Founderplus
Tentang Kami
Product

Customer Interview Framework: Cara Validasi Problem Sebelum Build Apapun

Published on: Saturday, Jan 24, 2026 By Tim Founderplus

Kamu punya ide startup yang menurutmu brilian. Kamu sudah bayangkan fitur-fiturnya, bahkan mungkin sudah riset tech stack yang mau dipakai. Tapi ada satu pertanyaan fundamental yang sering dilewatkan: apakah problem yang mau kamu selesaikan itu benar-benar dirasakan orang lain?

Banyak founder terjebak di sini. Mereka langsung loncat ke solusi tanpa pernah bicara dengan calon user. Hasilnya? Berbulan-bulan membangun produk yang ternyata tidak dibutuhkan siapa-siapa. Data dari berbagai riset menunjukkan bahwa alasan nomor satu startup gagal bukan karena produknya jelek secara teknis, melainkan karena tidak ada market need yang nyata.

Customer interview adalah senjata paling efektif untuk menghindari jebakan ini. Bukan interview asal-asalan, tapi interview yang terstruktur dan punya tujuan jelas: menggali apakah problem yang kamu identifikasi benar-benar ada, seberapa sakit rasanya, dan apakah orang mau membayar untuk solusinya.

Dalam artikel ini, kamu akan mendapatkan framework lengkap untuk melakukan customer interview yang menghasilkan insight actionable. Mulai dari cara mencari responden yang tepat, menyusun pertanyaan, menghindari jebakan bias, sampai menganalisis hasilnya. Ini adalah bagian penting dari proses validasi ide startup tanpa coding yang kami bahas secara komprehensif.

Mengapa Customer Interview, Bukan Langsung Build?

Ada godaan besar untuk langsung membangun sesuatu. Apalagi kalau kamu punya kemampuan teknis. Tapi membangun tanpa validasi itu seperti berlari kencang ke arah yang salah -- semakin cepat, semakin jauh kamu dari tujuan.

Customer interview penting karena beberapa alasan mendasar.

Pertama, asumsi kamu hampir pasti salah -- setidaknya sebagian. Setiap founder punya bias. Kamu mengasumsikan orang lain punya problem yang sama denganmu, atau bahwa solusi yang kamu bayangkan adalah yang paling diinginkan. Interview membongkar asumsi-asumsi ini sebelum kamu menginvestasikan waktu dan uang.

Kedua, interview menghemat resource secara masif. Satu minggu interview bisa menyelamatkan kamu dari enam bulan development yang sia-sia. Biaya melakukan 15 interview jauh lebih murah dibanding biaya membangun produk yang gagal di pasar.

Ketiga, interview memberikan bahasa yang tepat. Kamu akan mendengar bagaimana calon user mendeskripsikan problem mereka dengan kata-kata mereka sendiri. Bahasa ini nantinya menjadi fondasi untuk copywriting, positioning, bahkan fitur produk.

Konsep ini sejalan dengan tahapan startup yang dikenal sebagai Customer Discovery. Sebelum masuk ke tahap validasi solusi atau bahkan membangun MVP, founder harus memastikan dulu bahwa problem yang ingin diselesaikan itu nyata dan cukup menyakitkan.

Langkah 1: Definisikan Hipotesis Problem

Sebelum ngobrol dengan siapa pun, kamu harus punya hipotesis yang jelas. Jangan masuk ke interview tanpa arah, karena kamu akan keluar tanpa insight yang berguna.

Hipotesis problem yang baik punya struktur seperti ini:

"Saya percaya bahwa [segmen customer tertentu] mengalami [problem spesifik] ketika mereka [konteks situasi], dan saat ini mereka mengatasi ini dengan [solusi existing]."

Contoh: "Saya percaya bahwa pemilik UMKM F&B di kota-kota tier 2 kesulitan mengelola inventory bahan baku karena masih manual pakai catatan kertas, dan saat ini mereka mengatasi ini dengan spreadsheet sederhana atau bahkan tidak mencatat sama sekali."

Hipotesis yang bagus punya tiga elemen: segmen yang spesifik, problem yang konkret, dan konteks yang jelas. Hindari hipotesis yang terlalu luas seperti "UMKM butuh digitalisasi" karena itu tidak bisa divalidasi lewat interview.

Proses ini terkait erat dengan mendefinisikan problem statement yang jelas dan actionable. Semakin tajam problem statement-mu, semakin fokus interview yang kamu lakukan, dan semakin berguna hasilnya.

Langkah 2: Temukan Responden yang Tepat

Interview sehebat apapun tidak berguna kalau kamu bicara dengan orang yang salah. Menemukan responden yang tepat adalah separuh dari keberhasilan.

Siapa yang harus kamu interview?

Target responden adalah orang yang kamu yakini mengalami problem yang ada di hipotesismu. Bukan teman, bukan keluarga, bukan orang yang "kira-kira relevan". Mereka harus benar-benar berada di segmen customer yang kamu definisikan.

Di mana menemukan mereka?

Komunitas online. Grup Facebook, forum, komunitas Telegram, atau Reddit yang relevan dengan domain problem-mu. Kalau hipotesismu tentang pemilik UMKM F&B, cari di komunitas pengusaha kuliner.

LinkedIn. Untuk B2B, LinkedIn adalah tambang emas. Kamu bisa filter berdasarkan jabatan, industri, dan lokasi.

Tempat fisik. Kalau target-mu adalah pedagang pasar, ya pergi ke pasar. Jangan cuma duduk di depan laptop.

Referral dari interview sebelumnya. Setelah interview pertama, minta responden merekomendasikan orang lain yang punya pengalaman serupa. Ini disebut snowball sampling dan sangat efektif.

Event dan meetup. Konferensi industri, workshop, atau bahkan webinar bisa jadi sumber responden yang berkualitas.

Berapa orang yang cukup?

Targetkan 10-15 orang untuk satu segmen. Kamu akan mulai melihat pola setelah 5-8 interview. Jika setelah 10 interview kamu tidak mendapat insight baru, kemungkinan besar kamu sudah mencapai saturasi.

Cara mengajak mereka

Jangan langsung minta "boleh interview?" -- itu terdengar formal dan membuat orang waspada. Approach yang lebih baik:

"Hai, saya sedang riset tentang [topik]. Saya lihat kamu punya pengalaman di bidang ini. Boleh ngobrol santai 20-30 menit? Saya ingin belajar dari pengalamanmu."

Kata kunci: "ngobrol santai" dan "belajar dari pengalaman". Bukan "saya mau jualan" atau "saya butuh feedback untuk produk saya."

Langkah 3: Susun Script Interview yang Efektif

Script bukan berarti kamu membaca pertanyaan satu per satu seperti robot. Script adalah panduan agar kamu tidak melenceng dari tujuan, sekaligus memastikan setiap interview menghasilkan data yang bisa dibandingkan.

Struktur script yang terbukti efektif

Bagian 1: Pembukaan (3-5 menit)

Bangun rapport. Perkenalkan diri, jelaskan tujuan interview secara umum, dan tekankan bahwa tidak ada jawaban benar atau salah. Jangan sebut produk atau solusi yang kamu bayangkan.

"Terima kasih sudah mau meluangkan waktu. Saya sedang riset tentang bagaimana [konteks umum]. Saya ingin dengar pengalaman kamu. Tidak ada jawaban benar atau salah -- saya murni ingin belajar."

Bagian 2: Konteks dan rutinitas (5-7 menit)

Pahami dunia responden sebelum masuk ke problem. Tanyakan tentang pekerjaan atau aktivitas mereka sehari-hari yang terkait dengan domain problem-mu.

  • "Ceritakan tentang bagaimana kamu biasanya [aktivitas terkait problem]."
  • "Seperti apa prosesnya dari awal sampai akhir?"
  • "Siapa saja yang terlibat dalam proses ini?"

Bagian 3: Menggali problem (10-15 menit)

Ini bagian inti. Gali sedalam mungkin tentang pain point yang mereka alami.

  • "Apa bagian tersulit dari [aktivitas tersebut]?"
  • "Kapan terakhir kali kamu mengalami [problem spesifik]? Ceritakan apa yang terjadi."
  • "Apa dampaknya ketika problem itu terjadi?"
  • "Seberapa sering hal ini terjadi?"
  • "Sudah pernah coba mengatasi ini? Bagaimana caranya?"

Bagian 4: Solusi existing (5-7 menit)

Pahami bagaimana mereka saat ini mengatasi problem. Ini krusial untuk memahami competitive landscape yang sesungguhnya.

  • "Saat ini kamu pakai apa untuk mengatasi [problem]?"
  • "Apa yang kamu suka dari cara itu? Apa yang kurang?"
  • "Pernah coba alternatif lain? Kenapa ganti atau kenapa tidak?"
  • "Berapa waktu atau uang yang kamu habiskan untuk mengatasi ini?"

Bagian 5: Penutupan (2-3 menit)

  • "Ada hal lain yang menurut kamu penting tapi belum saya tanyakan?"
  • "Apakah ada orang lain yang menurut kamu bisa saya ajak ngobrol tentang topik ini?"

Yang harus kamu HINDARI dalam pertanyaan

Ini sama pentingnya dengan tahu pertanyaan apa yang harus ditanyakan.

Jangan tanyakan pertanyaan hipotetis. "Kalau ada aplikasi yang bisa X, apakah kamu mau pakai?" -- jawaban untuk pertanyaan ini hampir selalu "ya" dan tidak mengandung informasi apa-apa. Orang tidak bisa memprediksi perilaku masa depannya sendiri.

Jangan minta validasi ide. "Menurut kamu ide ini bagus nggak?" -- ini memancing jawaban sopan, bukan jawaban jujur. Responden akan bilang bagus karena tidak mau menyakiti perasaanmu.

Jangan tanyakan pertanyaan ya/tidak. "Apakah kamu punya problem dengan X?" Pertanyaan tertutup menghasilkan data dangkal. Selalu gunakan pertanyaan terbuka.

Jangan leading question. "Pasti susah ya mengelola inventory secara manual?" -- kamu sudah menyodorkan jawabannya. Biarkan responden yang mendeskripsikan sendiri.

Jangan bicara terlalu banyak. Rasio ideal adalah 80% responden bicara, 20% kamu. Kalau kamu lebih banyak bicara, interview-mu gagal.

Langkah 4: Teknik Menggali Lebih Dalam

Jawaban pertama dari responden biasanya masih di permukaan. Tugas kamu adalah terus menggali sampai menemukan akar problem dan emosi di baliknya.

Teknik "Five Whys" yang disesuaikan

Jangan literal tanyakan "kenapa" lima kali -- itu terasa seperti interogasi. Tapi prinsipnya tetap sama: terus gali hingga menemukan root cause.

Responden: "Saya sering kehabisan bahan baku." Kamu: "Bisa ceritakan kejadian terakhir ketika itu terjadi?" Responden: "Minggu lalu, tiba-tiba stok tepung habis padahal weekend dan demand tinggi." Kamu: "Apa yang kamu lakukan saat itu?" Responden: "Terpaksa tutup lebih awal. Rugi sekitar 2 juta hari itu." Kamu: "Bagaimana perasaanmu waktu harus tutup?" Responden: "Frustrasi, karena ini sudah terjadi berulang kali."

Sekarang kamu punya data yang jauh lebih kaya: frekuensi problem, dampak finansial, dampak emosional, dan konteks situasional.

Teknik "Tell me about the last time..."

Daripada bertanya tentang problem secara umum, minta cerita spesifik. Orang lebih jujur dan detail ketika menceritakan kejadian nyata dibanding berbicara abstrak.

Diam adalah senjata

Setelah responden menjawab, tunggu 3-5 detik sebelum bertanya lagi. Keheningan membuat orang cenderung menambahkan informasi -- dan sering kali informasi tambahannya justru yang paling berharga.

Langkah 5: Dokumentasi dan Analisis Hasil

Interview tanpa dokumentasi yang baik adalah buang waktu. Kamu akan lupa detail penting dalam hitungan jam.

Cara merekam

Idealnya, rekam audio (dengan izin responden). Kalau tidak memungkinkan, bawa note-taker -- orang kedua yang fokus mencatat sementara kamu fokus pada percakapan. Jangan mencoba meng-interview sekaligus mencatat sendiri. Kamu akan kehilangan fokus pada responden.

Framework analisis

Setelah semua interview selesai, kumpulkan datanya dan cari pola. Gunakan pendekatan ini.

Buat tabel ringkasan. Kolom: nama responden (atau kode), problem yang disebutkan, solusi existing, tingkat keparahan, kutipan penting. Satu baris per responden.

Identifikasi pola. Problem apa yang disebut oleh lebih dari separuh responden? Solusi existing apa yang paling sering dipakai? Frustrasi apa yang muncul berulang?

Kelompokkan temuan. Biasanya kamu akan menemukan 2-3 cluster problem utama. Ranking berdasarkan frekuensi, intensitas, dan willingness to pay.

Bandingkan dengan hipotesis awal. Apakah hipotesis terkonfirmasi? Ternyata salah? Atau muncul insight baru yang tidak pernah kamu bayangkan?

Proses ini sejalan dengan cara mengolah problem interview yang terstruktur. Tujuannya bukan hanya mengumpulkan cerita, tapi mengubahnya menjadi data yang bisa menjadi dasar keputusan bisnis.

Kalau kamu ingin mempelajari framework analisis yang lebih mendalam -- termasuk cara membuat validation board dan mengukur Problem-Solution Fit -- kursus Product Startup di Founderplus Academy membahas ini secara detail dengan studi kasus nyata dari startup Indonesia.

Langkah 6: Kenali Red Flag dalam Interview

Tidak semua interview menghasilkan insight yang valid. Kamu harus bisa mengenali tanda-tanda bahwa data yang kamu dapat mungkin tidak bisa diandalkan.

Red flag dari responden

Jawaban yang terlalu sopan. Kalau semua responden bilang "bagus" dan "pasti mau pakai", kemungkinan besar mereka hanya bersikap sopan. Data yang bagus justru mengandung kritik, keraguan, dan kontradiksi.

Tidak bisa ceritakan kejadian spesifik. Kalau responden bilang "sering" mengalami problem tapi tidak bisa ceritakan satu kejadian konkret, kemungkinan problem itu tidak separah yang mereka klaim.

Antusiasme berlebihan tanpa tindakan. "Wah, kalau ada solusi begitu saya pasti pakai!" -- tapi ketika kamu tanya "berapa kamu mau bayar?" mereka diam. Antusiasme verbal tanpa commitment nyata adalah sinyal lemah.

Red flag dari proses interview kamu sendiri

Kamu terlalu banyak bicara. Kalau kamu merasa interview berjalan "mulus" karena kamu yang mengarahkan pembicaraan, itu bukan interview -- itu presentasi.

Kamu hanya mendengar apa yang mau kamu dengar. Confirmation bias itu nyata. Kalau setelah interview kamu merasa semakin yakin tanpa menemukan satu pun informasi yang menantang asumsimu, cek ulang.

Responden terlalu homogen. Kalau semua responden-mu punya profil yang mirip (misalnya semua dari circle pertemanan), datamu mungkin tidak merepresentasikan market yang sebenarnya.

Langkah 7: Dari Insight ke Keputusan

Interview bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah membuat keputusan yang lebih baik. Setelah menganalisis hasil, kamu harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Apakah problem-nya valid? Apakah cukup banyak orang yang benar-benar mengalami ini, bukan hanya beberapa orang?

Seberapa parah? Apakah ini "nice to have" atau "must have"? Apakah mereka aktif mencari solusi?

Apakah mereka mau bayar? Bukan dari pertanyaan hipotetis, tapi dari bukti: apakah mereka sudah mengeluarkan uang atau effort untuk mengatasi problem ini?

Apakah ada market yang cukup besar? Berdasarkan segmentasi yang kamu temukan di interview, apakah jumlah orang yang mengalami problem ini cukup besar untuk membangun bisnis?

Kalau semua jawaban positif, selamat -- kamu punya problem yang tervalidasi dan siap masuk ke tahap merancang solusi. Kalau tidak, jangan patah semangat. Iterasi hipotesismu dan interview lagi. Menemukan bahwa asumsimu salah di tahap ini jauh lebih baik daripada menemukan setelah kamu menghabiskan ratusan juta membangun produk.

Proses ini adalah bagian awal dari perjalanan menuju Problem-Solution Fit. Setelah problem tervalidasi, langkah selanjutnya adalah mendesain solusi minimal dan mengujinya -- sebuah proses yang bisa dipercepat dengan metode seperti design sprint 5 hari yang memungkinkan kamu bergerak dari insight ke prototype yang bisa ditest.

Template Cepat: Checklist Customer Interview

Supaya lebih mudah dipraktikkan, berikut rangkuman dalam bentuk checklist.

Sebelum interview:

  • Hipotesis problem sudah tertulis dengan jelas
  • Target responden sudah didefinisikan (bukan "semua orang")
  • Script interview sudah disiapkan dengan pertanyaan terbuka
  • Alat rekam atau note-taker sudah ready
  • Tidak ada mention produk atau solusi di script

Selama interview:

  • Pembukaan: bangun rapport, jelaskan konteks
  • Rasio bicara: 80% responden, 20% kamu
  • Gali cerita spesifik, bukan opini umum
  • Gunakan follow-up questions untuk mendalami
  • Jangan leading, jangan mengarahkan jawaban
  • Catat verbatim -- kata-kata persis responden

Setelah interview:

  • Tulis ringkasan dalam 24 jam (sebelum lupa)
  • Masukkan ke tabel analisis
  • Tandai kutipan kunci dan insight baru
  • Bandingkan dengan interview sebelumnya
  • Update hipotesis jika perlu

Kesalahan Umum yang Membuat Interview Sia-Sia

Selama membantu founder melakukan validasi, ada beberapa kesalahan yang kami lihat berulang kali.

Langsung cerita tentang ide. Begitu duduk, founder langsung pitch produknya dan bertanya "bagus nggak?" Ini bukan interview, ini mencari validasi ego.

Interview hanya sekali lalu langsung build. Satu interview bukan data. Dua interview bukan pola. Kamu butuh cukup banyak percakapan untuk melihat tren yang nyata.

Tidak mendokumentasikan. Mengandalkan ingatan setelah 10+ interview adalah resep bencana. Insight yang tidak dicatat akan hilang.

Terlalu cepat menyimpulkan. Setelah 3 interview yang "sesuai harapan", langsung declare problem tervalidasi. Padahal mungkin 3 interview berikutnya memberi gambaran berbeda.

Mengabaikan outlier. Responden yang jawabannya berbeda dari mayoritas sering diabaikan. Padahal outlier bisa jadi signal dari segmen atau angle yang belum kamu pertimbangkan.

Menghindari kesalahan-kesalahan ini adalah bagian dari disiplin validasi. Di Founderplus Academy, kami membahas common mistakes dalam product validation secara mendalam, lengkap dengan contoh nyata dari startup yang berhasil maupun yang gagal karena melewatkan langkah ini.

Penutup: Interview Dulu, Build Kemudian

Customer interview bukan formalitas yang harus dicentang sebelum build. Ini adalah fondasi dari segala keputusan produk yang kamu ambil setelahnya. Tanpa interview yang baik, kamu membangun di atas asumsi. Dengan interview yang baik, kamu membangun di atas bukti.

Framework yang sudah kita bahas di artikel ini -- mulai dari menyusun hipotesis, mencari responden, membuat script, menggali insight, sampai menganalisis dan mengambil keputusan -- adalah langkah pertama dalam proses validasi ide startup yang lebih luas.

Yang perlu kamu lakukan sekarang: tulis satu hipotesis problem, identifikasi 5 orang pertama yang bisa kamu ajak ngobrol, dan mulai minggu ini. Jangan tunggu sampai "sempurna". Interview pertama memang akan terasa canggung, tapi interview kelima akan jauh lebih baik. Dan insight yang kamu dapat dari kelima interview itu sudah cukup berharga untuk mengarahkan langkah selanjutnya.

Selamat menggali problem -- bukan membangun solusi yang belum saatnya.

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang