Kalau Anda baru pertama kali mendengar istilah "burn rate," penjelasan sederhananya begini: burn rate adalah seberapa cepat startup Anda menghabiskan uang kas setiap bulan.
Konsep ini terdengar simpel, tapi banyak founder yang baru benar-benar memahami dampaknya saat kas tinggal beberapa bulan. Padahal, burn rate adalah salah satu metrik paling fundamental yang menentukan apakah startup Anda punya cukup waktu untuk bertahan, tumbuh, dan mencapai profitabilitas.
Mari kita bahas tuntas, tapi singkat.
Definisi Burn Rate: Gross vs Net
Menurut Investopedia, burn rate adalah kecepatan sebuah perusahaan menghabiskan kas sebelum menghasilkan arus kas positif. Ada dua jenis yang perlu Anda bedakan:
Gross burn rate adalah total pengeluaran operasional per bulan. Ini mencakup semua biaya: gaji, sewa kantor, server, marketing, dan operasional lainnya. Tidak peduli berapa revenue Anda, gross burn rate tetap dihitung dari total pengeluaran.
Net burn rate adalah selisih antara pengeluaran dan pendapatan per bulan. Inilah angka yang lebih penting karena menunjukkan seberapa cepat kas Anda benar-benar terkuras.
Contoh sederhana:
- Total pengeluaran bulanan: Rp 120 juta
- Revenue bulanan: Rp 40 juta
- Gross burn rate = Rp 120 juta
- Net burn rate = Rp 120 juta - Rp 40 juta = Rp 80 juta per bulan
Artinya, meskipun startup Anda sudah menghasilkan pendapatan, kas tetap berkurang Rp 80 juta setiap bulannya.
Kenapa Burn Rate Krusial di 2026?
Ini bukan sekadar teori keuangan. Di lanskap startup saat ini, burn rate menentukan hidup-mati bisnis Anda.
Menurut data PitchBook melalui The VC Corner, sepanjang Q3 2025 hanya $45,7 miliar yang berhasil dihimpun oleh 376 fund, menjadikannya salah satu tahun terlemah dalam satu dekade terakhir. CB Insights mencatat bahwa alasan paling umum startup gagal adalah kehabisan kas.
Data dari Carta juga menunjukkan bahwa per Q2 2025, bridge round mencapai 16,6% dari total dana VC, dan angka ini terus naik. Artinya, banyak startup yang tidak berhasil mendapat pendanaan seri berikutnya dan harus "menjembatani" dengan pendanaan darurat.
Di era ini, investor tidak lagi hanya bertanya soal ARR atau growth rate. Mereka ingin tahu: berapa burn rate Anda, berapa lama runway, dan apa rencana Anda kalau pendanaan tertunda satu kuartal?
Startup yang bisa menunjukkan disiplin pengeluaran justru punya posisi tawar lebih kuat saat fundraising. Ini kebalikan total dari era 2020-2021 yang "growth at all costs."
Cara Menghitung Burn Rate
Formulanya sederhana:
Gross Burn Rate = Total pengeluaran operasional per bulan
Net Burn Rate = Total pengeluaran - Total pendapatan per bulan
Contoh kasus dalam Rupiah:
Startup SaaS tahap seed dengan tim 8 orang:
| Komponen | Jumlah/Bulan |
|---|---|
| Gaji & benefit tim | Rp 72 juta |
| Sewa kantor & utilitas | Rp 12 juta |
| Server & infrastruktur | Rp 8 juta |
| Marketing & sales | Rp 15 juta |
| Operasional lain | Rp 13 juta |
| Total pengeluaran | Rp 120 juta |
| Revenue | Rp 30 juta |
- Gross burn rate: Rp 120 juta/bulan
- Net burn rate: Rp 90 juta/bulan
Angka ini yang kemudian menentukan runway Anda.
Hubungan Burn Rate dengan Runway
Runway adalah berapa bulan startup bisa bertahan sebelum kas habis. Rumusnya:
Runway (bulan) = Total kas / Net burn rate per bulan
Dari contoh di atas, jika startup punya kas Rp 1,8 miliar:
Runway = Rp 1,8 miliar / Rp 90 juta = 20 bulan
Menurut Phoenix Strategy Group, investor di 2025-2026 mengharapkan startup punya runway 24 hingga 30 bulan. Dengan kas Rp 1,8 miliar dan burn Rp 90 juta, runway Anda masih di bawah ekspektasi ideal.
Pilihan Anda: kurangi burn rate, atau naikkan revenue. Idealnya keduanya.
Untuk simulasi lebih detail tentang skenario burn dan runway, baca panduan lengkap kami di Burn Rate dan Runway: Berapa Lama Startup Bisa Bertahan.
Burn Multiple: Metrik Efisiensi yang Makin Penting
Selain burn rate dan runway, ada satu metrik lagi yang sekarang jadi filter utama investor: burn multiple.
Burn Multiple = Net Burn / Net New ARR
Burn multiple mengukur seberapa efisien Anda "membakar" uang untuk menghasilkan pertumbuhan. Menurut The VC Corner:
- Di bawah 1x: sangat efisien, posisi kuat untuk fundraising
- 1x - 2x: wajar untuk startup growth stage
- Di atas 2x: investor akan mempertanyakan efisiensi Anda
Contoh: jika net burn Anda Rp 90 juta/bulan (Rp 1,08 miliar/tahun) dan net new ARR Rp 600 juta, maka burn multiple Anda = 1,8x. Masih aman, tapi ada ruang perbaikan.
Tiga Kesalahan Umum Seputar Burn Rate
1. Hanya fokus pada gross burn, mengabaikan net burn. Gross burn tanpa konteks revenue bisa menyesatkan. Startup dengan gross burn Rp 200 juta tapi revenue Rp 150 juta (net burn Rp 50 juta) jauh lebih sehat dari yang gross burn-nya Rp 100 juta tanpa revenue sama sekali.
2. Tidak menyiapkan buffer untuk penundaan fundraising. TechCrunch mencatat bahwa banyak founder menarget angka fundraising tanpa menghitung berapa lama modal itu bertahan. Proses fundraising bisa memakan 3-6 bulan. Kalau runway Anda pas-pasan, Anda akan fundraise dari posisi lemah. Sisakan minimal 6 bulan buffer di atas timeline fundraising Anda.
3. Menaikkan burn terlalu cepat setelah dapat pendanaan. Fenomena klasik: baru closing seed round, langsung hire besar-besaran dan pindah kantor. Menurut Forbes, monitoring burn rate harus jadi kebiasaan rutin, bukan sesuatu yang hanya dilihat saat kas mulai menipis. Naikkan pengeluaran secara bertahap sesuai milestone, bukan sekaligus.
Langkah Konkret untuk Founder
Jika Anda baru mulai memperhatikan burn rate, berikut yang bisa dilakukan minggu ini:
- Hitung net burn rate aktual Anda hari ini. Bukan estimasi, tapi angka riil dari rekening dan laporan keuangan.
- Hitung runway. Kas yang tersedia dibagi net burn rate. Apakah di atas 18 bulan?
- Buat skenario. Bagaimana kalau revenue turun 20%? Bagaimana kalau Anda harus cut 2 posisi? Model skenario ini sebelum keadaan memaksa.
- Monitor bulanan. Jadikan review burn rate bagian dari ritme evaluasi mingguan Anda.
Untuk memahami metrik keuangan startup secara lebih holistik, termasuk bagaimana burn rate berinteraksi dengan unit economics dan valuasi, baca juga panduan kami tentang unit economics sebelum scale dan cara menghitung valuasi startup.
Dan ketika waktunya fundraising tiba, pastikan Anda sudah siap dengan angka-angka ini. Investor akan bertanya. Baca panduan fundraising kami untuk persiapan lengkapnya.
Penutup
Burn rate bukan angka yang menakutkan. Justru, memahami dan mengelola burn rate adalah tanda kedewasaan founder. Di era di mana modal ventura makin selektif dan efisiensi menjadi standar baru, founder yang paham burn rate, runway, dan burn multiple punya keunggulan nyata.
Intinya sederhana: ketahui berapa uang yang keluar, berapa yang masuk, dan berapa lama Anda bisa bertahan. Dari situ, semua keputusan strategis jadi lebih jernih.
Mau belajar kelola keuangan startup lebih dalam? Cek kursus Financial Statements Practice di academy.founderplus.id.