12 Metrik Unit Economics Penting untuk Startup 2026
Setelah bertahun-tahun bakar uang untuk akuisisi pengguna, raksasa e-commerce Asia Tenggara seperti Shopee dan Tokopedia akhirnya mencapai profitability di Q4 2 …
"Ada bangunan kost di daerah kampus Jogja dijual seharga Rp8 Miliar. Kos itu umurnya udah puluhan tahun, bangunannya jelek dan sering kosong karena kalah bersaing sama kos-kosan lain yang lebih modern."
Tweet dari akun @Makaryo0 ini mendapat hampir 10.000 likes di Maret 2026. Bukan karena sensasional, tapi karena banyak orang mengenali pola ini. Entah dari pengalaman sendiri, entah dari cerita keluarga atau teman yang "investasi properti" tapi hasilnya mengecewakan.
Kalimat lanjutannya yang membuat tweet itu viral: "Orang yang ga punya pengetahuan finance dasar tanpa pikir panjang bakal beli buat penghasilan pasif."
Ini bukan cerita tentang satu kost di Jogja. Ini tentang kesalahan due diligence yang terjadi berulang kali di berbagai kota, berbagai jenis aset, dan berbagai level modal.
Untuk memahami kasusnya, mari kita bedah kemungkinan skenarionya berdasarkan kondisi pasar kost di Jogja.
Data dari platform Mamikos dan 99.co menunjukkan harga sewa kost di sekitar kampus UGM berkisar Rp350.000 hingga Rp2,4 juta per bulan, tergantung fasilitas. Kost modern dengan AC, WiFi, dan kamar mandi dalam bisa mencapai Rp1,5-2,4 juta per bulan.
Sekarang bayangkan kost tua Rp8 miliar ini. Misalkan punya 20 kamar (ukuran besar untuk kost lama). Kalau harga sewa per kamar Rp1 juta/bulan (sudah optimistis untuk bangunan lama), pendapatan kotor maksimal:
Itu dengan asumsi 100% terisi. Dengan kondisi "sering kosong," occupancy mungkin hanya 50-60%.
Bandingkan dengan yield SBN yang memberikan 5,2% net tanpa effort apa pun. Angkanya tidak bohong.
Di Jogja, pasokan kost terus bertambah. Setiap tahun, kost-kost modern baru dibangun dengan fasilitas yang menjadi standar mahasiswa generasi sekarang: WiFi kencang, AC, laundry, area komunal, dan keamanan. Kost lama dengan bangunan puluhan tahun tidak bisa bersaing kecuali harganya sangat murah, dan harga murah berarti yield semakin rendah.
Ini adalah fenomena competitive obsolescence. Aset Anda tidak rusak, tapi pasar bergerak meninggalkannya.
Data dari platform Mamikos menunjukkan ada lebih dari 1.000 pilihan kost di sekitar UGM saja, dengan harga mulai Rp350.000/bulan untuk kost sederhana hingga Rp2,4 juta/bulan untuk kost premium. Persaingan di tingkat ini sangat ketat. Kost yang tidak menawarkan nilai lebih, baik dari segi harga maupun fasilitas, akan terus kehilangan penyewa dari tahun ke tahun.
Kasus kost Jogja ini bisa dihindari kalau pembeli melakukan pengecekan sederhana. Berikut red flag yang sering terlewat:
Kesalahan paling umum. Penjual bilang "yield 8%," pembeli langsung tertarik. Padahal itu gross yield sebelum dipotong biaya apa pun. Selalu tanya: berapa yang benar-benar masuk rekening Anda setiap bulan, setelah semua biaya?
Berapa kost lain yang ada di sekitar lokasi? Berapa harganya? Apa fasilitasnya? Kalau ada 10 kost modern dalam radius 500 meter, kost lama Anda akan kesulitan mendapat penyewa kecuali harga di bawah pasar.
Berapa jumlah mahasiswa aktif di kampus terdekat? Apakah kampus sedang ekspansi atau justru menyusut? Apakah ada kecenderungan mahasiswa pindah ke area lain? Data ini seharusnya mudah didapat dari universitas atau BPS daerah.
Kost puluhan tahun hampir pasti butuh renovasi besar. Atap, plumbing, electrical, furnitur. Biaya ini bisa mencapai 15-30% dari harga beli. Kalau Anda membeli Rp8 miliar lalu harus renovasi Rp1,5 miliar, total investasi Anda Rp9,5 miliar dan yield semakin kecil.
Ya, harga tanah di Jogja memang naik. Tapi apresiasi tanah tidak relevan kalau Anda membeli untuk "passive income." Anda tidak bisa membayar tagihan bulanan dengan capital gain yang belum direalisasi. Dan saat Anda mau jual, properti dengan occupancy rendah lebih sulit dijual dari yang Anda bayangkan.
Ini berlaku bukan hanya untuk kost-kostan, tapi untuk aset investasi apa pun yang Anda pertimbangkan sebagai founder.
Kalau Anda seorang founder, Anda sudah terbiasa menghitung unit economics sebelum memutuskan strategi bisnis. Terapkan kebiasaan yang sama saat membeli aset.
Jangan perlakukan properti investasi seperti barang koleksi. Perlakukan seperti bisnis: harus ada revenue yang terukur, biaya yang terkontrol, dan return yang masuk akal dibanding alternatif.
Prinsip ini berlaku untuk semua jenis aset, bukan hanya properti. Apakah itu membeli franchise, membeli bisnis existing, atau bahkan membeli domain dan website. Setiap aset yang dijadikan investasi harus melalui proses due diligence yang terstruktur. Kalau Anda tidak punya waktu atau keahlian untuk melakukan due diligence sendiri, setidaknya libatkan pihak yang kompeten, baik itu akuntan, surveyor bangunan, atau konsultan properti.
Tweet @Makaryo0 yang viral itu pada dasarnya menyampaikan satu hal: pengetahuan finance dasar bukan opsional, itu kebutuhan.
Kalau Anda belum terbiasa membaca angka-angka keuangan, mulai dari hal sederhana, yaitu belajar membaca laporan keuangan bisnis Anda sendiri. Karena kemampuan itu tidak hanya berguna untuk properti. Itu berguna untuk setiap keputusan bisnis yang melibatkan uang.
Sebelum menutup, ada pertanyaan yang jarang diajukan oleh orang yang sedang "ingin investasi properti": apakah modal Rp8 miliar itu lebih baik dipakai untuk sesuatu yang lain?
Beberapa kemungkinan:
Reinvest ke bisnis sendiri. Kalau bisnis Anda bisa menghasilkan return 20-30%, menaruh Rp8 miliar di kost dengan yield 2% adalah keputusan yang sulit dijustifikasi.
SBN sebagai base income. Rp8 miliar di ORI029 tenor 6 tahun menghasilkan sekitar Rp38 juta/bulan sebelum pajak, tanpa effort apa pun.
Kombinasi. Rp4 miliar di bisnis, Rp4 miliar di SBN. Diversifikasi yang terukur.
Intinya: setiap rupiah yang Anda alokasikan ke satu tempat adalah rupiah yang tidak bisa Anda taruh di tempat lain. Hitung opportunity cost-nya sebelum memutuskan.
Ingin belajar framework pengambilan keputusan keuangan untuk bisnis Anda? Program mentoring BOS di bos.founderplus.id membantu founder membangun fondasi keuangan yang kuat, termasuk cara mengevaluasi aset dan alokasi modal. 15 sesi selama 2 bulan, harga Rp1.999.000.
Mulai dari yang fundamental? Kursus keuangan bisnis di academy.founderplus.id tersedia mulai Rp18.000 untuk Anda yang ingin memahami angka di balik setiap keputusan.
Due diligence adalah proses investigasi menyeluruh sebelum membeli aset. Untuk properti, ini meliputi pengecekan legalitas (sertifikat, IMB), kondisi fisik bangunan, analisis keuangan (yield aktual, biaya operasional), riset pasar (kompetitor, demand), dan proyeksi cashflow realistis. Tujuannya agar Anda membeli berdasarkan data, bukan asumsi atau janji penjual.
Kost modern menawarkan fasilitas yang menjadi standar baru bagi penyewa: WiFi kencang, AC, kamar mandi dalam, area coworking, laundry, dan keamanan 24 jam. Kost lama yang tidak di-upgrade akan kehilangan penyewa secara bertahap karena selisih harga dengan kost modern sering tidak terlalu besar, tapi gap fasilitasnya sangat terasa.
Occupancy rate kost yang baik berkisar 70-90%, tergantung lokasi dan kualitas. Di area kampus, occupancy bisa turun drastis saat liburan semester (2-3 bulan per tahun). Kost lama di area dengan banyak kompetitor modern bisa mengalami occupancy serendah 40-50%. Saat menghitung yield, selalu gunakan asumsi occupancy konservatif, bukan 100%.
Gunakan metode income capitalization: hitung pendapatan sewa bersih per tahun (setelah semua biaya dan asumsi vacancy realistis), lalu bagi harga properti dengan angka tersebut. Hasilnya adalah berapa tahun untuk balik modal. Jika lebih dari 15-20 tahun, harga properti kemungkinan terlalu mahal untuk dijadikan investasi. Bandingkan juga dengan cap rate properti serupa di area yang sama.
Bisa, tapi harus dihitung matang. Biaya renovasi total (upgrade fasilitas, perbaikan struktur, furnitur baru) harus diperhitungkan sebagai tambahan modal investasi. Jika total investasi (harga beli + renovasi) menghasilkan yield net di bawah 5%, mungkin lebih baik mencari properti lain atau instrumen investasi yang berbeda. Renovasi tanpa riset pasar hanya membuang uang.
Setelah bertahun-tahun bakar uang untuk akuisisi pengguna, raksasa e-commerce Asia Tenggara seperti Shopee dan Tokopedia akhirnya mencapai profitability di Q4 2 …
175 rejection dari investor. $297 juta funding untuk seluruh Indonesia di 2025, turun dari $438 juta tahun sebelumnya. 90% startup gagal. Tapi ada yang berhasil …
Anda sudah tahu AI bisa bantu analisa data bisnis. Pertanyaannya sekarang: pakai yang mana? Claude Desktop, ChatGPT, atau Google Gemini? Ketiga tool ini sama-sa …
Di Indonesia ada 32.932 startup aktif per Maret 2026, menjadikan Indonesia peringkat ke-6 terbesar di dunia. Tapi di saat yang sama, total pendanaan startup Ind …
Konsultasi dan integrasi AI bersama praktisi: dari audit, implementasi AI agent dan otomasi, sampai adopsi tim. Mulai dari sesi diagnostic AI gratis 60 menit.
Konsultasi AI via WhatsApp