Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Pricing Strategy Startup: Cara Tentukan Harga yang Profitable dan Kompetitif

Published on: Tuesday, Feb 03, 2026 By Tim Founderplus

Banyak founder startup menetapkan harga produk berdasarkan feeling. Ada yang langsung mematok harga paling murah di pasar karena takut tidak laku. Ada juga yang asal menambahkan margin di atas biaya produksi tanpa mempertimbangkan nilai yang diterima pelanggan. Hasilnya? Revenue memang masuk, tapi profit tidak pernah cukup untuk menopang pertumbuhan bisnis.

Pricing strategy bukan sekadar menaruh angka di halaman produk. Ini adalah keputusan strategis yang langsung berdampak pada gross margin, sustainability bisnis, dan kemampuan startup untuk scale. Harga yang terlalu rendah membunuh cashflow. Harga yang terlalu tinggi tanpa justifikasi nilai membunuh konversi.

Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana menyusun pricing strategy startup yang profitable sekaligus kompetitif. Mulai dari menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), memilih metode pricing yang tepat, hingga kapan waktu yang benar untuk menaikkan harga. Semua dibahas dengan kerangka berpikir yang bisa langsung kamu aplikasikan.

Jika kamu belum memahami dasar unit economics, sebaiknya baca dulu panduan lengkap Unit Economics Startup: Metrik Keuangan Wajib Sebelum Scale sebagai fondasi sebelum mendalami pricing strategy.

Mengapa Pricing Strategy Menentukan Hidup-Mati Startup

Pricing bukan variabel yang berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan seluruh aspek keuangan startup: revenue projection, gross margin, dan pada akhirnya net profit. Kesalahan pricing di tahap awal sering kali baru terasa dampaknya ketika startup mencoba scale, yaitu saat volume naik tapi margin tetap tipis atau bahkan minus.

Ada tiga dampak utama dari pricing yang salah.

Pertama, profit margin tidak cukup untuk reinvestasi. Startup yang memasang harga terlalu rendah mungkin mendapat banyak pelanggan, tapi setiap transaksi menyisakan margin terlalu kecil. Ketika biaya akuisisi pelanggan (CAC) diperhitungkan, startup justru merugi di setiap penjualan.

Kedua, persepsi nilai produk terdistorsi. Harga adalah sinyal. Ketika kamu menjual produk terlalu murah, pasar membaca itu sebagai produk berkualitas rendah. Mengubah persepsi ini di kemudian hari jauh lebih sulit daripada memasang harga tepat dari awal.

Ketiga, sulit mendapat pendanaan. Investor melihat unit economics. Jika gross margin startup tidak sehat karena pricing yang salah, kepercayaan investor terhadap kemampuan bisnis untuk profitable akan rendah. Ini langsung mempengaruhi valuasi dan peluang fundraising.

FAQ

Apa perbedaan utama cost-plus pricing dan value-based pricing?

Cost-plus pricing menentukan harga berdasarkan total biaya produksi ditambah margin keuntungan tetap. Value-based pricing menentukan harga berdasarkan persepsi nilai yang dirasakan pelanggan. Startup dengan diferensiasi produk kuat sebaiknya memilih value-based pricing karena potensi margin lebih tinggi.

Berapa gross margin yang sehat untuk startup?

Gross margin yang sehat berbeda per industri. Untuk SaaS, target minimal 70-80%. Untuk e-commerce, 40-60% sudah tergolong baik. Untuk F&B, 50-65% menjadi benchmark umum. Yang terpenting, gross margin harus cukup untuk menutup biaya operasional dan menghasilkan profit.

Kapan waktu yang tepat untuk menaikkan harga produk startup?

Waktu tepat menaikkan harga adalah ketika churn rate rendah dan stabil, demand konsisten melebihi supply, ada penambahan fitur atau nilai signifikan, biaya operasional meningkat, atau data menunjukkan willingness to pay pelanggan lebih tinggi dari harga saat ini.

Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk startup digital?

Untuk startup digital, HPP mencakup biaya server dan hosting, biaya payment gateway, biaya customer support langsung, lisensi software pihak ketiga, dan biaya delivery atau fulfillment. Jumlahkan semua biaya langsung per unit, lalu gunakan angka tersebut sebagai dasar perhitungan gross margin.

Apakah startup tahap awal sebaiknya memasang harga murah dulu?

Tidak selalu. Harga terlalu murah bisa merusak persepsi nilai produk dan membuat bisnis tidak sustainable. Lebih baik mulai dengan harga yang mencerminkan nilai produk, lalu validasi dengan data. Jika perlu menarik pengguna awal, gunakan diskon terbatas atau freemium model daripada memasang harga dasar terlalu rendah.

Langkah Pertama: Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

Sebelum membicarakan strategi pricing apapun, kamu wajib memahami HPP -- yaitu total biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk atau layanan. HPP menjadi dasar perhitungan gross margin, dan gross margin adalah indikator utama apakah bisnis kamu benar-benar menghasilkan uang dari operasi intinya.

Komponen HPP untuk Berbagai Model Bisnis

Komponen HPP berbeda tergantung jenis startup yang kamu jalankan.

Startup produk fisik (D2C, F&B, consumer goods):

  • Bahan baku atau material
  • Biaya produksi dan manufaktur
  • Biaya packaging
  • Biaya pengiriman ke warehouse
  • Biaya quality control

Startup digital (SaaS, marketplace, platform):

  • Biaya server dan cloud infrastructure
  • Biaya payment gateway per transaksi
  • Biaya customer support langsung
  • Lisensi software pihak ketiga
  • Biaya onboarding pelanggan

Startup jasa (konsultan, agensi, edtech):

  • Gaji atau fee tenaga ahli yang langsung mengerjakan project
  • Biaya tools yang digunakan per project
  • Biaya delivery dan fulfillment

Cara Menghitung HPP dan Gross Margin

Rumus dasarnya sederhana:

HPP per unit = Total biaya langsung / Jumlah unit yang diproduksi

Gross Margin = ((Harga Jual - HPP) / Harga Jual) x 100%

Contoh: Sebuah startup SaaS menjual subscription seharga Rp 500.000/bulan. Biaya server per user Rp 30.000, biaya payment gateway Rp 15.000, dan biaya support Rp 55.000. Total HPP = Rp 100.000.

Gross Margin = ((500.000 - 100.000) / 500.000) x 100% = 80%

Angka 80% ini sangat sehat untuk SaaS. Tapi jika startup yang sama menjual di harga Rp 150.000 dengan HPP yang sama, gross margin turun jadi 33% -- dan itu menjadi masalah serius untuk sustainability jangka panjang.

Pemahaman tentang HPP ini juga terkait erat dengan pengelolaan cashflow secara keseluruhan. Untuk gambaran lebih lengkap, baca juga Cashflow Management Startup: Panduan untuk Founder Non-Finance.

Tiga Metode Pricing Strategy untuk Startup

Setelah memahami struktur biaya, langkah berikutnya adalah memilih metode pricing. Ada tiga pendekatan utama yang paling relevan untuk startup.

1. Cost-Plus Pricing: Pendekatan Berbasis Biaya

Cost-plus pricing adalah metode paling straightforward. Kamu menghitung seluruh HPP, lalu menambahkan persentase margin keuntungan di atasnya.

Rumus: Harga Jual = HPP + (HPP x Markup Percentage)

Jika HPP per unit Rp 100.000 dan kamu ingin margin 50%, maka harga jual = Rp 100.000 + Rp 50.000 = Rp 150.000.

Kelebihan:

  • Mudah dihitung dan diterapkan
  • Menjamin setiap penjualan menghasilkan profit
  • Cocok untuk produk komoditas dengan diferensiasi rendah

Kekurangan:

  • Tidak memperhitungkan willingness to pay pelanggan
  • Bisa menghasilkan harga terlalu rendah jika nilai produk tinggi
  • Bisa menghasilkan harga terlalu tinggi jika kompetitor lebih efisien

Kapan menggunakannya: Startup tahap sangat awal yang belum punya data pasar cukup, atau bisnis dengan produk fisik yang margin industrinya sudah terstandar.

2. Value-Based Pricing: Pendekatan Berbasis Nilai

Value-based pricing menetapkan harga berdasarkan nilai yang dipersepsikan dan dirasakan pelanggan, bukan berdasarkan biaya produksi. Ini adalah metode yang digunakan oleh mayoritas startup sukses karena memungkinkan margin yang jauh lebih tinggi.

Cara menentukannya:

Langkah pertama, identifikasi problem utama yang dipecahkan produkmu. Langkah kedua, kuantifikasi dampak solusi tersebut bagi pelanggan dalam rupiah. Langkah ketiga, tetapkan harga sebagai fraksi dari nilai yang kamu berikan.

Contoh: Sebuah startup automation tool menghemat 20 jam kerja per bulan untuk tim marketing sebuah perusahaan. Jika biaya per jam kerja karyawan marketing Rp 100.000, maka nilai yang diberikan = Rp 2.000.000/bulan. Startup bisa memasang harga Rp 500.000-800.000/bulan (25-40% dari nilai yang diberikan) dan pelanggan tetap merasa itu investasi yang worth it.

Kelebihan:

  • Potensi margin tertinggi dari semua metode
  • Menyelaraskan harga dengan persepsi nilai pelanggan
  • Mendorong startup untuk terus meningkatkan value proposition

Kekurangan:

  • Membutuhkan pemahaman mendalam tentang pelanggan
  • Sulit diterapkan tanpa data validasi yang cukup
  • Memerlukan komunikasi nilai yang kuat dalam marketing

Kapan menggunakannya: Startup dengan produk yang memiliki diferensiasi jelas, terutama B2B SaaS, platform productivity, dan solusi yang menghemat waktu atau uang pelanggan secara terukur.

3. Competitive Pricing: Pendekatan Berbasis Pasar

Competitive pricing menetapkan harga dengan mempertimbangkan posisi relatif terhadap kompetitor. Bukan berarti selalu lebih murah, tapi harga disesuaikan dengan positioning yang dipilih.

Tiga posisi dalam competitive pricing:

Below market (penetration pricing): Harga lebih rendah dari rata-rata pasar. Bertujuan merebut market share cepat. Risiko: margin tipis, sulit dinaikkan nanti.

At market (parity pricing): Harga setara dengan kompetitor. Diferensiasi dilakukan melalui fitur, layanan, atau brand. Paling aman untuk startup yang masuk pasar yang sudah established.

Above market (premium pricing): Harga lebih tinggi dari pasar. Membutuhkan brand positioning kuat dan value proposition yang jelas superior.

Kelebihan:

  • Realistis terhadap kondisi pasar
  • Mudah dikomunikasikan ke pelanggan
  • Mengurangi risiko harga yang sama sekali meleset dari ekspektasi pasar

Kekurangan:

  • Bisa memicu price war yang merugikan semua pihak
  • Tidak selalu mencerminkan cost structure masing-masing startup
  • Mengikuti kompetitor yang mungkin juga salah dalam pricing

Kapan menggunakannya: Pasar yang sudah mature dengan banyak alternatif, atau ketika produk startup belum punya diferensiasi kuat.

Menggabungkan Tiga Metode: Framework Praktis

Dalam praktik, startup terbaik tidak hanya menggunakan satu metode. Mereka menggabungkan ketiganya dengan framework berikut:

Step 1 -- Tentukan price floor dari HPP. Gunakan cost-plus untuk mengetahui harga minimum agar tidak rugi. Ini adalah batas bawah yang tidak boleh dilanggar.

Step 2 -- Tentukan price ceiling dari value. Gunakan value-based pricing untuk mengetahui harga maksimum yang masih masuk akal bagi pelanggan. Ini adalah batas atas.

Step 3 -- Posisikan harga dalam range berdasarkan competitive landscape. Gunakan competitive pricing untuk memilih posisi optimal antara floor dan ceiling.

Step 4 -- Validasi dengan data. Jalankan A/B test, survei willingness to pay, atau soft launch di segmen kecil sebelum rollout penuh.

Hasilnya adalah harga yang profitable (di atas HPP dengan margin sehat), valuable (mencerminkan nilai bagi pelanggan), dan competitive (realistis terhadap kondisi pasar).

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menaikkan Harga

Menaikkan harga adalah salah satu keputusan paling sulit bagi founder, terutama karena takut kehilangan pelanggan. Tapi menaikkan harga di waktu yang tepat justru bisa meningkatkan profitabilitas secara drastis tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Berikut sinyal bahwa sudah waktunya menaikkan harga:

Churn rate rendah dan stabil. Jika pelanggan yang keluar sangat sedikit dan konsisten, itu sinyal kuat bahwa harga saat ini masih di bawah nilai yang mereka rasakan.

Fitur atau nilai produk sudah bertambah signifikan. Jika produkmu sudah jauh lebih baik dari versi pertama tapi harga belum berubah, ada value gap yang bisa dimonetisasi.

Biaya operasional meningkat. Kenaikan biaya server, gaji tim, atau bahan baku yang tidak diimbangi penyesuaian harga akan menggerus margin secara perlahan.

Data willingness to pay menunjukkan ruang kenaikan. Dari survei atau eksperimen harga, kamu menemukan pelanggan bersedia membayar lebih.

Demand secara konsisten melebihi capacity. Jika kamu kewalahan melayani permintaan, harga terlalu rendah menjadi bottleneck pertumbuhan.

Taktik Menaikkan Harga dengan Aman

Jangan menaikkan harga secara mendadak untuk semua pelanggan sekaligus. Gunakan pendekatan bertahap.

Grandfather existing customers. Beri pelanggan lama harga lama untuk periode tertentu (3-6 bulan) sebelum transisi ke harga baru. Ini menunjukkan apresiasi dan mengurangi churn.

Naikkan harga untuk pelanggan baru dulu. Uji respon pasar terhadap harga baru tanpa risiko kehilangan pelanggan yang sudah ada.

Bundling dengan penambahan nilai. Naikkan harga bersamaan dengan peluncuran fitur baru, sehingga pelanggan merasa mendapat lebih banyak, bukan membayar lebih mahal.

Komunikasikan alasannya. Transparansi tentang mengapa harga naik -- terutama jika disertai peningkatan layanan -- lebih dihargai pelanggan daripada kenaikan diam-diam.

Pricing Psychology: Prinsip Dasar yang Perlu Dipahami

Di balik setiap keputusan pembelian ada faktor psikologis. Memahami prinsip dasar pricing psychology membantu kamu menyusun struktur harga yang lebih efektif.

Charm pricing (angka 9). Harga Rp 499.000 dipersepsikan jauh lebih murah daripada Rp 500.000, meskipun selisihnya hanya Rp 1.000. Ini efektif untuk produk consumer dan paket entry-level.

Anchoring effect. Tampilkan opsi harga tertinggi terlebih dahulu, sehingga opsi di bawahnya terasa lebih terjangkau. Banyak startup SaaS menampilkan paket Enterprise di paling kiri atau paling atas halaman pricing untuk efek ini.

Decoy pricing (tiered pricing). Buat tiga tier harga di mana tier tengah menjadi pilihan paling "masuk akal" dibanding dua lainnya. Contoh klasik: Basic Rp 99.000, Pro Rp 199.000, Enterprise Rp 499.000. Mayoritas pelanggan memilih Pro karena terasa balance antara harga dan fitur.

Price framing. Ubah cara menyajikan harga. "Rp 16.000 per hari" terasa lebih ringan daripada "Rp 499.000 per bulan" meskipun angkanya sama. Framing per hari atau per jam efektif untuk produk subscription.

Loss aversion. Pelanggan lebih termotivasi menghindari kerugian daripada mendapat keuntungan. Frame produkmu sebagai sesuatu yang menghindari kerugian: "Tanpa tool ini, tim kamu kehilangan 20 jam produktif per bulan" lebih powerful daripada "Tool ini menghemat 20 jam per bulan."

Kesalahan Pricing yang Sering Dilakukan Startup

Hindari kesalahan-kesalahan berikut yang kerap ditemukan di startup tahap awal:

Menentukan harga berdasarkan biaya saja tanpa riset pasar. HPP penting sebagai dasar, tapi harga akhir harus memperhitungkan nilai dan kompetisi.

Takut memasang harga premium. Jika produkmu benar-benar menyelesaikan masalah penting, pelanggan bersedia membayar. Underpricing lebih berbahaya daripada overpricing karena lebih sulit dikoreksi.

Tidak pernah meninjau ulang harga. Pricing bukan keputusan satu kali. Minimal setiap 6 bulan, evaluasi ulang berdasarkan data terbaru tentang HPP, kompetitor, dan feedback pelanggan.

Memberikan diskon terlalu sering. Diskon yang terlalu sering melatih pelanggan untuk selalu menunggu promo. Gunakan diskon secara strategis dan terbatas, bukan sebagai strategi utama.

Tidak segmentasi harga. Satu harga untuk semua segmen pelanggan jarang optimal. Pertimbangkan tiered pricing berdasarkan usage, fitur, atau ukuran perusahaan pelanggan.

Membangun Pricing Strategy yang Data-Driven

Pricing strategy terbaik dibangun di atas data, bukan asumsi. Berikut metrik yang perlu kamu pantau secara rutin:

Gross margin per produk atau per tier. Pastikan setiap lini produk menghasilkan margin yang sehat.

Customer acquisition cost (CAC) vs. customer lifetime value (LTV). Rasio LTV:CAC minimal 3:1. Jika pricing membuat LTV terlalu rendah, model bisnis tidak sustainable.

Conversion rate di berbagai price point. Track bagaimana perubahan harga mempengaruhi tingkat konversi.

Churn rate pasca perubahan harga. Monitor apakah kenaikan harga menyebabkan peningkatan churn yang signifikan.

Pricing strategy yang solid adalah salah satu pilar terpenting dalam unit economics startup. Tanpa harga yang tepat, metrik keuangan lainnya tidak akan pernah sehat.


Menyusun pricing strategy yang profitable dan kompetitif membutuhkan kombinasi pemahaman biaya, analisis nilai pelanggan, dan awareness terhadap dinamika pasar. Tidak ada formula tunggal yang cocok untuk semua startup. Tapi dengan framework yang dibahas di artikel ini -- mulai dari menghitung HPP, memilih metode pricing, hingga menerapkan prinsip pricing psychology -- kamu punya dasar yang kuat untuk membuat keputusan harga yang tepat.

Yang paling penting: pricing adalah proses iteratif. Mulai dengan hipotesis terbaik berdasarkan data yang ada, validasi di pasar, lalu perbaiki terus-menerus.

Butuh bantuan menyusun pricing strategy yang tepat untuk startup kamu? Tim advisory Founderplus membantu founder menyusun strategi harga berbasis data, lengkap dengan financial modeling dan proyeksi profitabilitas. Jadwalkan sesi konsultasi sekarang dan pastikan setiap rupiah yang masuk benar-benar membangun bisnis yang sustainable.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang