
Banyak tim marketing terlihat sangat aktif setiap harinya, dimulai dari kalender dipenuhi meeting brainstorming, revisi konten yang tidak selesai dalam satu kali diskusi, produksi materi kampanye, hingga laporan performa yang harus disusun setelah campaign berjalan.
Namun setelah semua proses tersebut selesai, hasil kampanye sering terasa biasa saja. Prosesnya panjang, energinya besar, tetapi dampaknya tidak selalu sebanding dengan waktu yang dihabiskan.
Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi. Banyak tim kreatif memiliki potensi ide yang kuat, tetapi sebagian besar waktunya justru habis untuk pekerjaan teknis yang repetitif. Mulai dari riset tren pasar, menulis draft konten, membuat berbagai variasi copy iklan, hingga membaca data performa kampanye.
Ketika sebagian besar waktu habis untuk pekerjaan operasional, ruang untuk berpikir kreatif justru semakin sempit. Akibatnya, proses kreatif yang seharusnya menjadi kekuatan utama tim marketing malah terjebak dalam pekerjaan teknis sehari-hari.
Di sisi lain, beberapa perusahaan mulai mencoba pendekatan yang berbeda. Salah satu contoh menarik datang dari brand global seperti Dunkin’ Donuts. Dalam beberapa tahun terakhir, Dunkin’ Donuts mulai mendorong penggunaan AI atau Artificial Intelligence dalam aktivitas marketing, mulai dari membaca data pelanggan hingga membantu tim memahami pola perilaku konsumen.
Namun yang menarik, penggunaan AI tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tim kreatif. AI justru digunakan untuk mempercepat pekerjaan teknis yang memakan waktu, sehingga tim marketing tetap memiliki ruang untuk fokus pada ide kampanye dan storytelling brand.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat otomatisasi, tetapi bisa menjadi pendukung proses kreatif jika digunakan dengan cara yang tepat.
Nah, dari sinilah muncul pertanyaan penting bagi banyak perusahaan, bagaimana sebenarnya AI bisa membantu tim marketing bekerja lebih cepat tanpa membatasi kreativitas mereka?
AI Mulai Mengubah Cara Kerja Marketing

Penggunaan AI dalam marketing meningkat sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak tim mulai memanfaatkan AI untuk membantu riset pasar, membuat ide konten, menyusun draft kampanye, hingga menganalisis perilaku pelanggan.
Laporan dari McKinsey menunjukkan bahwa penggunaan generative AI dapat meningkatkan produktivitas fungsi marketing hingga sekitar 5% hingga 15%, karena banyak pekerjaan operasional dapat dipercepat melalui otomatisasi.
Pendekatan ini juga mulai terlihat pada beberapa brand global, termasuk Dunkin’ Donuts. Brand ini memanfaatkan teknologi AI dan data analytics melalui platform digital mereka untuk membaca perilaku pelanggan dari aplikasi dan program loyalitas.
Dengan bantuan sistem analitik berbasis AI, tim marketing Dunkin’ Donuts dapat memahami pola pembelian pelanggan, dari waktu transaksi, preferensi menu, hingga respons terhadap promosi tertentu. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menjalankan kampanye yang lebih personal melalui aplikasi dan kanal digital.
Hasilnya, strategi personalisasi ini membantu meningkatkan engagement pelanggan sekaligus memperkuat performa kampanye digital mereka.
Potensinya yang cukup jelas dengan tugas sepert, riset awal, membaca data pelanggan, hingga menentukan strategi kampanye dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan proses manual.
Nah, dari sini muncul harapan baru. Jika pekerjaan teknis dapat dipercepat oleh AI, tim marketing seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada hal yang benar-benar penting, seperti ide besar, strategi komunikasi, dan storytelling brand.
Namun setelah semakin banyak perusahaan mulai menggunakan AI dalam marketing, muncul tantangan berikutnya yang tidak kalah penting.
Bagaimana Dunkin' Donuts Memanfaatkan AI dalam Marketing

