Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Cara Menghitung LTV Startup: Formula, Contoh, dan Cara Meningkatkannya

Published on: Thursday, Feb 05, 2026 By Tim Founderplus

LTV adalah satu angka yang bisa menentukan apakah startup Anda akan bertahan atau mati pelan-pelan. Tapi ironisnya, banyak founder yang bahkan tidak tahu berapa nilai satu pelanggan mereka.

Tanpa mengetahui LTV, Anda sedang menjalankan bisnis dengan mata tertutup. Anda tidak tahu berapa boleh spending untuk mendapatkan satu pelanggan. Anda tidak tahu apakah channel marketing Anda profitable atau justru membakar uang. Dan yang paling berbahaya, Anda tidak tahu apakah bisnis model Anda benar-benar bisa menghasilkan profit dalam jangka panjang.

Artikel ini akan membahas cara menghitung LTV startup secara lengkap, mulai dari formula dasar, contoh perhitungan dengan angka Rupiah untuk berbagai model bisnis, hingga strategi konkret untuk meningkatkan LTV. Semua dibahas dengan bahasa yang langsung bisa Anda aplikasikan, tanpa jargon keuangan yang berbelit.

Jika Anda belum memahami dasar unit economics secara keseluruhan, sebaiknya baca dulu panduan Unit Economics Startup: Metrik Keuangan Wajib Sebelum Scale sebagai fondasi sebelum mendalami LTV.

Apa Itu LTV (Customer Lifetime Value)

LTV atau Customer Lifetime Value adalah total pendapatan bersih yang dihasilkan oleh satu pelanggan selama mereka menjadi pengguna produk atau layanan Anda. Bukan hanya satu kali transaksi, tapi akumulasi dari seluruh transaksi yang dilakukan pelanggan tersebut dari pertama kali membeli sampai mereka berhenti.

Sederhananya begini. Kalau seorang pelanggan berlangganan produk SaaS Anda selama 18 bulan dengan biaya Rp 299.000 per bulan, maka nilai pelanggan tersebut bukan Rp 299.000, tapi sekitar Rp 5,4 juta. Angka itulah yang harus menjadi dasar setiap keputusan bisnis Anda, dari budget marketing, pricing, sampai strategi retensi.

LTV bukan sekadar metrik. Ini adalah cermin dari seberapa baik bisnis Anda menciptakan dan mempertahankan nilai bagi pelanggan. LTV yang tinggi menunjukkan bahwa produk Anda benar-benar menyelesaikan masalah, pelanggan puas, dan mereka bersedia terus membayar. LTV yang rendah? Itu sinyal bahwa ada yang salah, entah di produk, pricing, atau customer experience.

Kenapa LTV Penting untuk Startup

Ada tiga alasan utama kenapa setiap founder wajib menghitung dan memantau LTV secara rutin.

1. Menentukan Batas Spending Akuisisi Pelanggan

Ini yang paling fundamental. Tanpa tahu LTV, Anda tidak punya patokan berapa maksimal boleh mengeluarkan uang untuk mendapatkan satu pelanggan baru (CAC).

Kalau LTV pelanggan Anda Rp 3.000.000, maka secara teori, Anda bisa spending sampai Rp 3.000.000 untuk mendapatkan mereka dan masih break even. Tentu saja dalam praktiknya Anda harus spending jauh lebih rendah dari itu supaya ada profit. Tapi tanpa angka LTV, Anda bahkan tidak tahu batasnya.

Banyak startup yang spending Rp 500.000 per pelanggan baru lewat iklan digital, padahal LTV pelanggan mereka cuma Rp 300.000. Hasilnya? Semakin banyak pelanggan, semakin besar kerugian. Ini bukan pertumbuhan. Ini mempercepat kebangkrutan.

2. Menentukan Apakah Bisnis Model Sustainable

LTV memberikan gambaran jelas apakah bisnis model Anda bisa bertahan jangka panjang. Dalam framework Business Model Canvas, LTV menghubungkan beberapa blok penting sekaligus: value proposition (apakah cukup bernilai sehingga pelanggan bertahan lama), revenue streams (berapa pendapatan per pelanggan), customer relationships (seberapa baik Anda mempertahankan pelanggan), dan cost structure (apakah biaya melayani pelanggan masuk akal relatif terhadap pendapatan).

