Founderplus
Tentang Kami
Growth

Suggestive Selling: Teknik Rekomendasi Produk yang Efektif

Published on: Wednesday, Feb 18, 2026 By Tim Founderplus

Suggestive Selling: Teknik Rekomendasi Produk yang Efektif

Anda pesan kopi di sebuah kafe. Barista bertanya, "Mau tambah pastry? Hari ini ada croissant baru." Tanpa pikir panjang, Anda mengangguk. Transaksi yang tadinya Rp 35.000 jadi Rp 58.000.

Itu bukan kebetulan. Itu suggestive selling — teknik rekomendasi produk yang sudah terbukti meningkatkan penjualan di berbagai industri. Menurut Investopedia, Amazon menghasilkan sekitar 35% revenue-nya dari rekomendasi produk. Bayangkan dampaknya jika bisnis Anda menerapkan teknik yang sama.

Apa Itu Suggestive Selling?

Suggestive selling adalah teknik penjualan di mana Anda merekomendasikan produk atau layanan tambahan kepada customer yang sudah memutuskan untuk membeli sesuatu. Menurut Investopedia, suggestive selling didefinisikan sebagai tindakan menawarkan produk atau layanan tambahan kepada pembeli.

Kunci utamanya: rekomendasi ini dilakukan di momen yang tepat, biasanya saat atau menjelang checkout. Customer sudah dalam buying mindset, sehingga lebih terbuka terhadap saran tambahan.

Yang membedakan suggestive selling dari hard selling adalah pendekatannya yang halus. Bukan memaksa, tapi menyarankan. Bukan "Anda harus beli ini", tapi "ini mungkin cocok dengan pilihan Anda." Psikologinya sederhana — orang yang sudah committed membeli satu barang lebih mudah mengatakan ya untuk barang kedua yang harganya lebih kecil.

Dalam praktiknya, suggestive selling bisa dilakukan oleh manusia (sales associate, barista, kasir) maupun sistem otomatis (recommendation engine di website, pop-up di checkout page). Keduanya sama efektifnya jika dilakukan dengan konteks yang tepat.

Kenapa Suggestive Selling Penting?

Suggestive selling bukan sekadar taktik tambahan. Ini strategi revenue yang fundamental bagi bisnis apapun.

Pertama, meningkatkan average order value (AOV). Setiap transaksi yang berhasil di-suggestive selling menaikkan nilai belanja. Jika rata-rata AOV naik 20%, dampaknya masif terhadap revenue bulanan tanpa perlu menambah jumlah customer. Untuk bisnis dengan ribuan transaksi per bulan, kenaikan AOV Rp 10.000 saja bisa berarti puluhan juta tambahan revenue.

Kedua, biaya akuisisi nol. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya marketing untuk mendatangkan pembeli baru. Customer sudah ada di depan Anda, tinggal tawarkan produk yang relevan. Ini jauh lebih efisien dibanding spending budget ads untuk akuisisi customer baru.

Baca juga: Customer Acquisition Cost: Cara Hitung dan Optimalkan

Ketiga, meningkatkan customer experience. Jika rekomendasi Anda benar-benar relevan, customer justru merasa terbantu. Barista yang menyarankan pastry cocok untuk kopi Anda memberikan pengalaman, bukan tekanan. Customer merasa diperhatikan, bukan dijadikan target.

Keempat, memperkuat customer retention. Ketika customer merasa mendapat value lebih dari setiap kunjungan, mereka lebih cenderung kembali. Rekomendasi yang tepat membangun trust dan hubungan jangka panjang.

Baca juga: Customer Retention UKM: Cara Bikin Pelanggan Balik

Suggestive Selling vs Cross-Selling vs Upselling

Banyak yang menyamakan ketiga istilah ini. Padahal ada perbedaan penting yang perlu Anda pahami.

Aspek Suggestive Selling Cross-Selling Upselling
Definisi Merekomendasikan produk tambahan apapun Menawarkan produk pelengkap Menawarkan versi premium
Contoh "Mau tambah topping?" "Beli case untuk HP baru Anda" "Upgrade ke paket Pro"
Fokus Menambah item ke keranjang Produk berbeda yang saling melengkapi Produk sama, tier lebih tinggi
Hubungan Payung besar Bagian dari suggestive selling Bagian dari suggestive selling

Suggestive selling adalah konsep payung. Cross-selling dan upselling adalah teknik spesifik di dalamnya. Ketika barista menawarkan topping tambahan, itu suggestive selling sekaligus cross-selling. Ketika barista menawarkan upgrade ke ukuran grande, itu suggestive selling sekaligus upselling.

Menurut Mailchimp, perbedaan utamanya terletak pada relasi produk. Cross-selling menawarkan produk berbeda yang melengkapi. Upselling menawarkan versi lebih baik dari produk yang sama. Suggestive selling mencakup keduanya — ditambah bentuk rekomendasi lain seperti warranty, membership, atau add-on layanan.

Baca juga: Perbedaan Cross Selling, Upselling, dan Down Selling

Contoh Suggestive Selling di Berbagai Industri

F&B dan Restoran

Industri F&B adalah master suggestive selling. Contoh yang Anda temui sehari-hari:

  • "Mau tambah topping?" — Starbucks dan kafe lokal menerapkan ini secara konsisten saat menerima pesanan
  • "Mau upgrade ke large?" — Fast food chain seperti McDonald's menaikkan AOV lewat satu pertanyaan sederhana di kasir
  • "Dessert-nya mau coba yang baru?" — Restoran memanfaatkan momen setelah makan utama saat customer masih rileks
  • "Untuk minumannya, mau pairing dengan snack ini?" — Kafe menggabungkan rekomendasi berbasis pairing flavor

E-Commerce dan Marketplace

Platform e-commerce mengautomasi suggestive selling lewat fitur:

  • "Sering Dibeli Bersama" — Shopee dan Tokopedia menampilkan produk komplementer berdasarkan data pembelian user lain
  • "Customer Juga Melihat" — Rekomendasi berbasis browsing behavior yang muncul di halaman produk
  • "Lengkapi Set Anda" — Bundling otomatis berdasarkan kategori produk yang saling melengkapi
  • Email post-purchase — Rekomendasi produk yang dikirim setelah pembelian selesai, menarik customer untuk kembali

Barista melayani customer di coffee shop, contoh interaksi suggestive selling secara langsung Sumber: Unsplash

Retail Offline

Di toko fisik, suggestive selling terjadi di beberapa titik strategis:

  • Kasir dan checkout counter — produk impulse buy seperti permen, baterai, aksesoris kecil yang ditempatkan dekat area bayar
  • Sales associate — "Untuk sepatu ini, kami punya kaos kaki dan spray pelindung yang cocok"
  • Display produk — mannequin yang menampilkan outfit lengkap, membuat customer tertarik beli satu set

Menurut Zendesk, kunci suggestive selling yang efektif adalah merekomendasikan item yang nilainya lebih rendah dari produk utama. Customer lebih mudah menyetujui tambahan Rp 25.000 di atas pembelian Rp 500.000 daripada tambahan Rp 300.000.

Peran AI dalam Suggestive Selling Modern

Suggestive selling sudah bukan cuma tugas manusia. Di era digital, recommendation engine berbasis AI menjadi mesin utama suggestive selling skala besar.

Ada dua pendekatan utama yang perlu Anda pahami:

Collaborative Filtering

Sistem menganalisis perilaku ribuan user secara bersamaan. Jika User A dan User B punya pola pembelian yang mirip, produk yang dibeli User A tapi belum dibeli User B akan direkomendasikan ke User B. Netflix menggunakan pendekatan ini untuk merekomendasikan film, Spotify untuk playlist musik.

Kelebihannya: bisa menemukan rekomendasi yang tidak terduga tapi relevan. Kelemahannya: butuh volume data besar untuk akurat, dan menghadapi cold start problem untuk user baru.

Content-Based Filtering

Sistem menganalisis atribut produk itu sendiri. Jika Anda beli laptop 14 inci, sistem merekomendasikan tas laptop 14 inci, mouse wireless, dan stand laptop — berdasarkan kecocokan atribut produk, bukan perilaku user lain.

Kelebihannya: bekerja tanpa data user lain, cocok untuk katalog produk yang detail. Kelemahannya: rekomendasi cenderung mirip-mirip, kurang serendipity.

Platform besar menggunakan hybrid model yang menggabungkan keduanya untuk hasil optimal. Untuk startup dan UKM, Anda tidak perlu membangun recommendation engine sendiri. Platform seperti Shopify, WooCommerce, dan marketplace Indonesia sudah menyediakan fitur rekomendasi bawaan yang bisa langsung diaktifkan.

Mau belajar lebih dalam tentang growth strategy berbasis data seperti ini? Cek materi di academy.founderplus.id untuk panduan lengkapnya.