Salah satu contoh, datang dari brand makanan cepat saji Dunkin' Donuts. Perusahaan ini mulai memanfaatkan AI untuk menganalisis data pelanggan dan memahami perilaku konsumen di berbagai wilayah.
Data tersebut membantu tim marketing untuk melihat, pola yang sebelumnya sulit dibaca secara manual. Mulai dari waktu pelanggan melakukan pembelian, preferensi produk di setiap lokasi, hingga jenis pesan promosi yang paling relevan untuk setiap segmen pelanggan.
Informasi tersebut, yang kemudian digunakan untuk menyusun kampanye marketing yang lebih personal dan tepat sasaran. Namun AI tidak membuat konsep kampanye sendirian, tim marketing tetap memimpin proses kreatif, dimulai dari menentukan cerita brand, merancang pesan komunikasi, hingga mengembangkan ide kampanye.
Pendekatan ini menghasilkan kampanye yang lebih relevan, sekaligus menjaga karakter brand tetap kuat. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa, AI bukan alat untuk menggantikan kreativitas tim marketing, melainkan alat untuk memperkuat keputusan yang diambil oleh tim kreatif.
Apa yang Perlu Dipahami Founder Tentang AI Marketing

Menggunakan AI dalam marketing, sebenarnya bukan hanya soal memilih tools yang sedang populer. Hal yang jauh lebih penting itu ialah, memahami bagaimana teknologi tersebut dapat masuk ke dalam sistem kerja tim secara terstruktur.
Banyak perusahaan mulai mencoba berbagai tools AI, tetapi tanpa strategi yang jelas. Akibatnya, AI hanya digunakan untuk membantu pekerjaan kecil seperti membuat draft konten atau mencari ide cepat. Potensi besarnya justru belum dimanfaatkan secara maksimal.
Padahal jika digunakan dengan pendekatan yang tepat, AI dapat membantu tim marketing dalam banyak hal. Mulai dari membaca pola perilaku pelanggan, mempercepat riset pasar, membantu proses ideasi konten, hingga menguji berbagai variasi kampanye dengan lebih cepat dan terukur.
Selain itu, integrasi AI ke dalam workflow marketing juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Tanpa sistem yang jelas, AI hanya akan menjadi alat tambahan. Namun dengan struktur yang tepat, AI dapat menjadi bagian dari proses kerja yang membuat tim marketing bergerak jauh lebih efisien.
Di titik inilah peran founder menjadi sangat penting, bukan hanya dalam memutuskan penggunaan teknologi, tetapi juga dalam memastikan tim memiliki pemahaman yang cukup untuk mengadaptasi teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Namun dalam praktiknya, banyak perusahaan menghadapi tantangan yang sama: bagaimana menjembatani adaptasi teknologi baru dengan kemampuan tim yang sudah ada.
Ketika Tim Marketing Bekerja Lebih Cerdas

Semakin banyak perusahaan mulai menyadari bahwa penggunaan AI dalam marketing bukan lagi sekadar eksperimen. AI sudah menjadi bagian dari cara kerja modern yang membantu tim bergerak lebih cepat, membaca data lebih akurat, dan mengembangkan kampanye dengan lebih efisien.
Namun tantangan sebenarnya bukan hanya menggunakan AI, melainkan memahami bagaimana mengintegrasikannya ke dalam workflow marketing tanpa menghilangkan kreativitas tim.
Pendekatan inilah yang menjadi fokus dalam Founderplus Corporate Training. Program ini membantu perusahaan memahami bagaimana AI dapat digunakan secara strategis dalam marketing, mulai dari menyusun workflow yang lebih efisien hingga memilih tools yang relevan dengan kebutuhan bisnis.
Melalui kurikulum yang mencakup Sales & B2B, Team Development, Performance Ads, E-Commerce Optimization, AI for Business, hingga OKR dan KPI, pelatihan ini dirancang untuk membantu tim bekerja lebih produktif tanpa kehilangan kreativitas yang menjadi kekuatan utama sebuah brand.