Anda sudah baca tentang OKR. Anda tahu konsepnya: Objective itu arah, Key Result itu ukurannya. Tapi begitu buka spreadsheet kosong, yang muncul cuma kursor berkedip dan kebingungan. Mulai dari mana? Kolom apa saja yang harus ada? Formatnya seperti apa?
Ini masalah klasik. Banyak pemilik bisnis dan founder yang paham teori OKR tapi stuck di implementasi karena tidak punya template yang bisa langsung dipakai. Akhirnya, OKR jadi wacana meeting yang tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Artikel ini memberikan template OKR gratis yang bisa langsung Anda copy ke Google Spreadsheet, lengkap dengan contoh pengisian untuk berbagai fungsi bisnis. Bukan template generik yang perlu diterjemahkan ulang, tapi template yang sudah disesuaikan dengan konteks bisnis di Indonesia.
Kalau Anda belum familiar dengan konsep dasar OKR, sebaiknya baca dulu panduan OKR untuk startup dari goal ke eksekusi sebelum lanjut ke template ini.
Kenapa Anda Butuh Template OKR
Tanpa template, OKR sering berakhir jadi daftar keinginan yang ditulis di sticky note atau catatan meeting yang tidak pernah dibuka lagi. Template memberikan struktur yang memaksa Anda berpikir sistematis.
Konsistensi format. Ketika semua tim pakai format yang sama, reviewing dan comparing jadi jauh lebih mudah. Anda tidak perlu menghabiskan waktu menerjemahkan format satu tim ke tim lain.
Tidak ada yang terlewat. Template yang baik punya kolom-kolom yang memaksa Anda mengisi informasi penting: baseline, target, owner, timeline. Tanpa template, informasi ini sering hilang dan OKR jadi ambigu.
Onboarding lebih cepat. Anggota tim baru bisa langsung melihat format dan contoh yang ada, lalu mengisi sendiri tanpa perlu banyak penjelasan. Ini menghemat waktu Anda sebagai pemilik bisnis.
Tracking mingguan jadi natural. Template yang sudah dilengkapi kolom tracking mingguan membuat review tidak terasa sebagai beban tambahan, tapi bagian dari rutinitas kerja.
Anatomi Template OKR yang Baik
Sebelum masuk ke template per fungsi, Anda perlu tahu kolom-kolom apa saja yang harus ada di template OKR. Banyak template di internet yang terlalu sederhana (cuma Objective dan Key Result) atau terlalu kompleks (puluhan kolom yang membuat bingung).
Template OKR yang efektif punya elemen-elemen berikut:
| Elemen | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
| Objective | Arah kualitatif yang ingin dicapai | "Tim marketing bisa generate leads secara konsisten" |
| Key Result | Ukuran kuantitatif keberhasilan | "Leads masuk naik dari 100 ke 300 per bulan" |
| Baseline | Posisi saat ini sebelum OKR dimulai | 100 leads/bulan |
| Target | Angka yang ingin dicapai di akhir kuartal | 300 leads/bulan |
| Owner | Siapa yang bertanggung jawab | Marketing Lead |
| Quarter | Periode OKR berlaku | Q2 2026 |
| Weekly Progress | Kolom tracking mingguan (W1-W12) | 120, 145, 160... |
| Score | Nilai akhir 0.0 sampai 1.0 | 0.7 |
| Status | On track / At risk / Behind | On track |
Baseline itu wajib. Ini kesalahan paling sering: menulis Key Result "meningkatkan conversion rate ke 5%" tanpa tahu posisi sekarang berapa. Tanpa baseline, Anda tidak bisa mengukur progress yang sesungguhnya.
Owner harus satu orang. Bukan tim, bukan "semua." Satu nama yang bertanggung jawab memastikan Key Result ini bergerak. Orang lain boleh berkontribusi, tapi accountability ada di satu orang.
Template OKR per Fungsi Bisnis
Berikut template OKR yang bisa Anda langsung copy untuk berbagai level dan fungsi bisnis. Setiap template sudah dilengkapi contoh pengisian yang relevan untuk konteks UKM dan startup di Indonesia.
Template 1: Company-Level OKR
Ini adalah OKR di level perusahaan yang menjadi acuan semua tim. Biasanya diisi oleh founder atau CEO bersama leadership team.
| # | Objective | Key Result | Baseline | Target | Owner | Score |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Mencapai pertumbuhan revenue yang sustainable | KR1: Monthly revenue naik | Rp 200jt | Rp 350jt | CEO | - |
| KR2: Gross profit margin naik | 25% | 35% | CFO | - | ||
| KR3: Customer churn turun | 8%/bulan | 4%/bulan | COO | - | ||
| 2 | Membangun tim yang bisa eksekusi tanpa founder 24/7 | KR1: Task completion rate tanpa arahan owner | 40% | 80% | COO | - |
| KR2: SOP terdokumentasi untuk proses inti | 3 dari 10 | 8 dari 10 | COO | - | ||
| KR3: Escalation ke founder per minggu | 15 kali | 3 kali | All Leads | - |
Weekly Tracking (untuk setiap KR):
| Key Result | Target | W1 | W2 | W3 | W4 | W5 | W6 | W7 | W8 | W9 | W10 | W11 | W12 | Final |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Monthly revenue | Rp 350jt | - | - | - | Rp 220jt | - | - | - | Rp 280jt | - | - | - | Rp 340jt | 0.8 |
| Gross profit margin | 35% | 26% | 27% | 27% | 28% | 29% | 29% | 30% | 31% | 32% | 33% | 34% | 34.5% | 0.9 |
Template 2: Tim Marketing
| # | Objective | Key Result | Baseline | Target | Owner | Score |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Membangun mesin lead generation yang konsisten | KR1: Qualified leads per bulan | 50 | 200 | Marketing Lead | - |
| KR2: Cost per lead turun | Rp 75rb | Rp 35rb | Marketing Lead | - | ||
| KR3: Organic traffic naik | 5.000/bulan | 15.000/bulan | Content Lead | - | ||
| 2 | Meningkatkan brand awareness di segmen target | KR1: Social media engagement rate | 1.2% | 3.5% | Social Media | - |
| KR2: Brand mention di media/komunitas | 2/bulan | 10/bulan | PR/Comms | - | ||
| KR3: Email subscriber list | 500 | 2.000 | Content Lead | - |
Template 3: Tim Sales
| # | Objective | Key Result | Baseline | Target | Owner | Score |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Membangun sales process yang repeatable dan prediktif | KR1: Close rate dari qualified leads | 10% | 25% | Sales Lead | - |
| KR2: Average deal size | Rp 2jt | Rp 3.5jt | Sales Lead | - | ||
| KR3: Sales cycle length | 21 hari | 14 hari | Sales Lead | - | ||
| 2 | Tim sales bisa closing tanpa owner turun tangan | KR1: Deals closed tanpa involvement owner | 20% | 80% | Sales Lead | - |
| KR2: Pipeline accuracy (forecast vs actual) | selisih 40% | selisih 15% | Sales Lead | - | ||
| KR3: Setiap sales rep close minimal | 5 deals/bulan | 12 deals/bulan | Per Rep | - |
Template 4: Tim Operasional dan HR
| # | Objective | Key Result | Baseline | Target | Owner | Score |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Operasional berjalan konsisten tanpa micro-management | KR1: SOP compliance rate | 50% | 90% | Ops Lead | - |
| KR2: Customer complaint terkait operasional | 15/bulan | 3/bulan | Ops Lead | - | ||
| KR3: On-time delivery/service rate | 80% | 95% | Ops Lead | - | ||
| 2 | Membangun tim yang engaged dan berkembang | KR1: Employee satisfaction score | 3.2/5 | 4.2/5 | HR Lead | - |
| KR2: Training completion rate | 30% | 85% | HR Lead | - | ||
| KR3: Voluntary turnover rate per kuartal | 15% | 5% | HR Lead | - |
Cara Mengisi Template OKR: Step by Step
Template sudah ada. Sekarang cara mengisinya. Ini bagian yang paling sering bikin orang bingung, jadi kita bahas langkah per langkah.
Step 1: Mulai dari Objective yang Efektif
Objective adalah jawaban dari pertanyaan: "Apa yang harus berubah di bisnis kita kuartal ini?"
Bukan daftar semua yang ingin dikerjakan. Bukan juga KPI yang mau dijaga. Objective adalah perubahan yang paling penting dan paling berdampak.
Karakteristik Objective yang efektif:
- Kualitatif, bukan angka. "Membangun mesin lead generation yang konsisten" lebih baik dari "Mendapatkan 200 leads." Angka itu masuk ke Key Result.
- Inspiratif dan jelas. Tim harus bisa baca Objective dan langsung paham apa yang dimaksud. Kalau butuh penjelasan 10 menit, artinya Objective-nya belum cukup jelas.
- Time-bound. Biasanya per kuartal (3 bulan). Cukup pendek untuk menjaga urgensi, cukup panjang untuk menghasilkan perubahan bermakna.
- Actionable. Tim harus bisa langsung memikirkan langkah konkret untuk mencapainya. Kalau Objective terasa terlalu abstrak, pecah jadi lebih spesifik.
Tipe Objective yang umum dipakai:
- Build objective: membangun sesuatu yang belum ada. Contoh: "Membangun sales system yang bisa jalan tanpa owner."
- Improve objective: meningkatkan sesuatu yang sudah ada. Contoh: "Meningkatkan kualitas layanan customer support."
- Innovate objective: mencoba hal baru. Contoh: "Menemukan channel akuisisi baru yang scalable."
Untuk UKM, mayoritas OKR biasanya tipe Build dan Improve. Innovate lebih cocok untuk kuartal di mana bisnis sudah stabil dan ingin eksplorasi.
Step 2: Tentukan Key Result yang Measurable
Setelah Objective jelas, tentukan 2-4 Key Result untuk setiap Objective. Key Result menjawab: "Bagaimana kita tahu Objective ini tercapai?"
Karakteristik Key Result yang efektif:
- Measurable: ada angka yang bisa diukur secara objektif, bukan "meningkat" tapi "naik dari X ke Y"
- Time-bound: punya tenggat waktu yang jelas, biasanya akhir kuartal
- Achievable tapi menantang: target yang 60-70 persen tercapai sudah bagus. Kalau selalu 100 persen, target kurang ambisius
Ada beberapa tipe Key Result yang perlu Anda pahami:
Metric-based Key Result mengukur perubahan angka tertentu. Ini tipe yang paling umum dan paling mudah di-track. Contoh: "Conversion rate naik dari 2% ke 5%."
Milestone-based Key Result menandai pencapaian tertentu. Cocok untuk hal-hal yang sifatnya binary (tercapai atau belum). Contoh: "Meluncurkan program referral ke 100 pengguna pertama."
Activity-based Key Result mengukur output aktivitas. Ini sebaiknya diminimalkan karena aktivitas tidak selalu menghasilkan outcome. Tapi kadang diperlukan di awal ketika metrik outcome belum bisa diukur. Contoh: "Melakukan 30 customer interview."
Tips penting: selalu tulis Key Result dalam format "dari X ke Y" dengan mencantumkan baseline. Ini membuat progress terlihat jelas setiap minggu.
Step 3: Breakdown ke Quarterly Goals
Kalau Anda punya visi tahunan, breakdown OKR tahunan ke quarterly goals yang lebih spesifik.
Contoh breakdown:
Visi Tahunan: "Bisnis bisa berjalan profitable tanpa owner harus operasional setiap hari."
Q1 OKR: "Mendokumentasikan semua proses inti dalam SOP yang bisa dijalankan tim."
- KR: 8 dari 10 proses inti punya SOP tertulis
- KR: 5 dari 8 SOP sudah di-test dan dijalankan tanpa arahan owner
Q2 OKR: "Tim bisa eksekusi operasional harian secara mandiri."
- KR: Escalation ke owner turun dari 15x ke 3x per minggu
- KR: Task completion rate tanpa arahan naik dari 40% ke 80%
Q3 OKR: "Membangun sistem monitoring yang memungkinkan owner supervisi dari jauh."
- KR: Weekly report otomatis terkirim setiap Senin
- KR: Dashboard KPI real-time yang update harian
Q4 OKR: "Mengoptimalkan profitabilitas dengan sistem yang sudah berjalan."
- KR: Gross margin naik dari 30% ke 40%
- KR: Owner hanya di kantor 2 hari per minggu
Setiap kuartal membangun di atas fondasi kuartal sebelumnya. Ini cara OKR menjadi sistem, bukan sekadar target kuartalan yang berdiri sendiri. Pendekatan ini juga sejalan dengan framework EOS yang membantu startup berjalan tanpa founder 24/7.
Cara Scoring dan Evaluasi OKR
Di akhir setiap kuartal, Anda perlu mengevaluasi pencapaian OKR. Scoring OKR menggunakan skala 0.0 sampai 1.0 yang sederhana tapi informatif.
Sistem Scoring 0.0 sampai 1.0
| Score | Arti | Interpretasi |
|---|---|---|
| 0.0 - 0.3 | Gagal / tidak ada progress signifikan | Target terlalu ambisius, atau ada masalah eksekusi serius |
| 0.4 - 0.6 | Progress ada tapi belum cukup | Perlu evaluasi apakah strateginya tepat |
| 0.6 - 0.7 | Sweet spot, target tercapai dengan baik | OKR di-set dengan tepat, tim perform dengan baik |
| 0.8 - 1.0 | Overachieve | Target mungkin kurang ambisius, naikkan bar di kuartal berikutnya |
Cara menghitung score per Key Result:
Rumusnya sederhana: (Actual - Baseline) / (Target - Baseline)
Contoh: Baseline leads 100, target 300, actual tercapai 250. Score = (250 - 100) / (300 - 100) = 150/200 = 0.75
Score per Objective:
Rata-rata score semua Key Result di bawah Objective tersebut. Kalau ada 3 KR dengan score 0.7, 0.8, dan 0.5, maka score Objective = (0.7 + 0.8 + 0.5) / 3 = 0.67.
Template Evaluasi Kuartalan
| Objective | Key Result | Baseline | Target | Actual | Score | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Mesin lead gen konsisten | Qualified leads/bulan | 50 | 200 | 175 | 0.83 | Channel organic overperform |
| Cost per lead | Rp 75rb | Rp 35rb | Rp 42rb | 0.83 | Paid ads masih mahal | |
| Organic traffic | 5.000 | 15.000 | 11.000 | 0.60 | SEO butuh waktu lebih lama | |
| Score rata-rata Objective | 0.75 |
Setelah scoring, lakukan retrospective:
- Apa yang berhasil? Identifikasi strategi dan taktik yang menggerakkan Key Result paling signifikan.
- Apa yang tidak berhasil? Jujur evaluasi tanpa blame. Apakah targetnya yang salah, strateginya, atau eksekusinya?
- Apa yang kita pelajari? Insight apa yang bisa dipakai untuk menyusun OKR kuartal berikutnya?
Untuk panduan lebih mendalam soal evaluasi kuartalan, baca cara review OKR kuartalan yang efektif.
Kesalahan Umum Saat Mengisi Template OKR
Punya template bagus tidak menjamin OKR-nya bagus. Berikut kesalahan yang paling sering kami temui saat membantu bisnis mengisi template OKR mereka.
1. Objective yang Sebenarnya Task
"Membuat website baru" bukan Objective. Itu task. Objective harus menggambarkan dampak. Kenapa website baru itu penting? "Membangun presence digital yang menghasilkan leads secara konsisten." Itu Objective. Website baru adalah salah satu inisiatif untuk mencapainya.
2. Key Result Tanpa Baseline
"Meningkatkan customer satisfaction ke 4.5/5." Dari berapa? Kalau sekarang sudah 4.3, itu target yang mudah. Kalau sekarang 2.8, itu target yang sangat ambisius. Tanpa baseline, Anda tidak punya konteks.
3. Terlalu Banyak OKR
Kalau Anda mengisi template dengan 5 Objective dan 20 Key Result, Anda tidak punya OKR. Anda punya daftar keinginan. Disiplin untuk memilih 2-3 Objective adalah bagian tersulit sekaligus terpenting dari proses OKR.
4. Semua Key Result adalah Output, Bukan Outcome
"Posting 30 konten per bulan" adalah output. "Organic traffic naik dari 5.000 ke 15.000" adalah outcome. Fokuskan Key Result pada hasil yang ingin dicapai, bukan aktivitas yang mau dilakukan. Aktivitas masuk ke initiative plan, bukan ke template OKR.
5. Tidak Ada Owner yang Jelas
Kolom owner diisi "Tim Marketing" atau kosong. Ini jaminan OKR tidak akan dikejar. Satu Key Result, satu nama. Kalau tidak ada yang mau accountable, itu sinyal bahwa organisasi Anda perlu perbaikan di level yang lebih fundamental, dimulai dari kejelasan peran dan kultur tim.
6. Template Diisi Sekali Lalu Dilupakan
Template OKR bukan dokumen statis. Kolom weekly progress harus diisi setiap minggu. Kalau template Anda tidak di-update selama 3 minggu berturut-turut, OKR Anda sudah mati.
OKR vs KPI: Kapan Pakai Template yang Mana
Satu pertanyaan yang sering muncul: "Ini harusnya masuk OKR atau KPI?"
Aturan sederhananya: kalau Anda ingin menjaga sesuatu yang sudah berjalan, itu KPI. Kalau Anda ingin mengubah sesuatu, itu OKR.
"Revenue bulanan Rp 200jt" yang sudah tercapai dan perlu dijaga = KPI. "Menaikkan revenue dari Rp 200jt ke Rp 350jt" = Key Result dalam OKR.
Keduanya bisa hidup di spreadsheet yang sama tapi di tab yang berbeda. Untuk pembahasan lebih lengkap, baca OKR vs KPI: apa bedanya dan kapan pakai yang mana.
Dari Template ke Implementasi Nyata
Template ini akan berguna kalau Anda benar-benar menggunakannya. Berikut langkah konkret yang bisa Anda lakukan hari ini:
Langkah 1: Copy template Company OKR ke Google Spreadsheet Anda.
Langkah 2: Isi 1-2 Objective berdasarkan masalah terbesar bisnis Anda saat ini.
Langkah 3: Untuk setiap Objective, tulis 2-3 Key Result dengan baseline dan target yang jelas.
Langkah 4: Tentukan owner untuk setiap Key Result.
Langkah 5: Mulai weekly check-in 15 menit setiap Senin untuk update progress.
Template pertama Anda tidak akan sempurna. Dan itu tidak apa-apa. OKR adalah skill yang membaik seiring latihan. Kuartal pertama biasanya berantakan. Kuartal kedua mulai terasa. Kuartal ketiga, tim sudah terbiasa dan OKR menjadi bagian natural dari cara kerja.
Kalau Anda ingin mempelajari cara menyusun OKR yang lebih baik, termasuk workshop langsung untuk developing OKR yang measurable, kursus "Leadership and Team Management" di Academy Founderplus membahas ini secara mendalam. Dengan Rp 299.000 per bulan, Anda dapat akses ke semua kursus termasuk Scorecard Valuation Method yang membantu Anda menghubungkan OKR dengan valuasi bisnis.
Dan kalau Anda merasa butuh pendampingan langsung untuk implementasi OKR beserta seluruh sistem operasional bisnis, program BOS (Business Operating System) membantu Anda membangun semuanya dalam 2 bulan. Bukan cuma template, tapi sistem yang benar-benar berjalan di bisnis Anda.
FAQ
Apakah template OKR ini bisa dipakai untuk bisnis yang baru mulai?
Bisa. Template ini dirancang supaya fleksibel, baik untuk bisnis yang baru pertama kali pakai OKR maupun yang sudah pernah coba sebelumnya. Mulai dari Company OKR dulu, baru cascade ke tim setelah prosesnya jalan.
Berapa jumlah Objective dan Key Result yang ideal per kuartal?
Maksimal 2-3 Objective dengan masing-masing 2-4 Key Result. Terlalu banyak justru menghilangkan fungsi utama OKR sebagai alat fokus. Semakin kecil tim, semakin sedikit OKR yang dibutuhkan.
Apakah OKR harus selalu tercapai 100 persen?
Tidak. OKR yang baik tercapai 60-70 persen. Kalau selalu 100 persen, target Anda kurang ambisius. Sweet spot-nya adalah target yang menantang tapi tidak bikin tim patah semangat.
Apa bedanya template OKR untuk startup dan UKM?
Secara format, template-nya sama. Yang berbeda adalah isi dan konteksnya. Startup biasanya lebih fokus pada growth metrics dan product-market fit, sementara UKM lebih ke efisiensi operasional dan profitabilitas.
Seberapa sering OKR harus di-review?
Minimal weekly check-in 15 menit untuk cek progress Key Result. Lalu quarterly review yang lebih dalam untuk scoring, evaluasi, dan menyusun OKR baru. Konsistensi review inilah yang menentukan OKR berhasil atau jadi pajangan.
Kesimpulan
Template OKR bukan tujuan akhir. Ini adalah alat yang membantu Anda menerjemahkan visi besar menjadi langkah-langkah terukur yang bisa dikerjakan tim setiap hari. Template terbaik adalah yang benar-benar dipakai, di-update setiap minggu, dan dievaluasi setiap kuartal.
Mulai dari template Company OKR dengan 2 Objective. Isi baseline dan target untuk setiap Key Result. Tunjuk owner. Jalankan weekly check-in. Evaluasi di akhir kuartal. Iterasi dan perbaiki di kuartal berikutnya.
Yang membedakan bisnis yang berkembang dari yang stagnan bukan kecanggihan template-nya, tapi konsistensi dalam menggunakannya. Buka spreadsheet Anda sekarang dan mulai isi Objective pertama.