Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Shrinkflation: Strategi Bertahan Bisnis Saat Biaya Produksi Naik

TTim Founderplus26 Juni 20267 menit baca
Shrinkflation: Strategi Bertahan Bisnis Saat Biaya Produksi Naik

Berat Momogi yang Anda kenal dulu 65 gram. Sekarang 55 gram. Harganya? Tetap sama.

Anda tidak salah ingat. Dan ini bukan fenomena lokal. Di Amerika, Tropicana memangkas isi botol jusnya dari 52 oz ke 46 oz. Doritos kurangi jumlah chips per kemasan dari 18,375 gram ke 15,625 gram. Semua terjadi antara 2021-2023, saat inflasi input cost memukul hampir semua industri consumer goods.

Di dunia bisnis, praktik ini punya nama: shrinkflation.

Apa Itu Shrinkflation

Shrinkflation adalah taktik di mana perusahaan mengecilkan ukuran, berat, atau isi produk tanpa mengubah harga jual. Istilah ini dipopulerkan oleh ekonom Inggris Pippa Malmgren sekitar 2009, dan kini dipakai luas untuk menggambarkan salah satu cara bisnis mempertahankan margin saat biaya input naik.

Secara psikologis, shrinkflation memanfaatkan satu fakta: konsumen jauh lebih sensitif terhadap kenaikan harga daripada pengurangan ukuran. Eksperimen dari Journal of Consumer Research membuktikan ini berulang kali. Ketika harga naik Rp1.000, konsumen langsung merasakannya. Ketika isi berkurang 10%, banyak yang tidak sadar sampai beberapa pembelian kemudian.

Inilah yang membuat shrinkflation menarik bagi brand besar. Margin terjaga, harga rak tidak berubah, dan checkout di kasir tetap sama.

Baca juga: Cara Tentukan Pricing Strategy Startup yang Profitable

Kenapa Brand Memilih Shrinkflation

Biaya produksi tidak naik sendirian. Ia naik dalam paket. Ketika minyak sawit naik, tepung naik, upah minimum naik, dan biaya logistik naik dalam waktu bersamaan, produsen punya tiga pilihan kasar: naikkan harga, kurangi biaya operasional, atau kurangi isi produk.

Naikkan harga adalah pilihan paling transparan, tapi berisiko paling besar. Di kategori snack dan consumer goods yang harganya sudah tertanam kuat di memori konsumen seperti Rp2.000, Rp5.000, atau Rp10.000, mengubah harga jual butuh negosiasi panjang dengan distributor dan retailer.

Kurangi isi produk? Jauh lebih mudah secara eksekusi. Anda hanya perlu update cetakan kemasan dan informasi berat bersih. Distribusi tidak perlu tahu. Retailer tidak perlu renegosasi.

Ini bukan kepengecutan bisnis. Ini keputusan bertahan.

Untuk brand seperti Momogi yang bermain di segmen snack anak dengan harga sangat sensitif, mempertahankan price point Rp1.000 atau Rp2.000 adalah soal aksesibilitas ke jutaan konsumen di warung pinggir jalan. Naikkan harga, dan Anda kehilangan distribusi terbesar Anda.

Rak minimarket dengan produk kemasan snack Sumber: Unsplash

Kapan Shrinkflation Etis, Kapan Berbahaya

Shrinkflation masuk kategori gray area, bukan hitam-putih. Ada dua faktor yang menentukan apakah taktik ini acceptable atau akan merusak bisnis Anda.

Transparansi kemasan. Di Indonesia, regulasi BPOM mengharuskan setiap produk pangan mencantumkan berat bersih yang akurat. Selama Anda memperbarui informasi kemasan, shrinkflation bukan penipuan. Yang jadi masalah adalah ketika kemasan didesain untuk menyamarkan pengurangan, misalnya dengan mengubah bentuk kemasan tapi mempertahankan ukuran visualnya.

Frekuensi dan besarnya pengurangan. Mengurangi 5% satu kali dalam lima tahun berbeda dengan mengurangi 10% dua kali dalam setahun. Konsumen yang membandingkan produk secara aktif akan menyadarinya, dan reaksi mereka bisa keras di era media sosial.

