1. Brand Positioning
Brand positioning adalah strategi bagaimana sebuah brand bisa diterima dan menetap dalam pikiran target pasar berkat keunikan yang brand tersebut miliki.
“Founders, pasti pernah kan beli brand air mineral lain, tapi menyebutnya Aqua?”
Menariknya, pada awalnya brand air mineral yang sekarang jadi top of mind ini hampir bangkrut karena produknya dianggap tidak dibutuhkan pasar — orang dulu berpikir air tidak perlu dibeli.
Air mineral | Gambar oleh Suzy Hazelwood
Sampai akhirnya Aqua mengubah brand positioning menjadi “Sehat & Berkualitas”, menaikkan harga, dan menyasar segmen khusus seperti karyawan perusahaan multinasional (MNC). Keputusan ini menciptakan kesan eksklusif, sehingga yang dibeli bukan hanya produknya, tetapi value atau manfaatnya.
2. Brand Voice
Singkatnya, brand voice adalah cara brand berinteraksi dengan pelanggan. Ini mencakup gaya bicara dan bagaimana brand mengkomunikasikan identitasnya setiap kali berbicara ke publik.
Macbook | Gambar oleh energepic.com
Contohnya Apple. Mereka ingin dilihat sebagai brand teknologi yang sederhana tetapi modern. Ini terlihat dari:
- website yang sangat minimalis,
- copywriting dan tagline yang singkat.
3. Brand Identity
Brand identity adalah identitas yang ditunjukkan brand kepada konsumen: value yang dipegang, cara berkomunikasi, dan bagaimana brand ingin dilihat. Ini mencakup logo, warna, tipografi, dan citra visual secara keseluruhan.
Ojek Online | Gambar dari Shutterstock
“Apa yang langsung kamu pikirkan ketika melihat warna hijau di jalanan? Pasti Gojek atau brand ojol sejenisnya, kan?”
Hijau sering dikaitkan dengan pertumbuhan, kebangkitan, dan kemakmuran. Pemilihan warna hijau oleh Gojek ini sejalan dengan salah satu dari tiga pilar yang mereka miliki, yaitu dampak — di mana Gojek ingin membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Penutup
Dari ketiga pilar ini — brand positioning, brand voice, dan brand identity — mana yang sudah kamu terapkan dalam brand yang kamu bangun?