Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Unit Economics Startup: Metrik Keuangan Wajib Sebelum Scale

Published on: Monday, Feb 02, 2026 By Tim Founderplus

Kamu sudah punya produk, sudah ada pelanggan yang bayar, dan revenue mulai naik. Rasanya sudah waktunya scale -- tambah tim, genjot marketing, ekspansi ke kota baru. Tapi tunggu dulu. Satu pertanyaan krusial yang sering dilewatkan founder: apakah unit economics kamu sudah sehat?

Banyak startup Indonesia yang terjebak dalam ilusi pertumbuhan. Revenue naik, tapi sebenarnya rugi di setiap pelanggan. Gross margin tipis, CAC membengkak, dan runway semakin pendek. Ketika scale tanpa unit economics yang solid, yang terjadi bukan pertumbuhan -- itu percepatan menuju kematian.

Artikel ini akan membongkar semua metrik keuangan yang wajib kamu kuasai sebelum memutuskan untuk scale. Bukan teori abstrak, tapi rumus yang bisa langsung kamu pakai besok pagi. Kita akan bahas LTV, CAC, LTV/CAC ratio, burn rate, runway, gross margin, dan bagaimana semua angka ini saling terhubung membentuk gambaran besar kesehatan bisnis kamu.

Apa Itu Unit Economics dan Kenapa Founder Harus Peduli

Unit economics startup adalah cara mengukur profitabilitas bisnis kamu di level paling fundamental: per satu unit pelanggan atau per satu transaksi. Sederhananya, berapa uang yang kamu hasilkan dari satu pelanggan, dan berapa biaya untuk mendapatkan serta melayani pelanggan tersebut.

Kenapa ini penting? Karena startup pada dasarnya adalah mesin yang mengubah input (modal, waktu, tenaga) menjadi output (revenue, profit). Unit economics menunjukkan apakah mesin itu bekerja dengan efisien atau justru bocor di mana-mana.

Bayangkan kamu jualan kopi. Kalau biaya bahan baku, gelas, dan barista untuk satu gelas kopi adalah Rp 15.000, tapi kamu jual di Rp 12.000, maka setiap gelas yang terjual justru membuat kamu rugi Rp 3.000. Menambah cabang atau iklan yang lebih besar hanya akan memperbesar kerugian. Prinsip yang sama berlaku untuk SaaS, marketplace, atau model bisnis apapun.

Dalam konteks bisnis model yang lebih luas, unit economics adalah fondasi yang menentukan apakah value proposition kamu bisa diterjemahkan menjadi bisnis yang berkelanjutan. Kamu bisa punya produk yang disukai pelanggan, tapi kalau ekonomi per unitnya tidak masuk akal, bisnis itu tidak akan pernah profitable.

Customer Lifetime Value: Berapa Nilai Seorang Pelanggan

LTV atau Customer Lifetime Value adalah total pendapatan yang dihasilkan oleh satu pelanggan selama mereka menggunakan produk atau layanan kamu. Ini bukan sekadar satu kali transaksi, tapi akumulasi nilai selama hubungan bisnis berlangsung.

Rumus Dasar LTV

Untuk bisnis subscription:

LTV = ARPU x Gross Margin x Customer Lifetime

Di mana:

  • ARPU (Average Revenue Per User) = Total Revenue / Jumlah Pelanggan
  • Gross Margin = (Revenue - COGS) / Revenue
  • Customer Lifetime = 1 / Churn Rate

Contoh nyata: startup SaaS dengan subscription Rp 500.000/bulan, gross margin 80%, dan churn rate 5% per bulan.

  • ARPU = Rp 500.000
  • Gross Margin = 80% = 0.8
  • Customer Lifetime = 1 / 0.05 = 20 bulan
  • LTV = Rp 500.000 x 0.8 x 20 = Rp 8.000.000

Artinya, setiap pelanggan yang kamu dapatkan berpotensi menghasilkan Rp 8 juta selama mereka menjadi pelanggan.

LTV untuk Bisnis Transaksional

Untuk marketplace atau e-commerce, perhitungannya sedikit berbeda:

LTV = Average Order Value x Purchase Frequency x Customer Lifetime x Gross Margin

Misalnya marketplace dengan rata-rata transaksi Rp 200.000, pelanggan bertransaksi 3 kali sebulan, bertahan 12 bulan, dan take rate (gross margin) 15%:

LTV = Rp 200.000 x 3 x 12 x 0.15 = Rp 1.080.000

Yang sering dilupakan founder adalah bahwa LTV bukan angka statis. LTV berubah seiring kamu memperbaiki produk, menaikkan harga, menambah fitur, atau bahkan mengubah segmen pelanggan. Pemahaman tentang pricing strategy yang tepat bisa secara langsung meningkatkan LTV kamu tanpa harus menambah pelanggan baru.

Customer Acquisition Cost: Harga untuk Mendapatkan Pelanggan

CAC atau Customer Acquisition Cost adalah total biaya yang kamu keluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan baru. Ini termasuk semua biaya marketing, sales, dan effort yang terlibat dalam proses akuisisi.

Rumus CAC

CAC = Total Biaya Akuisisi / Jumlah Pelanggan Baru

Total biaya akuisisi mencakup:

  • Biaya iklan (Google Ads, Meta Ads, TikTok Ads)
  • Gaji tim marketing dan sales
  • Tools dan software marketing
  • Content production cost
  • Event dan sponsorship
  • Komisi affiliate atau referral

Contoh: dalam satu bulan, kamu menghabiskan Rp 50 juta untuk semua aktivitas akuisisi dan mendapatkan 200 pelanggan baru.

CAC = Rp 50.000.000 / 200 = Rp 250.000

Blended CAC vs Paid CAC

Ada dua cara menghitung CAC yang perlu kamu pahami:

Blended CAC menghitung semua pelanggan baru, termasuk yang datang secara organik. Angka ini biasanya lebih rendah karena pelanggan organik tidak memiliki biaya akuisisi langsung.

Paid CAC hanya menghitung pelanggan yang datang dari channel berbayar. Angka ini lebih tinggi, tapi memberikan gambaran yang lebih akurat tentang efisiensi spending marketing kamu.

Sebagai founder, kamu perlu tracking kedua angka ini. Blended CAC untuk gambaran besar bisnis, dan Paid CAC untuk evaluasi efisiensi channel marketing.

Tren CAC yang Perlu Diwaspadai

CAC cenderung naik seiring waktu. Kenapa? Karena kamu biasanya mendapatkan early adopters yang lebih mudah dikonversi terlebih dahulu. Semakin kamu memperluas market, semakin sulit dan mahal untuk mengakuisisi pelanggan berikutnya. Ini adalah dinamika channel dan customer relationship yang perlu dipahami sejak awal.

Kalau CAC kamu naik lebih cepat dari kenaikan LTV, itu alarm merah yang serius.

LTV/CAC Ratio: Metrik Keseimbangan yang Menentukan Nasib Startup

LTV/CAC ratio adalah perbandingan antara nilai yang dihasilkan pelanggan dengan biaya untuk mendapatkan mereka. Ini mungkin satu-satunya metrik yang paling sering ditanyakan investor ketika mengevaluasi startup.

Cara Hitung dan Interpretasi

LTV/CAC Ratio = LTV / CAC

Menggunakan contoh sebelumnya (SaaS):

LTV/CAC = Rp 8.000.000 / Rp 250.000 = 32x

Itu angka yang sangat bagus. Tapi bagaimana interpretasinya secara umum?

LTV/CAC Ratio Interpretasi
< 1:1 Bahaya: rugi di setiap pelanggan
1:1 - 2:1 Kuning: belum sustainable
3:1 Ideal: sehat dan bisa scale
> 5:1 Terlalu konservatif: bisa lebih agresif di growth

Angka 3:1 sering disebut sebagai benchmark ideal karena menyisakan margin yang cukup untuk biaya operasional, overhead, dan profit, sambil tetap menunjukkan efisiensi akuisisi yang baik.

Jebakan dalam Menghitung LTV/CAC

Banyak founder yang tidak sengaja mempercantik angka unit economics mereka. Beberapa jebakan umum:

Pertama, menghitung LTV terlalu optimis. Kamu mengasumsikan pelanggan bertahan 3 tahun padahal data menunjukkan rata-rata hanya 8 bulan. Gunakan data aktual, bukan harapan.

Kedua, menghitung CAC terlalu rendah. Kamu hanya memasukkan biaya iklan, tapi lupa gaji tim marketing, biaya tools, dan overhead terkait. Masukkan semua biaya yang relevan.

Ketiga, mencampurkan cohort. Pelanggan yang kamu dapatkan bulan Januari mungkin punya perilaku berbeda dengan pelanggan bulan Juli. Analisis per cohort memberikan gambaran yang lebih akurat.

Ketika kamu menyiapkan pitch deck untuk investor, LTV/CAC ratio yang dihitung dengan jujur dan transparan akan jauh lebih meyakinkan daripada angka yang terlihat terlalu bagus untuk dipercaya.

CAC Payback Period: Kapan Investasi Akuisisi Kembali Modal

Selain LTV/CAC ratio, ada satu metrik turunan yang sering diabaikan tapi sangat krusial: CAC Payback Period. Ini menunjukkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan biaya akuisisi satu pelanggan.

Rumus CAC Payback Period

CAC Payback Period = CAC / (ARPU x Gross Margin)

Contoh: CAC Rp 250.000, ARPU Rp 500.000/bulan, gross margin 80%.

CAC Payback Period = Rp 250.000 / (Rp 500.000 x 0.8) = 0.625 bulan

Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, biaya akuisisi pelanggan sudah kembali. Itu sangat baik.

Tapi untuk startup dengan model transaksional atau take rate kecil, payback period bisa jauh lebih panjang. Misalnya marketplace dengan take rate 5% dan rata-rata transaksi Rp 100.000:

  • Monthly gross margin per user = Rp 100.000 x 3 transaksi x 5% = Rp 15.000
  • CAC = Rp 200.000
  • Payback Period = Rp 200.000 / Rp 15.000 = 13.3 bulan

Itu artinya kamu butuh lebih dari setahun untuk mendapatkan kembali biaya akuisisi satu pelanggan. Kalau rata-rata pelanggan churn di bulan ke-8, kamu rugi.

Benchmark Payback Period

Secara umum:

  • SaaS B2B: idealnya di bawah 12 bulan
  • SaaS B2C: idealnya di bawah 6 bulan
  • Marketplace/e-commerce: sangat bervariasi, tapi semakin pendek semakin baik

Payback period yang pendek berarti kamu bisa memutar modal lebih cepat. Ini sangat berkaitan dengan cashflow management yang sehat -- topik yang wajib dikuasai setiap founder, terutama yang background-nya bukan finance.

Gross Margin: Fondasi Profitabilitas yang Sering Diabaikan

Gross margin adalah persentase revenue yang tersisa setelah dikurangi biaya langsung untuk menghasilkan produk atau layanan (COGS -- Cost of Goods Sold). Ini adalah fondasi dari semua perhitungan unit economics.

Rumus Gross Margin

Gross Margin = (Revenue - COGS) / Revenue x 100%

Apa yang termasuk COGS tergantung pada jenis bisnis kamu:

SaaS: hosting/server cost, third-party API cost, customer support yang langsung terkait layanan.

Marketplace: payment processing fee, biaya logistik yang ditanggung platform, customer support transaksional.

D2C/E-commerce: harga pokok produk, packaging, ongkos kirim yang ditanggung.

Contoh: startup SaaS dengan monthly revenue Rp 100 juta dan COGS (server, API, support) Rp 20 juta.

Gross Margin = (Rp 100 juta - Rp 20 juta) / Rp 100 juta x 100% = 80%

Benchmark Gross Margin per Industri

Jenis Bisnis Gross Margin Tipikal
SaaS 70% - 90%
Marketplace 40% - 70%
E-commerce/D2C 30% - 60%
Fintech (lending) 30% - 50%
Hardware 20% - 40%

Kalau gross margin kamu jauh di bawah benchmark industri, ada yang salah dengan pricing atau cost structure kamu. Ini perlu diperbaiki sebelum scale, karena scale hanya akan memperbesar masalah ini.

Pemahaman tentang income statement -- bagaimana revenue, COGS, gross profit, dan net income saling terkait -- adalah skill fundamental yang harus dimiliki setiap founder. Bukan berarti kamu harus jadi akuntan, tapi kamu harus bisa membaca dan memahami angka-angka ini.

Burn Rate dan Runway: Berapa Lama Startup Kamu Bisa Bertahan

Burn rate dan runway adalah dua metrik yang menentukan berapa lama startup kamu bisa tetap hidup dengan kondisi keuangan saat ini.

Gross Burn vs Net Burn

Gross Burn Rate = Total pengeluaran per bulan (semua biaya tanpa memperhitungkan pemasukan)

Net Burn Rate = Total pengeluaran - Total pemasukan per bulan

Contoh: startup dengan pengeluaran bulanan Rp 200 juta dan revenue Rp 80 juta.

  • Gross Burn = Rp 200 juta/bulan
  • Net Burn = Rp 200 juta - Rp 80 juta = Rp 120 juta/bulan

Menghitung Runway

Runway = Saldo Kas / Net Burn Rate

Kalau startup di atas punya saldo kas Rp 1.2 miliar:

Runway = Rp 1.200.000.000 / Rp 120.000.000 = 10 bulan

Artinya, dengan burn rate dan revenue saat ini, startup ini punya waktu 10 bulan sebelum kehabisan uang.

Berapa Runway yang Aman?

Rule of thumb yang sering dipakai:

  • Minimal 6 bulan: bare minimum, kamu sudah harus aktif fundraising atau mencari cara mengurangi burn.
  • 12-18 bulan: zona nyaman. Cukup waktu untuk eksekusi, iterate, dan fundraising kalau diperlukan.
  • Lebih dari 24 bulan: sangat aman, tapi pastikan kamu tidak terlalu lambat dalam eksekusi.

Yang perlu diingat: runway bukan angka statis. Revenue bisa naik (memperpanjang runway) atau biaya bisa meningkat (memperpendek runway). Biasakan melakukan expense projection dan cash flow forecasting secara rutin, minimal bulanan.

Memahami arus kas -- tracking pemasukan dan pengeluaran kas secara disiplin -- adalah kunci untuk tidak terjebak runway yang terlalu pendek. Banyak startup mati bukan karena produknya jelek, tapi karena kehabisan uang di waktu yang salah.

Revenue Projection Berbasis Unit Economics

Salah satu kegunaan paling powerful dari unit economics adalah kemampuan untuk memproyeksikan revenue dengan lebih akurat. Daripada menebak-nebak, kamu bisa membangun proyeksi bottom-up berdasarkan metrik yang sudah kamu ukur.

Framework Revenue Projection Bottom-Up

Projected Monthly Revenue = New Customers x ARPU x Gross Margin + Existing Customers x Retention Rate x ARPU x Gross Margin

Misalnya kamu menargetkan akuisisi 100 pelanggan baru per bulan:

  • Bulan 1: 100 pelanggan x Rp 500.000 = Rp 50 juta
  • Bulan 2: 100 baru + (100 x 95% retained) = 195 pelanggan = Rp 97.5 juta
  • Bulan 3: 100 baru + (195 x 95% retained) = 285 pelanggan = Rp 142.5 juta

Dengan proyeksi ini, kamu bisa menghitung:

  • Berapa budget marketing yang dibutuhkan (100 pelanggan x CAC)
  • Kapan kamu akan breakeven
  • Berapa modal yang dibutuhkan sampai profitabel

Ini adalah dasar dari financial modeling -- kemampuan membangun model keuangan yang realistis berdasarkan asumsi yang terukur. Proyeksi revenue berbasis unit economics, conversion rate, dan growth assumption jauh lebih credible di mata investor daripada proyeksi yang ditarik dari atas (top-down) tanpa dasar yang jelas.

Di kursus Finance Startup Founderplus, kamu bisa langsung praktek membangun financial model 3-statement dari nol, termasuk revenue projection, expense model, dan cash flow forecasting. Materinya dirancang khusus untuk founder yang bukan berlatar belakang finance -- jadi pendekatannya praktikal, bukan teoritis.

Membangun Dashboard Unit Economics yang Actionable

Mengetahui rumus saja tidak cukup. Kamu perlu sistem untuk tracking metrik ini secara konsisten. Berikut framework sederhana yang bisa langsung kamu implementasikan.

Metrik yang Wajib Di-Track Mingguan

  1. New customers acquired -- berapa pelanggan baru minggu ini
  2. Revenue -- total pendapatan minggu ini
  3. Churn -- berapa pelanggan yang berhenti
  4. Burn rate -- total pengeluaran

Metrik yang Di-Track Bulanan

  1. LTV -- per cohort kalau memungkinkan
  2. CAC -- blended dan paid
  3. LTV/CAC ratio -- tren naik atau turun
  4. Gross margin -- apakah stabil atau berubah
  5. Runway -- berapa bulan tersisa
  6. CAC Payback Period -- apakah memendek atau memanjang

Tools Sederhana untuk Mulai

Kamu tidak perlu software mahal untuk tracking ini. Spreadsheet sederhana dengan struktur yang benar sudah cukup untuk tahap awal. Yang penting adalah konsistensi dalam mengisi data dan disiplin dalam menganalisisnya.

Format yang disarankan:

  • Satu tab untuk raw data (transaksi, pelanggan, pengeluaran)
  • Satu tab untuk perhitungan otomatis (rumus LTV, CAC, dll)
  • Satu tab untuk dashboard visual (grafik tren bulanan)

Membangun kebiasaan ini sejak awal akan sangat membantu ketika kamu mulai membangun sistem operasi startup yang lebih terstruktur. Metrik unit economics sebaiknya menjadi bagian dari scorecard mingguan tim.

Studi Kasus: Unit Economics di Berbagai Model Bisnis

Untuk memastikan konsep ini benar-benar bisa dipraktekkan, mari kita lihat bagaimana unit economics bekerja di tiga model bisnis yang umum di ekosistem startup Indonesia.

Kasus 1: SaaS B2B (Software Manajemen HR)

  • Monthly subscription: Rp 2.000.000/perusahaan
  • COGS (server + support): Rp 300.000/perusahaan
  • Gross margin: 85%
  • Churn rate: 3%/bulan
  • CAC: Rp 5.000.000 (termasuk sales team)

Perhitungan:

  • Customer Lifetime = 1/0.03 = 33.3 bulan
  • LTV = Rp 2.000.000 x 0.85 x 33.3 = Rp 56.610.000
  • LTV/CAC = 56.610.000 / 5.000.000 = 11.3x
  • Payback Period = 5.000.000 / (2.000.000 x 0.85) = 2.9 bulan

Verdict: unit economics sangat sehat. Bisa agresif scale.

Kasus 2: Marketplace (Platform Jasa Freelancer)

  • Average transaction value: Rp 1.500.000
  • Take rate: 12%
  • Transactions per user per month: 1.5
  • Churn rate: 8%/bulan
  • CAC: Rp 150.000

Perhitungan:

  • Monthly revenue per user = Rp 1.500.000 x 1.5 x 12% = Rp 270.000
  • COGS (payment processing, support): Rp 70.000
  • Monthly gross margin per user = Rp 200.000
  • Customer Lifetime = 1/0.08 = 12.5 bulan
  • LTV = Rp 200.000 x 12.5 = Rp 2.500.000
  • LTV/CAC = 2.500.000 / 150.000 = 16.7x
  • Payback Period = 150.000 / 200.000 = 0.75 bulan

Verdict: sangat sehat. Fokus pada reducing churn untuk memaksimalkan LTV.

