Founderplus
Tentang Kami
Business Operations

Financial Checklist UKM: Cara Tahu Bisnis Kamu Sehat atau Tidak

Published on: Tuesday, Jan 20, 2026 By Tim Founderplus

Omzet naik terus setiap bulan. Tim sudah bertambah. Order makin banyak. Tapi kok setiap akhir bulan, saldo di rekening selalu pas-pasan?

Kalau Anda pernah merasakan ini, Anda tidak sendirian. Ini adalah masalah paling umum di UKM yang sedang tumbuh: omzet naik, tapi cash selalu tipis.

Masalahnya bukan di market atau produk. Masalahnya adalah kebanyakan pemilik UKM tidak punya cara sederhana untuk mengecek apakah bisnis mereka benar-benar sehat secara keuangan, atau cuma terlihat sehat dari luar.

Artikel ini memberikan financial checklist yang bisa Anda gunakan hari ini. Tidak perlu latar belakang finance. Tidak perlu software mahal. Cukup 7 pertanyaan jujur dan kalkulator.

Omzet Besar Bukan Jaminan Bisnis Sehat

Banyak pemilik UKM mengukur kesehatan bisnis dari satu angka: omzet. "Bulan ini omzet Rp 300 juta, berarti aman dong."

Belum tentu.

Omzet Rp 300 juta dengan margin 10% artinya profit cuma Rp 30 juta. Kalau biaya operasional Rp 35 juta, Anda sebenarnya rugi Rp 5 juta per bulan. Tapi karena uang terus berputar, kerugian ini tidak terasa sampai suatu hari cash benar-benar habis.

Ini yang membedakan UKM yang bertahan lama dan yang tiba-tiba kolaps: kemampuan melihat angka keuangan yang sebenarnya, bukan cuma angka di permukaan.

Kabar baiknya, Anda tidak perlu jadi akuntan untuk bisa mengecek kesehatan keuangan bisnis. Anda cuma perlu tahu pertanyaan yang tepat.

Financial Health Checklist: 7 Pertanyaan Kritis

Jawab setiap pertanyaan dengan jujur. Setiap "tidak" adalah area yang butuh perhatian segera.

1. Apakah Anda tahu profit margin per produk atau layanan?

Bukan cuma total profit. Tapi per produk atau per layanan. Banyak UKM punya 5-10 produk, tapi cuma 2-3 yang benar-benar menghasilkan profit. Sisanya break even atau bahkan rugi, cuma pemiliknya tidak tahu.

Contoh: Anda jual 3 jenis paket jasa. Paket A margin 45%, Paket B margin 25%, Paket C margin 8%. Kalau 60% revenue Anda dari Paket C, bisnis kelihatan ramai tapi sebenarnya tidak sehat.

Cara ceknya sederhana. Ambil harga jual, kurangi semua biaya langsung (bahan baku, ongkos kirim, komisi, biaya produksi). Sisanya adalah gross profit. Bagi dengan harga jual, itu margin Anda.

2. Apakah cash flow Anda positif 3 bulan terakhir?

Cash flow positif artinya uang yang masuk ke rekening lebih besar dari yang keluar. Bukan di atas kertas, tapi di rekening nyata.

Cek mutasi rekening bisnis 3 bulan terakhir. Total uang masuk vs total uang keluar per bulan. Kalau 2 dari 3 bulan terakhir negatif, itu red flag besar.

Cash flow negatif sesekali wajar, misalnya kalau Anda baru invest beli peralatan. Tapi kalau negatif konsisten dari operasional sehari-hari, ada masalah struktural yang harus diperbaiki.

3. Apakah Anda punya emergency fund 2-3 bulan biaya operasional?

Bisnis tanpa dana darurat itu seperti mobil tanpa ban serep. Selama jalan mulus, tidak masalah. Tapi begitu ada lubang, langsung macet total.

Hitung total biaya operasional bulanan Anda: gaji, sewa, listrik, langganan, bahan baku, dan semua pengeluaran rutin. Kalikan 2 sampai 3. Itulah emergency fund yang Anda butuhkan.

Kalau operating cost Rp 50 juta per bulan, Anda perlu Rp 100-150 juta yang disimpan terpisah dan tidak disentuh untuk operasional sehari-hari.

4. Apakah Anda tahu berapa Rupiah yang harus masuk per hari supaya break even?

Ini angka yang harus ada di kepala setiap pemilik UKM. Setiap pagi Anda buka toko atau mulai kerja, Anda harus tahu: minimal berapa yang harus dihasilkan hari ini supaya tidak rugi.

Kalau Anda tidak tahu angka ini, Anda tidak punya benchmark. Hari yang "lumayan" bisa jadi sebenarnya hari rugi.

Cara hitungnya kita bahas detail di bagian selanjutnya.

5. Apakah piutang Anda di bawah 20% dari revenue?

Piutang itu revenue yang belum jadi uang. Di laporan keuangan terlihat bagus, tapi di rekening belum ada.

Kalau revenue Anda Rp 200 juta per bulan tapi piutang outstanding Rp 80 juta, itu 40% dari revenue. Terlalu besar. Artinya Anda membiayai operasional klien Anda dengan uang sendiri.

Target yang sehat: piutang maksimal 20% dari revenue bulanan. Lebih dari itu, Anda perlu memperketat term pembayaran atau lebih agresif menagih.

6. Apakah Anda bisa bayar gaji tanpa cek saldo dulu?

Ini indikator sederhana tapi sangat jujur. Kalau setiap tanggal gajian Anda harus buka app banking dan hitung-hitung dulu apakah cukup, cash management Anda perlu diperbaiki.

Pemilik UKM yang keuangannya sehat sudah tahu 2 minggu sebelum tanggal gajian bahwa uang pasti cukup. Karena mereka memantau cash flow secara rutin dan punya buffer yang memadai.

7. Apakah Anda punya laporan keuangan yang di-update minimal bulanan?

Bukan harus laporan yang sempurna ala perusahaan besar. Minimal catatan sederhana: berapa uang masuk, berapa keluar, berapa profit bulan ini, dan berapa cash tersisa.

Tanpa catatan ini, semua jawaban di atas cuma tebakan. Dan menjalankan bisnis berdasarkan tebakan sama dengan menyetir dengan mata tertutup.

Checklist ini sebenarnya bagian dari KPI keuangan yang wajib dipantau setiap UKM. Kalau Anda belum punya framework KPI secara keseluruhan, mulai dari situ.

3 Angka Keuangan yang Wajib Anda Hitung Hari Ini

Dari semua metrik keuangan, tiga ini paling kritis untuk UKM. Dan semuanya bisa dihitung tanpa software, cukup kalkulator.

Angka 1: Gross Profit Margin

Formula: (Revenue - Biaya Langsung) / Revenue x 100%

Contoh nyata:

Anda punya bisnis katering korporat. Bulan ini revenue Rp 150 juta. Biaya bahan baku Rp 55 juta, biaya packaging Rp 10 juta, biaya driver pengiriman Rp 15 juta. Total biaya langsung = Rp 80 juta.

Gross Profit = Rp 150 juta - Rp 80 juta = Rp 70 juta

Gross Margin = Rp 70 juta / Rp 150 juta x 100% = 46.7%

Ini artinya dari setiap Rp 100 yang masuk, Rp 46.70 tersisa setelah biaya langsung. Sisanya untuk bayar gaji admin, sewa, marketing, dan profit Anda.

Benchmark: Untuk UKM di Indonesia, gross margin di atas 30% umumnya sehat. Di bawah 20% sudah zona bahaya, kecuali Anda di industri trading/retail yang memang margin-nya tipis tapi volume tinggi.

Hitung ini per produk atau layanan. Anda mungkin kaget menemukan ada produk yang margin-nya cuma 5% tapi makan banyak waktu dan resource.

Angka 2: Break Even Point per Hari

Formula: Total Biaya Tetap per Bulan / Jumlah Hari Kerja / Gross Margin (%)

Contoh nyata:

Biaya tetap bulanan Anda: gaji tim Rp 35 juta, sewa tempat Rp 8 juta, listrik dan internet Rp 3 juta, langganan software Rp 2 juta, lain-lain Rp 2 juta. Total = Rp 50 juta.

Anda kerja 25 hari per bulan. Gross margin 46.7% (dari hitungan di atas).

Break Even per Hari = Rp 50 juta / 25 / 0.467 = Rp 4.28 juta

Artinya, setiap hari Anda harus menghasilkan minimal Rp 4.28 juta revenue supaya bisnis tidak merugi. Kurang dari itu, Anda memakan tabungan. Lebih dari itu, baru masuk profit.

Tempel angka ini di meja kerja Anda. Serius. Ini adalah angka paling penting yang harus Anda lihat setiap hari.

Angka 3: Operating Cash Buffer

Formula: Saldo Kas Saat Ini / Rata-rata Pengeluaran Bulanan

Contoh nyata:

Saldo rekening bisnis hari ini: Rp 120 juta. Rata-rata pengeluaran bulanan (termasuk biaya langsung dan biaya tetap): Rp 130 juta.

Cash Buffer = Rp 120 juta / Rp 130 juta = 0.92 bulan

Artinya, kalau mulai besok tidak ada uang masuk sama sekali, Anda cuma bisa bertahan kurang dari 1 bulan. Ini sangat tipis.

Target yang sehat: Cash buffer minimal 2-3 bulan. Artinya saldo kas Anda harus setara 2-3x pengeluaran bulanan. Dengan cash buffer 3 bulan, Anda punya ruang untuk menghadapi bulan-bulan yang revenue-nya turun tanpa panik.

Mau langsung tahu angka-angka ini untuk bisnis Anda? Program BOS (Business Operating System) membantu Anda membangun dashboard keuangan dan semua sistem operasional bisnis dalam 2 bulan. Termasuk setup KPI, financial tracking, dan review mingguan yang konsisten. Lihat program lengkap

Red Flags Keuangan yang Sering Diabaikan

Selain checklist di atas, ada tanda-tanda bahaya yang sering tidak disadari pemilik UKM sampai sudah terlambat.

Revenue naik tapi profit turun. Ini sering terjadi saat bisnis scaling tanpa memperhatikan efisiensi. Tambah tim, tambah biaya marketing, tambah sewa tempat lebih besar, tapi margin per transaksi justru menyusut. Anda sibuk tapi tidak makin kaya. Pantau KPI keuangan Anda secara mingguan supaya tren ini terdeteksi lebih awal.

Satu klien menyumbang lebih dari 30% revenue. Ini bom waktu. Kalau klien itu pergi, sepertiga revenue Anda hilang dalam semalam. Diversifikasi adalah prioritas. Kalau Anda perlu membangun sales system yang lebih prediktif, itu investasi yang layak.

Bayar vendor selalu mepet atau telat. Kalau Anda sering minta perpanjangan jatuh tempo ke supplier, itu sinyal cash flow bermasalah. Bukan masalah negosiasi, tapi masalah cash management.

Tidak bisa bedakan uang bisnis dan uang pribadi. Masih campur rekening? Anda benar-benar tidak tahu berapa profit bisnis yang sebenarnya. Pisahkan mulai hari ini.

Owner jadi "ATM darurat" bisnis. Kalau Anda sering menambal kekurangan kas bisnis dari uang pribadi, itu bukan dedikasi. Itu tanda bisnis tidak bisa membiayai dirinya sendiri.

Tidak ada orang yang bertanggung jawab atas keuangan. Di UKM kecil, wajar kalau owner yang handle. Tapi seiring bisnis tumbuh, harus ada orang atau sistem yang secara spesifik bertanggung jawab memantau keuangan. Tanpa itu, angka-angka keuangan cuma dicek kalau ada masalah. Ini prinsip yang sama dengan memastikan setiap area bisnis ada penanggung jawabnya.

Template Cek Keuangan Mingguan (15 Menit)

Anda tidak perlu review keuangan yang rumit setiap minggu. Cukup 15 menit setiap Senin pagi dengan template sederhana ini.

5 Pertanyaan Mingguan:

No Pertanyaan Jawaban Minggu Ini
1 Berapa saldo rekening bisnis hari ini? Rp _________
2 Berapa total uang masuk minggu lalu? Rp _________
3 Berapa total uang keluar minggu lalu? Rp _________
4 Apakah revenue harian rata-rata di atas break even? Ya / Tidak
5 Ada tagihan besar yang jatuh tempo minggu ini? Ya / Tidak

Tambahan bulanan (akhir bulan, 30 menit):

  • Hitung gross margin bulan ini. Bandingkan dengan bulan lalu.
  • Update cash buffer. Naik atau turun?
  • Cek piutang outstanding. Siapa yang harus ditagih?
  • Hitung break even point. Apakah berubah karena ada penambahan biaya tetap?
  • Catat 1 keputusan keuangan yang akan diambil bulan depan berdasarkan data.

Template sesederhana ini, kalau diisi konsisten setiap minggu, sudah jauh lebih baik dari 90% UKM yang tidak punya tracking keuangan sama sekali.

Kalau Anda sudah disiplin dengan tracking mingguan ini, langkah selanjutnya adalah mengintegrasikannya ke dashboard bisnis yang lebih lengkap supaya semua metrik operasional terlihat di satu tempat.

Dari Checklist ke Sistem Keuangan yang Jalan Sendiri

Checklist ini adalah langkah pertama. Tapi kalau Anda serius ingin bisnis yang keuangannya sehat jangka panjang, Anda butuh lebih dari checklist. Anda butuh sistem.

Sistem artinya:

  • Tracking otomatis, bukan input manual setiap hari
  • Review rutin, bukan cuma cek kalau ada masalah
  • Keputusan berbasis data, bukan feeling
  • Tim yang paham angka, bukan cuma owner yang lihat laporan

Ini bukan sesuatu yang harus dibangun sendirian. Banyak pemilik UKM yang keuangannya mulai terkelola setelah belajar dasar-dasar laporan keuangan. Kalau Anda ingin mulai dari fondasi, kursus Financial Statements Practice for Beginners (Rp75.000) dan Financial Statement Fundamental (Rp59.000) di Academy bisa jadi starting point yang baik untuk memahami laporan keuangan tanpa latar belakang akuntansi.

Tapi kalau Anda ingin langsung implementasi sistem keuangan yang terintegrasi dengan seluruh operasional bisnis, dari OKR sampai sales system, program BOS dirancang untuk itu.

Siap membangun sistem keuangan dan operasional bisnis yang lengkap? Program BOS (Business Operating System) membantu Anda setup financial tracking, KPI dashboard, SOP, dan semua sistem yang dibutuhkan supaya bisnis bisa jalan tanpa harus ditunggui owner terus. Daftar sekarang

Mulai dari 1 Angka Hari Ini

Jangan coba implementasi semua sekaligus. Mulai dari satu hal yang paling mudah: hitung break even point harian Anda.

Buka kalkulator. Jumlahkan semua biaya tetap bulanan. Bagi dengan jumlah hari kerja. Bagi lagi dengan estimasi gross margin Anda. Tulis angkanya. Tempel di tempat yang terlihat setiap hari.

Besok pagi, cek apakah revenue kemarin sudah di atas angka itu. Lusa, cek lagi. Seminggu dari sekarang, Anda sudah punya data pattern yang sebelumnya tidak pernah Anda lihat.

Dari satu angka itu, motivasi untuk mengecek angka-angka lainnya akan muncul sendiri. Dan begitulah cara bisnis yang tadinya jalan berdasarkan feeling, pelan-pelan berubah jadi bisnis yang jalan berdasarkan data.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang