Anda baru saja memilih handphone baru di toko online. Saat checkout, muncul penawaran: "Tambah screen protector Rp 25.000?" Tanpa pikir panjang, Anda klik tambah. Transaksi naik, tapi Anda merasa mendapat value lebih.
Itulah add-on selling yang bekerja dengan baik. Strategi sederhana ini bisa menaikkan average order value (AOV) tanpa perlu mencari customer baru. Menurut Shopify, strategi upsell dan add-on mampu meningkatkan AOV sebesar 10-30%.
Artikel ini membahas apa itu add-on selling, bedanya dengan strategi serupa, dan bagaimana Anda bisa menerapkannya mulai hari ini.
Apa Itu Add-On Selling?
Add-on selling adalah teknik menawarkan produk atau layanan tambahan bernilai kecil kepada customer tepat di momen pembelian. Biasanya terjadi di titik checkout, baik offline maupun online.
Menurut HubSpot, add-on selling adalah bentuk suggestive selling yang mengandalkan timing dan relevansi. Produk yang ditawarkan harus melengkapi pembelian utama, bukan mengalihkan perhatian customer.
Ciri khas add-on selling:
- Harga kecil relatif terhadap produk utama
- Ditawarkan di titik checkout (bukan di awal browsing)
- Relevan dengan produk yang sedang dibeli
- Keputusan cepat — customer tidak perlu riset tambahan
Contoh paling sederhana: kasir minimarket yang bertanya, "Sekalian pulsa atau tisu, Kak?" Itu add-on selling dalam bentuk paling dasar.
Perbedaan Add-On Selling, Cross-Selling, dan Bundling
Banyak yang mengira ketiganya sama. Padahal ada perbedaan penting dalam timing, mekanisme, dan tujuannya.
| Aspek | Add-On Selling | Cross-Selling | Bundling |
|---|---|---|---|
| Timing | Di titik checkout | Sepanjang journey | Sebelum pembelian |
| Jenis produk | Item kecil, pelengkap | Produk komplementer | Paket gabungan |
| Harga | Jauh lebih murah dari produk utama | Bervariasi | Diskon paket |
| Contoh | Garansi extended saat beli laptop | Recommend mouse saat beli laptop | Laptop + mouse + tas seharga paket |
| Keputusan customer | Impulsif, cepat | Perlu pertimbangan | Perbandingan value |
Add-on selling adalah subset dari cross-selling, tapi lebih spesifik: hanya terjadi di checkout dan produknya selalu bernilai kecil relatif terhadap pembelian utama.
Baca juga: Perbedaan Cross Selling, Upselling, dan Down Selling
Kenapa Add-On Selling Efektif?
Ada alasan psikologis di balik efektivitas add-on selling.
Pertama, commitment bias. Customer yang sudah sampai di checkout sudah berkomitmen untuk membeli. Menambahkan item kecil terasa seperti keputusan minor, bukan pembelian baru.
Kedua, relative pricing. Jika Anda membeli laptop Rp 15 juta, tambahan garansi Rp 200.000 terasa sangat kecil. Padahal margin garansi tersebut bisa 80-90% bagi penjual.
Ketiga, fear of missing out. Penawaran "hanya tersedia saat checkout" menciptakan urgency. Customer merasa rugi jika tidak mengambilnya sekarang.
Data mendukung ini. Menurut riset yang dilaporkan Envive, program upselling dan cross-selling rata-rata menaikkan revenue 10-30%, dengan conversion rate ke existing customer mencapai 60-70%.
Sumber: Unsplash
Jenis-Jenis Add-On yang Bisa Anda Tawarkan
Tidak semua bisnis bisa menawarkan add-on yang sama. Berikut jenis add-on berdasarkan kategori bisnis.
1. Garansi Extended
Tambahan perlindungan produk di luar garansi standar. Populer di elektronik dan gadget. Margin sangat tinggi karena klaim garansi secara statistik rendah.
2. Asuransi Pengiriman
Tokopedia dan Shopee sudah menerapkan ini. Customer membayar Rp 2.000-5.000 untuk proteksi paket. Nilai kecil, tapi memberikan ketenangan pikiran.
3. Gift Wrapping dan Premium Packaging
Relevan untuk toko fashion, hampers, dan hadiah. Tambahan Rp 10.000-30.000 untuk packaging cantik bisa meningkatkan perceived value secara signifikan.
4. Express Delivery
Upgrade pengiriman dari reguler ke same-day atau next-day. Customer yang butuh cepat rela bayar lebih.
5. Topping dan Add-On Makanan
Restoran dan kafe adalah master add-on selling. Topping tambahan, extra cheese, upgrade ukuran — semuanya adalah add-on klasik dengan margin tinggi.
Baca juga: Apa Itu Bundling? Strategi Paket Produk untuk Naikkan AOV
5 Langkah Menerapkan Add-On Selling untuk UKM
Anda tidak perlu platform canggih untuk mulai. Berikut langkah praktisnya.
Langkah 1: Identifikasi Produk Utama dengan Volume Tinggi
Mulai dari produk best-seller Anda. Produk dengan volume pembelian tinggi adalah kandidat terbaik untuk add-on karena dampaknya langsung terasa pada revenue total.
Langkah 2: Tentukan Add-On yang Relevan
Tanya pada diri sendiri: "Apa yang customer butuhkan setelah membeli produk ini?" Jawabannya adalah add-on Anda. Screen protector untuk handphone. Baterai cadangan untuk mainan anak. Saus tambahan untuk ayam goreng.
Langkah 3: Tetapkan Harga di Bawah 25% Produk Utama
Aturan praktis: harga add-on maksimal 25% dari harga produk utama. Jika produk utama Rp 100.000, add-on idealnya Rp 10.000-25.000. Terlalu mahal dan customer akan berpikir ulang.
Langkah 4: Tampilkan di Momen yang Tepat
Untuk toko online, tampilkan di halaman checkout atau cart. Untuk toko fisik, letakkan di area kasir. Timing adalah segalanya dalam add-on selling.
Kalau Anda ingin mengelola produk dan add-on dengan lebih terstruktur, cek BOS by Founderplus untuk sistem manajemen operasional yang memudahkan tracking penjualan produk tambahan.
Langkah 5: Ukur dan Optimasi
Track dua metrik utama: attachment rate (persentase transaksi yang menyertakan add-on) dan incremental AOV (kenaikan rata-rata nilai transaksi). Target attachment rate yang sehat: 15-30%.
Baca juga: Suggestive Selling: Teknik Rekomendasi Produk yang Efektif
Kesalahan Umum dalam Add-On Selling
Strategi ini sederhana, tapi banyak yang salah implementasi.
Terlalu Banyak Pilihan Add-On
Menawarkan 5-6 add-on sekaligus di checkout justru membuat customer overwhelmed. Batasi maksimal 2-3 pilihan. Lebih sedikit pilihan, lebih tinggi conversion.
Harga Add-On Tidak Proporsional
Add-on seharga 50% dari produk utama bukan lagi "tambahan kecil." Customer akan menganggapnya sebagai pembelian terpisah dan berpikir ulang. Jaga rasio harga agar tetap terasa impulsif.
Add-On Tidak Relevan
Menawarkan accessories handphone saat customer beli baju adalah kesalahan fatal. Relevansi adalah fondasi add-on selling. Jika tidak nyambung, customer justru merasa terganggu dan bisa membatalkan pembelian utama.
Contoh Add-On Selling di Indonesia
Beberapa brand Indonesia sudah menerapkan add-on selling dengan baik.
Tokopedia menawarkan asuransi pengiriman dan proteksi produk di halaman checkout. Harganya hanya Rp 2.000-10.000, tapi dengan jutaan transaksi per hari, revenue tambahannya masif.
Kopi Kenangan dan Janji Jiwa secara konsisten menawarkan topping tambahan saat order — extra shot espresso, boba, atau whipped cream. Setiap add-on menambah Rp 5.000-8.000 per transaksi.
Miniso dan brand retail meletakkan aksesoris kecil di dekat kasir. Gantungan kunci, stiker, atau snack kecil yang harganya di bawah Rp 30.000 menjadi impulse buy yang efektif.
Pola yang sama: harga kecil, relevan, dan ditawarkan di momen tepat. Ketiga elemen ini yang membuat add-on selling berhasil.
FAQ
Apa perbedaan add-on selling dan cross-selling?
Add-on selling fokus pada item kecil bernilai rendah yang ditawarkan tepat di titik checkout, seperti garansi atau gift wrapping. Cross-selling lebih luas, menawarkan produk pelengkap di berbagai tahap pembelian, termasuk halaman produk dan email pasca-beli.
Berapa harga ideal produk add-on?
Aturan umum: harga add-on maksimal 25% dari harga produk utama. Jika produk utama Rp 200.000, add-on idealnya di bawah Rp 50.000. Tujuannya agar customer tidak berpikir dua kali saat menambahkan.
Apakah add-on selling efektif untuk bisnis online?
Sangat efektif. Shopify melaporkan bahwa strategi upsell dan add-on bisa menaikkan average order value 10-30%. Platform e-commerce seperti Tokopedia sudah menerapkan ini dengan menawarkan asuransi pengiriman saat checkout.
Apa contoh add-on selling yang paling umum?
Contoh paling umum: garansi extended, gift wrapping, express delivery, asuransi pengiriman, topping tambahan di restoran, screen protector saat beli handphone, dan tas belanja premium di toko retail.
Mulai Terapkan Add-On Selling Hari Ini
Add-on selling bukan strategi rumit. Intinya: tawarkan produk kecil yang relevan di momen checkout. Mulai dari satu produk best-seller, tambahkan satu add-on, dan ukur hasilnya.
Jika Anda ingin mengelola katalog produk dan add-on secara lebih rapi, BOS by Founderplus bisa membantu Anda mengatur sistem penjualan yang terstruktur — dari inventory hingga tracking revenue per produk.