Kalau LTV lebih tinggi dari CAC dengan margin yang sehat, bisnis Anda punya fundamental yang kuat. Kalau tidak, Anda perlu kembali ke papan tulis dan memikirkan ulang model bisnis, baik dari sisi pricing, target customer segments, maupun channel distribusi.

3. Menjadi Bahasa yang Dipahami Investor

Ketika Anda berbicara dengan investor, baik angel investor maupun VC, salah satu metrik pertama yang mereka tanyakan adalah LTV dan rasio LTV:CAC. Ini bukan formalitas. Investor menggunakan angka ini untuk menilai apakah startup Anda layak didanai.

Startup dengan LTV:CAC ratio 4:1 jauh lebih menarik dibanding startup yang bahkan belum tahu berapa LTV mereka. Angka ini menunjukkan bahwa Anda memahami ekonomi bisnis Anda dan punya dasar yang kuat untuk scale. Untuk konteks lebih lanjut tentang menyiapkan data keuangan saat fundraising, pelajari juga bagaimana cashflow management berperan dalam evaluasi investor.

Formula Dasar Cara Menghitung LTV

Ada dua formula utama yang bisa Anda gunakan, tergantung model bisnis dan data yang tersedia.

Formula 1: LTV Lengkap

LTV = ARPU x Gross Margin x Average Customer Lifespan

Di mana:

  • ARPU (Average Revenue Per User) = Total Revenue / Jumlah Pelanggan Aktif
  • Gross Margin = (Revenue - COGS) / Revenue
  • Average Customer Lifespan = 1 / Churn Rate (dalam periode yang sama, biasanya bulan)

Formula ini paling komprehensif karena memperhitungkan gross margin, sehingga angka LTV yang dihasilkan adalah nilai bersih setelah biaya langsung.

Formula 2: LTV Sederhana

LTV = ARPU / Churn Rate

Formula ini lebih simpel dan sering dipakai untuk quick calculation. Tapi perlu diingat, formula ini belum memperhitungkan gross margin. Jadi hasilnya adalah LTV kotor, bukan bersih. Cocok untuk estimasi awal, tapi untuk pengambilan keputusan serius, gunakan Formula 1.

Formula 3: LTV untuk Bisnis Transaksional

LTV = Average Order Value x Purchase Frequency x Customer Lifespan x Gross Margin

Formula ini lebih cocok untuk e-commerce dan marketplace di mana pelanggan tidak berlangganan, tapi bertransaksi secara berkala.

Ketiga formula ini pada dasarnya menghitung hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Pilih yang paling sesuai dengan data yang Anda miliki dan model bisnis Anda.

Cara Menghitung LTV Step by Step dengan Contoh Nyata

Sekarang mari kita praktikkan. Berikut cara menghitung LTV startup untuk tiga model bisnis yang paling umum di Indonesia, lengkap dengan angka Rupiah.

Contoh 1: SaaS atau Subscription Business

Bayangkan Anda menjalankan startup SaaS untuk manajemen bisnis dengan paket berlangganan Rp 299.000 per bulan.

Data yang dibutuhkan:

  • ARPU: Rp 299.000/bulan
  • Gross Margin: 75% (biaya server, payment gateway, dan customer support sekitar 25% dari revenue)
  • Monthly Churn Rate: 5% (dari 100 pelanggan, rata-rata 5 berhenti berlangganan per bulan)

Langkah 1: Hitung Average Customer Lifespan

Customer Lifespan = 1 / Churn Rate = 1 / 0.05 = 20 bulan

Langkah 2: Hitung LTV

LTV = ARPU x Gross Margin x Customer Lifespan LTV = Rp 299.000 x 0.75 x 20 LTV = Rp 4.485.000

Artinya, setiap pelanggan yang Anda dapatkan berpotensi menghasilkan sekitar Rp 4,5 juta selama mereka berlangganan.

Kalau Anda bisa menekan churn rate dari 5% menjadi 3%, lihat apa yang terjadi:

Customer Lifespan = 1 / 0.03 = 33,3 bulan LTV = Rp 299.000 x 0.75 x 33.3 = Rp 7.462.575

Pengurangan churn 2% saja hampir menggandakan LTV. Inilah kenapa retensi adalah leverage terbesar dalam bisnis subscription.

Contoh 2: E-commerce atau Marketplace

Anda menjalankan marketplace produk lokal. Pelanggan tidak berlangganan, tapi bertransaksi secara periodik.

Data yang dibutuhkan:

  • Average Order Value (AOV): Rp 250.000
  • Purchase Frequency: 2 kali per bulan
  • Average Customer Lifespan: 10 bulan
  • Gross Margin (take rate): 20%

Perhitungan:

LTV = AOV x Purchase Frequency x Customer Lifespan x Gross Margin LTV = Rp 250.000 x 2 x 10 x 0.20 LTV = Rp 1.000.000

Setiap pelanggan menghasilkan Rp 1 juta bersih selama mereka aktif di platform Anda.

Jika Anda berhasil meningkatkan AOV menjadi Rp 350.000 melalui bundling atau rekomendasi produk:

LTV = Rp 350.000 x 2 x 10 x 0.20 = Rp 1.400.000

Kenaikan AOV 40% langsung menaikkan LTV 40%. Untuk strategi meningkatkan AOV melalui pricing yang tepat, baca panduan Pricing Strategy Startup.

Contoh 3: Service Business atau Agency

Anda menjalankan digital agency yang melayani UKM dengan paket retainer bulanan.

Data yang dibutuhkan:

  • Nilai kontrak rata-rata: Rp 5.000.000/bulan
  • Gross Margin: 50% (setelah dikurangi gaji tim operasional langsung)
  • Average Client Lifespan: 8 bulan
  • Repeat rate: 60% klien memperpanjang kontrak

Perhitungan:

LTV = Kontrak Bulanan x Gross Margin x Average Lifespan LTV = Rp 5.000.000 x 0.50 x 8 LTV = Rp 20.000.000

Dengan memperhitungkan repeat rate (klien yang kembali setelah kontrak pertama selesai), LTV adjusted menjadi lebih tinggi. Tapi untuk perhitungan konservatif, angka Rp 20 juta per klien sudah menjadi baseline yang solid.

LTV:CAC Ratio, Angka yang Investor Cari

Menghitung LTV saja tidak cukup. Yang benar-benar menentukan kesehatan bisnis Anda adalah perbandingan antara LTV dan CAC (Customer Acquisition Cost). Rasio ini menunjukkan seberapa efisien mesin pertumbuhan bisnis Anda bekerja.

Rumus: LTV:CAC Ratio = LTV / CAC

Menggunakan contoh SaaS di atas: kalau LTV Anda Rp 4.485.000 dan CAC Rp 750.000, maka:

LTV:CAC = Rp 4.485.000 / Rp 750.000 = 6:1

Tabel Interpretasi LTV:CAC Ratio

LTV:CAC Ratio Status Artinya
Kurang dari 1:1 Bahaya Anda rugi di setiap pelanggan. Semakin banyak pelanggan, semakin besar kerugian. Bisnis model perlu diperbaiki secara fundamental.
1:1 sampai 2:1 Kuning Break even atau margin sangat tipis. Belum sustainable untuk scale. Perlu optimasi di LTV atau CAC.
3:1 sampai 5:1 Sehat Ini adalah zona ideal. Cukup margin untuk profit, operasional, dan reinvestasi pertumbuhan.
Lebih dari 5:1 Under-investing Secara unit economics sangat bagus, tapi bisa jadi Anda kurang agresif dalam investasi pertumbuhan. Ada peluang untuk scale lebih cepat.

Contoh Perhitungan LTV:CAC untuk Evaluasi Channel Marketing

Katakanlah startup Anda punya LTV Rp 4.485.000 dan menjalankan tiga channel marketing:

Channel CAC LTV:CAC Keputusan
Google Ads Rp 600.000 7.5:1 Scale up budget
Instagram Ads Rp 1.200.000 3.7:1 Healthy, pertahankan
TikTok Ads Rp 2.500.000 1.8:1 Optimasi atau stop

Dengan data seperti ini, keputusan alokasi budget marketing menjadi jelas. Anda tahu persis channel mana yang harus di-scale dan mana yang harus dievaluasi ulang. Ini jauh lebih baik daripada membagi budget sama rata tanpa data.

Untuk memahami bagaimana membangun strategi marketing yang data-driven dari awal, baca juga Startup Marketing Journey: Dari Nol ke Growth.

Tujuh Cara Meningkatkan LTV Startup Anda

LTV bukan angka mati. Anda bisa meningkatkannya secara aktif melalui tujuh strategi berikut.

1. Kurangi Churn Rate

Ini adalah lever paling besar untuk meningkatkan LTV, terutama untuk bisnis subscription. Seperti yang sudah kita lihat di contoh sebelumnya, pengurangan churn rate dari 5% ke 3% hampir menggandakan LTV.

Cara praktis mengurangi churn:

  • Identifikasi early warning signals (pelanggan yang mulai jarang login, tidak menggunakan fitur utama)
  • Bangun onboarding yang solid sehingga pelanggan merasakan value sejak minggu pertama
  • Lakukan customer success check-in secara proaktif, bukan menunggu pelanggan komplain
  • Buat switching cost yang sehat melalui integrasi data dan workflow

2. Tingkatkan ARPU melalui Upsell

Upsell artinya mendorong pelanggan untuk upgrade ke paket yang lebih mahal atau menambah fitur berbayar.

Contoh: pelanggan paket Basic Rp 299.000 di-upgrade ke paket Pro Rp 599.000. Kalau 20% pelanggan upgrade, ARPU Anda naik dari Rp 299.000 menjadi sekitar Rp 359.000. Dengan customer lifespan yang sama, LTV naik otomatis.

Kunci upsell yang berhasil adalah memastikan paket yang lebih mahal benar-benar memberikan value tambahan yang terasa bagi pelanggan, bukan sekadar fitur kosmetik.

3. Cross-sell Produk Komplementer

Cross-sell adalah menjual produk atau layanan tambahan yang melengkapi apa yang sudah dibeli pelanggan.

Misalnya: pelanggan SaaS manajemen bisnis Anda juga membutuhkan template laporan keuangan, pelatihan online, atau konsultasi. Setiap penjualan tambahan menaikkan total revenue per pelanggan tanpa tambahan biaya akuisisi.

4. Perpanjang Customer Lifetime

Semakin lama pelanggan bertahan, semakin tinggi LTV. Ada beberapa cara memperpanjang lifetime:

  • Buat produk yang menjadi bagian dari workflow harian pelanggan sehingga sulit digantikan
  • Bangun komunitas pengguna yang memberikan nilai tambah di luar produk itu sendiri
  • Terus iterasi fitur berdasarkan feedback pelanggan sehingga produk selalu relevan
  • Tawarkan kontrak tahunan dengan insentif (diskon atau fitur eksklusif)

5. Perbaiki Segmentasi Pelanggan

Tidak semua pelanggan diciptakan sama. Beberapa segmen pelanggan secara natural punya LTV lebih tinggi dari yang lain. Identifikasi segmen mana yang paling bernilai, lalu fokuskan effort akuisisi ke sana.

Ini berkaitan langsung dengan pemahaman customer segments dalam Business Model Canvas. Segmen yang tepat bukan hanya soal siapa yang mau membeli, tapi siapa yang akan bertahan lama dan terus membayar.

6. Optimalkan Pricing

Pricing yang tepat langsung berdampak pada ARPU dan pada akhirnya LTV. Banyak startup Indonesia yang underpricing produk mereka karena takut kehilangan pelanggan. Padahal, kenaikan harga 10-20% yang disertai dengan peningkatan value sering kali tidak menyebabkan kenaikan churn yang signifikan.

Untuk panduan lengkap tentang cara menyusun pricing yang optimal, baca Pricing Strategy Startup: Cara Tentukan Harga yang Profitable.

7. Bangun Customer Relationship yang Kuat

Channel dan customer relationships adalah dua blok dalam Business Model Canvas yang langsung mempengaruhi LTV. Pelanggan yang merasa punya hubungan personal dengan brand Anda akan bertahan lebih lama dan spending lebih banyak.

Ini bisa berupa personal account manager untuk pelanggan premium, community forum yang aktif, exclusive content, atau sekadar email check-in yang tulus dan bukan template marketing generik.

Hubungan LTV dengan Laporan Keuangan

LTV bukan metrik yang berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan tiga laporan keuangan fundamental yang wajib dipahami setiap founder.

Revenue Streams dan Income Statement

LTV pada dasarnya adalah proyeksi revenue streams dari satu pelanggan. Di laporan laba rugi (income statement), revenue yang Anda catat setiap bulan adalah akumulasi dari LTV semua pelanggan aktif yang sedang "berjalan."

Kalau Anda punya 500 pelanggan aktif dengan ARPU Rp 299.000, revenue bulanan Anda di income statement adalah Rp 149.500.000. Tapi nilai sebenarnya jauh lebih besar karena setiap pelanggan membawa potensi LTV Rp 4.485.000.

Memahami hubungan ini membantu Anda membaca laporan keuangan dengan perspektif yang lebih kaya. Revenue bulan ini bukan hanya angka sesaat, tapi representasi dari nilai jangka panjang pelanggan Anda.

Cost Structure dan Gross Margin

Gross margin yang Anda gunakan dalam formula LTV berasal langsung dari cost structure bisnis Anda. COGS (Cost of Goods Sold) yang tercatat di laporan keuangan adalah komponen yang mengurangi LTV kotor menjadi LTV bersih.

Ini artinya, menurunkan COGS secara efisien juga meningkatkan LTV. Misalnya, bermigrasi ke cloud provider yang lebih murah, mengotomasi customer support, atau bernegosiasi ulang dengan vendor, semua ini tercermin di cost structure laporan keuangan dan langsung berdampak pada LTV.

Cash Flow dan Payback Period

LTV memang menunjukkan total nilai pelanggan, tapi uang tersebut tidak masuk sekaligus. Pelanggan membayar secara bertahap (bulanan, per transaksi). Sementara itu, CAC biasanya keluar di muka saat Anda menjalankan iklan atau membayar tim sales.

Ini menciptakan cash gap. Anda mengeluarkan uang hari ini untuk mendapatkan pelanggan yang baru "membayar balik" investasi tersebut beberapa bulan kemudian. Payback period (waktu yang dibutuhkan untuk menutup CAC dari revenue pelanggan) menjadi metrik penting yang menghubungkan LTV dengan arus kas.

Idealnya, payback period kurang dari 12 bulan. Kalau lebih dari itu, Anda membutuhkan modal kerja yang besar untuk membiayai pertumbuhan, entah dari kas internal atau sumber dana eksternal seperti bootstrapping, angel investment, atau venture capital.

Untuk memahami lebih dalam bagaimana mengelola arus kas dan proyeksi keuangan startup, baca panduan Cashflow Management Startup untuk Founder Non-Finance.

Kesalahan Umum dalam Menghitung LTV

Sebelum Anda mulai menghitung, waspadai beberapa jebakan yang sering membuat perhitungan LTV menjadi misleading.

Pertama, menggunakan asumsi terlalu optimis. Jangan asumsikan pelanggan akan bertahan 3 tahun kalau data Anda menunjukkan rata-rata 8 bulan. Gunakan data aktual, bukan harapan. Kalau data belum cukup (startup masih sangat awal), gunakan estimasi konservatif dan update secara berkala.

Kedua, mengabaikan gross margin. Banyak founder menghitung LTV hanya dari revenue tanpa memperhitungkan biaya langsung. Hasilnya, LTV terlihat besar tapi sebenarnya margin bersihnya tipis. Selalu gunakan formula yang menyertakan gross margin.

Ketiga, menghitung LTV rata-rata tanpa segmentasi. Pelanggan enterprise dengan kontrak Rp 10 juta per bulan dan pelanggan individu dengan paket Rp 99.000 per bulan punya LTV yang sangat berbeda. Menghitung rata-rata dari keduanya menghasilkan angka yang tidak merepresentasikan keduanya. Hitung LTV per segmen untuk mendapatkan insight yang actionable.

Keempat, tidak memperhitungkan discount rate. Uang Rp 1 juta yang diterima 2 tahun dari sekarang nilainya tidak sama dengan Rp 1 juta hari ini. Untuk perhitungan LTV yang lebih akurat dalam jangka panjang, pertimbangkan untuk menyertakan discount rate, terutama kalau customer lifespan Anda sangat panjang.

Kelima, jarang meng-update perhitungan. LTV bukan angka yang dihitung sekali lalu dilupakan. Churn rate berubah, ARPU berubah, gross margin berubah. Minimal review LTV setiap kuartal dengan data terbaru.

Metrik Pendukung yang Harus Dipantau Bersama LTV

LTV tidak boleh dilihat secara terisolasi. Berikut metrik pendukung yang harus Anda pantau bersama LTV untuk mendapatkan gambaran yang lengkap:

  • CAC (Customer Acquisition Cost): pasangan langsung LTV. Tanpa CAC, LTV kehilangan konteks.
  • Churn Rate: driver utama LTV untuk bisnis subscription. Penurunan churn kecil berdampak besar pada LTV.
  • ARPU (Average Revenue Per User): semakin tinggi ARPU, semakin tinggi LTV. Pantau tren ARPU setiap bulan.
  • Payback Period: berapa bulan sampai revenue dari pelanggan menutup CAC. Idealnya di bawah 12 bulan.
  • Gross Margin: menentukan seberapa besar dari revenue yang benar-benar menjadi profit. Langsung mempengaruhi LTV bersih.
  • North Star Metric: metrik utama yang menjadi indikator pertumbuhan bisnis secara keseluruhan, yang seringkali berkorelasi kuat dengan LTV. Pelajari cara menentukannya di North Star Metric Startup: Bukan Vanity Metrics.

Dari Teori ke Praktek: Mulai Hitung LTV Anda Hari Ini

Menghitung LTV tidak harus sempurna dari hari pertama. Yang penting adalah mulai.

Ambil data yang Anda punya sekarang, meskipun masih sedikit. Hitung ARPU dari 3 bulan terakhir. Lihat berapa pelanggan yang churn. Kalikan dengan gross margin. Anda sudah punya estimasi LTV pertama.

Dari situ, Anda bisa mulai mengambil keputusan berbasis data. Berapa budget marketing bulan depan? Channel mana yang harus di-prioritaskan? Apakah pricing perlu dinaikkan? Semua jawaban dimulai dari mengetahui LTV Anda.

Untuk startup yang sedang menerapkan lean startup methodology, LTV adalah salah satu metrik validasi terpenting. LTV yang tumbuh dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa Anda semakin mendekati product-market fit.

Kalau Anda ingin mendalami cara menghitung LTV, CAC, dan seluruh metrik keuangan startup secara praktis, kursus Financial Statements Practice dan Smart Pricing, Strong Planning di Founderplus Academy membahas semua ini dengan studi kasus dan spreadsheet yang bisa langsung Anda pakai. Di sana, Anda juga bisa belajar Scorecard Valuation Method untuk memahami bagaimana LTV mempengaruhi valuasi startup Anda di mata investor.

Atau jika Anda butuh sistem yang langsung membantu tracking metrik keuangan bisnis secara real-time, coba BOS (Business Operating System) yang sudah didesain khusus untuk founder UKM dan startup Indonesia.

Langkah pertama selalu yang paling sulit. Tapi founder yang menguasai angka-angka bisnisnya, termasuk LTV, adalah founder yang punya kontrol. Dan kontrol adalah apa yang membedakan startup yang scale dengan yang gagal.

FAQ

Apa itu LTV dan kenapa penting untuk startup?

LTV atau Customer Lifetime Value adalah total pendapatan bersih yang dihasilkan satu pelanggan selama mereka menggunakan produk atau layanan Anda. LTV penting karena menentukan berapa besar budget marketing yang masuk akal, apakah bisnis model sustainable, dan apakah startup layak mendapat pendanaan.

Berapa rasio LTV:CAC yang ideal?

Rasio LTV:CAC yang sehat adalah minimal 3:1, artinya setiap pelanggan menghasilkan nilai tiga kali lipat dari biaya akuisisinya. Di bawah 1:1 berarti bisnis rugi di setiap pelanggan. Di atas 5:1 bisa jadi Anda kurang agresif dalam investasi pertumbuhan.

Bagaimana cara menghitung LTV untuk bisnis subscription?

Untuk bisnis subscription, gunakan formula LTV = ARPU x Gross Margin x (1 / Churn Rate). Misalnya ARPU Rp 299.000 per bulan, gross margin 75%, dan churn rate 5% per bulan, maka LTV = Rp 299.000 x 0.75 x 20 = Rp 4.485.000.

Apa perbedaan LTV untuk SaaS dan e-commerce?

Untuk SaaS, LTV dihitung dari subscription fee bulanan dikalikan rata-rata masa berlangganan. Untuk e-commerce, LTV dihitung dari rata-rata nilai order dikalikan frekuensi pembelian dikalikan periode retensi. Formula dasarnya sama, hanya komponen inputnya yang berbeda.

Bagaimana cara meningkatkan LTV tanpa menambah pelanggan baru?

Ada tiga cara utama: pertama, kurangi churn rate dengan meningkatkan kualitas produk dan customer success. Kedua, tingkatkan ARPU melalui upsell dan cross-sell. Ketiga, perpanjang customer lifetime dengan membangun hubungan yang lebih dalam melalui loyalty program dan engagement yang konsisten.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang