Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana Netflix bisa bertransformasi dari penyewaan DVD menjadi raksasa teknologi tanpa terjebak di birokrasi?, jawabannya bukan karena mereka punya ribuan karyawan, tapi karena keberaniannya memangkas sistem approval lewat atasan.
Saat banyak perusahaan justru menambah lapisan persetujuan seiring tim membesar, Netflix melakukan sebaliknya. Mereka paham, kalau ingin bergerak cepat, pemimpin tidak boleh menjadi titik sumbat bagi keputusan di dalam tim.
Ironisnya, di banyak bisnis, momen melambat justru muncul di saat tim mulai bertambah di angka 10 atau 20 orang. Secara logika, pekerjaan harusnya lebih cepat. Malah kenyataannya, keputusan sederhana yang dulu bisa diambil dengan diskusi singkat, kini harus lewat rapat panjang hanya untuk mendapatkan satu kata “setuju”, inilah yang sering disebut Founder's Trap.
Bukan karena timnya kurang kompeten, tapi karena sistemnya belum siap menampung banyak kepala. Akibatnya, tim ragu melangkah tanpa arahan, dan founder terjebak di urusan teknis harian, dengan alih-alih memikirkan masa depan bisnisnya.
Terjebak Antara Rasa Ingin Percaya dan Rasa Takut Bersalah
Banyak pemimpin bisnis terjebak dalam masa awal pembangunan. Dulu, semua keputusan diambil berdasarkan insting dan kedekatan emosional karena timnya masih sedikit. Namun, ketergantungan pada "apa kata founder" itu akan menjadi bom waktu. Ketika kendali tetap berpusat pada satu orang, tim tidak benar-benar belajar cara mengambil keputusan; mereka hanya belajar cara menebak apa yang ada di pikiran atasannya.
Ada keinginan untuk melepas kendali agar bisnis bisa lari cepat, tapi ada ketakutan bahwa kualitas akan berantakan jika tidak diawasi langsung. Akhirnya, sang founder justru menjadi penghambat terbesar bagi kemajuan perusahaannya sendiri. Tim jadi pasif karena merasa setiap langkah kecil harus menunggu "lampu hijau" dari sang founder.
Cara Netflix Memakai Peta, Bukan Cuma Hanya Perintah
Untuk keluar dari jebakan ini, kita bisa melihat cara Netflix mengelola ribuan orang tanpa membuat mereka lambat. Mereka punya aturan unik yaitu Context, Not Control. Sederhananya, tugas founder bukan memberikan izin, tapi memberikan informasi.
Alih-alih membuat aturan yang kaku atau prosedur persetujuan berlapis, Netflix memilih untuk membagikan informasi penting secara luas. Mereka menjelaskan ke mana arah perusahaan, apa targetnya, dan apa risikonya. Dengan informasi yang jelas ini, tim di lapangan bisa memutuskan sendiri langkah apa yang paling masuk akal tanpa harus lapor ke founder setiap saat. Hasilnya? Netflix bisa bergerak jauh lebih gesit dibanding perusahaan media lainnya.
Keputusan Tanpa Perlu Approval Dari Founder
Netflix punya istilah Informed Captains, artinya satu orang yang memegang proyek punya hak penuh untuk mengambil keputusan, bahkan jika founder-nya tidak setuju. Selama orang tersebut sudah memegang data dan informasi yang benar, dia boleh jalan terus.
Kuncinya bukan pada teknologi yang rumit, tapi pada keterbukaan akses informasi. Jika semua orang melihat angka dan masalah yang sama secara jujur, mereka tidak perlu lagi bolak-balik bertanya "Gimana menurut Bapak/Ibu?". Jawabannya sudah ada di depan mata mereka melalui data tersebut. Inilah yang membuat operasional tetap rapi meski tim terus bertambah.
Membangun Bisnis yang Bisa Berjalan Sendiri
Hambatan terbesar saat ingin membesarkan bisnis biasanya bukan karena saingan di luar, tapi karena kekacauan di dalam. Untuk tumbuh, seorang founder harus berani berhenti menjadi "pemadam kebakaran" yang mengurusi teknis harian dan mulai menjadi arsitek yang merancang aturan main.
Bisnis yang matang bukan dilihat dari seberapa sibuk kantornya, tapi dari seberapa lancar urusan di dalamnya saat sang founder sedang tidak ada. Merapikan alur kerja agar tim bisa mandiri adalah keahlian paling penting bagi siapa pun yang ingin usahanya makin besar tanpa kehilangan kendali.
Jadi Pelajaran yang Bisa Diambil dari Netflix itu
Netflix menunjukkan bahwa bisnis tidak melambat karena tim membesar, tapi karena cara memimpin yang tidak ikut berevolusi. Mereka tidak membangun kecepatan lewat kontrol ketat, melainkan lewat konteks yang jelas, akses informasi yang terbuka, dan kepercayaan pada orang yang menjalankan pekerjaan.
Alih-alih menjadi pusat semua keputusan, Netflix memindahkan peran founder menjadi pemberi arah. Tim dibekali tujuan, data, dan risiko yang transparan, lalu diberi ruang untuk bertindak. Dengan prinsip Context, Not Control dan Informed Captains, keputusan bisa dibuat cepat tanpa harus menunggu izin berlapis.
Pelajaran pentingnya sederhana tapi krusial ini yang membuat bisnis sehat bukan yang semua geraknya lewat founder, melainkan yang tetap rapi dan gesit meski founder tidak ikut campur setiap hari. Pendekatan seperti ini bukan satu-satunya cara, tapi menjadi contoh nyata bagaimana sistem dan kultur bisa menentukan kecepatan tumbuh sebuah organisasi.
Masih banyak insight lain tentang kepemimpinan, sistem kerja, dan operasional bisnis yang dibahas lebih dalam melalui artikel-artikel di Founderplus. Jika ingin memperluas perspektif soal membangun bisnis yang bisa “berjalan sendiri”, kamu bisa lanjut membaca di founderplus.id.