Kasus 3: D2C Food & Beverage

  • Average order value: Rp 85.000
  • COGS per order: Rp 40.000
  • Orders per month per customer: 2
  • Churn rate: 15%/bulan
  • CAC: Rp 60.000

Perhitungan:

  • Gross margin per order = (85.000 - 40.000) / 85.000 = 52.9%
  • Monthly gross profit per customer = Rp 45.000 x 2 = Rp 90.000
  • Customer Lifetime = 1/0.15 = 6.67 bulan
  • LTV = Rp 90.000 x 6.67 = Rp 600.000
  • LTV/CAC = 600.000 / 60.000 = 10x
  • Payback Period = 60.000 / 90.000 = 0.67 bulan

Verdict: secara ratio bagus, tapi perhatikan bahwa LTV absolut relatif rendah (Rp 600.000). Artinya margin of error kecil -- sedikit kenaikan COGS atau CAC bisa langsung menggerus profitabilitas.

Kapan Unit Economics Mengatakan "Jangan Scale Dulu"

Ada beberapa sinyal dari unit economics yang menunjukkan kamu belum siap scale:

LTV/CAC di bawah 3:1. Ini berarti kamu belum cukup efisien. Scale hanya akan memperbesar inefisiensi. Fokus dulu pada peningkatan retention (naikkan LTV) atau optimasi channel (turunkan CAC).

Gross margin di bawah benchmark industri. Kalau gross margin kamu 30% sementara rata-rata industri 70%, ada masalah fundamental dengan cost structure atau pricing. Perbaiki ini dulu sebelum scale.

Payback period lebih panjang dari customer lifetime. Ini artinya kamu secara matematis rugi di setiap pelanggan. Tidak ada volume yang bisa memperbaiki ekonomi ini -- kamu butuh perubahan fundamental di pricing atau biaya.

Burn rate meningkat lebih cepat dari revenue. Kalau setiap bulan kamu bakar lebih banyak uang tanpa peningkatan revenue yang proporsional, runway kamu akan memendek dengan cepat.

CAC terus naik tanpa ceiling yang jelas. Ini bisa berarti market kamu terlalu kecil, channel sudah saturated, atau product-market fit belum kuat.

Ketika menemukan sinyal-sinyal ini, langkah yang tepat bukan menekan pedal gas, tapi kembali ke iterasi business model. Seringkali perubahan kecil di pricing, segmen pelanggan, atau channel bisa mengubah unit economics secara dramatis.

Hubungan Unit Economics dengan Fundraising dan Valuasi

Investor yang serius, baik angel investor maupun VC, akan selalu menanyakan unit economics kamu. Bukan sekadar angka revenue yang besar, tapi apakah ekonomi per unit pelanggan menunjukkan bisnis yang sustainable.

Apa yang Investor Cari

  1. LTV/CAC ratio minimal 3:1 -- membuktikan efisiensi akuisisi
  2. Gross margin yang sehat -- menunjukkan pricing power
  3. Payback period yang reasonable -- menunjukkan cash efficiency
  4. Tren yang membaik -- metrik bulan ini lebih baik dari bulan lalu
  5. Cohort analysis -- menunjukkan pelanggan yang didapat belakangan memiliki perilaku serupa atau lebih baik

Ketika kamu menyusun pitch deck, bagian unit economics sering menjadi bagian yang paling diteliti. Investor berpengalaman bisa langsung melihat apakah angka kamu masuk akal atau tidak. Transparansi dan akurasi jauh lebih dihargai daripada angka yang dibuat terlihat cantik.

Pemahaman tentang prinsip valuasi startup -- traction, growth rate, market size -- semuanya berkaitan erat dengan unit economics. Startup dengan unit economics yang kuat di pasar besar secara natural akan mendapat valuasi yang lebih tinggi.

Unit Economics sebagai Bahasa Komunikasi dengan Investor

Yang menarik, unit economics bukan hanya alat evaluasi internal. Ini juga bahasa komunikasi yang efektif dengan investor. Ketika kamu bisa menjelaskan: "LTV kami Rp 8 juta, CAC Rp 250 ribu, payback period di bawah 1 bulan, dan gross margin 80%," investor langsung mengerti bahwa bisnis model kamu sudah tervalidasi di level fundamental.

Bandingkan dengan founder yang hanya bisa bilang: "Revenue kami tumbuh 20% month-over-month." Pertumbuhan tanpa konteks unit economics bisa berarti apa saja -- termasuk pertumbuhan yang sebenarnya merugikan.

Langkah Praktikal: Menghitung Unit Economics Startup Kamu Hari Ini

Untuk kamu yang ingin langsung menghitung unit economics, berikut langkah-langkah praktisnya:

Langkah 1: Kumpulkan Data Dasar

  • Total revenue bulan lalu
  • Total pelanggan aktif
  • Jumlah pelanggan baru
  • Jumlah pelanggan yang churn
  • Total pengeluaran marketing dan sales
  • Total COGS

Langkah 2: Hitung Metrik Primer

  • ARPU = Total revenue / Total pelanggan aktif
  • Churn Rate = Pelanggan churn / Total pelanggan awal bulan
  • Gross Margin = (Revenue - COGS) / Revenue
  • CAC = Total biaya akuisisi / Pelanggan baru

Langkah 3: Hitung Metrik Turunan

  • Customer Lifetime = 1 / Churn Rate
  • LTV = ARPU x Gross Margin x Customer Lifetime
  • LTV/CAC Ratio = LTV / CAC
  • Payback Period = CAC / (ARPU x Gross Margin)
  • Net Burn = Total pengeluaran - Total revenue
  • Runway = Saldo kas / Net Burn

Langkah 4: Evaluasi dan Bandingkan

  • Bandingkan dengan benchmark industri
  • Lihat tren dari bulan ke bulan
  • Identifikasi metrik mana yang paling perlu diperbaiki

Langkah 5: Buat Action Plan

  • Kalau LTV terlalu rendah: fokus pada retention dan upselling
  • Kalau CAC terlalu tinggi: optimasi channel dan conversion rate
  • Kalau gross margin tipis: evaluasi pricing dan cost structure
  • Kalau runway pendek: kurangi burn atau percepat revenue

Untuk kamu yang ingin bimbingan lebih mendalam, di kursus Finance Startup Founderplus, kamu bisa langsung praktek menghitung semua metrik ini dengan data real menggunakan template yang sudah disiapkan. Ada juga sesi konsultasi dengan mentor keuangan startup yang bisa review angka-angka spesifik bisnis kamu.

Kesalahan Umum Founder dalam Mengelola Unit Economics

Sebelum menutup, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan founder terkait unit economics:

Menghitung LTV terlalu dini. Kalau kamu baru punya pelanggan 3 bulan, jangan klaim customer lifetime 3 tahun. Gunakan data yang ada, dan tandai bahwa angkanya masih preliminary.

Tidak memperhitungkan semua komponen CAC. Waktu founder untuk cold calling juga punya opportunity cost. Kalau kamu spending 50% waktumu untuk sales, setengah gaji kamu idealnya masuk ke perhitungan CAC.

Fokus hanya pada satu metrik. LTV/CAC ratio 5x terlihat bagus, tapi kalau runway kamu cuma 3 bulan, itu tetap masalah. Lihat semua metrik secara holistik.

Tidak segmentasi. Pelanggan enterprise dan SMB biasanya punya unit economics yang sangat berbeda. Analisis gabungan bisa menyembunyikan masalah di salah satu segmen.

Lupa menghitung biaya churn. Kehilangan pelanggan bukan cuma kehilangan revenue. Ada biaya yang sudah dikeluarkan untuk mengakuisisi mereka yang belum terrecoup.

Pencatatan keuangan yang rapi -- dari revenue, COGS, sampai expense -- adalah prasyarat untuk menghitung unit economics dengan akurat. Tanpa data yang bersih, semua rumus di atas tidak akan menghasilkan insight yang berguna.

Butuh bantuan menghitung unit economics untuk bisnis Anda? Di bos.founderplus.id, Anda bisa mendapat 15 sesi mentoring selama 2 bulan (Rp1.999.000) untuk memastikan angka-angka bisnis Anda benar sebelum scale. Atau pelajari framework lengkapnya di academy.founderplus.id.

Penutup: Unit Economics Sebagai Kompas Bisnis

Unit economics startup bukan sekadar angka untuk ditunjukkan ke investor. Ini adalah kompas yang memberitahu kamu apakah bisnis kamu benar-benar berjalan ke arah yang benar.

Sebelum memutuskan untuk scale -- menambah tim, meningkatkan budget marketing, ekspansi ke pasar baru -- pastikan fondasi unit economics kamu sudah solid. LTV yang lebih besar dari CAC, gross margin yang sehat, payback period yang reasonable, dan runway yang cukup. Tanpa ini, scale hanya akan memperbesar masalah yang sudah ada.

Yang perlu diingat: unit economics akan terus berubah. Apa yang sehat hari ini bisa berubah bulan depan karena perubahan di market, kompetisi, atau internal. Jadikan tracking unit economics sebagai kebiasaan rutin, bukan one-time exercise.

Kalau kamu merasa terbantu dengan framework di artikel ini dan ingin mendalami lebih jauh, ada langkah selanjutnya yang bisa kamu ambil. Pelajari lebih dalam tentang cashflow management untuk startup untuk memastikan arus kas kamu tetap sehat saat bertumbuh. Dan kalau kamu sedang menyiapkan fundraising, pastikan pitch deck kamu sudah mencerminkan unit economics yang solid.

Pada akhirnya, startup yang sehat bukan yang tumbuh paling cepat. Startup yang sehat adalah yang tahu persis berapa biaya untuk mendapatkan pelanggan, berapa nilai pelanggan tersebut, dan berapa lama mereka bisa bertahan untuk mencapai profitabilitas. Itu adalah kekuatan unit economics.

FAQ

Apa itu unit economics startup dan kenapa penting?

Unit economics startup adalah analisis pendapatan dan biaya per satu unit pelanggan atau transaksi. Ini penting karena menunjukkan apakah bisnis model kamu benar-benar menghasilkan profit di level paling dasar, sebelum kamu memutuskan untuk scale. Tanpa unit economics yang sehat, pertumbuhan justru akan memperbesar kerugian.

Berapa rasio LTV/CAC yang ideal untuk startup?

Rasio LTV/CAC yang sehat umumnya minimal 3:1, artinya setiap pelanggan menghasilkan nilai tiga kali lipat dari biaya akuisisinya. Di bawah 1:1 artinya kamu rugi di setiap pelanggan. Antara 1:1 dan 3:1, bisnis belum cukup sustainable untuk scale. Di atas 5:1, kamu mungkin bisa lebih agresif dalam spending untuk growth.

Kapan waktu yang tepat untuk mulai menghitung unit economics?

Idealnya sejak awal, bahkan sebelum produk launch. Mulai dengan estimasi dan asumsi berdasarkan riset pasar, lalu perbarui dengan data aktual begitu kamu punya pelanggan. Semakin awal kamu memahami unit economics, semakin cepat kamu bisa iterasi business model dan menemukan jalan menuju profitabilitas.

Bagaimana cara menurunkan CAC tanpa mengorbankan kualitas pelanggan?

Ada beberapa strategi yang bisa kamu terapkan. Pertama, investasi di channel organik seperti content marketing, SEO, dan community building yang biayanya lebih rendah dalam jangka panjang. Kedua, bangun referral program yang memberikan insentif bagi pelanggan existing untuk merekomendasikan produk kamu. Ketiga, optimalkan conversion rate di setiap tahap funnel dengan A/B testing. Keempat, gunakan data untuk targeting yang lebih presisi sehingga budget iklan lebih efisien.

Apa bedanya gross margin dan net margin dalam konteks startup?

Gross margin adalah persentase revenue yang tersisa setelah dikurangi COGS (biaya langsung produksi atau penyediaan layanan), sedangkan net margin memperhitungkan semua biaya termasuk operasional, marketing, gaji, dan overhead. Untuk startup tahap awal, fokus utama biasanya pada gross margin positif terlebih dahulu. Kalau gross margin sudah negatif, tidak ada efisiensi operasional yang bisa menyelamatkan bisnis. Net margin positif biasanya menjadi target setelah startup mencapai skala tertentu.

Pelajari framework ini lebih dalam di Founderplus Academy

Dapatkan akses ke 450+ materi pembelajaran, template siap pakai, dan feedback langsung dari mentor berpengalaman.

Mulai Belajar

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang