Founderplus
Tentang Kami
Growth

Cara Mendapatkan Pengguna Pertama Startup: 13 Channel yang Terbukti Efektif

Published on: Thursday, Mar 12, 2026 By Tim Founderplus

Produk Anda sudah live. Landing page sudah rapi. Fitur utama sudah berjalan. Tapi ketika Anda buka dashboard analytics, angkanya masih nol. Atau mungkin ada 5-10 orang, dan semuanya teman sendiri.

Situasi ini dialami hampir setiap founder. Anda menghabiskan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan membangun produk, lalu menyadari bahwa ternyata mendapatkan pengguna pertama adalah tantangan yang sama besarnya dengan membangun produk itu sendiri.

Kabar baiknya, ini bukan masalah yang unik. Setiap startup yang sekarang punya jutaan pengguna pernah berada di titik yang sama. Gojek memulai dengan 20 driver. Tokopedia awalnya harus menghubungi pedagang satu per satu. Airbnb pendirinya bahkan datang ke rumah host untuk memfoto properti mereka sendiri.

Artikel ini membahas 13 channel spesifik yang bisa Anda gunakan untuk mendapatkan 100 pengguna pertama. Bukan teori marketing abstrak, tapi langkah konkret yang bisa dieksekusi minggu ini, bahkan tanpa budget besar. Ini adalah bagian dari panduan lengkap growth startup yang kami susun khusus untuk founder Indonesia.

Kenapa 100 Pengguna Pertama Adalah Momen Paling Kritis

Sebelum masuk ke channel, Anda perlu memahami kenapa fase 0-100 pengguna ini berbeda dari fase growth berikutnya.

Pertama, pengguna pertama menentukan arah produk Anda. Feedback dari 100 orang pertama akan membentuk roadmap produk selama 6-12 bulan ke depan. Salah memilih pengguna pertama berarti salah arah sejak fondasi.

Kedua, pengguna pertama menjadi evangelis. Mereka yang masuk di tahap paling awal, ketika produk masih kasar dan banyak bug, cenderung menjadi pendukung paling loyal. Mereka merasa memiliki karena ikut "membesarkan" produk dari nol.

Ketiga, metrik dari pengguna pertama menentukan apakah Anda layak scaling. Sebelum mengeluarkan uang untuk iklan atau merekrut tim marketing, Anda butuh bukti bahwa orang mau menggunakan dan kembali menggunakan produk Anda. Ini yang disebut sebagai sinyal awal menuju product-market fit.

Yang membuat fase ini sulit adalah sifatnya yang sepenuhnya manual. Tidak ada shortcut. Tidak ada growth hack ajaib. Anda harus turun tangan langsung, bicara dengan calon pengguna satu per satu, dan meyakinkan mereka untuk mencoba sesuatu yang belum pernah mereka dengar.

Sebelum Mencari Pengguna: Pastikan Problem Sudah Tervalidasi

Ini adalah langkah yang sering dilewatkan dan menjadi penyebab utama kegagalan akuisisi.

Jika Anda kesulitan mendapatkan pengguna pertama, seringkali masalahnya bukan di marketing. Masalahnya ada di produk atau, lebih tepatnya, di problem yang Anda coba selesaikan.

Sebelum menginvestasikan waktu dan energi di 13 channel di bawah, pastikan Anda sudah melakukan customer interview yang cukup untuk memvalidasi tiga hal:

  1. Problem-nya nyata. Bukan hanya asumsi Anda, tapi benar-benar dirasakan oleh target market.
  2. Problem-nya cukup menyakitkan. Orang sudah aktif mencari solusi, bukan sekadar "nice to have".
  3. Solusi Anda masuk akal. Calon pengguna bisa melihat bagaimana produk Anda menyelesaikan problem mereka.

Jika ketiga hal ini sudah terkonfirmasi, Anda siap mencari pengguna pertama. Jika belum, kembali ke tahap validasi dulu. Membahas ini lebih lanjut ada di panduan lean startup untuk founder Indonesia.

Sekarang, mari masuk ke 13 channel yang bisa Anda gunakan.


Channel Gratis: Modal Waktu dan Konsistensi

1. Direct Outreach dan Personal Selling

Ini adalah channel nomor satu untuk pengguna pertama. Bukan iklan. Bukan konten viral. Tapi Anda, secara personal, menghubungi calon pengguna satu per satu.

Kenapa ini paling efektif di tahap awal? Karena Anda bisa melakukan dua hal sekaligus: akuisisi dan validasi. Setiap percakapan dengan calon pengguna memberikan data tentang apakah produk Anda benar-benar dibutuhkan, apa yang harus diperbaiki, dan bagaimana orang merespons positioning Anda.

Cara eksekusi:

  • Buat daftar 50-100 orang yang Anda yakini sebagai target user. Mulai dari lingkaran terdekat: mantan kolega, koneksi LinkedIn, kenalan di industri.
  • Kirim pesan personal yang spesifik. Bukan template massal. Sebutkan konteks kenapa Anda menghubungi mereka secara khusus.
  • Jangan langsung jualan. Mulai dengan menanyakan tentang problem yang mereka hadapi, lalu tawarkan produk Anda sebagai solusi jika relevan.
  • Minta feedback secara eksplisit. "Apa yang perlu saya perbaiki supaya Anda mau pakai ini setiap hari?" lebih berharga dari seribu page views.

Target: 5-10 outreach per hari. Dalam dua minggu, Anda sudah bicara dengan 50-70 calon pengguna. Beberapa di antaranya akan menjadi pengguna pertama Anda.

2. Komunitas dan Forum

Di Indonesia, komunitas online memiliki kekuatan yang luar biasa. Grup Facebook, komunitas Telegram, server Discord, dan forum industri adalah tempat di mana target pengguna Anda sudah berkumpul dan aktif berdiskusi.

Kuncinya bukan datang ke komunitas lalu langsung promosi. Itu cara tercepat untuk dikeluarkan dari grup. Sebaliknya, jadilah kontributor yang bernilai dulu.

Strategi masuk komunitas:

  • Identifikasi 5-10 komunitas di mana target user Anda aktif.
  • Selama 2-3 minggu pertama, hanya berkontribusi: jawab pertanyaan, bagikan insight, bantu anggota lain.
  • Setelah dikenal, mulai ceritakan problem yang sedang Anda selesaikan dan minta feedback. Bukan promosi, tapi dialog terbuka.
  • Ketika ada pertanyaan atau diskusi yang relevan dengan produk Anda, tawarkan solusi secara natural.

Contoh nyata: banyak founder SaaS di Indonesia mendapatkan 50 pengguna pertama mereka murni dari komunitas Telegram dan grup Facebook yang relevan. Biayanya nol rupiah, tapi membutuhkan konsistensi dan kesabaran.

3. Content Marketing

Content marketing adalah investasi jangka panjang, tapi bisa mulai menghasilkan lebih cepat dari yang Anda kira jika fokusnya tepat.

Di tahap awal, content marketing bukan tentang memproduksi konten sebanyak-banyaknya. Ini tentang membuat konten yang sangat spesifik menjawab pertanyaan yang sudah ada di kepala target pengguna Anda.

Pendekatan untuk tahap awal:

  • Tulis 5-10 artikel yang menjawab pertanyaan paling umum dari target user. Pertanyaan ini Anda dapatkan dari customer interview.
  • Fokus pada long-tail keyword yang spesifik. "Cara kelola inventory bahan baku restoran" lebih baik dari "software inventory".
  • Format yang works: tutorial step-by-step, perbandingan solusi, studi kasus, dan panduan pemula.
  • Distribusikan setiap artikel ke komunitas yang relevan. Jangan hanya mengandalkan SEO di tahap ini.

Content marketing juga menjadi fondasi untuk channel lain yang akan kita bahas di bawah, terutama SEO dan email marketing.

4. SEO (Search Engine Optimization)

SEO membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk menghasilkan traffic yang signifikan, jadi ini bukan solusi untuk mendapatkan pengguna minggu ini. Tapi memulai dari sekarang berarti Anda membangun aset jangka panjang yang akan terus menghasilkan traffic secara otomatis.

Langkah awal SEO untuk startup:

  • Riset keyword yang relevan dengan problem yang Anda selesaikan. Gunakan tools gratisan seperti Google Keyword Planner atau Ubersuggest.
  • Prioritaskan keyword dengan search volume moderat dan competition rendah. Ini lebih realistis untuk domain baru.
  • Buat content cluster: satu halaman pillar yang membahas topik besar, didukung oleh beberapa artikel cluster yang membahas sub-topik secara detail.
  • Pastikan technical SEO dasar sudah benar: page speed, mobile-friendly, meta tags, dan structured data.

SEO adalah bagian dari strategi growth startup yang lebih besar. Jangan harap hasil instan, tapi konsistensi di sini akan membayar mahal dalam 6-12 bulan.

5. Blog Targeting dan Guest Posting

Alih-alih membangun traffic sendiri dari nol, manfaatkan traffic yang sudah dimiliki orang lain. Ini prinsip blog targeting.

Cara eksekusi:

  • Identifikasi 10-20 blog, media online, atau newsletter yang dibaca oleh target pengguna Anda.
  • Tawarkan untuk menulis artikel tamu yang memberikan value nyata. Bukan advertorial, tapi konten edukatif yang kebetulan relevan dengan produk Anda.
  • Sertakan bio dan link ke produk Anda di akhir artikel.
  • Untuk media Indonesia, banyak portal bisnis dan teknologi yang menerima kontribusi tulisan. Mulai dari yang lebih kecil dan niche, lalu naik ke yang lebih besar.

Satu artikel tamu di blog yang tepat bisa mendatangkan 10-30 pengguna berkualitas tinggi karena audiensnya sudah tersegmentasi.


Channel Low-Cost: Sedikit Budget, Hasil Maksimal

6. Email Marketing

Email marketing mungkin terdengar kuno, tapi tetap menjadi salah satu channel dengan ROI tertinggi. Untuk tahap awal, Anda tidak perlu tools mahal. Mailchimp gratisan untuk 500 kontak pertama, dan itu lebih dari cukup.

Strategi email untuk pengguna pertama:

  • Bangun waiting list sebelum produk launch. Landing page sederhana dengan form email sudah cukup.
  • Kirim email personal (bukan template massal) ke kontak yang sudah Anda kumpulkan dari outreach dan komunitas.
  • Buat welcome sequence: 3-5 email yang memperkenalkan problem, solusi, dan cara memulai.
  • Nurture secara konsisten. Kirim konten bernilai seminggu sekali, bukan hanya promosi.

Yang sering dilupakan: email list yang kecil tapi engaged jauh lebih berharga dari email list besar yang tidak peduli. 50 subscriber yang benar-benar tertarik dengan problem yang Anda selesaikan lebih penting dari 5.000 subscriber random.

7. Referral dan Viral Loop

Setelah Anda punya pengguna pertama, walau baru 5-10 orang, manfaatkan mereka untuk mendatangkan pengguna berikutnya.

Referral tidak harus kompleks. Di tahap awal, cukup minta langsung: "Apakah Anda kenal orang lain yang menghadapi masalah yang sama? Boleh saya minta kontaknya?"

Untuk yang lebih terstruktur:

  • Buat incentive sederhana: diskon, akses fitur premium, atau bahkan sekadar pengakuan sebagai early adopter.
  • Buat prosesnya semudah mungkin. Satu klik untuk share, bukan proses berlapis.
  • Track dari mana setiap referral datang agar Anda tahu siapa "super connector" di antara pengguna Anda.

Dropbox adalah contoh klasik dari referral yang bekerja. Tapi ingat, referral hanya bekerja jika produk Anda memang bagus. Orang tidak akan merekomendasikan sesuatu yang mengecewakan.

8. Affiliate Program

Affiliate sedikit berbeda dari referral. Anda bekerja sama dengan orang atau entitas yang punya audiens relevan dan memberikan komisi untuk setiap pengguna yang mereka bawa.

Di tahap awal, affiliate program Anda tidak perlu memakai software khusus. Cukup buat kesepakatan manual dengan 5-10 orang yang punya pengaruh di niche Anda.

Kandidat affiliate yang tepat:

  • Micro-influencer dengan follower 1.000-10.000 yang sangat engaged di niche Anda.
  • Konsultan atau mentor di industri relevan.
  • Content creator yang sudah membuat konten tentang topik yang berhubungan dengan produk Anda.
  • Pengguna existing yang sangat puas dan punya network luas.

Tawarkan komisi yang menarik, antara 20-30% untuk produk digital. Pastikan tracking-nya transparan dan pembayaran tepat waktu.

9. Engineering as Marketing

Ini adalah strategi yang sering diabaikan startup Indonesia tapi sangat powerful: buat tools gratis yang berguna bagi target pengguna Anda.

Contoh konkret:

  • Startup fintech membuat kalkulator pajak gratis. Orang datang untuk kalkulator, lalu mengenal produk utamanya.
  • Startup HR membuat template kontrak kerja yang bisa didownload. Leads masuk lewat form download.
  • Startup e-commerce membuat tools gratis untuk menghitung ongkos kirim dari berbagai kurir.

Prinsipnya sederhana: berikan sesuatu yang benar-benar berguna secara gratis, dan sebagai imbalannya Anda mendapatkan awareness, trust, dan data kontak calon pengguna.

Tools ini juga bagus untuk SEO karena orang secara natural akan membagikan dan link ke resource yang berguna.


Channel Berbayar: Ketika Anda Siap Berinvestasi

10. Search Engine Ads (Google Ads)

Google Ads efektif karena menargetkan orang yang sudah aktif mencari solusi. Mereka sudah punya intent, tugas Anda tinggal meyakinkan bahwa produk Anda adalah jawaban yang tepat.

Tapi hati-hati di tahap awal. Jangan langsung mengeluarkan budget besar untuk Google Ads sebelum Anda tahu:

  • Keyword apa yang benar-benar relevan dengan produk Anda.
  • Landing page mana yang punya conversion rate terbaik.
  • Pesan apa yang paling resonan dengan target pengguna.

Pendekatan yang tepat:

  • Mulai dengan budget kecil, Rp 500.000-1.000.000 per minggu.
  • Target 5-10 keyword yang sangat spesifik dan punya buying intent tinggi.
  • Buat landing page khusus untuk setiap keyword group. Jangan arahkan semua traffic ke homepage.
  • Ukur cost per acquisition (CPA) dari hari pertama. Jika CPA terlalu tinggi, perbaiki landing page atau targeting dulu, bukan naikkan budget.

11. Social Media Ads

Facebook dan Instagram Ads menawarkan targeting yang sangat granular. Anda bisa menargetkan berdasarkan lokasi, usia, minat, perilaku, bahkan jabatan pekerjaan.

Untuk pengguna pertama, social ads paling cocok digunakan sebagai amplifier, bukan primary channel. Artinya, Anda sudah tahu pesan dan positioning yang works dari channel organik, lalu menggunakan ads untuk memperluas jangkauannya.

Tips untuk startup dengan budget terbatas:

  • Gunakan lookalike audience dari pengguna existing (walau baru 50-100 orang).
  • Test 3-5 variasi ad creative dengan budget kecil. Matikan yang tidak perform dalam 3-5 hari.
  • Fokus pada conversion objective, bukan awareness. Anda butuh pengguna, bukan impressions.
  • Retargeting pengunjung website biasanya punya cost per conversion 3-5x lebih rendah dari cold audience.

Jangan habiskan seluruh budget marketing untuk ads sebelum Anda tahu channel organik mana yang bekerja. Ads mempercepat, tapi tidak menggantikan fondasi marketing yang solid.

12. Display Ads dan Retargeting

Display ads (banner di website lain) biasanya kurang efektif untuk akuisisi langsung, tapi sangat efektif untuk retargeting.

Retargeting bekerja seperti ini: seseorang mengunjungi website Anda tapi belum sign up. Setelah itu, mereka melihat iklan Anda di website lain, yang mengingatkan mereka untuk kembali dan mendaftar.

Cara implementasi sederhana:

  • Pasang Facebook Pixel dan Google Tag Manager di website Anda sejak hari pertama.
  • Buat campaign retargeting sederhana yang menargetkan pengunjung website dalam 30 hari terakhir.
  • Konten retargeting yang efektif: testimonial pengguna, studi kasus singkat, atau penawaran khusus untuk pendaftaran.

Biaya retargeting biasanya jauh lebih rendah dari cold ads karena audiensnya sudah mengenal Anda. Dengan budget Rp 200.000-500.000 per minggu, Anda sudah bisa menjalankan retargeting dasar.


Channel Relationship: Leverage Koneksi dan Platform

13. Business Development dan Partnership

Ini adalah channel yang sangat underrated untuk tahap awal. Satu partnership yang tepat bisa mendatangkan lebih banyak pengguna dari berminggu-minggu effort di channel lain.

Tipe partnership untuk tahap awal:

Integration partnership. Produk Anda terintegrasi dengan platform yang sudah digunakan target user. Contoh: startup akuntansi yang terintegrasi dengan marketplace besar.

Distribution partnership. Anda bekerja sama dengan entitas yang sudah punya akses ke target user Anda. Contoh: startup edtech yang bekerja sama dengan asosiasi profesional untuk menawarkan kursus ke anggotanya.

Content partnership. Kolaborasi membuat konten dengan brand atau influencer yang punya audiens overlap. Webinar bersama, podcast kolaborasi, atau riset bersama.

Leveraging existing platforms. Ini termasuk memanfaatkan marketplace yang sudah ada. Jika Anda punya produk digital, pertimbangkan untuk menjualnya di marketplace yang sudah punya traffic. Anda "menumpang" di platform mereka sambil membangun brand sendiri.

Cara mendekati potential partner:

  • Identifikasi apa yang bisa Anda berikan, bukan hanya apa yang ingin Anda dapatkan. Partnership yang baik harus saling menguntungkan.
  • Mulai dari yang kecil. Proposal kolaborasi kecil lebih mudah di-approve dan menjadi pintu masuk untuk kerjasama yang lebih besar.
  • Siapkan data. Tunjukkan bahwa pengguna Anda memang overlap dengan audiens mereka.

Bullseye Framework: Cara Memilih Channel yang Tepat

Dengan 13 channel di atas, wajar jika Anda bingung harus mulai dari mana. Di sinilah Bullseye Framework dari Gabriel Weinberg (penulis buku Traction) sangat berguna.

Framework ini sederhana namun efektif:

Ring Luar: Brainstorm (Semua Channel)

Tulis semua 13 channel di atas, lalu brainstorm minimal satu ide spesifik untuk setiap channel. Bagaimana Anda bisa menggunakan channel tersebut untuk produk Anda? Jangan filter di tahap ini, tulis semua kemungkinan.

Ring Tengah: Test (3 Channel Terbaik)

Dari brainstorm tadi, pilih 3 channel yang menurut Anda paling menjanjikan. Kriterianya:

  • Anda punya akses atau resource untuk mengeksekusinya.
  • Target pengguna Anda memang ada di channel tersebut.
  • Biayanya masuk akal untuk tahap Anda sekarang.

Jalankan test kecil di masing-masing channel selama 1-2 minggu. Ukur hasilnya dengan jelas: berapa pengguna yang didapat, berapa biayanya (termasuk waktu), dan bagaimana kualitas pengguna tersebut.

Ring Dalam: Fokus (1 Channel Utama)

Dari 3 channel yang di-test, pilih 1 yang performanya paling baik. Fokuskan 80% effort Anda di channel ini. Sisanya bisa tetap jalan di mode maintenance.

Kenapa hanya 1? Karena di tahap awal, resource Anda terbatas. Lebih baik dominan di satu channel daripada setengah-setengah di lima channel.

Bullseye Framework ini dibahas secara lebih mendalam di panduan growth startup kami, termasuk cara mengadaptasinya untuk konteks bisnis Indonesia.


Checklist Eksekusi Mingguan

Supaya tidak hanya jadi teori, berikut checklist yang bisa Anda ikuti setiap minggu:

Minggu 1-2: Fondasi

  • Selesaikan customer interview jika belum (minimal 10 orang).
  • Tentukan 3 channel untuk di-test berdasarkan Bullseye Framework.
  • Buat target: berapa pengguna yang ingin didapatkan dalam 30 hari pertama.
  • Siapkan tracking sederhana: spreadsheet berisi nama, sumber, tanggal signup, dan status aktivitas.

Minggu 3-4: Eksekusi Agresif

  • Direct outreach: 5-10 kontak per hari.
  • Masuk dan berkontribusi di 3-5 komunitas target.
  • Publish minimal 2 konten yang menjawab pertanyaan target user.
  • Jika testing ads: alokasikan budget kecil dan ukur hasilnya ketat.

Minggu 5-8: Evaluasi dan Double Down

  • Review data: channel mana yang menghasilkan pengguna dengan kualitas terbaik?
  • Fokuskan effort ke 1 channel terbaik.
  • Mulai minta referral dari pengguna yang sudah aktif.
  • Iterasi messaging berdasarkan feedback yang masuk.

Selama proses ini, pastikan Anda juga memantau metrik yang tepat. Bukan hanya jumlah pengguna, tapi juga retention dan engagement. Sebuah North Star Metric yang jelas akan membantu Anda fokus pada pertumbuhan yang bermakna, bukan sekadar angka.


7 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Founder

Setelah membahas apa yang harus dilakukan, ini daftar kesalahan yang harus Anda hindari.

1. Terlalu Cepat Beralih ke Paid Ads

Banyak founder langsung mengeluarkan uang untuk iklan sebelum memahami siapa target pengguna mereka dan pesan apa yang resonan. Hasilnya: budget habis, pengguna yang datang tidak berkualitas. Paid ads adalah akselerator, bukan fondasi. Pastikan Anda sudah punya fondasi yang kuat dari channel organik terlebih dahulu.

2. Menunggu Produk "Sempurna"

Tidak ada produk yang sempurna. Jika Anda menunggu sampai semua fitur selesai dan semua bug teratasi, Anda akan menunggu selamanya. Pengguna pertama justru mencari pengalaman raw dan authentic. Mereka mau bantu Anda memperbaiki produk, asalkan problem yang diselesaikan relevan dengan kebutuhan mereka.

3. Tidak Ada Sistem Tracking

Anda harus tahu dari mana setiap pengguna datang. Tanpa data ini, Anda tidak bisa mengevaluasi channel mana yang bekerja dan mana yang tidak. Cukup pakai spreadsheet sederhana. Tidak perlu tools analytics mahal di tahap ini.

4. Spam di Komunitas

Masuk ke grup Facebook atau Telegram lalu langsung promosi produk adalah cara tercepat untuk merusak reputasi. Berikan value dulu, bangun kepercayaan, baru perkenalkan produk Anda secara natural. Ini membutuhkan waktu, tapi hasilnya jauh lebih berkelanjutan.

5. Mengabaikan Pengguna yang Sudah Ada

Ketika sedang sibuk mencari pengguna baru, jangan lupakan yang sudah sign up. Pengguna pertama yang puas adalah mesin pertumbuhan terbaik Anda. Satu pengguna yang benar-benar puas bisa mendatangkan 3-5 pengguna baru lewat word of mouth.

6. Mencoba Semua Channel Sekaligus

Dengan resource terbatas, mencoba semua channel secara bersamaan berarti tidak satupun yang dieksekusi dengan baik. Gunakan Bullseye Framework: test 3, fokus 1. Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada menyebarkan effort terlalu tipis.

7. Tidak Mau "Do Things That Don't Scale"

Paul Graham mengatakan ini bertahun-tahun lalu, dan masih relevan sampai sekarang. Di fase pengguna pertama, hal-hal manual seperti menghubungi calon user satu per satu, onboarding mereka secara personal, dan menangani keluhan langsung adalah hal yang seharusnya Anda lakukan. Ini bukan pemborosan waktu. Ini adalah investasi untuk memahami pengguna Anda lebih dalam dari siapapun.


Dari 100 Pengguna Pertama ke Pertumbuhan Berkelanjutan

Setelah Anda berhasil mendapatkan 100 pengguna pertama, langkah selanjutnya adalah transisi dari akuisisi manual ke sistem yang lebih scalable. Ini termasuk membangun strategi akuisisi pelanggan yang bisa berjalan tanpa Anda harus turun tangan di setiap interaksi.

Tapi jangan terburu-buru. Transisi yang terlalu cepat dari manual ke otomatis bisa membuat Anda kehilangan kedekatan dengan pengguna yang justru menjadi keunggulan startup tahap awal.

Beberapa sinyal bahwa Anda siap untuk scaling:

  • Retention stabil. Pengguna yang masuk tidak langsung pergi. Mereka kembali menggunakan produk secara reguler.
  • Channel terbukti. Minimal satu channel sudah menghasilkan pengguna secara konsisten dan repeatable.
  • Unit economics masuk akal. Biaya mendapatkan satu pengguna tidak melebihi value yang mereka berikan.
  • Referral mulai terjadi organik. Pengguna merekomendasikan produk Anda tanpa diminta.

Ketika sinyal-sinyal ini sudah muncul, saatnya masuk ke fase berikutnya. Pelajari tentang growth hacking dan bagaimana membangun engine pertumbuhan yang sustainable, bukan hanya satu kali viral.


Membangun Sistem Akuisisi yang Repeatable

Mendapatkan pengguna pertama adalah milestone penting, tapi itu baru langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem akuisisi yang repeatable dan scalable.

Di Founderplus Academy, ada kursus Marketing Fundamental yang membahas 19 channel traction secara mendalam, lengkap dengan framework prioritasi dan studi kasus dari startup Indonesia. Jika Anda ingin memperdalam setiap channel yang dibahas di artikel ini, termasuk channel tambahan yang belum dicover, kursus ini bisa menjadi langkah selanjutnya. Mulai dari Rp 299.000/bulan di academy.founderplus.id.

Untuk founder yang ingin pendampingan lebih intensif, program BOS (Business Operating System) di bos.founderplus.id membantu Anda membangun sistem akuisisi user yang repeatable selama 2 bulan. Bukan hanya teori, tapi eksekusi langsung dengan mentor yang sudah berpengalaman membantu puluhan startup melewati fase 0-100 pengguna pertama.


Ringkasan: 13 Channel untuk Pengguna Pertama

Kategori Channel Biaya Kecepatan Hasil
Gratis Direct Outreach Rp 0 1-2 minggu
Gratis Komunitas Rp 0 2-4 minggu
Gratis Content Marketing Rp 0 4-8 minggu
Gratis SEO Rp 0 3-6 bulan
Gratis Blog Targeting Rp 0 2-4 minggu
Low-cost Email Marketing Rp 0-500rb/bln 2-4 minggu
Low-cost Referral Rp 0-500rb 2-3 minggu
Low-cost Affiliate Komisi per user 3-6 minggu
Low-cost Engineering as Marketing Waktu development 4-8 minggu
Berbayar Google Ads Rp 500rb+/minggu 1-2 minggu
Berbayar Social Media Ads Rp 500rb+/minggu 1-2 minggu
Berbayar Display/Retargeting Rp 200rb+/minggu 2-3 minggu
Relationship Business Dev/Partnership Rp 0 4-8 minggu

Jangan mencoba semua sekaligus. Pilih 3, test, fokus 1. Itulah cara paling efisien untuk mendapatkan 100 pengguna pertama Anda.

Pastikan juga Anda memahami konteks yang lebih besar dari perjalanan marketing startup Anda. Artikel tentang business model canvas bisa membantu Anda memetakan bagaimana akuisisi pengguna masuk ke dalam keseluruhan model bisnis.

Yang paling penting: mulai hari ini. Bukan besok. Bukan setelah fitur X selesai. Kirim 5 pesan ke calon pengguna hari ini. Itu sudah lebih dari yang dilakukan 90% founder di luar sana.

FAQ

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan 100 pengguna pertama?

Tidak ada patokan pasti karena tergantung jenis produk dan market. Tapi sebagai acuan, startup B2C bisa mencapai 100 user dalam 2-8 minggu dengan pendekatan yang tepat. B2B biasanya lebih lama, sekitar 1-3 bulan, karena siklus keputusan yang lebih panjang. Yang penting adalah konsistensi eksekusi, bukan kecepatan.

Apakah harus punya budget besar untuk mendapatkan pengguna pertama?

Tidak. Justru sebagian besar pengguna pertama startup sukses didapatkan tanpa budget besar. Channel seperti direct outreach, komunitas, content marketing, dan referral bisa dijalankan dengan biaya mendekati nol. Budget iklan baru relevan ketika Anda sudah menemukan channel dan messaging yang terbukti bekerja.

Channel mana yang paling efektif untuk startup tahap awal?

Tidak ada satu channel yang universal. Efektivitas tergantung pada jenis produk, target market, dan resource Anda. Tapi secara umum, direct outreach dan komunitas adalah channel yang paling konsisten menghasilkan untuk tahap awal karena memungkinkan feedback loop yang cepat.

Apa bedanya strategi pengguna pertama dengan strategi growth secara umum?

Strategi pengguna pertama fokus pada akuisisi manual, validasi, dan pembelajaran. Anda belum mencari skala, tapi mencari bukti bahwa produk Anda dibutuhkan dan orang mau menggunakannya. Strategi growth umum sudah bicara tentang scaling channel yang terbukti, optimasi funnel, dan efisiensi biaya akuisisi.

Bagaimana jika sudah mencoba banyak channel tapi belum juga dapat pengguna?

Jika Anda sudah mencoba minimal 3-5 channel secara serius dan belum mendapatkan traction, kemungkinan besar masalahnya bukan di channel, tapi di product atau positioning. Kembali ke customer interview, validasi ulang apakah problem yang Anda selesaikan benar-benar dirasakan, dan apakah solusi Anda cukup compelling.

Apakah pengguna pertama harus membayar atau boleh gratisan?

Idealnya, setidaknya sebagian dari pengguna pertama Anda membayar. Pengguna yang membayar memberikan sinyal validasi yang jauh lebih kuat daripada pengguna gratisan. Jika tidak ada satu pun yang mau bayar, itu sinyal penting bahwa value proposition Anda perlu dievaluasi ulang.

Kapan harus berhenti fokus di pengguna pertama dan mulai scaling?

Ketika Anda sudah melihat tiga sinyal: (1) retention yang konsisten, di mana pengguna kembali menggunakan produk, (2) ada minimal satu channel yang bisa di-scale, dan (3) unit economics yang positif atau setidaknya masuk akal. Biasanya ini terjadi setelah 100-500 pengguna aktif.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang