Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Apa itu Revenue-Based Financing? Alternatif Pendanaan Tanpa Kehilangan Equity

Published on: Tuesday, Mar 31, 2026 By Tim Founderplus

Bayangkan Anda butuh modal Rp500 juta untuk scale bisnis. Pilihan klasiknya: cari investor dan lepas 15-20% saham, atau ambil pinjaman bank dengan cicilan tetap yang mencekik cashflow.

Tapi bagaimana kalau ada opsi ketiga? Modal masuk, tidak ada saham yang hilang, dan cicilan menyesuaikan pendapatan Anda setiap bulan.

Itulah konsep dasar Revenue-Based Financing (RBF). Model pendanaan yang makin populer di kalangan startup, terutama di era funding winter yang membuat raising equity jadi lebih sulit.

Apa Itu Revenue-Based Financing?

Revenue-Based Financing adalah model pendanaan di mana investor memberikan modal di depan, lalu startup membayar kembali sebagai persentase tetap dari revenue bulanan sampai total pembayaran mencapai batas tertentu (disebut "cap").

Secara sederhana:

  1. Investor kasih modal, misalnya Rp500 juta
  2. Anda bayar 8% dari revenue bulanan
  3. Pembayaran berhenti setelah total mencapai cap, biasanya 1,3x sampai 1,7x dari modal awal (jadi Rp650 juta sampai Rp850 juta)

Yang menarik, pembayaran naik turun mengikuti revenue Anda. Bulan bagus, bayar lebih besar. Bulan sepi, bayar lebih kecil. Tidak ada cicilan tetap yang harus dipenuhi di bulan-bulan sulit.

Menurut laporan Research and Markets, pasar RBF global tumbuh dari $9,77 miliar di 2025 menjadi $15,86 miliar di 2026, dengan CAGR 62,2%. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya adopsi model ini di seluruh dunia.

Kenapa RBF Relevan Sekarang?

Beberapa tahun terakhir, ekosistem startup mengalami pergeseran besar. Berikut alasan kenapa RBF makin diminati:

Funding winter belum benar-benar reda. Investor VC makin selektif. Proses fundraising jadi lebih panjang dan valuasi yang ditawarkan lebih konservatif. Banyak founder yang akhirnya mencari alternatif.

Founder makin sadar soal dilusi. Melepas 20-30% equity di tahap awal artinya kehilangan kontrol signifikan di masa depan. Banyak founder yang mulai bertanya: apakah perlu jual saham untuk modal operasional?

Model bisnis recurring makin dominan. SaaS, subscription box, marketplace dengan GMV konsisten. Semua ini punya revenue yang bisa diprediksi, yang menjadi syarat utama RBF.

Teknologi mempercepat proses. Platform RBF modern bisa menganalisis data revenue Anda secara real-time, lalu memberikan penawaran dalam hitungan hari. Jauh lebih cepat dari proses VC yang bisa makan waktu 3-6 bulan.

RBF vs Equity Financing vs Debt Financing

Untuk memahami posisi RBF, berikut perbandingan dengan dua model pendanaan yang lebih umum:

Equity Financing (VC/Angel)

  • Anda jual saham ke investor
  • Tidak perlu bayar kembali (kecuali lewat exit)
  • Kehilangan sebagian kepemilikan dan kontrol
  • Cocok untuk startup pre-revenue yang butuh modal besar
  • Proses panjang: pitching, due diligence, negosiasi term sheet

Baca juga: Perbedaan Angel Investor vs VC

Debt Financing (Pinjaman Bank/Venture Debt)

  • Anda pinjam uang dengan bunga tetap
  • Cicilan tetap setiap bulan, tidak peduli kondisi bisnis
  • Tidak ada dilusi equity
  • Butuh jaminan atau track record keuangan kuat
  • Risiko: gagal bayar bisa berujung masalah hukum

Revenue-Based Financing

  • Anda terima modal, bayar kembali dari % revenue
  • Cicilan fleksibel mengikuti kondisi bisnis
  • Tidak ada dilusi equity
  • Tidak butuh jaminan aset, tapi butuh revenue track record
  • Total biaya lebih tinggi dari pinjaman bank, tapi lebih rendah dari "biaya" jual equity

Intinya, RBF duduk di antara equity dan debt. Sering disebut "quasi-equity" karena fleksibilitasnya mirip equity, tapi tanpa dilusi.

Bagaimana Cara Kerja RBF Secara Detail?

Prosesnya biasanya seperti ini:

Langkah 1: Koneksi data. Anda menghubungkan platform RBF ke data keuangan Anda, bisa lewat integrasi ke payment gateway, rekening bank, atau dashboard analytics.

Langkah 2: Assessment otomatis. Platform menganalisis revenue historis, growth rate, churn, dan metrik lain untuk menentukan berapa modal yang bisa diberikan.

Langkah 3: Penawaran. Anda mendapat penawaran dengan detail: jumlah modal, persentase revenue share (biasanya 5-15%), dan cap (total yang harus dibayar kembali).

Langkah 4: Pencairan. Setelah deal disepakati, modal masuk ke rekening Anda. Prosesnya bisa dalam hitungan hari.

Langkah 5: Pembayaran otomatis. Setiap bulan, persentase yang disepakati dipotong otomatis dari revenue sampai cap tercapai.

Perlu dicatat, setiap platform punya variasi model. Ada yang murni revenue share, ada yang berbasis Annual Recurring Revenue (ARR) untuk SaaS. Tapi prinsip dasarnya sama: bayar dari revenue, bukan dari kantong tetap.

Siapa yang Cocok Pakai RBF?

RBF bukan untuk semua jenis bisnis. Berikut profil startup yang paling cocok:

Startup SaaS atau subscription-based. Revenue recurring yang konsisten membuat pembayaran RBF lebih predictable. Platform seperti Capchase dan Founderpath memang fokus di segmen ini.

E-commerce dengan revenue stabil. Bisnis e-commerce yang sudah punya traction dan revenue konsisten bisa memanfaatkan RBF untuk scale inventory atau marketing.

Bisnis dengan gross margin tinggi. Semakin tinggi margin, semakin nyaman membayar persentase revenue tanpa mengorbankan profitabilitas.

Founder yang tidak mau dilusi di tahap growth. Kalau Anda sudah punya product-market fit dan butuh modal untuk scale, RBF bisa jadi opsi agar tidak perlu lepas saham lagi.

Yang tidak cocok pakai RBF: startup pre-revenue, bisnis dengan revenue sangat fluktuatif tanpa pola, atau bisnis yang butuh modal sangat besar (miliaran) untuk R&D jangka panjang.

Player RBF di Indonesia dan Global

Berikut beberapa platform RBF yang bisa Anda pertimbangkan:

Global:

  • Pipe menawarkan model "trading" revenue, di mana Anda bisa menjual recurring revenue ke investor
  • Clearco fokus di startup tech, menyediakan pendanaan $10.000 sampai $20 juta
  • Capchase spesialis SaaS dengan ARR minimal $250.000
  • Founderpath dirancang khusus untuk bootstrapped B2B SaaS, pendanaan sampai 70% dari ARR
  • Uncapped populer di Eropa dengan proses yang cepat

Asia Tenggara:

  • Jenfi (berbasis di Singapura) menyediakan growth capital berbasis revenue untuk digital business di Asia Tenggara. Salah satu pioneer RBF di kawasan ini

Untuk Indonesia secara spesifik, ekosistem RBF murni masih berkembang. Beberapa fintech lending seperti KoinWorks dan platform lainnya menawarkan produk pinjaman yang mendekati konsep RBF, meskipun belum sepenuhnya pure revenue-based.

Ini justru peluang. Seiring makin banyak startup Indonesia yang punya revenue recurring, kemungkinan besar akan muncul lebih banyak player RBF lokal.

Kelebihan dan Kekurangan RBF

Kelebihan

  • Tidak ada dilusi equity. Anda retain 100% kepemilikan
  • Pembayaran fleksibel. Cicilan naik turun sesuai revenue, jadi lebih aman untuk cashflow
  • Proses cepat. Kebanyakan platform bisa mencairkan dana dalam hitungan hari sampai minggu
  • Tidak perlu board seat. Investor RBF tidak ikut campur keputusan bisnis
  • Cocok untuk growth capital. Ideal untuk scaling marketing, hiring, atau inventory

Kekurangan

  • Butuh revenue yang sudah jalan. Tidak cocok untuk startup pre-revenue
  • Total biaya bisa lebih tinggi. Cap 1,3-1,7x berarti Anda bayar 30-70% lebih dari modal yang diterima
  • Mengurangi cashflow bulanan. 5-15% revenue yang dipotong setiap bulan bisa terasa berat jika margin tipis
  • Jumlah modal terbatas. Biasanya tidak sebesar yang bisa didapat dari VC round
  • Tidak semua model bisnis cocok. Bisnis dengan revenue tidak teratur sulit mendapat penawaran bagus

FAQ

Apa itu revenue-based financing?

Revenue-based financing (RBF) adalah model pendanaan di mana investor memberikan modal dan startup membayar kembali sebagai persentase dari revenue bulanan sampai mencapai batas tertentu (cap).

Apakah RBF cocok untuk startup pre-revenue?

Tidak. RBF membutuhkan revenue yang sudah berjalan dan konsisten karena pembayaran dihitung dari persentase pendapatan bulanan.

Berapa persentase revenue yang biasanya dibayarkan dalam RBF?

Umumnya antara 5% sampai 15% dari revenue bulanan, tergantung kesepakatan dengan investor atau platform RBF.

Apa bedanya RBF dengan venture capital?

VC mengambil equity (kepemilikan saham), sedangkan RBF tidak. Dengan RBF, Anda membayar kembali dari revenue tanpa kehilangan saham perusahaan.

Platform RBF apa saja yang tersedia di Asia Tenggara?

Beberapa platform RBF di Asia Tenggara antara lain Jenfi (Singapura, melayani SEA), dan secara global ada Pipe, Clearco, Capchase, serta Founderpath.

Kesimpulan

Revenue-Based Financing bukan pengganti VC atau pinjaman bank. Tapi RBF memberikan opsi tambahan yang sangat masuk akal untuk startup yang sudah punya revenue dan tidak ingin kehilangan equity demi modal operasional.

Di era di mana efisiensi modal jadi prioritas utama, memahami berbagai opsi pendanaan, termasuk RBF, adalah kemampuan penting bagi setiap founder.

Mau belajar lebih dalam soal opsi pendanaan startup? Baca panduan lengkapnya di /blog/cara-fundraising-startup-indonesia atau cek kursus Advance Fundraising di academy.founderplus.id.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang