
Selama bulan Ramadan, terdapat lonjakan penjualan secara meningkat dan hal ini di katakan wajar. Beberapa clothing brand seperti Erigo, Cotton Ink, dan This Is April hampir selalu mengalami lonjakan permintaan di periode ini.
Koleksi Lebaran, promo spesial, dan campaign musiman mendorong traffic serta transaksi secara signifikan. Namun, tantangan muncul setelah Lebaran, mengapa penjualan justru menurun secara drastis?
Banyak brand mengalami kondisi serupa, lonjakan tinggi di satu periode, lalu penurunan secara drastis beberapa minggu setelahnya. Fenomena ini bukan disebabkan oleh hilangnya pasar, melainkan strategi yang belum berkelanjutan.
Fokus yang Terlalu Berlebihan pada saat Bulan Ramadan

Dalam konteks clothing brand, Ramadan sering dijadikan momen utama untuk “all-out”:
Diskon besar untuk koleksi Lebaran
Campaign besar-besaran
Produksi stok dalam jumlah tinggi
Strategi ini efektif untuk meningkatkan penjualan jangka pendek. Namun, banyak brand berhenti pada fase transaksi, tanpa membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Padahal, dalam industri fashion yang sangat kompetitif, keberlanjutan bergantung pada kemampuan menjaga pelanggan tetap aktif. Menurut penelitian, peningkatan retensi pelanggan sebesar 5% dapat meningkatkan profit hingga 25–95%.
Dalam kasus clothing brand, pelanggan yang sudah membeli baju Lebaran seharusnya menjadi target utama untuk pembelian berikutnya, bukan ditinggalkan setelah transaksi pertama.
Diskon Dapat Membentuk Perilaku pada Konsumen

Strategi diskon besar selama Ramadan juga berdampak pada perilaku konsumen fashion. Dalam konteks brand seperti Erigo atau Cotton Ink, promo yang agresif dapat mendorong volume penjualan. Namun, jika tidak diimbangi strategi lain, pelanggan akan terbiasa membeli hanya saat diskon.
Dampaknya:
Pembelian menjadi musiman
Loyalitas terhadap brand menurun
Konsumen mudah berpindah ke brand lain dengan harga lebih murah
Beberapa peneliti menunjukkan bahwa dalam industri retail, produk yang tidak memiliki diferensiasi kuat akan mudah terjebak dalam kompetisi harga.
Dalam industri clothing, di mana desain sering cepat ditiru, brand yang hanya mengandalkan harga akan sulit mempertahankan posisi di pasar.
Ramadan sebagai Fase yang Baik untuk Akuisisi Clothing Brand

Pendekatan yang lebih strategis adalah melihat Ramadan sebagai fase akuisisi pelanggan. Bagi clothing brand seperti This Is April, momen ini bukan hanya soal menjual koleksi Lebaran, tetapi juga memperluas basis customer.
Pada periode ini keuntungan yang di dapat ialah:
- Awareness meningkat
- Banyak pelanggan baru mencoba brand
- Engagement terhadap campaign lebih tinggi
Nilai utamanya bukan pada satu transaksi, tetapi pada potensi repeat order.
Pelanggan yang membeli satu outfit Lebaran memiliki potensi untuk membeli:
- Daily wear
- Work wear
- Koleksi seasonal berikutnya
Tanpa strategi lanjutan, potensi ini tidak akan termanfaatkan.
Masalah Utama-Nya itu Tidak Ada Strategi Pasca-Ramadan

Banyak clothing brand menghadapi penurunan penjualan karena:
Campaign berhenti setelah Lebaran
Tidak ada koleksi lanjutan yang relevan
Database customer tidak dimanfaatkan
Padahal, pelanggan yang sudah membeli memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan calon pelanggan baru. Biaya untuk mendorong repeat purchase juga jauh lebih rendah dibandingkan biaya akuisisi.
Strategi Agar Clothing Brand Tetap Laris Setelah Ramadan

Penurunan penjualan setelah Ramadan sebenarnya bukan hal yang tidak bisa dihindari. Dalam industri clothing, pola ini justru sudah berulang setiap tahun. Tetapi yang membedakan bukan kondisi market, tetapi kesiapan strategi setelah momentum berakhir.
Clothing brand yang mampu menjaga performa biasanya tidak mengandalkan satu campaign besar saja, tetapi sudah menyiapkan langkah lanjutan sejak awal. Fokusnya bukan lagi pada lonjakan penjualan sesaat, melainkan bagaimana menjaga relevansi brand dan mendorong pembelian ulang.
Berikut beberapa strategi yang umum digunakan oleh brand yang lebih sustain:
1. Membangun Koleksi “After Eid”
Clothing brand yang sustain tidak berhenti di koleksi Lebaran.
Sebaliknya, mereka melanjutkan dengan:
a. Koleksi daily wear
b. Capsule collection
c. Produk yang lebih versatile
Hal ini menjaga relevansi brand di luar momen musiman.
2. Retargeting Customer Ramadan
Setiap pembeli selama Ramadan merupakan aset.
Strategi yang dapat dilakukan:
a. Penawaran eksklusif untuk pelanggan lama
b. Early access ke koleksi baru
c. Komunikasi personal melalui CRM
3. Menggeser Fokus dari Diskon ke Brand Value
Brand seperti Erigo dikenal tidak hanya karena harga, tetapi juga positioning dan identitas brand.
Value yang dapat dibangun meliputi:
a. Desain unik
b. Storytelling brand
c. Kualitas produk
Dengan value yang kuat, pembelian tidak lagi bergantung pada diskon.
Jangan Berhenti di Momentum

Dalam industri clothing, lonjakan penjualan saat Ramadan memang sering terjadi. Namun, yang benar-benar menentukan arah brand ada pada fase setelahnya.
Beberapa brand mampu menjaga ritme penjualan, sementara yang lain kembali ke titik awal. Perbedaannya sering kali terletak pada bagaimana momentum dimanfaatkan, apakah berhenti di transaksi, atau dilanjutkan menjadi hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, Ramadan bisa menjadi awal dari pertumbuhan yang lebih konsisten, bukan sekadar puncak sementara.
Jika ingin melihat perspektif lain seputar strategi bisnis dan growth, berbagai insight tambahan dapat dilihat di Founderplus.id.