Anda sudah dengar soal OKR. Anda juga sudah tahu apa itu KPI. Tapi ketika duduk di depan spreadsheet untuk membuat target tim, pertanyaan yang muncul selalu sama: "Ini harusnya OKR atau KPI?"
Kebingungan ini wajar. Banyak pemilik bisnis UKM yang mencampuradukkan keduanya, atau malah memilih salah satu dan mengabaikan yang lain. Hasilnya, target yang ditulis tidak pernah benar-benar dijalankan, atau dijalankan tapi tidak menggerakkan bisnis ke arah yang benar.
Artikel ini membahas perbedaan mendasar OKR vs KPI, kapan Anda butuh yang mana, dan bagaimana mengombinasikan keduanya supaya bisnis Anda punya arah sekaligus kontrol.
Definisi Singkat: Apa Itu OKR dan KPI
Sebelum membandingkan, pastikan kita sepakat soal definisi.
KPI (Key Performance Indicator) adalah angka-angka yang menunjukkan apakah bisnis Anda berjalan sehat. KPI menjawab pertanyaan: "Apakah mesin bisnis kita berjalan normal?" Contoh: revenue bulanan, customer satisfaction score, delivery on time rate.
KPI sifatnya ongoing. Anda tidak "selesai" dengan KPI. Selama bisnis jalan, KPI harus terus di-monitor.
OKR (Objectives and Key Results) adalah framework untuk mendorong perubahan. OKR menjawab pertanyaan: "Apa yang harus berubah supaya bisnis naik ke level berikutnya?" Contoh Objective: "Tim sales bisa closing tanpa owner turun tangan." Key Result-nya: "Close rate naik dari 10% ke 25%."
OKR sifatnya time-bound, biasanya per kuartal. Setelah kuartal selesai, OKR di-review dan diganti dengan yang baru. Untuk panduan lengkap menyusun OKR, baca OKR untuk Startup: Dari Goal Setting ke Eksekusi yang Terukur.
Tabel Perbandingan OKR vs KPI
Supaya perbedaannya lebih jelas, ini perbandingan langsung antara keduanya:
| Aspek | KPI | OKR |
|---|---|---|
| Fungsi utama | Mengukur kesehatan operasional | Mendorong perubahan dan pertumbuhan |
| Menjawab pertanyaan | "Apakah bisnis sehat?" | "Mau berubah ke mana?" |
| Sifat | Ongoing, terus-menerus | Time-bound, per kuartal |
| Target ideal | 100% tercapai | 60-70% tercapai (stretch target) |
| Contoh | Revenue Rp 200jt/bulan | Buka channel baru yang contribute 20% revenue |
| Kalau tidak tercapai | Ada masalah operasional yang harus diperbaiki | Target mungkin terlalu ambisius, adjust di kuartal depan |
| Frekuensi review | Harian/mingguan | Mingguan (check-in), kuartalan (evaluasi besar) |
| Siapa yang butuh | Semua bisnis yang sudah berjalan | Bisnis yang ingin berubah atau tumbuh |
Analogi yang paling mudah: KPI adalah dashboard mobil -- speedometer, bensin, suhu mesin. OKR adalah peta navigasi -- ke mana Anda mau pergi dan rute mana yang dipilih.
Dashboard yang sehat tidak berarti Anda sampai tujuan. Peta yang bagus tidak berguna kalau mesin mobil Anda overheat. Anda butuh keduanya.
Kesalahan Paling Umum: Mencampuradukkan OKR dan KPI
Ini yang paling sering terjadi di bisnis UKM.
Mengubah KPI jadi OKR
"Objective: Maintain revenue Rp 200 juta per bulan."
Itu bukan OKR. Itu KPI. Maintain artinya menjaga yang sudah ada. OKR seharusnya mendorong perubahan. Contoh OKR yang benar: "Objective: Buka revenue stream baru dari segmen B2B." Dengan Key Result: "Revenue dari B2B mencapai Rp 40 juta di akhir kuartal" dan "Mendapatkan 10 klien B2B pertama."
Membuat KPI terlalu ambisius seperti OKR
"KPI: Revenue Rp 500 juta per bulan" -- padahal posisi sekarang baru Rp 200 juta.
KPI seharusnya realistis dan achievable 100%. Kalau Anda mau stretch, gunakan OKR. KPI yang terlalu ambisius malah membuat tim kehilangan kepercayaan pada sistem tracking yang Anda bangun.
Hanya pakai salah satu
Bisnis yang hanya punya OKR tanpa KPI sering "lupa" menjaga operasional karena terlalu fokus mengejar perubahan. Revenue turun tapi tidak terdeteksi karena tidak ada yang monitoring.
Sebaliknya, bisnis yang hanya punya KPI cenderung stuck di posisi yang sama. Semua angka hijau, tapi bisnis tidak berkembang. Sehat tapi tidak tumbuh.
Kapan Pakai OKR, Kapan Pakai KPI
Pakai KPI ketika:
Bisnis Anda baru mulai dan butuh stabilitas. Di tahap awal, Anda perlu tahu angka-angka dasar: berapa revenue, berapa order, berapa complaint. KPI membantu Anda membangun kebiasaan tracking sebelum menambah layer complexity.
Ada proses yang harus dijaga konsistensinya. Delivery harus on time. Customer service harus responsif. Kualitas produk harus konsisten. Semua ini dijaga dengan KPI.
Anda ingin mendeteksi masalah lebih awal. KPI adalah early warning system. Revenue turun 10% minggu ini? Terdeteksi lewat KPI sebelum jadi masalah besar bulan depan.
Pakai OKR ketika:
Ada sesuatu yang harus berubah secara fundamental. Owner masih handle 80% keputusan? Tim sales tidak bisa closing sendiri? Ini butuh perubahan yang terstruktur -- gunakan OKR.
Bisnis sudah stabil tapi tidak tumbuh. Semua KPI hijau tapi revenue flat 6 bulan berturut-turut. Ini saatnya OKR: tentukan perubahan apa yang perlu terjadi untuk unlock pertumbuhan.
Tim perlu alignment untuk goal bersama. Ketika tim mulai bekerja di arah yang berbeda-beda, OKR menyatukan fokus. Semua orang tahu prioritas kuartal ini apa dan kontribusi mereka bagaimana.
Pakai keduanya ketika:
Bisnis sudah punya baseline data dan ingin tumbuh. Ini kondisi ideal. KPI menjaga apa yang sudah berjalan. OKR mendorong apa yang belum tercapai. Keduanya bekerja paralel.
Contoh Nyata: OKR dan KPI untuk Bisnis F&B (Revenue Rp 300jt/bulan)
Supaya lebih konkret, ini contoh bagaimana sebuah bisnis F&B bisa mengombinasikan OKR dan KPI.
KPI yang Dijaga Setiap Minggu
| KPI | Target | Frekuensi Review |
|---|---|---|
| Revenue bulanan | Rp 300jt | Harian |
| Gross profit margin | > 35% | Mingguan |
| Customer complaint rate | < 2% | Mingguan |
| Delivery on time | > 95% | Harian |
| Repeat order rate | > 30% | Bulanan |
Ini angka-angka yang harus dijaga. Kalau ada yang merah, langsung investigasi dan perbaiki.
OKR untuk Kuartal Ini
Objective: Mengurangi ketergantungan bisnis pada owner di operasional harian.
- KR1: Owner hanya terlibat di maksimal 5% keputusan operasional (dari 40%)
- KR2: 3 SOP proses inti terdokumentasi dan dijalankan tanpa arahan owner
- KR3: Tim lead bisa handle weekly meeting tanpa kehadiran owner
Objective: Membuka channel penjualan catering yang profitable.
- KR1: Revenue dari catering mencapai Rp 50jt/bulan
- KR2: Mendapatkan 15 klien catering recurring
- KR3: Profit margin catering > 30%
Perhatikan perbedaannya. KPI menjaga operasional tetap sehat. OKR mendorong dua perubahan besar yang akan membawa bisnis ke level berikutnya.
Cara Mengombinasikan OKR dan KPI dalam Satu Sistem
Bagaimana praktiknya sehari-hari? Ini framework sederhana yang bisa langsung Anda terapkan.
1. KPI sebagai Health Metrics
Pilih 5-7 KPI utama yang menjadi indikator kesehatan bisnis. Track di dashboard yang bisa dilihat seluruh tim. Review di setiap weekly meeting -- cukup 5 menit untuk scan apakah ada yang merah.
2. OKR sebagai Change Drivers
Setiap kuartal, tentukan 2-3 perubahan terpenting yang harus terjadi. Susun dalam format OKR: Objective yang inspiratif, Key Result yang terukur. Panduan lengkap cara menyusun OKR yang actionable bisa Anda pelajari di OKR untuk UKM: Cara Setting Target yang Benar-Benar Tercapai.
3. Weekly Meeting: KPI Check + OKR Update
Di meeting mingguan, bagi menjadi dua bagian:
Bagian 1 -- KPI Health Check (5-10 menit):
- Scan dashboard KPI
- Highlight yang merah atau kuning
- Tentukan action untuk yang bermasalah
Bagian 2 -- OKR Progress (10-15 menit):
- Update angka Key Result
- Confidence level: on track, at risk, atau behind
- Blocker yang perlu dibantu
Total: 15-25 menit. Tidak perlu lama. Yang penting konsisten setiap minggu.
4. Quarterly Review: Evaluasi Besar
Setiap akhir kuartal:
- Review pencapaian OKR (scoring 0.0-1.0)
- Evaluasi trend KPI selama 3 bulan
- Tentukan OKR kuartal berikutnya berdasarkan insight dari keduanya
KPI yang konsisten merah bisa jadi inspirasi OKR kuartal depan. Misalnya, kalau complaint rate terus di atas target, mungkin saatnya buat OKR: "Bangun sistem customer service yang self-sufficient."
Studi Kasus: Google dan OKR
Banyak yang tahu Google memakai OKR sejak 1999 -- ketika John Doerr memperkenalkan framework ini ke Larry Page dan Sergey Brin. Yang kurang diketahui: Google tidak meninggalkan KPI ketika mengadopsi OKR.
Google tetap tracking KPI operasional seperti uptime, response time, dan revenue per user. OKR digunakan untuk mendorong perubahan ambisius -- seperti objective "Organize the world's information" yang kemudian di-breakdown ke key result per tim.
Pelajarannya: bahkan di perusahaan yang paling identik dengan OKR, KPI tetap berjalan di belakang layar untuk menjaga operasional.
Untuk bisnis UKM dengan tim 5-10 orang, prinsipnya sama. Anda tidak perlu skala Google. Cukup 5 KPI dan 2 Objective per kuartal. Yang penting: jalan, di-review, dan di-adjust.
KPI Turun vs OKR Tidak Tercapai: Respons yang Berbeda
Satu hal penting yang sering terlewat: cara merespons kegagalan di KPI dan OKR itu berbeda.
KPI di bawah target adalah sinyal bahaya. Ini artinya operasional bisnis Anda bermasalah. Respons yang benar: investigasi root cause, perbaiki segera. Kalau revenue turun 20%, jangan tunggu akhir bulan -- cari tahu dan fix sekarang.
OKR tidak tercapai 100% itu normal -- bahkan diharapkan. OKR yang baik harusnya tercapai 60-70%. Score 0.4 bukan kegagalan, tapi learning. Respons yang benar: evaluasi apa yang bisa diperbaiki di kuartal depan, adjust ambisi kalau perlu, tapi jangan menghukum tim.
Kalau Anda memperlakukan OKR yang tidak 100% tercapai dengan respons yang sama seperti KPI merah, tim akan memasang target rendah. Dan itu mengalahkan seluruh tujuan OKR.
Mulai dari Mana: Langkah Pertama untuk UKM
Kalau Anda belum punya KPI maupun OKR, ini urutan yang kami rekomendasikan:
Bulan 1-2: Setup KPI dulu. Pilih 3-5 angka terpenting. Mulai tracking di spreadsheet. Bangun kebiasaan weekly review. Ini memberikan baseline data yang Anda butuhkan.
Bulan 3: Tambahkan OKR. Setelah Anda punya data 2 bulan, Anda bisa melihat di mana bisnis perlu berubah. Susun 1-2 OKR untuk kuartal pertama. Buat sederhana.
Bulan 4-6: Jalankan keduanya paralel. KPI di-review mingguan. OKR di-check mingguan, dievaluasi di akhir kuartal. Iterasi prosesnya.
Kalau Anda ingin mempelajari cara menyusun OKR dan KPI secara lebih mendalam, kursus OKR: Arah Bukan Sekadar Target di Founderplus Academy membahas ini dengan studi kasus nyata dari bisnis Indonesia.
Dari Framework ke Sistem yang Benar-Benar Jalan
OKR vs KPI bukan soal memilih salah satu. Ini soal memahami fungsi masing-masing dan menggunakan keduanya di waktu yang tepat.
KPI menjaga mesin tetap jalan. OKR mengarahkan mesin ke tujuan baru. Bisnis yang sehat punya keduanya -- dan punya ritme untuk menjalankannya secara konsisten.
Yang membedakan bisnis yang tumbuh dari yang stuck bukan framework-nya, tapi kedisiplinan menjalankannya setiap minggu, setiap bulan, setiap kuartal.
Kalau Anda merasa butuh pendampingan untuk membangun sistem OKR dan KPI yang terintegrasi sebagai bagian dari Business Operating System, program BOS 2 Bulan dari Founder+ bisa membantu. Program ini mencakup 15 sesi intensif untuk membangun semua komponen sistem bisnis, termasuk OKR, KPI, SOP, dan execution rhythm, supaya bisnis Anda bisa jalan tanpa owner harus turun tangan setiap hari.
FAQ
Apakah bisnis kecil dengan tim 3-5 orang perlu OKR dan KPI sekaligus?
Tidak harus langsung dua-duanya. Mulai dari KPI untuk menjaga kesehatan operasional. Setelah operasional stabil, tambahkan OKR untuk mendorong perubahan dan pertumbuhan. Dengan tim kecil, cukup 3-5 KPI utama dan 1-2 Objective per kuartal.
Mana yang harus diterapkan duluan, OKR atau KPI?
KPI duluan. Anda perlu tahu kondisi bisnis saat ini sebelum menentukan mau berubah ke mana. KPI memberikan baseline data yang dibutuhkan untuk menyusun OKR yang realistis. Tanpa KPI, Anda menyusun target tanpa tahu titik awal.
Apakah OKR bisa menggantikan KPI?
Tidak. OKR dan KPI punya fungsi berbeda. OKR mendorong perubahan, KPI menjaga stabilitas. Menghilangkan KPI berarti Anda tidak punya early warning system untuk kesehatan operasional. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Bagaimana kalau Key Result di OKR sama persis dengan KPI?
Itu tanda bahwa OKR Anda kurang ambisius. KPI menjaga angka yang sudah berjalan. OKR seharusnya mendorong perubahan baru. Kalau Key Result Anda hanya "maintain revenue bulanan," itu seharusnya masuk KPI, bukan OKR.
Berapa sering OKR dan KPI harus di-review?
KPI di-review mingguan, idealnya setiap Senin di meeting tim. OKR juga di-check mingguan untuk progress, tapi evaluasi besar dilakukan per kuartal. Konsistensi review lebih penting dari frekuensinya.