apa yang berubah di bisnis kita jika marketing berhasil kuartal ini?" Bukan "Apa yang akan dikerjakan tim marketing kuartal ini?"
"Meningkatkan kehadiran di social media" bukan objective yang baik. Itu deskripsi aktivitas. "Menjadikan brand kita sebagai referensi utama UMKM Jabodetabek untuk topik manajemen bisnis" -- ini objective. Ada dampak yang jelas, ada konteks siapa yang terpengaruh, dan ada standar kesuksesan yang bisa dirasakan.
Key Result Mengukur Hasil, Bukan Output
Ini kesalahan paling sering di OKR marketing: menulis key result berupa output. "Mempublikasikan 30 artikel blog" adalah output. "Meningkatkan traffic blog dari 5.000 ke 15.000 sessions per bulan" adalah outcome. Yang pertama mengukur kesibukan, yang kedua mengukur dampak.
Pastikan setiap key result ditulis dalam format "dari X ke Y" sehingga progress-nya bisa di-track secara objektif. Ini membutuhkan baseline data, jadi sebelum menyusun OKR, kumpulkan dulu angka-angka existing dari analytics dan CRM kamu.
Align dengan OKR Perusahaan
OKR marketing tidak berdiri sendiri. Setiap objective marketing harus bisa di-trace ke objective perusahaan. Jika OKR perusahaan kuartal ini adalah "Mencapai revenue Rp200 juta per bulan dari channel online," maka OKR marketing harus berkontribusi langsung ke sana -- misalnya melalui peningkatan leads, conversion rate, atau traffic berkualitas.
Tanpa alignment ini, tim marketing bisa saja mencapai semua OKR-nya tapi tidak menggerakkan jarum bisnis sama sekali. Vanity metrics terpenuhi, tapi revenue tetap stagnan. Untuk lebih memahami perbedaan metrik yang benar-benar penting versus yang sekadar terlihat bagus, baca panduan tentang north star metric.
Contoh OKR Marketing per Fungsi: Template Siap Adaptasi
Berikut adalah contoh OKR marketing yang sudah disesuaikan untuk konteks startup Indonesia. Setiap contoh mencakup satu objective dan tiga key result. Gunakan ini sebagai starting point, lalu sesuaikan angka dan konteksnya dengan kondisi bisnis kamu.
1. OKR Content Marketing
Objective: Menjadikan blog sebagai mesin akuisisi organik yang konsisten menghasilkan leads.
- KR1: Meningkatkan traffic blog dari 5.000 ke 15.000 sessions per bulan
- KR2: Meningkatkan conversion rate blog visitor ke email subscriber dari 1,5% ke 4%
- KR3: Menghasilkan 50 Marketing Qualified Leads (MQL) per bulan dari konten blog
Mengapa contoh ini efektif: objective-nya fokus pada dampak bisnis (leads), bukan aktivitas (jumlah artikel). Key result-nya punya baseline yang jelas dan mengukur tiga hal berbeda -- volume traffic, efisiensi konversi, dan output bisnis.
2. OKR SEO
Objective: Mendominasi halaman pertama Google untuk keyword yang paling relevan dengan target customer.
- KR1: Meningkatkan jumlah keyword di posisi 1-10 Google dari 15 ke 60 keyword
- KR2: Meningkatkan traffic organik dari 3.000 ke 10.000 sessions per bulan
- KR3: Mencapai Domain Authority dari 20 ke 35
Catatan penting: SEO adalah permainan jangka panjang. OKR SEO sering butuh 2-3 kuartal berturut-turut untuk menunjukkan hasil signifikan. Jangan panik jika progress di kuartal pertama terasa lambat. Yang penting adalah tren-nya bergerak ke arah yang benar.
3. OKR Social Media
Objective: Membangun komunitas aktif di social media yang menjadi sumber trust dan referral.
- KR1: Meningkatkan engagement rate Instagram dari 2% ke 5%
- KR2: Meningkatkan traffic dari social media ke website dari 800 ke 3.000 visits per bulan
- KR3: Menghasilkan 20 user-generated content atau testimoni organik per bulan
Perhatikan: key result-nya bukan tentang jumlah followers. Followers adalah vanity metric. Yang lebih penting adalah engagement (apakah orang benar-benar berinteraksi dengan kontenmu) dan traffic (apakah social media benar-benar mengirim orang ke website-mu).
4. OKR Paid Ads / Performance Marketing
Objective: Menemukan channel iklan berbayar yang profitable dan scalable.
- KR1: Menurunkan Cost per Lead (CPL) dari Rp75.000 ke Rp40.000
- KR2: Meningkatkan Return on Ad Spend (ROAS) dari 2x ke 4x
- KR3: Meningkatkan volume leads dari paid channel dari 100 ke 300 per bulan dengan tetap mempertahankan CPL target
Di sinilah data menjadi sangat krusial. Tanpa tracking yang benar -- UTM parameter, conversion tracking, attribution model -- kamu tidak akan bisa mengukur key result ini secara akurat. Pastikan infrastruktur analytics-mu sudah siap sebelum menyusun OKR paid ads.
5. OKR Email Marketing
Objective: Mengubah email list menjadi channel nurturing yang secara konsisten menghasilkan konversi.
- KR1: Meningkatkan email open rate dari 18% ke 30%
- KR2: Meningkatkan click-through rate email dari 2% ke 6%
- KR3: Menghasilkan 30 konversi (trial atau pembelian) per bulan dari email campaign
Email marketing sering diabaikan oleh startup, padahal ini salah satu channel dengan ROI tertinggi. Jika kamu sudah punya email list, OKR ini membantu memaksimalkan aset yang sudah ada.
6. OKR Brand Awareness
Objective: Membangun brand recognition yang kuat di segmen target sehingga menjadi top-of-mind.
- KR1: Meningkatkan branded search volume dari 200 ke 800 pencarian per bulan
- KR2: Mendapatkan 5 media mention atau kolaborasi dengan komunitas bisnis per kuartal
- KR3: Meningkatkan direct traffic ke website dari 1.000 ke 3.500 visits per bulan
Brand awareness memang sulit diukur, tapi bukan berarti tidak bisa. Branded search volume (berapa orang yang mengetik nama brand-mu di Google) dan direct traffic (berapa orang yang langsung mengetik URL website-mu) adalah proxy yang cukup baik untuk mengukur apakah orang mulai mengenal dan mengingat brand-mu.
Cara Menyelaraskan OKR Marketing dengan OKR Perusahaan
Salah satu tantangan terbesar dalam menyusun OKR marketing adalah memastikan alignment-nya dengan goal perusahaan secara keseluruhan. Berikut framework sederhana untuk melakukannya.
Cascading dari Atas ke Bawah
Mulai dari OKR perusahaan. Misalnya:
OKR Perusahaan Q2: Objective: Mencapai Rp300 juta revenue bulanan dari channel online.
Dari sini, tanyakan: "Kontribusi apa yang harus diberikan marketing agar objective ini tercapai?" Jawabannya bisa berupa:
OKR Marketing Q2 (turunan): Objective: Membangun pipeline leads yang cukup untuk mendukung target revenue Rp300 juta per bulan.
- KR1: Menghasilkan 500 MQL per bulan dari semua channel marketing
- KR2: Meningkatkan lead-to-customer conversion rate dari 5% ke 10%
- KR3: Menurunkan Customer Acquisition Cost dari Rp150.000 ke Rp90.000
Perhatikan bagaimana OKR marketing ini langsung bisa dihubungkan dengan OKR perusahaan. Jika 500 MQL dengan conversion rate 10% berarti 50 customer baru, dan rata-rata spending per customer mendukung target Rp300 juta, maka alignment-nya jelas.
Jangan Lupakan Input Dari Tim
Cascading bukan berarti top-down murni. Tim marketing punya insight dari lapangan yang tidak dimiliki founder. Mungkin mereka tahu bahwa channel tertentu sudah saturasi, atau bahwa ada peluang baru yang belum tereksplor.
Proses paling efektif adalah kombinasi: founder menetapkan arah (objective-level), tim marketing mengusulkan cara mengukurnya (key result-level), lalu keduanya berdiskusi sampai sepakat.
Kesalahan Umum Saat Menulis OKR Marketing
1. Menulis Task List, Bukan OKR
Ini kesalahan nomor satu. "Membuat 20 artikel blog," "Posting 5x seminggu di Instagram," "Setup email automation" -- semua ini adalah task, bukan key result. Key result mengukur dampak dari task-task tersebut.
Cara memperbaikinya: untuk setiap "task" yang tertulis, tanyakan "lalu apa hasilnya?" Jawabannya biasanya adalah key result yang sebenarnya.
2. Semua Key Result dari Satu Metrik
Kalau ketiga key result-mu semuanya tentang traffic, kamu kehilangan gambaran besar. Key result yang baik mengukur aspek yang berbeda-beda dari satu objective -- volume, efisiensi, dan kualitas.
3. Target Tanpa Baseline
"Meningkatkan conversion rate ke 8%" tidak bermakna kalau kamu tidak tahu conversion rate saat ini. Selalu tulis "dari X ke Y" agar progress bisa di-track. Kalau belum punya data, jadikan pengumpulan baseline sebagai milestone di minggu pertama kuartal.
4. OKR Terlalu Banyak
Tim marketing kecil yang punya 5 objective dengan 15 key result sebenarnya tidak punya prioritas sama sekali. Lebih baik 2 objective yang benar-benar dieksekusi daripada 5 yang semuanya setengah jalan.
5. Tidak Ada Kaitan dengan Revenue
OKR marketing yang hanya bicara tentang awareness, followers, atau impressions tanpa ujung-ujungnya terhubung ke revenue akan sulit mendapat dukungan dari founder dan tim lain. Pastikan minimal satu key result punya koneksi langsung ke metrik bisnis.
Template OKR Marketing: Format Siap Pakai
Gunakan format ini untuk menyusun OKR marketing tim kamu:
Nama Tim: Marketing Kuartal: Q_ 20__ OKR Perusahaan yang Didukung: [tulis objective perusahaan yang relevan]
Objective 1: [Pernyataan kualitatif tentang dampak yang ingin dicapai]
- KR1: Meningkatkan [metrik A] dari [baseline] ke [target]
- KR2: Meningkatkan [metrik B] dari [baseline] ke [target]
- KR3: Mencapai [milestone/metrik C] sebesar [target]
Objective 2: [Pernyataan kualitatif tentang dampak yang ingin dicapai]
- KR1: [format dari-ke]
- KR2: [format dari-ke]
- KR3: [format dari-ke]
Inisiatif pendukung (ini bukan bagian dari OKR, tapi daftar aktivitas utama):
- [Aktivitas 1 yang mendukung KR tertentu]
- [Aktivitas 2 yang mendukung KR tertentu]
Pisahkan antara OKR (what dan how we measure) dengan inisiatif (what we do). OKR ada di review mingguan, inisiatif ada di sprint planning. Kalau kamu ingin belajar lebih dalam tentang bagaimana menyusun strategi marketing secara keseluruhan -- dari pemilihan channel sampai scaling tim -- pelajari framework lengkapnya di startup marketing journey.
Dari Template ke Implementasi Nyata
Memiliki template OKR marketing yang bagus baru setengah perjalanan. Setengah lainnya adalah implementasi yang konsisten.
Beberapa langkah praktis untuk memastikan OKR marketing kamu benar-benar dijalankan:
Review mingguan 15 menit. Setiap Senin pagi, update angka terbaru untuk setiap key result. Beri label hijau, kuning, atau merah berdasarkan confidence level. Jangan tunggu akhir kuartal untuk menyadari ada yang meleset.
Satu dashboard, satu sumber kebenaran. Kumpulkan semua metrik key result di satu tempat. Google Sheet sederhana sudah cukup. Yang penting semua orang di tim bisa melihat dan update angka yang sama.
Retrospektif di akhir kuartal. Scoring key result dengan skala 0.0-1.0, lalu diskusikan: apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa yang perlu berubah di kuartal depan. Rata-rata skor 0.6-0.7 menunjukkan bahwa target kamu sudah tepat -- menantang tapi realistis.
Implementasi OKR marketing bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari artikel saja. Butuh praktek, feedback, dan iterasi terus-menerus. Kalau kamu ingin memahami fundamental marketing lebih dalam sebelum menyusun OKR-mu, kursus Marketing Fundamental di FounderPlus Academy bisa jadi starting point yang solid.
Dan jika kamu butuh pendampingan langsung untuk menyusun dan menjalankan OKR di bisnis kamu -- bukan hanya marketing, tapi seluruh tim -- program BOS FounderPlus dirancang khusus untuk founder yang ingin membangun sistem operasional bisnis yang terukur.
FAQ
Berapa jumlah OKR marketing yang ideal per kuartal?
Untuk tim marketing startup dengan 3-10 orang, idealnya 2-3 objective per kuartal dengan masing-masing 2-3 key result. Total tidak lebih dari 9 key result. Terlalu banyak OKR justru menghilangkan fungsi utamanya sebagai alat fokus.
Apakah setiap fungsi marketing harus punya OKR sendiri?
Tidak harus. Di startup tahap awal, cukup buat OKR di level tim marketing secara keseluruhan. Pembagian per fungsi baru relevan ketika tim sudah cukup besar dan setiap fungsi punya dedicated person. Intinya, OKR mengikuti struktur tim, bukan sebaliknya.
Bagaimana cara menentukan target angka di key result marketing?
Gunakan baseline data 1-3 bulan terakhir sebagai titik awal. Target yang baik adalah peningkatan 30-50 persen dari baseline untuk key result yang sudah ada datanya. Untuk inisiatif baru yang belum ada datanya, gunakan milestone-based key result sebagai gantinya.
Apa bedanya OKR marketing dengan KPI marketing?
OKR marketing menentukan perubahan yang ingin dicapai dalam kuartal tertentu, misalnya meningkatkan traffic organik dari 5.000 ke 15.000 sessions. KPI marketing mengukur kesehatan operasional yang berjalan terus, misalnya bounce rate atau email open rate. OKR adalah tentang transformasi, KPI adalah tentang monitoring.
Bagaimana jika key result marketing tidak tercapai di akhir kuartal?
Pencapaian 60-70 persen di OKR marketing itu sudah bagus dan menunjukkan target yang tepat. Yang perlu dievaluasi adalah pola: apakah targetnya tidak realistis, apakah ada blocker yang tidak terantisipasi, atau apakah prioritasnya bergeser. Gunakan evaluasi ini untuk menyusun OKR kuartal berikutnya yang lebih akurat.