Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Apa itu Unit Economics? Panduan Singkat untuk Founder Startup

Published on: Wednesday, Mar 25, 2026 By Tim Founderplus

Anda baru saja closing ronde pendanaan, atau mungkin baru mulai dapat traction pertama. Revenue naik, user bertambah, tim makin besar. Semua lampu terlihat hijau.

Tapi coba jawab satu pertanyaan ini: apakah Anda benar-benar menghasilkan uang dari setiap pelanggan yang Anda dapatkan?

Kalau jawabannya "belum tahu" atau "sepertinya iya", maka Anda perlu berkenalan dengan konsep yang akan kita bahas hari ini: unit economics.

Apa Itu Unit Economics?

Unit economics adalah cara menganalisis pendapatan dan biaya bisnis Anda yang dikaitkan dengan satu "unit" tertentu. Unit di sini biasanya berarti satu pelanggan, satu transaksi, atau satu produk yang terjual.

Kenapa disebut "per unit"? Karena alih-alih melihat angka total yang bisa menipu, Anda memecah bisnis ke level paling kecil. Pertanyaannya sederhana: apakah Anda untung atau rugi setiap kali melayani satu pelanggan?

Menurut Investopedia, unit economics membantu bisnis memahami profitabilitas di level fundamental. Sementara a16z (Andreessen Horowitz) menekankan bahwa unit economics yang solid punya efek cascading: margin lebih tinggi berarti lebih banyak profit yang bisa diinvestasikan kembali ke produk dan pertumbuhan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda jualan nasi goreng. Bahan baku, gas, dan tenaga kerja per porsi habis Rp 15.000. Anda jual Rp 25.000. Artinya per unit, Anda untung Rp 10.000. Itu unit economics yang sehat. Tapi kalau Anda jual Rp 12.000 per porsi? Setiap piring yang terjual justru membuat Anda rugi. Semakin laris, semakin bangkrut.

Prinsip yang sama berlaku untuk SaaS, marketplace, D2C, atau model bisnis apapun.

Kenapa Unit Economics Relevan Sekarang?

Beberapa tahun lalu, investor masih toleran dengan startup yang "bakar uang dulu, profit nanti". Era itu sudah lewat.

Sekarang, baik VC lokal maupun global semakin fokus pada profitabilitas yang terukur. Mereka ingin melihat bahwa setiap rupiah yang mereka investasikan punya jalur jelas menuju return. Unit economics adalah bahasa yang mereka gunakan untuk menilai itu.

Kalau Anda sedang mempersiapkan fundraising atau menyusun pitch deck, investor hampir pasti akan bertanya: "Berapa CAC dan LTV kalian?" Kalau Anda tidak bisa menjawab, itu red flag besar.

Tapi unit economics bukan hanya untuk investor. Ini juga alat navigasi internal. Dengan memahami unit economics, Anda tahu channel mana yang paling efisien, segmen pelanggan mana yang paling menguntungkan, dan kapan waktu yang tepat untuk scale bisnis.

Lima Metrik Utama Unit Economics

Berikut metrik inti yang wajib Anda pahami:

1. Customer Acquisition Cost (CAC)

CAC adalah total biaya yang Anda keluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan baru.

Rumus: Total Biaya Sales & Marketing / Jumlah Pelanggan Baru

Ini mencakup biaya iklan, gaji tim marketing dan sales, tools, dan semua pengeluaran yang terkait akuisisi. Untuk memahami lebih dalam cara menghitung dan mengoptimasi metrik ini, cek panduan cara menghitung LTV startup kami yang juga membahas CAC secara detail.

2. Customer Lifetime Value (LTV)

LTV adalah total pendapatan yang Anda harapkan dari satu pelanggan selama mereka menjadi pelanggan Anda.

Rumus sederhana: ARPU (Average Revenue Per User) x Rata-rata Masa Langganan

Atau untuk model subscription: ARPU per Bulan / Monthly Churn Rate

3. Rasio LTV:CAC

Ini adalah "rasio emas" unit economics. Berapa kali lipat nilai pelanggan dibanding biaya mendapatkannya.

  • Di bawah 1:1 - Anda rugi di setiap pelanggan. Harus segera diperbaiki.
  • 1:1 sampai 3:1 - Belum sehat. Margin terlalu tipis.
  • 3:1 - Benchmark yang umum dianggap sehat oleh investor.
  • Di atas 5:1 - Bisa jadi Anda kurang agresif invest di growth.

4. Payback Period

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk "balik modal" dari biaya akuisisi satu pelanggan. Semakin pendek, semakin baik untuk cashflow. Idealnya di bawah 12 bulan untuk SaaS, dan lebih pendek lagi untuk model transaksional. Metrik ini sangat terkait dengan manajemen cashflow startup Anda.

5. Gross Margin

Persentase revenue yang tersisa setelah dikurangi biaya langsung (COGS). Ini menunjukkan seberapa efisien Anda menghasilkan produk atau layanan.

Rumus: (Revenue - COGS) / Revenue x 100%

Contoh Perhitungan Sederhana

Mari kita simulasikan dengan angka Rupiah untuk startup SaaS B2B fiktif:

Data:

  • Biaya marketing dan sales per bulan: Rp 50.000.000
  • Pelanggan baru per bulan: 10
  • Harga subscription: Rp 2.000.000/bulan
  • Rata-rata pelanggan bertahan: 24 bulan
  • COGS per pelanggan per bulan: Rp 400.000

Perhitungan:

Metrik Rumus Hasil
CAC Rp 50 juta / 10 Rp 5.000.000
LTV Rp 2 juta x 24 bulan Rp 48.000.000
Gross Margin (Rp 2 juta - Rp 400rb) / Rp 2 juta 80%
LTV:CAC Rp 48 juta / Rp 5 juta 9,6:1
Payback Period Rp 5 juta / Rp 2 juta 2,5 bulan

Dengan LTV:CAC 9,6:1, startup ini sebenarnya punya ruang besar untuk lebih agresif di akuisisi pelanggan. Payback period 2,5 bulan juga sangat sehat.

Tapi ingat, ini contoh yang disederhanakan. Di dunia nyata, Anda harus memperhitungkan churn rate, discount rate, expansion revenue, dan variabel lain. Pastikan juga Anda memahami burn rate dan runway untuk melihat gambaran keuangan secara utuh.

Tiga Kesalahan Umum Founder Soal Unit Economics

1. Menghitung LTV terlalu optimis

Banyak founder menghitung LTV berdasarkan asumsi pelanggan bertahan selamanya, atau mengabaikan churn rate. Gunakan data aktual, bukan harapan. Kalau startup Anda masih baru dan belum punya data historis yang cukup, gunakan asumsi konservatif dan update secara berkala.

2. Tidak memisahkan per channel dan per segmen

CAC dari Google Ads berbeda dengan CAC dari referral. LTV pelanggan enterprise berbeda dengan SMB. Kalau Anda hanya melihat angka blended, Anda bisa salah alokasi budget. Segmentasi adalah kunci untuk memahami di mana bisnis Anda benar-benar menghasilkan uang.

3. Baru peduli unit economics saat mau fundraising

Ini kesalahan klasik. Unit economics bukan slide di pitch deck yang Anda buat seminggu sebelum ketemu investor. Ini harus menjadi dashboard yang Anda pantau setiap bulan. Startup yang serius soal valuasi membangun kebiasaan ini sejak awal.

Mulai dari Mana?

Anda tidak perlu sistem yang rumit untuk mulai. Langkah pertama:

  1. Hitung CAC Anda - Ambil total biaya sales dan marketing bulan lalu, bagi dengan jumlah pelanggan baru.
  2. Estimasi LTV - Kalikan rata-rata revenue per pelanggan per bulan dengan rata-rata durasi mereka bertahan.
  3. Bagi LTV dengan CAC - Apakah hasilnya di atas 3:1?

Kalau hasilnya di bawah 3:1, jangan panik. Anda sekarang tahu masalahnya, dan itu jauh lebih baik daripada tidak tahu sama sekali. Dari sini, Anda bisa mulai eksperimen: optimasi channel akuisisi, perbaiki retention, atau adjust pricing.

Yang penting, mulai ukur sekarang. Bukan besok, bukan nanti pas mau pitching.


Mau deep dive unit economics? Cek kursus Financial Statements Practice di academy.founderplus.id.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang