Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Unit Economics Startup: Panduan Lengkap Menghitung Profitabilitas Bisnis

Published on: Friday, Feb 13, 2026 By Tim Founderplus

Revenue naik tiap bulan. User terus bertambah. Dashboard analytics menunjukkan grafik yang terus menanjak ke kanan atas. Semuanya terlihat sempurna, sampai Anda membuka rekening perusahaan dan menemukan saldo yang terus menyusut lebih cepat dari perkiraan.

Ini bukan cerita langka. Menurut data CB Insights, 38% startup gagal karena kehabisan kas atau gagal mendapatkan pendanaan baru. Dan akar masalahnya hampir selalu sama: founder tidak benar-benar memahami apakah bisnis mereka profitable di level per pelanggan.

Inilah yang disebut unit economics, fondasi paling mendasar yang menentukan apakah bisnis Anda layak untuk di-scale atau justru sedang berlari menuju jurang. Artikel ini adalah panduan lengkap yang membahas semua metrik unit economics yang perlu Anda kuasai, lengkap dengan rumus, contoh perhitungan dalam Rupiah, dan cara menghubungkan semuanya menjadi financial model yang actionable.

Jika Anda sudah memahami dasar manajemen keuangan startup, artikel ini akan membawa pemahaman Anda ke level berikutnya.

Apa Itu Unit Economics dan Kenapa Ini Kritis untuk Bisnis Anda

Unit economics adalah cara mengukur profitabilitas bisnis di level paling fundamental, yaitu per satu unit. "Unit" di sini bisa berarti satu pelanggan, satu transaksi, atau satu produk yang terjual, tergantung model bisnis Anda.

Konsepnya sederhana. Jika Anda menghabiskan Rp 200.000 untuk mendapatkan satu pelanggan, dan pelanggan itu menghasilkan total Rp 800.000 selama berlangganan, maka Anda untung Rp 600.000 per pelanggan. Itu unit economics yang sehat. Tapi kalau biaya akuisisinya Rp 500.000 dan pelanggan hanya menghasilkan Rp 300.000 sebelum churn, maka setiap pelanggan baru justru menambah kerugian Anda.

Kenapa ini kritis? Karena growth tanpa unit economics yang sehat adalah ilusi. Anda bisa saja menambah 1.000 pelanggan bulan ini, tapi kalau setiap pelanggan membuat Anda rugi Rp 200.000, artinya Anda baru saja menambah kerugian Rp 200 juta. Scale itu hanya memperbesar lubang.

Unit economics menjawab tiga pertanyaan fundamental:

  1. Apakah setiap pelanggan menghasilkan profit?
  2. Berapa besar profit per pelanggan?
  3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk balik modal dari investasi mendapatkan pelanggan tersebut?

Tanpa jawaban yang jelas untuk ketiga pertanyaan ini, setiap keputusan bisnis Anda, mulai dari berapa budget marketing, kapan hiring, sampai kapan fundraising, dibangun di atas asumsi yang rapuh.

7 Metrik Unit Economics yang Wajib Anda Kuasai

Sebelum masuk ke perhitungan detail, mari kenali dulu tujuh metrik inti yang membentuk gambaran utuh unit economics bisnis Anda. Masing-masing metrik saling terhubung, dan memahami hubungan antar metrik inilah yang membedakan founder yang data-driven dengan yang sekadar menebak-nebak.

1. Customer Acquisition Cost (CAC)

CAC adalah total biaya yang Anda keluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan baru. Ini bukan hanya biaya iklan. CAC mencakup seluruh biaya marketing, gaji tim sales dan marketing, tools yang dipakai, bahkan biaya pembuatan konten.

Rumus:

CAC = Total Biaya Sales dan Marketing dalam Periode Tertentu / Jumlah Pelanggan Baru dalam Periode yang Sama

Contoh perhitungan:

Bulan Januari, startup SaaS Anda mengeluarkan:

  • Biaya iklan digital: Rp 15.000.000
  • Gaji tim marketing (2 orang): Rp 20.000.000
  • Tools marketing (CRM, email, analytics): Rp 3.000.000
  • Content production: Rp 7.000.000

Total biaya: Rp 45.000.000

Pelanggan baru yang didapat di Januari: 30 orang

CAC = Rp 45.000.000 / 30 = Rp 1.500.000 per pelanggan

Yang perlu Anda perhatikan: CAC harus dihitung per channel. Mungkin CAC dari Google Ads adalah Rp 2.000.000, tapi CAC dari referral hanya Rp 300.000. Mengetahui ini membantu Anda mengalokasikan budget ke channel yang paling efisien.

Untuk strategi menurunkan CAC secara sistematis, Anda bisa pelajari lebih lanjut di artikel tentang strategi akuisisi pelanggan.

2. Customer Lifetime Value (LTV)

LTV adalah total revenue yang dihasilkan satu pelanggan selama mereka menggunakan produk Anda. Ini adalah metrik yang menunjukkan "nilai" sebenarnya dari setiap pelanggan.

Rumus untuk bisnis subscription:

LTV = ARPU (Average Revenue Per User) x Gross Margin x (1 / Churn Rate)

Contoh perhitungan:

  • ARPU: Rp 300.000/bulan
  • Gross Margin: 75%
  • Churn Rate: 4% per bulan

LTV = Rp 300.000 x 0.75 x (1 / 0.04) LTV = Rp 300.000 x 0.75 x 25 LTV = Rp 5.625.000

Artinya, setiap pelanggan rata-rata menghasilkan Rp 5.625.000 selama masa hidup mereka sebagai pelanggan Anda.

Rumus untuk bisnis transaksional (e-commerce, marketplace):

LTV = Rata-rata Nilai Order x Frekuensi Pembelian per Tahun x Rata-rata Lama Jadi Pelanggan (tahun) x Gross Margin

Contoh:

  • Rata-rata nilai order: Rp 150.000
  • Frekuensi: 6x per tahun
  • Lama jadi pelanggan: 2 tahun
  • Gross margin: 30%

LTV = Rp 150.000 x 6 x 2 x 0.30 = Rp 540.000

Untuk pembahasan lebih mendalam tentang cara menghitung dan meningkatkan LTV, baca panduan lengkap di cara menghitung LTV startup.

3. LTV:CAC Ratio

Ini adalah "rasio emas" dalam unit economics. LTV:CAC ratio menunjukkan seberapa efisien bisnis Anda dalam menghasilkan value dari setiap rupiah yang diinvestasikan untuk akuisisi pelanggan.

Benchmark:

  • Di bawah 1:1 = Anda rugi di setiap pelanggan. Hentikan scaling, perbaiki model bisnis.
  • 1:1 sampai 2:1 = Bisnis belum sustainable. Perlu optimasi CAC atau LTV.
  • 3:1 = Sweet spot. Setiap Rp 1 yang Anda investasikan menghasilkan Rp 3.
  • Di atas 5:1 = Bisnis sangat profitable, tapi bisa jadi Anda kurang agresif dalam growth. Ada peluang untuk invest lebih banyak di akuisisi.

Dari contoh di atas:

LTV:CAC = Rp 5.625.000 : Rp 1.500.000 = 3.75:1

Rasio 3.75:1 menunjukkan bisnis yang sehat dan siap untuk di-scale dengan lebih agresif. Tapi rasio ini perlu dilihat bersama metrik lain, khususnya payback period.

4. Payback Period

Payback period adalah berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mengembalikan investasi akuisisi satu pelanggan. Ini penting karena meskipun LTV:CAC rasionya bagus, kalau payback period-nya 3 tahun, Anda butuh modal besar untuk membiayai growth.

Rumus:

Payback Period = CAC / (ARPU x Gross Margin)

Contoh:

CAC = Rp 1.500.000 ARPU = Rp 300.000/bulan Gross Margin = 75%

Payback Period = Rp 1.500.000 / (Rp 300.000 x 0.75) Payback Period = Rp 1.500.000 / Rp 225.000 Payback Period = 6.67 bulan

Artinya, Anda butuh sekitar 7 bulan untuk balik modal dari investasi mendapatkan satu pelanggan. Setelah bulan ke-7, pelanggan tersebut mulai menghasilkan profit bersih.

Benchmark payback period:

  • Di bawah 6 bulan: Sangat bagus, Anda bisa agresif scaling
  • 6-12 bulan: Sehat untuk startup tahap awal
  • 12-18 bulan: Masih acceptable tapi perlu monitoring ketat
  • Di atas 18 bulan: Terlalu lama, perlu optimasi pricing atau CAC

5. Gross Margin

Gross margin menunjukkan berapa persen dari revenue yang tersisa setelah dikurangi biaya langsung untuk menyediakan produk atau layanan (COGS/HPP). Ini adalah indikator profitabilitas per unit sebelum memperhitungkan biaya operasional lainnya.

Rumus:

Gross Margin = (Revenue - COGS) / Revenue x 100%

Contoh untuk SaaS:

  • Revenue per pelanggan: Rp 300.000/bulan
  • COGS (server, customer support proporsional, third-party API): Rp 75.000/bulan

Gross Margin = (Rp 300.000 - Rp 75.000) / Rp 300.000 x 100% = 75%

Contoh untuk marketplace/e-commerce:

  • Revenue per transaksi (komisi): Rp 15.000
  • COGS (payment gateway fee, logistik subsidi): Rp 8.000

Gross Margin = (Rp 15.000 - Rp 8.000) / Rp 15.000 x 100% = 46.7%

Benchmark gross margin per industri:

  • SaaS: 70-85% (sangat tinggi karena biaya marginal rendah)
  • Marketplace: 40-65%
  • E-commerce (produk fisik): 25-50%
  • Jasa/agency: 50-70%

Gross margin yang rendah bukan selalu buruk, tapi artinya Anda butuh volume yang jauh lebih besar untuk mencapai profitabilitas. Jika gross margin Anda di bawah 40%, pertimbangkan untuk meninjau ulang pricing atau struktur biaya Anda.

6. Churn Rate

Churn rate adalah persentase pelanggan yang berhenti menggunakan produk atau layanan Anda dalam periode tertentu. Ini adalah "musuh utama" LTV, karena churn rate berbanding terbalik dengan masa hidup pelanggan.

Rumus:

Monthly Churn Rate = Jumlah Pelanggan yang Churn dalam Sebulan / Jumlah Pelanggan di Awal Bulan x 100%

Contoh:

  • Pelanggan awal bulan: 500
  • Pelanggan yang churn: 20

Churn Rate = 20 / 500 x 100% = 4% per bulan

Churn rate 4% per bulan terdengar kecil, tapi jangan tertipu. Secara tahunan, itu berarti hampir 40% pelanggan Anda hilang dalam setahun. Kalau Anda mendapatkan 30 pelanggan baru per bulan tapi kehilangan 20, net growth Anda hanya 10 pelanggan per bulan.

Benchmark churn rate:

  • SaaS B2B: 3-5% per bulan (acceptable), di bawah 2% (excellent)
  • SaaS B2C: 5-7% per bulan (acceptable), di bawah 4% (excellent)
  • E-commerce: Lebih sulit diukur, biasanya dilihat dari repeat purchase rate

Hubungan churn rate dengan LTV:

Average Customer Lifetime = 1 / Churn Rate

Dengan churn rate 4%, rata-rata pelanggan bertahan 25 bulan (1/0.04). Jika Anda bisa menurunkan churn menjadi 3%, pelanggan bertahan 33.3 bulan. Perbedaan 1% saja menambah 8 bulan masa hidup pelanggan, dan itu berdampak langsung pada LTV.

7. Contribution Margin

Contribution margin sering tertukar dengan gross margin, padahal keduanya berbeda. Contribution margin menghitung revenue dikurangi semua variable cost per unit, bukan hanya COGS.

Rumus:

Contribution Margin = Revenue per Unit - Variable Cost per Unit

Variable cost mencakup COGS plus biaya variabel lain yang berubah seiring volume, seperti biaya payment processing, komisi sales per deal, dan biaya onboarding pelanggan.

Contoh:

  • Revenue per pelanggan: Rp 300.000/bulan
  • COGS (server, support): Rp 75.000
  • Payment processing (2.9%): Rp 8.700
  • Biaya onboarding (diamortisasi): Rp 16.300

Total variable cost: Rp 100.000

Contribution Margin = Rp 300.000 - Rp 100.000 = Rp 200.000 per pelanggan per bulan

Contribution Margin % = Rp 200.000 / Rp 300.000 x 100% = 66.7%

Kenapa contribution margin penting? Karena angka inilah yang benar-benar "tersisa" untuk menutupi fixed cost Anda (gaji tim, sewa kantor, tools). Semakin tinggi contribution margin, semakin sedikit pelanggan yang Anda butuhkan untuk break even.

MRR, ARR, dan Recurring Revenue Metrics

Untuk bisnis berbasis langganan, MRR (Monthly Recurring Revenue) dan ARR (Annual Recurring Revenue) adalah metrik paling penting setelah unit economics per pelanggan. Kedua metrik ini menunjukkan seberapa "predictable" pendapatan Anda.

Menghitung MRR

MRR bukan sekadar total revenue bulan ini. MRR hanya menghitung pendapatan yang bersifat berulang dan predictable.

Rumus dasar:

MRR = Jumlah Pelanggan Aktif x ARPU

Contoh:

  • 150 pelanggan di plan Basic (Rp 199.000/bulan)
  • 80 pelanggan di plan Pro (Rp 399.000/bulan)
  • 20 pelanggan di plan Enterprise (Rp 999.000/bulan)

MRR = (150 x Rp 199.000) + (80 x Rp 399.000) + (20 x Rp 999.000) MRR = Rp 29.850.000 + Rp 31.920.000 + Rp 19.980.000 MRR = Rp 81.750.000

Komponen MRR yang Perlu Anda Track

MRR total saja tidak cukup. Anda perlu memecahnya menjadi komponen:

  • New MRR: Revenue dari pelanggan baru. Misalnya 30 pelanggan baru di plan rata-rata Rp 300.000 = Rp 9.000.000
  • Expansion MRR: Revenue tambahan dari pelanggan existing yang upgrade. Misalnya 10 pelanggan upgrade dari Basic ke Pro = Rp 2.000.000
  • Churned MRR: Revenue yang hilang dari pelanggan yang cancel. Misalnya 15 pelanggan churn di plan rata-rata Rp 250.000 = Rp 3.750.000
  • Contraction MRR: Revenue yang berkurang dari pelanggan yang downgrade. Misalnya 5 pelanggan downgrade dari Pro ke Basic = Rp 1.000.000

Net New MRR = New MRR + Expansion MRR - Churned MRR - Contraction MRR Net New MRR = Rp 9.000.000 + Rp 2.000.000 - Rp 3.750.000 - Rp 1.000.000 Net New MRR = Rp 6.250.000

Net New MRR positif berarti bisnis Anda tumbuh. Negatif berarti Anda kehilangan revenue lebih cepat dari yang Anda dapatkan. Perhatikan juga rasio antara Expansion MRR dan Churned MRR. Jika expansion bisa menutupi churn, Anda memiliki apa yang disebut "net negative churn", kondisi ideal dimana bisnis tumbuh bahkan tanpa pelanggan baru.

ARR dan Kapan Menggunakannya

ARR = MRR x 12

Dari contoh di atas: ARR = Rp 81.750.000 x 12 = Rp 981.000.000

ARR lebih sering digunakan dalam konteks fundraising dan valuasi startup. Investor biasanya menggunakan ARR sebagai basis untuk menghitung valuasi, misalnya 10x ARR. Dengan ARR Rp 981 juta, valuasi bisa berada di kisaran Rp 9.8 miliar.

Tapi hati-hati, jangan "menggelembungkan" ARR dengan memasukkan revenue one-time seperti setup fee atau konsultasi. ARR harus murni dari pendapatan berulang.

Burn Rate dan Runway: Berapa Lama Anda Bisa Bertahan

Setelah memahami sisi revenue dari unit economics, sekarang kita masuk ke sisi pengeluaran. Burn rate dan runway menentukan berapa lama bisnis Anda bisa bertahan sebelum kehabisan kas.

Menghitung Burn Rate

Net Burn Rate = Total Pengeluaran Bulanan - Total Pendapatan Bulanan

Contoh:

Total pengeluaran bulanan:

  • Gaji tim (8 orang): Rp 60.000.000
  • Sewa kantor dan operasional: Rp 8.000.000
  • Server dan infrastruktur: Rp 7.000.000
  • Marketing dan sales: Rp 20.000.000
  • Tools dan software: Rp 5.000.000

Total pengeluaran: Rp 100.000.000

Total pendapatan (MRR): Rp 81.750.000

Net Burn Rate = Rp 100.000.000 - Rp 81.750.000 = Rp 18.250.000/bulan

Menghitung Runway

Runway = Saldo Kas / Net Burn Rate

Jika saldo kas Anda saat ini Rp 300.000.000:

Runway = Rp 300.000.000 / Rp 18.250.000 = 16.4 bulan

Runway 16 bulan termasuk sehat, tapi ada catatan penting. Perhitungan ini mengasumsikan burn rate konstan. Dalam kenyataannya, pengeluaran cenderung naik seiring pertumbuhan (hiring baru, marketing spend naik), sementara revenue growth belum tentu linear.

Untuk pembahasan mendalam tentang burn rate, runway, dan strategi memperpanjang runway, Anda bisa baca artikel lengkap di burn rate dan runway startup.

Hubungan Burn Rate dengan Unit Economics

Di sinilah koneksi antar metrik menjadi powerful. Perhatikan bahwa net burn rate Anda (Rp 18.25 juta/bulan) bisa ditekan menjadi nol jika:

  • Menambah sekitar 92 pelanggan baru (dengan contribution margin Rp 200.000/pelanggan), atau
  • Menurunkan churn rate sehingga less revenue hilang setiap bulan, atau
  • Meningkatkan ARPU sehingga MRR naik tanpa harus menambah pelanggan

Ketika Anda melihat burn rate bukan sebagai angka mati tapi sebagai fungsi dari unit economics, Anda bisa membuat keputusan yang jauh lebih strategis. Apakah lebih efisien mengejar pelanggan baru, mengurangi churn, atau menaikkan harga? Jawabannya ada di angka-angka unit economics Anda.

Break Even Point: Kapan Bisnis Mulai Profit

Break even point (BEP) adalah momen dimana total revenue sama dengan total cost. Setelah titik ini, setiap rupiah tambahan adalah profit. Memahami BEP membantu Anda menetapkan target yang realistis dan mengkomunikasikan timeline profitabilitas ke investor saat proses fundraising.

Menghitung BEP Berbasis Unit Economics

Rumus:

BEP (dalam jumlah pelanggan) = Total Fixed Cost per Bulan / Contribution Margin per Pelanggan

Contoh:

Fixed cost bulanan:

  • Gaji tim: Rp 60.000.000
  • Sewa kantor: Rp 8.000.000
  • Tools dan software: Rp 5.000.000
  • Lain-lain fixed: Rp 2.000.000

Total fixed cost: Rp 75.000.000

Contribution margin per pelanggan: Rp 200.000/bulan

BEP = Rp 75.000.000 / Rp 200.000 = 375 pelanggan

Artinya, Anda butuh 375 pelanggan aktif yang membayar untuk mencapai break even. Saat ini Anda punya 250 pelanggan (dari contoh MRR di atas), jadi Anda butuh 125 pelanggan lagi.

Menghitung Waktu Menuju BEP

Jika net new customer Anda 10 per bulan (30 baru dikurangi 20 churn):

Waktu menuju BEP = 125 pelanggan / 10 pelanggan per bulan = 12.5 bulan

Tapi ini perhitungan statis. Kenyataannya, seiring pelanggan bertambah, revenue naik, dan jika Anda bisa memperbaiki churn rate, net new customer per bulan juga meningkat. Di sisi lain, fixed cost mungkin naik karena Anda perlu menambah tim.

Inilah kenapa financial modeling menjadi penting, karena Anda perlu memproyeksikan skenario dinamis, bukan hanya snapshot statis.

Dari Unit Economics ke Financial Model

Unit economics adalah fondasi, tapi financial model adalah bangunan lengkapnya. Financial model menghubungkan semua metrik unit economics dengan proyeksi revenue, expense, dan cashflow untuk 12 sampai 36 bulan ke depan.

Revenue Projection Model

Revenue projection untuk bisnis subscription dibangun dari unit economics bottom-up:

Langkah 1: Proyeksikan jumlah pelanggan

Bulan 1: 250 pelanggan (saat ini)

  • New customers: 30
  • Churned customers: 250 x 4% = 10
  • Net new: 20 Bulan 2: 270 pelanggan

Dengan asumsi new customer naik 10% per bulan dan churn rate konstan:

Bulan Pelanggan Awal New Churn Pelanggan Akhir
1 250 30 10 270
2 270 33 11 292
3 292 36 12 316
6 390 48 16 422
12 680 85 27 738

Langkah 2: Kalkulasi MRR

MRR bulan 12 = 738 pelanggan x Rp 300.000 ARPU = Rp 221.400.000

Bandingkan dengan MRR saat ini Rp 81.750.000. Itu growth hampir 3x dalam setahun, dan semuanya dibangun dari asumsi unit economics yang bisa divalidasi.

Langkah 3: Faktorkan expansion dan contraction

Model yang lebih sophisticated memperhitungkan:

  • Upgrade rate: berapa persen pelanggan upgrade per bulan
  • Downgrade rate: berapa persen yang downgrade
  • ARPU growth: apakah ada kenaikan harga yang direncanakan

Expense dan Cashflow Model

Di sisi expense, model Anda perlu memproyeksikan:

Variable costs (berubah seiring jumlah pelanggan):

  • Server cost per pelanggan: Rp 25.000/bulan
  • Customer support (proporsional): Rp 30.000/bulan per pelanggan
  • Payment processing: 2.9% dari revenue

Semi-variable costs (naik per "step"):

  • Hiring tim support baru setiap 100 pelanggan tambahan
  • Upgrade infrastruktur setiap milestone tertentu

Fixed costs (relatif konstan):

  • Gaji tim inti
  • Sewa kantor
  • Tools dan software

Dengan memproyeksikan revenue dan expense secara bersamaan, Anda bisa melihat kapan garis revenue akan memotong garis expense. Itulah break even point dinamis Anda.

Cashflow Forecasting

Revenue di laporan tidak sama dengan uang di rekening. Ada delay antara invoice dan pembayaran, ada expense yang dibayar di muka (sewa tahunan, gaji), dan ada seasonal variation.

Cashflow model memperhitungkan timing:

  • Kapan uang dari pelanggan benar-benar masuk (net 30? langsung?)
  • Kapan expense harus dibayar (gaji tanggal 25, sewa awal bulan)
  • Apakah ada pengeluaran besar yang terkonsentrasi (pembelian peralatan, event)

Untuk pemahaman lebih dalam tentang bagaimana mengelola cashflow sebagai founder, baca panduan di cashflow management untuk startup.

Di Founderplus Academy, ada kursus Financial Statements Practice yang membantu Anda membangun financial model dari nol, termasuk revenue projection, expense model, dan cashflow forecasting. Semua dipandu step-by-step dengan template yang bisa langsung Anda pakai. Mulai dari Rp 299.000/bulan di academy.founderplus.id.

Membaca Dashboard Unit Economics: Cara Menghubungkan Semua Metrik

Memahami setiap metrik secara terpisah itu penting, tapi kekuatan sesungguhnya ada di cara Anda membaca hubungan antar metrik. Berikut adalah cara membaca "dashboard" unit economics secara holistik.

Skenario 1: CAC Naik, LTV Tetap

Jika CAC naik dari Rp 1.500.000 ke Rp 2.000.000 sementara LTV tetap Rp 5.625.000:

  • LTV:CAC ratio turun dari 3.75:1 ke 2.81:1
  • Payback period naik dari 6.67 bulan ke 8.89 bulan
  • Anda membutuhkan lebih banyak modal kerja untuk membiayai growth

Tindakan: Evaluasi channel akuisisi mana yang semakin mahal. Apakah ada channel baru yang bisa dicoba? Apakah conversion rate di funnel bisa dioptimasi? Pelajari lebih lanjut di artikel tentang growth metrics yang wajib di-track.

Skenario 2: Churn Naik

Jika churn naik dari 4% ke 6%:

  • Average customer lifetime turun dari 25 bulan ke 16.7 bulan
  • LTV turun dari Rp 5.625.000 ke Rp 3.750.000
  • LTV:CAC ratio turun dari 3.75:1 ke 2.5:1
  • BEP mundur karena net new customer berkurang

Tindakan: Ini alarm merah. Investigasi kenapa pelanggan pergi. Apakah ada masalah produk? Apakah kompetitor menawarkan sesuatu yang lebih baik? Apakah onboarding tidak efektif? Fokus pada retensi sebelum mengejar akuisisi. Validasi ulang apakah produk Anda masih product-market fit.

Skenario 3: Gross Margin Menurun

Jika gross margin turun dari 75% ke 60%:

  • LTV turun karena profit per pelanggan berkurang
  • Payback period memanjang
  • BEP naik, butuh lebih banyak pelanggan

Tindakan: Evaluasi COGS. Apakah biaya server melonjak? Apakah biaya support per pelanggan naik? Apakah Anda perlu menaikkan harga? Kursus Smart Pricing Strong Planning di Founderplus Academy bisa membantu Anda merancang strategi pricing yang menjaga margin tetap sehat.

Skenario 4: MRR Growth Melambat

Jika MRR growth rate turun dari 15% ke 5% per bulan:

  • Waktu menuju BEP mundur signifikan
  • Runway terancam karena revenue tidak tumbuh secepat burn rate
  • Investor akan mempertanyakan trajectory

Tindakan: Analisis komponen MRR. Apakah new MRR yang melambat atau churned MRR yang meningkat? Keduanya membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda.

10 Kesalahan Fatal dalam Menghitung Unit Economics

Banyak founder yang sudah "menghitung" unit economics tapi hasilnya menyesatkan karena kesalahan metodologi. Berikut sepuluh kesalahan paling umum dan cara menghindarinya.

1. Menghitung CAC Tanpa Memasukkan Gaji Tim

CAC bukan hanya biaya iklan. Kalau tim marketing Anda tiga orang dengan total gaji Rp 30 juta per bulan, itu harus masuk dalam perhitungan CAC. Banyak founder hanya menghitung ad spend dan mengira CAC mereka rendah, padahal kalau gaji dimasukkan, angkanya bisa 2-3x lebih tinggi.

2. Menggunakan Revenue, Bukan Gross Profit untuk LTV

LTV seharusnya dihitung menggunakan gross margin, bukan revenue mentah. Kalau Anda menghitung LTV = ARPU x Customer Lifetime tanpa memperhitungkan COGS, LTV Anda akan overstated dan semua keputusan yang dibangun di atasnya jadi keliru.

3. Mengabaikan Cohort Analysis

Rata-rata keseluruhan bisa menyembunyikan tren. Mungkin churn rate rata-rata Anda 4%, tapi cohort bulan terakhir churn-nya 8%. Ini bisa jadi sinyal ada masalah di produk atau di kualitas pelanggan yang diakuisisi. Selalu analisis metrik per cohort.

4. Menghitung LTV dari Data yang Terlalu Sedikit

Kalau startup Anda baru 6 bulan dan Anda sudah menghitung "average customer lifetime" 25 bulan, itu proyeksi, bukan fakta. Akui keterbatasan data Anda dan gunakan estimasi konservatif.

5. Tidak Memperhitungkan Seasonality

Bisnis yang terkait seasonal events (back to school, Ramadan, akhir tahun) akan memiliki metrik yang fluktuatif. Jangan panik kalau CAC naik di low season. Lihat tren year-over-year, bukan month-over-month saja.

6. Mencampurkan Channel dalam CAC

CAC Google Ads dan CAC referral sangat berbeda. Ketika Anda mencampurnya menjadi satu angka blended CAC, Anda kehilangan insight tentang channel mana yang paling efisien. Track per channel, lalu buat blended untuk overview.

7. Tidak Menghitung Contribution Margin

Banyak startup hanya fokus ke gross margin dan lupa bahwa ada variable cost lain (payment processing, onboarding, komisi) yang menggerus profit per unit. Contribution margin memberikan gambaran yang lebih akurat.

8. Over-Optimistic Revenue Projection

Proyeksi revenue yang terlalu optimis biasanya mengasumsikan growth rate konstan atau naik terus. Kenyataannya, growth selalu ada ceiling-nya dan law of large numbers berlaku. Buat tiga skenario: optimistic, base case, dan pessimistic.

9. Tidak Memperhitungkan Working Capital

Meskipun unit economics Anda sehat di atas kertas, Anda tetap butuh modal kerja untuk membiayai gap antara pengeluaran dan penerimaan. Payback period 7 bulan berarti Anda harus "membiayai" setiap pelanggan selama 7 bulan sebelum mereka jadi profitable.

10. Menghitung Unit Economics Sekali, Lalu Dilupakan

Unit economics bukan tugas satu kali. Ini harus di-review minimal bulanan karena kondisi pasar, kompetisi, dan perilaku pelanggan terus berubah. Buat dashboard yang bisa Anda monitor secara real-time.

Program BOS (Business Operating System) di bos.founderplus.id membantu Anda membangun dashboard unit economics yang actionable selama 2 bulan. Anda tidak hanya belajar teori, tapi langsung build dashboard dengan data bisnis Anda sendiri, dipandu mentor yang sudah berpengalaman membantu puluhan startup mengoptimasi unit economics mereka.

Studi Kasus: Unit Economics Startup SaaS Indonesia

Mari kita satukan semua metrik dalam satu contoh lengkap untuk startup SaaS B2B yang menjual tools manajemen proyek untuk UKM.

Profil bisnis:

  • 3 plan: Basic Rp 199.000, Pro Rp 399.000, Enterprise Rp 999.000
  • Total pelanggan aktif: 250
  • Distribusi: 60% Basic, 30% Pro, 10% Enterprise
  • Tim: 8 orang

Perhitungan metrik:

Metrik Nilai Status
ARPU Rp 327.000/bulan Cukup baik
MRR Rp 81.750.000 Growing
ARR Rp 981.000.000 Mendekati Rp 1M
CAC Rp 1.500.000 Perlu monitor
LTV (gross margin 75%, churn 4%) Rp 6.131.250 Sehat
LTV:CAC Ratio 4.09:1 Sangat baik
Payback Period 6.1 bulan Bagus
Contribution Margin Rp 218.000/pelanggan (66.7%) Sehat
Monthly Churn Rate 4% Perlu perbaikan
Net Burn Rate Rp 18.250.000/bulan Terkendali
Runway 16.4 bulan Aman
BEP 344 pelanggan 94 pelanggan lagi
Waktu menuju BEP ~9.4 bulan On track

Insight dari dashboard:

  1. LTV:CAC ratio 4.09:1 sangat bagus, artinya ada ruang untuk scaling lebih agresif
  2. Churn 4% adalah titik lemah terbesar. Menurunkan ke 3% akan meningkatkan LTV menjadi Rp 8.175.000 dan ratio menjadi 5.45:1
  3. Runway 16 bulan memberikan waktu yang cukup untuk mencapai BEP tanpa perlu fundraising mendesak
  4. Fokus utama seharusnya: turunkan churn, lalu scale akuisisi

Inilah kekuatan unit economics, bukan hanya mengetahui angka, tapi memahami cerita di balik angka dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data.

FAQ

Apa itu unit economics dan kenapa penting untuk startup?

Unit economics adalah analisis profitabilitas bisnis di level per pelanggan atau per transaksi. Ini penting karena menunjukkan apakah setiap pelanggan yang Anda dapatkan benar-benar menghasilkan profit, bukan justru menambah kerugian. Tanpa unit economics yang sehat, scaling hanya memperbesar masalah.

Berapa rasio LTV:CAC yang ideal untuk startup di Indonesia?

Rasio LTV:CAC yang sehat minimal 3:1, artinya setiap pelanggan menghasilkan nilai tiga kali lipat biaya akuisisinya. Di bawah 3:1 bisnis belum sustainable untuk di-scale. Di atas 5:1 bisa berarti Anda kurang agresif berinvestasi di pertumbuhan.

Bagaimana cara menghitung contribution margin?

Contribution margin dihitung dengan rumus: Revenue per Unit dikurangi Variable Cost per Unit. Misalnya revenue per pelanggan Rp 300.000 per bulan dan variable cost Rp 90.000, maka contribution margin adalah Rp 210.000 atau 70%. Angka ini menunjukkan berapa besar setiap penjualan berkontribusi menutupi fixed cost.

Apa perbedaan MRR dan ARR?

MRR (Monthly Recurring Revenue) adalah pendapatan berulang per bulan, sedangkan ARR (Annual Recurring Revenue) adalah pendapatan berulang tahunan. ARR bisa dihitung dengan mengalikan MRR dengan 12. MRR lebih berguna untuk tracking bulanan, ARR lebih sering dipakai saat bicara valuasi dengan investor.

Kapan sebaiknya startup mulai menghitung unit economics?

Idealnya sejak Anda memiliki pelanggan yang membayar, bahkan sebelumnya dengan asumsi. Semakin dini Anda memahami angka-angka ini, semakin cepat Anda bisa mengambil keputusan yang tepat soal pricing, marketing spend, dan kapan waktunya scale.

Bagaimana hubungan antara churn rate dan LTV?

Churn rate berbanding terbalik dengan LTV. Semakin tinggi churn, semakin rendah LTV karena pelanggan tidak bertahan lama. Menurunkan churn rate 5% saja bisa meningkatkan LTV secara signifikan. Itulah kenapa retensi sering kali lebih profitable daripada akuisisi pelanggan baru.

Berapa break even point yang realistis untuk startup tahap awal?

Tidak ada angka universal karena sangat tergantung pada model bisnis dan burn rate. Tapi sebagai pedoman, startup SaaS biasanya menargetkan BEP dalam 18-36 bulan. Yang penting bukan kapan BEP tercapai, tapi apakah trajectory-nya jelas dan bisa dibuktikan dengan data unit economics.

Langkah Selanjutnya: Action Plan Unit Economics untuk Bisnis Anda

Jangan hanya membaca artikel ini lalu menutup browser. Berikut langkah konkret yang bisa Anda lakukan minggu ini:

Hari 1-2: Kumpulkan data

  • Berapa total spending marketing dan sales bulan lalu?
  • Berapa pelanggan baru yang didapat?
  • Berapa pelanggan yang churn?
  • Berapa COGS per pelanggan?

Hari 3-4: Hitung 7 metrik utama

  • CAC, LTV, LTV:CAC ratio, payback period, gross margin, churn rate, contribution margin

Hari 5: Hitung MRR dan komponen-komponennya

  • New MRR, expansion MRR, churned MRR, contraction MRR

Hari 6-7: Bangun proyeksi sederhana

  • Proyeksikan 12 bulan ke depan berdasarkan unit economics saat ini
  • Hitung kapan BEP tercapai
  • Identifikasi lever terbesar untuk memperbaiki trajectory

Jika Anda merasa butuh panduan lebih terstruktur untuk membangun financial model dan dashboard unit economics, kursus Financial Statements Practice dan Smart Pricing Strong Planning di academy.founderplus.id memberikan framework dan template siap pakai yang bisa Anda implementasikan langsung ke bisnis Anda.

Unit economics bukan sekadar angka untuk laporan investor. Ini adalah kompas yang menunjukkan arah bisnis Anda. Founder yang menguasai unit economics membuat keputusan berdasarkan data, bukan feeling. Dan di ekosistem startup Indonesia yang semakin kompetitif, itu bisa jadi perbedaan antara bisnis yang bertahan dan yang mati pelan-pelan.

Mulai hitung unit economics bisnis Anda hari ini. Karena semakin cepat Anda tahu angkanya, semakin cepat Anda bisa memperbaikinya.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang