Belajar dari Wall’s: Cara Bertahan Dengan Melakukan Kolaborasi

Published on: Wednesday, Feb 04, 2026 • Updated: Thursday, Feb 05, 2026

Belajar dari Wall’s: Cara Bertahan Dengan Melakukan Kolaborasi

Sebagus apapun sebuah produk, satu hal yang tidak bisa dihindari adalah waktu. Produk lahir, dikenal pasar, tumbuh, lalu sampai di titik di mana semua orang sudah familiar. Di fase ini, produknya belum tentu jelek, tetapi sering kali terasa biasa.

 

Masalahnya, banyak bisnis memperlakukan produk seolah bisa relevan selamanya. Ketika penjualan mulai datar, respons pasar melambat, atau biaya promosi makin mahal, barulah panik mencari solusi.

 

Padahal, kondisi seperti ini sebenarnya wajar. Karena setiap produk memang punya siklus hidupnya sendiri. Di sinilah konsep Product Life Cycle jadi penting, bukan sebagai teori, tetapi sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan yang lebih sadar.

 

Apa Itu Product Life Cycle?

 

Secara sederhana, Product Life Cycle menggambarkan perjalanan sebuah produk. Mulai dari tahap dikembangkan, diperkenalkan ke pasar, mengalami pertumbuhan, mencapai masa matang, hingga akhirnya menurun. Setiap tahap punya karakter yang berbeda. Dan karena itu, strategi yang dipakai juga tidak bisa disamaratakan.

 

Dengan memahami Product Life Cycle, bisnis biasanya lebih mudah menentukan arah, seperti:

  • - Berapa besar budget marketing yang masuk akal
  • - Kapan harga perlu disesuaikan
  • - Di mana letak diferensiasi produk
  • - Bahkan bagaimana kemasan dan positioning seharusnya dibentuk

 

Intinya, Product Life Cycle membantu kita berhenti menebak-nebak dan mulai mengambil keputusan berbasis fase produk.

 

Ada 4 Tahapan Product Life Cycle yang Perlu Founder Perlu Tau:

 

1. Tahapan Pengembangan atau Development

 

Di tahap ini, produk masih berada di balik layar. Fokusnya ada pada riset, pengembangan, dan pengujian ide. Belum ada penjualan, tetapi biaya sudah berjalan.
 

Risiko terbesar di fase ini biasanya bukan teknis, melainkan asumsi. Produk dikembangkan berdasarkan apa yang kita pikir dibutuhkan pasar, bukan apa yang benar-benar diminta.

2. Tahapan Pengenalan atau Introduction

 

Produk mulai masuk ke pasar dan bertemu dengan konsumen. Penjualan masih terbatas, biaya promosi relatif besar, dan edukasi pasar jadi pekerjaan utama. Di fase ini, tujuan bisnis sebenarnya belum profit. Fokusnya adalah membangun awareness dan membuat pasar mengenal produk terlebih dahulu.


3. Tahapan Pertumbuhan atau Growth

 

Penjualan meningkat, permintaan bertambah, dan produk mulai menemukan tempatnya di benak konsumen. Namun, di saat yang sama, kompetitor juga mulai bermunculan. Tantangannya adalah menjaga kualitas, konsistensi, dan positioning sambil terus bertumbuh.

 

4. Tahapan Kematangan atau Majurity, Fase yang Paling Challenging

 

Tahap inilah yang sering bikin bisnis keliru membaca situasi, Produknya masih laku, brand masih dikenal, sampai distribusi masih luas. Namun, pertumbuhan dari produknya melambat. 

 

Pasar mulai jenuh, pilihan konsumen makin banyak, dan perang harga perlahan terasa. Di tahap maturity, masalah utamanya bukan produk yang buruk, tetapi produk yang sudah terlalu familiar. Tidak lagi terasa baru, tidak lagi memicu rasa penasaran.

 

Di tahap maturity, strategi yang lebih sehat justru adalah memberi konteks baru pada produk, bukan sekadar menjualnya lebih keras. Salah satu pendekatan yang semakin relevan, terutama di pasar Indonesia, adalah kolaborasi strategis.

 

Kayak yang lagi viral baru-baru ini, antara Wall’s kolaborasi sama Kartika Sari. Wall’s adalah contoh brand yang jelas berada di fase maturity. Brand ini sudah lama hadir, dikenal lintas generasi, dan menjadi bagian dari keseharian keluarga Indonesia.

 

Pertanyaannya sederhana, tetapi krusial. 

“Bagaimana cara tetap relevan tanpa kehilangan identitas utama?” 

 

Alih-alih mengubah produknya secara ekstrem, Wall’s memilih berkolaborasi dengan brand lokal yang punya nilai emosional kuat, yaitu Kartika Sari. Kartika Sari bukan sekadar bakery, tapi adalah simbol oleh-oleh khas Bandung, tradisi keluarga, dan rasa nostalgia yang sudah terbangun puluhan tahun.

 

Ketika Wall’s menghadirkan varian Avocado Brownie dan Cornetto Choco Brownie, yang dijual bukan hanya rasa baru, tetapi pengalaman yang terasa familiar sekaligus segar.

 

Kenapa Kolaborasi Ini Relevan Dalam Product Life Cycle?

 

Diihat dari kacamata Product Life Cycle, Langkah ini sangat masuk akal;

 

  1. 1. Kolaborasi ini menyegarkan produk tanpa mengubah inti brand.

  2. Wall’s tetap dengan karakter es krimnya, Kartika Sari tetap dengan brownies legendarisnya.

 

  1. 2. Kolaborasi ini sangat kontekstual dengan pasar Indonesia.

  2. Rasa, emosi, dan ceritanya dekat dengan keseharian konsumen lokal.

 

  1. 3. Wall's berhasil menjangkau dua segmen sekaligus.

  2. Kemasan tub untuk momen keluarga, dan cone untuk Gen Z serta milenial yang menginginkan sesuatu yang praktis.

 

  1. 4. Status edisi terbatas menciptakan urgensi.

  2. Strategi yang sering dipakai di tahap maturity untuk menjaga excitement tanpa merusak value jangka panjang.

 

Pelajaran untuk Founder dan Pemilik Bisnis.

 

Memahami Product Life Cycle membantu kita melihat bisnis dengan sudut pandang yang lebih utuh. Namun, yang tidak kalah penting adalah tahu apa yang perlu dilakukan di setiap tahap, dari awal sampai bisnis siap melangkah ke fase berikutnya.
 

Jika ingin belajar membangun bisnis secara menyeluruh, dimulai dari menemukan ide, memulai dan mengelola bisnis, hingga menyiapkan arah selanjutnya, kamu bisa daftar di Founderplus Academy A–Z: How to Start & Build a Business bisa menjadi langkah awal yang tepat.
 

Daftar sekarang 

👉 Linknya ada disini

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang
Details