Hiring Pertama di UKM: Tips Rekrut Orang yang Tepat
Anda sudah kerja 14 jam sehari, 7 hari seminggu. Handle produksi sendiri, jawab chat customer sendiri, urus pembukuan sendiri. Revenue naik, tapi Anda personally sudah mentok. Saatnya hire orang pertama.
Tapi di sini banyak pemilik UKM yang justru bikin keputusan yang salah. Rekrut orang yang salah di tahap ini bukan cuma buang uang, tapi bisa bikin bisnis mundur beberapa langkah.
Kenapa Hiring Pertama Sering Bermasalah
Hiring pertama itu berbeda dari hiring-hiring berikutnya. Di perusahaan besar, sudah ada HR, sudah ada job description template, sudah ada salary benchmark. Di UKM? Semua Anda yang tentukan dari nol.
Masalah yang sering terjadi:
Rekrut berdasarkan "butuh bantuan" tanpa tahu bantuan di bagian mana. Hasilnya: hire orang yang job desc-nya "semuanya" dan tidak ada yang dikerjakan dengan baik.
Rekrut teman atau keluarga karena "sudah kenal". Bukan berarti salah, tapi tanpa kriteria yang jelas, Anda akan susah memberi feedback dan mengambil keputusan tegas.
Asal pasang gaji. Terlalu rendah, tidak ada yang mau. Terlalu tinggi, cashflow tertekan. Tidak punya benchmark, jadi nebak-nebak.
Tidak punya onboarding. Karyawan baru masuk, langsung disuruh kerja tanpa SOP, tanpa training, tanpa target. Dua minggu kemudian, "Kok kerjanya gak sesuai harapan?" Ya karena harapannya tidak pernah dikomunikasikan.
Kalau Anda sudah punya SOP tertulis untuk proses-proses bisnis utama, proses hiring dan onboarding akan jauh lebih smooth.
Kapan UKM Benar-Benar Butuh Hire
Jangan hire karena "rasanya sudah waktunya". Hire berdasarkan data.
3 sinyal Anda butuh karyawan pertama:
Sinyal 1: Waktu Anda habis untuk task yang berulang. Coba track selama 1 minggu: berapa jam Anda habiskan untuk packing, balas chat customer, input data, dan task repetitif lainnya? Kalau lebih dari 50% waktu Anda habis di sini, itu task yang seharusnya dikerjakan orang lain.
Sinyal 2: Revenue yang terlewat karena bandwidth habis. Ada order yang ditolak karena tidak sanggup handle. Ada peluang kerjasama yang tidak di-follow up karena sibuk operasional. Ini opportunity cost yang nyata.
Sinyal 3: Kualitas mulai turun. Pengiriman yang telat, customer yang tidak direspon 24 jam lebih, produk yang tidak di-QC dengan benar. Kalau kualitas mulai turun karena Anda overload, itu sinyal darurat.
Kapan BELUM perlu hire:
- Revenue belum stabil minimal 3 bulan berturut-turut
- Task yang mau di-delegasi belum punya proses yang jelas
- Anda belum bisa menjelaskan dalam 1 paragraf apa yang harus dikerjakan orang baru
Cara Menentukan Role Pertama yang Harus Direkrut
Ini pertanyaan yang paling sering ditanya: "Saya harus hire apa dulu?"
Jawabannya tergantung di mana bottleneck bisnis Anda.
Metode "Time Audit"
Selama 1 minggu, catat semua aktivitas Anda dan kategorikan:
| Kategori | Contoh Aktivitas | Jam/Minggu |
|---|---|---|
| Operasional | Produksi, packing, kirim barang, QC | ... jam |
| Komersial | Balas chat customer, follow-up, posting konten | ... jam |
| Admin | Input data, invoice, rekap keuangan | ... jam |
| Strategis | Planning, evaluasi, cari peluang baru | ... jam |
Kategori yang paling banyak makan waktu Anda DAN bisa di-standardisasi, itulah yang harus di-hire duluan.
Contoh nyata:
Ibu Rina punya bisnis katering rumahan di Surabaya, revenue Rp 80 juta/bulan. Setelah time audit, hasilnya:
- Operasional (produksi + packing + delivery): 45 jam/minggu
- Komersial (order masuk, WA customer): 15 jam/minggu
- Admin (rekap, invoice): 8 jam/minggu
- Strategis: 2 jam/minggu
Keputusannya: hire 1 orang operasional (asisten produksi + delivery) dengan gaji Rp 3,5 juta/bulan. Waktu strategis-nya naik dari 2 jam jadi 15 jam/minggu.
Prinsip: Hire untuk Melepaskan, Bukan Menambah
Hiring pertama bukan untuk menambah kapasitas baru. Tujuannya adalah melepaskan Anda dari task yang tidak harus Anda kerjakan, supaya Anda bisa fokus ke hal yang benar-benar hanya bisa dilakukan owner: strategi, relasi, dan pertumbuhan bisnis.
Pastikan struktur organisasi bisnis Anda sudah jelas sebelum hiring, supaya orang baru tahu posisinya di mana dan melapor ke siapa.
5 Kesalahan Fatal Hiring di UKM
1. Job Description yang Terlalu Luas
"Dicari karyawan all-round, bisa ini bisa itu." Ini red flag. Orang yang bisa semuanya biasanya tidak excel di satupun. Lebih baik 1 role dengan 3-4 tanggung jawab utama yang jelas.
2. Rekrut Berdasarkan "Cocok" Tanpa Kriteria Terukur
"Feeling-nya cocok" bukan metode seleksi. Tentukan 3-5 kriteria yang bisa diukur: skill teknis, pengalaman di industri serupa, kemampuan komunikasi, dan attitude terhadap feedback.
3. Tidak Cek Referensi
Di UKM, hiring cost itu mahal. Satu karyawan yang salah bisa menghabiskan Rp 10-20 juta (gaji selama trial + waktu training + opportunity cost). Selalu minta minimal 2 referensi dan hubungi mereka.
4. Gaji Terlalu Rendah Lalu Heran Turnover Tinggi
Kalau gaji di bawah market, Anda akan dapat kandidat yang sebenarnya sedang "numpang" sambil cari kerjaan lain. Gaji Rp 500 ribu di bawah market tapi turnover setiap 3 bulan jauh lebih mahal daripada gaji yang fair sejak awal.
5. Tidak Ada Trial Period yang Terstruktur
Trial period bukan "kita lihat aja dulu 3 bulan." Tentukan target spesifik: apa yang harus bisa dikerjakan di minggu ke-1, bulan ke-1, dan bulan ke-3. Evaluasi berdasarkan target itu, bukan feeling.
Mau membangun tim yang solid dari awal? Program BOS (Business Operating System) dari Founder+ membantu Anda menyusun struktur tim, SOP, dan sistem kerja dalam 15 sesi selama 2 bulan. Batch 1 mulai 21 Februari 2026, kuota 20 seat.
Framework Interview Sederhana untuk UKM
Anda tidak perlu proses interview 5 tahap seperti startup unicorn. Untuk UKM, 2 tahap sudah cukup.
Tahap 1: Screening (15-20 menit, bisa via telepon)
Tujuan: filter cepat, hemat waktu Anda.
Pertanyaan kunci:
- "Ceritakan pengalaman kerja terakhir Anda dan kenapa berhenti." Dengarkan: apakah ada pola resign karena konflik? Apakah alasannya logis?
- "Apa yang Anda tahu tentang bisnis kami?" Ini menunjukkan effort. Kandidat yang bahkan tidak google bisnis Anda sebelum interview, kemungkinan besar juga tidak akan proaktif saat kerja.
- "Berapa ekspektasi gaji Anda?" Langsung tanya di awal supaya tidak buang waktu kalau jauh dari budget.
Tahap 2: Interview Mendalam (45-60 menit, tatap muka)
Gunakan metode STAR (Situation, Task, Action, Result):
Contoh pertanyaan STAR: "Ceritakan satu situasi di mana Anda harus menangani customer yang marah. Apa situasinya, apa tugas Anda, apa yang Anda lakukan, dan apa hasilnya?"
Yang Anda cari bukan jawaban sempurna, tapi cara berpikir dan bertindak mereka.
3 hal yang wajib dinilai:
| Kriteria | Cara Menilai |
|---|---|
| Skill teknis | Kasih mini test atau simulasi task nyata. Mau hire admin? Minta input 10 order ke spreadsheet. |
| Problem solving | Kasih skenario masalah nyata dari bisnis Anda, tanya bagaimana mereka akan handle. |
| Culture fit | Tanya tentang kondisi kerja ideal mereka. UKM itu fast-paced, multitasking, dan kadang ambiguous. Tidak semua orang cocok. |
Cara Tentukan Gaji yang Fair Tapi Sustainable
Step 1: Riset Benchmark
Cek gaji untuk role serupa di kota Anda. Sumber:
- Jobstreet, Glints, atau LinkedIn (lihat range gaji di posting lowongan serupa)
- Tanya sesama pemilik bisnis di komunitas atau asosiasi
- Cek UMR/UMK daerah Anda sebagai baseline
Step 2: Hitung Total Cost
Gaji pokok bukan satu-satunya biaya. Hitung total:
| Komponen | Estimasi |
|---|---|
| Gaji pokok | Rp 3.500.000 |
| BPJS Kesehatan (4%) | Rp 140.000 |
| BPJS Ketenagakerjaan (5,74%) | Rp 200.900 |
| THR (1 bulan, diprorata) | Rp 291.700/bulan |
| Total per bulan | Rp 4.132.600 |
Jadi kalau budget Anda Rp 4 juta/bulan, gaji pokok yang bisa ditawarkan sekitar Rp 3,2-3,4 juta, bukan Rp 4 juta.
Step 3: Pastikan Sustainable
Aturan simpel: total biaya karyawan (semua karyawan, termasuk Anda) tidak boleh lebih dari 30-35% dari revenue. Kalau revenue Rp 100 juta/bulan, total payroll max Rp 30-35 juta.
Kalau revenue Anda belum stabil, pertimbangkan struktur: gaji pokok lebih rendah + bonus berdasarkan performa. Ini mengurangi fixed cost dan memotivasi karyawan untuk perform.
Checklist Hiring Pertama di UKM
Gunakan checklist ini sebelum, saat, dan sesudah proses hiring:
Sebelum Posting Lowongan
- Sudah melakukan time audit (track aktivitas 1 minggu)
- Tahu role apa yang harus di-hire (berdasarkan data, bukan feeling)
- Punya job description dengan 3-4 tanggung jawab utama yang spesifik
- Sudah hitung budget total (gaji + BPJS + THR + operasional)
- Punya SOP tertulis untuk task utama role tersebut
Saat Proses Seleksi
- Screening awal via telepon (15-20 menit)
- Interview dengan metode STAR (45-60 menit)
- Mini test atau simulasi task nyata
- Cek minimal 2 referensi
- Jelaskan kondisi kerja di UKM secara jujur (multitasking, pace cepat)
Setelah Karyawan Masuk
- Berikan SOP dan tools yang dibutuhkan di hari pertama
- Tentukan target minggu ke-1, bulan ke-1, dan bulan ke-3
- Jadwalkan check-in mingguan selama bulan pertama
- Tetapkan siapa bertanggung jawab apa dengan jelas
- Pastikan ada mekanisme feedback dua arah
Onboarding yang baik bukan cuma soal hari pertama. Ini tentang membangun tim yang tidak selalu nunggu arahan dari Anda. Kalau karyawan baru sudah masuk tapi masih harus dituntun setiap detail, berarti sistem onboarding-nya yang perlu diperbaiki.
FAQ
Berapa budget ideal untuk hiring pertama di UKM?
Idealnya total cost karyawan (gaji + BPJS + THR + operasional) tidak lebih dari 30% revenue bulanan. Kalau revenue Rp 100 juta/bulan, budget hiring pertama sekitar Rp 3-5 juta per bulan tergantung role. Sisakan juga buffer 3 bulan gaji di tabungan bisnis untuk jaga-jaga.
Lebih baik hire full-time atau freelancer/part-time dulu?
Untuk role yang butuh kehadiran dan konsistensi harian seperti operasional dan admin, hire full-time. Untuk kebutuhan spesifik yang tidak setiap hari seperti desain grafis, akuntansi, atau IT, mulai dari freelancer atau part-time dulu. Kalau volume kerjanya sudah stabil dan banyak, baru konversi ke full-time.
Apakah boleh merekrut keluarga atau teman sebagai karyawan pertama?
Boleh, tapi dengan syarat: perlakukan sama seperti kandidat lain. Tetap buat job description, tetap interview, tetap tentukan KPI. Masalah terbesar merekrut keluarga atau teman bukan di skill-nya, tapi di susahnya memberi feedback jujur dan mengambil keputusan tegas kalau performanya tidak sesuai.
Bagaimana cara mengetahui kapan sudah waktunya hire orang pertama?
Ada 3 sinyal utama: (1) Anda konsisten kerja lebih dari 12 jam/hari selama lebih dari 2 bulan, (2) ada peluang revenue yang terlewat karena bandwidth habis, dan (3) kualitas produk atau layanan mulai turun karena Anda handle terlalu banyak hal sekaligus.
Apa yang harus dilakukan di minggu pertama setelah karyawan baru masuk?
Tiga hal: (1) berikan SOP tertulis untuk task utama mereka, bukan cuma arahan lisan, (2) tentukan 1 orang sebagai buddy atau mentor yang bisa ditanya sehari-hari, dan (3) set target 30 hari pertama yang spesifik dan terukur. Jangan langsung expect mereka bisa perform seperti Anda.
Kesimpulan
Hiring pertama di UKM bukan soal cari orang yang "bagus". Ini soal cari orang yang tepat untuk role yang tepat, di waktu yang tepat, dengan budget yang sustainable.
Urutannya: pastikan bisnis Anda sudah punya proses yang jelas dulu. Lalu identifikasi bottleneck. Baru hire untuk melepaskan bottleneck itu. Jangan terbalik, hire dulu baru mikirin mau dikasih kerjaan apa.
Kalau Anda sudah punya SOP dan kejelasan siapa ngapain, proses hiring dan onboarding jadi jauh lebih mudah. Karyawan baru bisa langsung produktif karena ada panduan yang jelas, bukan cuma "lihat dan tiru."
Butuh panduan lengkap membangun tim dan sistem bisnis? Program BOS dari Founder+ mencakup modul Team Structure & Accountability, termasuk template job description, interview framework, dan onboarding checklist.
- 15 sesi intensif (8 weekend + 7 weekday evening)
- 15+ template siap pakai termasuk hiring toolkit
- 1-on-1 advisory dengan praktisi berpengalaman
Batch 1: 21 Februari - 21 April 2026. Kuota terbatas 20 seat.