Survei dari lembaga konsumen Which? di UK (2023) menemukan 52% konsumen yang sadar mengalami shrinkflation menyatakan beralih ke brand lain atau private label. Di Indonesia, efek ini diperbesar oleh kultur berbagi di WhatsApp dan TikTok. Satu unboxing yang menampilkan perbandingan ukuran lama vs baru bisa viral dalam 24 jam.

Kesimpulannya: shrinkflation adalah jalan pintas yang acceptable dalam kondisi darurat, bukan strategi jangka panjang.

Baca juga: Satu Pabrik, 10 Brand: Kenapa Produk yang Sama Bisa Dijual 5x Lipat Lebih Mahal

Empat Opsi Adaptasi Selain Mengecilkan Produk

Shrinkflation bukan satu-satunya jalan keluar ketika biaya naik. Berikut empat pendekatan yang sering dipakai bisnis yang lebih serius menjaga hubungan dengan pelanggannya.

Efisiensi Operasional

Sebelum menyentuh produk, audit dulu proses produksi dan operasional Anda. Banyak bisnis yang masih membayar overhead yang tidak perlu: mesin yang tidak optimal, proses manual yang bisa diotomasi, atau vendor yang bisa dinegosiasi ulang.

Sebuah produsen bumbu instan skala UKM di Jawa Tengah berhasil memotong biaya produksi 12% hanya dengan mengubah jadwal pembelian bahan baku dari mingguan ke dua mingguan dalam jumlah lebih besar, memanfaatkan diskon volume dari supplier.

Titik pentingnya: efisiensi operasional tidak menyentuh apa yang pelanggan rasakan langsung. Ini selalu tempat terbaik untuk memulai sebelum menyentuh produk atau harga.

Reformulasi Produk

Reformulasi berbeda dengan shrinkflation. Alih-alih mengurangi jumlah, Anda mengganti komposisi dengan alternatif yang setara secara kualitas tapi lebih efisien secara biaya.

Contoh nyata: banyak produsen roti dan kue di Indonesia mengganti sebagian terigu impor dengan mocaf (modified cassava flour) selama periode lonjakan harga gandum 2022-2023. Pelanggan tidak merasakan perbedaan signifikan, tapi margin produsen terjaga.

Reformulasi butuh R&D, tapi hasilnya lebih sustainable dibanding terus-menerus mengurangi ukuran.

Bundling

Jika Anda tidak bisa jaga margin di produk tunggal, buat bundel. Jual dua item sekaligus dengan harga yang sedikit lebih menarik dibanding beli satuan, tapi margin per set lebih sehat.

Bundling menggeser perhatian dari "berapa ini per unit?" ke "ini deal bagus atau tidak?" Psikologi harga bergeser dari perbandingan langsung ke perhitungan nilai paket.

Baca juga: Apa Itu COGS (Harga Pokok Penjualan)? Cara Hitung dan Contohnya

Repositioning Harga dengan Justifikasi Nilai

Opsi terakhir dan paling jujur: naikkan harga, tapi beri konteks yang membuat kenaikan itu terasa wajar bagi pelanggan.

Ini bukan soal membuat excuse. Ini soal komunikasi yang jelas. "Harga kami naik 15% karena harga bahan baku naik 40% dan kami memilih tidak mengurangi kualitas" adalah pesan yang konsumen bisa hargai, asalkan disampaikan dengan benar.

Riset dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa konsumen yang diberi penjelasan transparan soal kenaikan harga memiliki tingkat churn 30% lebih rendah dibanding yang tidak diberi penjelasan sama sekali.

Kunci repositioning: kuatkan value proposition sebelum umumkan kenaikan. Jika Anda dikenal sebagai yang terbaik di kategorinya, kenaikan harga jauh lebih mudah diterima.

Baca juga: Cara Menghitung Gross Margin dan Break-Even Point Startup

Cara Memutuskan: Framework Sederhana untuk UKM

Ketika biaya produksi naik, berikut urutan pertanyaan yang perlu Anda jawab sebelum mengambil keputusan.

  1. Berapa COGS saat ini dan komponen mana yang naik paling besar? Tanpa data ini, semua keputusan hanya tebakan.
  2. Apakah ada inefisiensi operasional yang bisa dipotong duluan? Ini selalu jadi prioritas pertama.
  3. Seberapa sensitif pelanggan Anda terhadap perubahan harga vs perubahan ukuran? Segmen B2B biasanya lebih toleran terhadap kenaikan harga yang terjustifikasi. Segmen mass market consumer biasanya lebih sensitif harga.
  4. Seberapa kuat brand equity Anda? Brand yang kuat bisa naik harga. Brand yang lemah tidak punya pilihan selain main di harga.
  5. Apakah kompetitor juga menghadapi tekanan yang sama? Jika ya, pasar lebih menerima perubahan karena semua pemain bergerak bersamaan.

Jawabannya akan mengarahkan ke mana Anda harus bergerak: efisiensi, reformulasi, bundling, atau repositioning.

Tentang Founderplus

Founderplus membantu pemilik UKM dan founder startup membuat keputusan bisnis yang lebih baik, terutama di area keuangan dan strategi.

Untuk topik seperti manajemen biaya, pricing, dan strategi bertahan di ekonomi yang berubah, Academy FounderPlus punya kursus Financial Management for Founders yang membahas dari cara membaca margin sampai membangun sistem monitoring biaya. Harga mulai Rp18.000. Cek katalog lengkapnya di academy.founderplus.id.

Kalau Anda ingin pendampingan lebih intensif, program BOS Transformation hadir 15 sesi selama 2 bulan, dengan kurikulum yang mencakup modul Financial Discipline dan Cashflow Control. Cocok untuk UKM yang sedang menghadapi tekanan biaya dan butuh sistem, bukan sekadar tips. Detail di academy.founderplus.id/event/business-operating-system-transformation.

FAQ

Apa itu shrinkflation?

Shrinkflation adalah taktik bisnis di mana perusahaan mengecilkan ukuran, berat, atau isi produk tanpa menurunkan harganya. Efeknya sama seperti menaikkan harga, tapi lebih tidak kentara di mata konsumen.

Apakah shrinkflation legal?

Di Indonesia, shrinkflation legal selama informasi berat/isi bersih pada kemasan diperbarui sesuai regulasi BPOM. Yang tidak legal adalah mencantumkan berat yang tidak akurat di kemasan.

Kapan shrinkflation mulai berbahaya untuk bisnis?

Shrinkflation mulai berbahaya ketika konsumen menyadarinya dan merasa ditipu. Riset dari Which? (UK) menunjukkan 52% konsumen yang menyadari shrinkflation menyatakan beralih ke brand lain. Risiko makin tinggi jika Anda beroperasi di kategori produk yang sering dibandingkan, seperti snack dan minuman kemasan.

Selain shrinkflation, apa saja opsi adaptasi bisnis saat biaya naik?

Ada empat pendekatan utama: (1) efisiensi operasional: potong biaya yang tidak menyentuh kualitas produk, (2) reformulasi: ganti bahan baku dengan alternatif sekelas tanpa turunkan persepsi kualitas, (3) bundling: jual paket sehingga harga per unit terasa lebih masuk akal, (4) repositioning harga: naikkan harga dengan justifikasi nilai yang jelas.

Bagaimana UKM Indonesia seharusnya merespons tekanan biaya produksi?

Mulai dari audit COGS dulu. Temukan komponen biaya terbesar, lalu putuskan: mana yang bisa dipotong tanpa efek ke pelanggan, dan mana yang harus diteruskan ke harga. Jangan ambil keputusan reaktif tanpa data margin yang jelas.

Integrasikan AI ke bisnis Anda, bukan cuma ikut tren

Konsultasi dan integrasi AI bersama praktisi: dari audit, implementasi AI agent dan otomasi, sampai adopsi tim. Mulai dari sesi diagnostic AI gratis 60 menit.

Konsultasi AI via WhatsApp