Cara Menerapkan Suggestive Selling untuk Bisnis Anda

1. Analisis Data Pembelian

Mulai dari data yang Anda punya. Produk apa yang sering dibeli bersama? Gunakan data POS atau laporan marketplace untuk mengidentifikasi pola. Ini fondasi suggestive selling yang akurat. Tanpa data, Anda hanya menebak — dan tebakan jarang menghasilkan konversi yang konsisten.

2. Tentukan Momen yang Tepat

Suggestive selling paling efektif di point of sale — saat customer sudah committed untuk membeli. Di online, ini berarti halaman keranjang dan checkout. Di offline, ini momen di kasir atau saat sales associate membantu customer mencoba produk.

3. Pilih Produk Rekomendasi yang Tepat

Produk yang direkomendasikan harus memenuhi dua kriteria: relevan dengan produk utama dan harganya lebih rendah. Rule of thumb-nya, harga produk tambahan idealnya tidak lebih dari 25% harga produk utama. Ini menurunkan resistance customer untuk menambah belanja.

Baca juga: Pricing Strategy Startup: Cara Tentukan Harga yang Profitable

4. Latih Tim Anda

Untuk bisnis offline, training tim adalah kunci. Berikan script sederhana yang terdengar natural, bukan robotik. "Untuk kopi ini, biasanya customer kami juga suka tambah cookies. Mau coba?" jauh lebih efektif daripada sekadar "Ada tambahan lain?"

Lakukan role play dan berikan feedback rutin. Tim yang terlatih bisa membaca situasi — kapan harus suggest dan kapan harus diam.

Baca juga: Sales System UKM: Bangun Revenue Prediktif

5. Ukur dan Iterasi

Track metrik utama: conversion rate dari suggestive selling, perubahan AOV, dan customer feedback. Lakukan A/B testing untuk menemukan kombinasi produk dan script yang paling efektif. Review datanya setiap minggu untuk terus mengoptimasi.

Kesalahan Umum dalam Suggestive Selling

Terlalu agresif. Menawarkan terlalu banyak produk tambahan membuat customer ilfeel. Cukup satu sampai dua rekomendasi yang relevan per transaksi. Lebih dari itu, customer merasa dikejar-kejar.

Tidak relevan. Menawarkan aksesoris iPhone ke pembeli Android. Data dan common sense harus jalan berdua. Rekomendasi yang tidak nyambung merusak kredibilitas.

Timing salah. Menawarkan produk sebelum customer memutuskan pembelian utama justru mengganggu proses keputusan mereka. Tunggu hingga mereka committed dengan pilihan utama.

Tidak melatih tim. Suggestive selling butuh skill komunikasi. Tanpa training yang memadai, tim Anda bisa terdengar memaksa, canggung, atau tidak meyakinkan.

Kalau Anda sedang membangun strategi penjualan yang lebih sistematis, explore panduan lengkap di academy.founderplus.id. Di sana Anda bisa belajar framework growth yang teruji untuk startup dan UKM Indonesia.

FAQ

Apa perbedaan suggestive selling dan cross-selling?

Suggestive selling adalah payung besar yang mencakup semua bentuk rekomendasi produk tambahan kepada customer. Cross-selling adalah salah satu teknik di dalamnya, yang fokus menawarkan produk pelengkap. Semua cross-selling adalah suggestive selling, tapi tidak semua suggestive selling adalah cross-selling.

Kapan waktu terbaik melakukan suggestive selling?

Waktu terbaik adalah saat customer sudah memutuskan untuk membeli produk utama, yaitu di momen checkout atau point of sale. Pada titik ini, customer sudah dalam buying mindset sehingga lebih terbuka terhadap rekomendasi tambahan.

Apakah suggestive selling bisa diterapkan di bisnis online?

Sangat bisa. E-commerce menggunakan suggestive selling melalui fitur seperti "Sering Dibeli Bersama", "Customer Juga Melihat", dan rekomendasi berbasis AI. Platform seperti Shopee dan Tokopedia sudah menerapkan ini secara otomatis menggunakan recommendation engine.

Bagaimana cara memulai suggestive selling untuk UKM?

Mulai dari yang sederhana. Identifikasi produk yang sering dibeli bersama dari data penjualan Anda. Latih tim untuk menawarkan produk tambahan tersebut saat checkout. Untuk online, manfaatkan fitur rekomendasi bawaan platform marketplace atau e-commerce yang Anda gunakan.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang