Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Toko Serba 35K: Inovasi Pricing Sederhana yang Hasilkan Rp60 Juta/Bulan

Published on: Saturday, Sep 12, 2026 By Tim Founderplus

Sebuah tweet dari akun @christianvctrs pada Maret 2026 mendapat hampir 3.000 likes. Isinya sederhana: dia menghitung matematika bisnis toko serba 35K setelah ngobrol langsung dengan pemiliknya.

Hasilnya mengejutkan banyak orang.

Semua barang dibeli dari supplier seharga Rp25.000. Dijual rata-rata Rp35.000. Untung bersih Rp10.000 per produk. Sehari laku minimal 200 produk. Itu berarti Rp2 juta per hari bersih. Atau sekitar Rp60 juta per bulan.

Dari sebuah toko kecil yang menjual "barang-barang murah".

Angka ini mungkin terdengar terlalu bagus. Tapi kalau Anda memahami model bisnis di baliknya, logikanya sebenarnya sangat sederhana dan bisa ditiru. Artikel ini membedah bagaimana single price point strategy bekerja, kenapa secara psikologis sangat efektif, dan bagaimana Anda bisa menerapkan prinsipnya.

Matematika yang Sederhana tapi Powerful

Mari kita jabarkan angkanya.

Komponen Nilai
Harga beli dari supplier Rp25.000 per item
Harga jual Rp35.000 per item
Margin per item Rp10.000 (28,5%)
Penjualan per hari 200 item (minimal)
Profit kotor per hari Rp2.000.000
Profit kotor per bulan (26 hari) Rp52.000.000

Tentu saja, dari profit kotor ini masih ada biaya operasional: sewa tempat, gaji karyawan (kalau ada), listrik, dan biaya lain-lain. Tapi bahkan setelah dipotong biaya operasional, margin yang tersisa tetap sangat menarik untuk bisnis retail skala kecil.

Yang menarik adalah kesederhanaannya. Tidak perlu sistem POS yang rumit. Tidak perlu menghafal ratusan harga berbeda. Tidak perlu kasir yang ahli menghitung. Semua barang satu harga. Rp35.000.

Baca juga: Strategi Pricing Produk Startup: Menentukan Harga yang Tepat

Kenapa Single Price Point Bekerja: Pelajaran dari Daiso

Konsep toko dengan satu harga bukan hal baru. Daiso, retailer asal Jepang, sudah menerapkannya sejak 1977 dengan harga tetap 100 yen per item. Saat ini Daiso punya lebih dari 5.900 toko di seluruh dunia dengan revenue miliaran dolar.

Di Indonesia, konsep serupa sudah ada sejak lama dalam bentuk yang lebih lokal: toko serba 10 ribu, serba 20 ribu, dan sekarang serba 35 ribu. Tapi apa yang membuat model ini begitu efektif secara psikologis?

1. Menghilangkan Decision Fatigue

Setiap kali konsumen harus membandingkan harga, otak mereka melakukan kalkulasi. "Apakah ini worth it? Ada yang lebih murah di toko sebelah?" Proses ini melelahkan secara kognitif.

Di toko serba 35K, keputusan pembelian menjadi sangat sederhana: "Apakah saya mau barang ini?" Itu saja. Tidak perlu membandingkan harga antar-produk. Tidak perlu menghitung apakah paket A lebih murah dari paket B. Semua satu harga.

Dalam ilmu behavioral economics, ini disebut reducing cognitive load. Semakin sedikit keputusan yang harus dibuat konsumen, semakin besar kemungkinan mereka membeli.

2. Perceived Value yang Tinggi

Ketika konsumen masuk ke toko serba 35K dan melihat peralatan dapur, aksesoris, mainan anak, dan peralatan sekolah, semuanya Rp35.000, persepsi mereka berubah.

Beberapa item mungkin "hanya" bernilai Rp35.000 atau bahkan kurang. Tapi item lain terlihat "lebih mahal" dari Rp35.000. Peralatan dapur yang di toko lain dijual Rp50.000, di sini Rp35.000? Terasa seperti deal yang sangat bagus.

Efek ini disebut value anchoring. Konsumen secara tidak sadar membandingkan harga Rp35.000 dengan harga yang mereka bayangkan untuk produk tersebut di tempat lain. Ketika harga toko lebih rendah dari anchor di kepala mereka, dorongan untuk membeli meningkat.

3. Impulse Purchase yang Tidak Terasa Mahal

Rp35.000 adalah angka yang secara psikologis terasa "ringan". Masih di bawah Rp50.000. Masih bisa bayar pakai satu lembar uang. Tidak perlu pikir panjang.

Karena setiap item terasa murah, konsumen cenderung mengambil lebih dari satu. "Ah, Rp35.000 doang." Lalu mengambil satu lagi. Dan satu lagi. Tanpa sadar, total belanja sudah Rp150.000 atau lebih.

Ini adalah prinsip yang sama yang membuat Daiso berhasil. Setiap item terasa "murah dan menyenangkan", sehingga konsumen membeli lebih banyak dari yang mereka rencanakan.

Baca juga: Business Model Value Creation untuk UKM

Anatomi Supply Chain Toko Serba 35K

Bagaimana bisa semua barang dijual Rp35.000 dan tetap untung? Jawabannya ada di supply chain.

Sumber Barang

Toko serba 35K biasanya mendapatkan barang dari:

Pusat grosir. Tanah Abang (Jakarta), Asemka, atau pusat grosir regional. Di sini, barang-barang fashion, aksesoris, dan peralatan rumah tangga bisa didapat dengan harga jauh di bawah Rp25.000 per item dalam jumlah besar.

Importir langsung. Untuk produk-produk seperti aksesoris, peralatan dapur, dan mainan, banyak yang diimpor langsung dari China atau negara produsen lainnya. Harga per unit bisa sangat rendah kalau order dalam jumlah besar.

Distributor baju serba 35 ribu. Ada supplier khusus yang memang menyediakan pakaian dan aksesoris dengan harga Rp20.000-25.000 per item, ready stock dan bisa langsung dijual kembali.

Kategori Produk dengan Margin Terbaik

Tidak semua produk cocok untuk model serba 35K. Produk idealnya memenuhi kriteria:

  • Harga beli maksimal Rp25.000 (supaya margin Rp10.000 tetap terjaga)
  • Perceived value tinggi (terlihat "lebih mahal" dari Rp35.000 di mata konsumen)
  • Tidak cepat rusak atau kadaluarsa
  • Ukuran tidak terlalu besar (efisien untuk display dan penyimpanan)

Kategori yang biasanya margin-nya paling bagus: aksesoris fashion (jepit rambut, ikat pinggang, kaos kaki), peralatan dapur sederhana (spatula, wadah bumbu, gunting), peralatan sekolah (kotak pensil, penggaris set), dan dekorasi rumah kecil.

Rotasi Stok: Kunci Profitabilitas

Rahasia sebenarnya bukan di margin per item, tapi di kecepatan rotasi stok.

Toko yang menjual 200 item per hari berarti mengeluarkan dan mengisi kembali 200 slot produk setiap hari. Dalam sebulan, itu 5.200 item yang berputar. Setiap item yang berputar menghasilkan Rp10.000. Jadi yang penting bukan margin per item yang besar, tapi berapa cepat item itu terjual dan digantikan item baru.

Ini berbeda dari bisnis retail tradisional yang mengandalkan margin besar per item tapi volume penjualan lebih rendah. Toko serba 35K memilih pendekatan sebaliknya: margin kecil, volume tinggi, rotasi cepat.

Variasi Model: Serba 10K, 25K, 35K, atau 50K?

Kalau single price point memang powerful, pertanyaannya: di harga berapa sweet spot-nya?

Serba 10K-15K

Target: Konsumen sangat price-sensitive, anak sekolah, ibu rumah tangga kelas bawah. Kelebihan: Volume penjualan bisa sangat tinggi karena harga sangat rendah. Tantangan: Margin per item sangat tipis (Rp3.000-5.000). Perlu volume yang jauh lebih besar untuk menghasilkan profit yang signifikan. Kualitas produk terbatas.

Serba 25K-35K

Target: Kelas menengah bawah sampai menengah. Segmen terbesar di Indonesia. Kelebihan: Sweet spot antara margin yang cukup dan harga yang masih terasa murah. Variasi produk lebih luas karena budget supplier lebih fleksibel. Tantangan: Perlu lokasi dengan foot traffic yang baik.

Serba 50K-75K

Target: Kelas menengah. Produk dengan kualitas lebih baik. Kelebihan: Margin per item lebih besar. Bisa menjual produk yang kualitasnya lebih premium. Tantangan: Harga mulai terasa "perlu mikir" bagi sebagian konsumen. Volume penjualan biasanya lebih rendah.

Berdasarkan data dari berbagai sumber termasuk Kledo dan Kompasiana, model serba 35K saat ini menjadi salah satu yang paling populer karena berada di titik keseimbangan antara margin dan volume.

Baca juga: Studi Kasus Smart Pricing dan Strong Planning Startup

Framework: Menerapkan Prinsip Single Price Point di Bisnis Apa Pun

Anda tidak harus membuka toko serba 35K untuk menerapkan prinsip-prinsip ini. Berikut cara mengadaptasinya.

Prinsip 1: Sederhanakan Pilihan Harga

Kalau bisnis Anda punya terlalu banyak variasi harga, pertimbangkan untuk menyederhanakannya. Riset dari Columbia University menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru menurunkan konversi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai "paradox of choice".

Contoh penerapan:

  • Restoran: Alih-alih 30 menu dengan harga berbeda-beda, buat 3 paket dengan harga tetap (misalnya Paket A Rp25K, Paket B Rp45K, Paket C Rp65K)
  • Jasa: Alih-alih menghitung per jam atau per fitur, buat 2-3 tier paket dengan harga bulat
  • Produk: Kelompokkan produk dalam range harga tertentu alih-alih membiarkan setiap item punya harga unik

Prinsip 2: Harga Bulat dan Ganjil

Perhatikan bahwa Rp35.000 lebih efektif dari Rp34.500 atau Rp36.000.

Rp35.000 mudah diingat, mudah dihitung, dan terasa "fair". Dalam pricing psychology, ini disebut round number pricing. Untuk produk everyday consumer goods, harga bulat sering kali lebih efektif dari charm pricing (harga yang diakhiri 9, seperti Rp34.999).

Prinsip 3: Volume Beats Margin

Banyak UKM terjebak dalam mengejar margin tinggi per transaksi. Mereka menaikkan harga, lalu bingung kenapa penjualan turun.

Model toko serba 35K menunjukkan pendekatan yang berlawanan: margin kecil tapi volume besar. Rp10.000 per item terdengar kecil. Tapi kalikan dengan 200 transaksi per hari, dan hasilnya jauh lebih besar dari menjual 20 item per hari dengan margin Rp50.000.

Untuk bisnis Anda, pertanyaannya: apakah ada cara menurunkan harga (dan margin per item) untuk meningkatkan volume penjualan secara signifikan?

Baca juga: Pricing Strategy Startup: Panduan Menentukan Harga yang Profitable

Prinsip 4: Lokasi dan Foot Traffic adalah Segalanya

Untuk bisnis offline dengan margin tipis dan volume tinggi, lokasi bukan sekadar penting. Lokasi adalah segalanya.

Toko serba 35K yang sukses biasanya berada di:

  • Area pasar tradisional atau dekat pusat keramaian
  • Dekat sekolah atau kampus
  • Di jalan utama dengan foot traffic tinggi
  • Di dalam atau dekat pusat perbelanjaan menengah

Tanpa foot traffic yang memadai, target 200 penjualan per hari akan sangat sulit tercapai, dan model bisnisnya tidak akan menguntungkan.

Risiko dan Tantangan yang Perlu Anda Tahu

Model bisnis ini bukan tanpa risiko.

Dead stock. Tidak semua produk akan laku. Barang yang tidak terjual menjadi modal yang mengendap. Solusinya: pantau penjualan per kategori dan rotasi produk yang lambat gerak.

Kualitas tidak konsisten. Dengan harga beli Rp25.000, kualitas produk dari supplier bisa bervariasi. Pembeli yang kecewa tidak akan kembali. Solusinya: cek kualitas setiap batch yang datang, jangan asal terima.

Persaingan harga online. Marketplace online sering menjual produk serupa dengan harga yang lebih murah. Solusinya: tawarkan pengalaman belanja yang tidak bisa direplikasi online, yaitu melihat langsung, memegang, dan membawa pulang hari itu juga.

Ketergantungan pada supplier. Kalau supplier menaikkan harga di atas Rp25.000, margin Anda langsung terpangkas. Solusinya: punya 2-3 supplier alternatif untuk setiap kategori produk.

Yang Bisa Anda Mulai Sekarang

  1. Audit pricing bisnis Anda saat ini. Apakah terlalu banyak variasi harga yang membingungkan pelanggan? Bisakah disederhanakan?

  2. Hitung unit economics. Berapa margin per transaksi? Berapa volume penjualan? Apakah ada peluang menurunkan harga tapi menaikkan volume?

  3. Observasi perilaku pelanggan. Di mana mereka "berhenti mikir" dan tidak jadi beli? Apakah karena harga terlalu rumit atau terlalu tinggi?

Kalau Anda ingin mendalami pricing strategy dan business model yang tepat untuk bisnis Anda, program mentoring di bos.founderplus.id menyediakan 15 sesi selama 2 bulan yang membahas strategi praktis termasuk pricing, operations, dan growth. Investasi Rp1.999.000 yang bisa mengubah cara Anda mengelola bisnis.

Atau mulai dari materi pricing strategy di academy.founderplus.id, 52 courses mulai dari Rp18.000 yang bisa Anda pelajari sesuai kecepatan Anda sendiri.

FAQ

Berapa modal awal untuk membuka toko serba 35K?

Modal awal bervariasi tergantung lokasi dan skala, tapi perkiraan kasar untuk toko kecil adalah Rp30-75 juta. Ini mencakup sewa tempat (bervariasi), stok awal sekitar Rp15-30 juta (600-1.200 item x Rp25.000), rak dan display Rp5-10 juta, dan biaya operasional 2-3 bulan pertama.

Bagaimana cara mendapatkan supplier dengan harga Rp25.000 per item?

Cari di pusat grosir seperti Tanah Abang, Asemka, atau marketplace B2B. Beli langsung dari distributor atau importir, bukan dari tengkulak. Fokus pada kategori produk yang margin-nya memadai seperti aksesoris, peralatan rumah tangga, dan fashion basic. Negosiasi harga berdasarkan volume order.

Apakah model serba 35K bisa bertahan di era marketplace online?

Ya, karena toko serba 35K menawarkan pengalaman belanja yang tidak bisa direplikasi online, yaitu melihat dan memegang barang langsung, tanpa ongkir, dan kepuasan belanja impulsif. Kuncinya adalah lokasi yang strategis dengan foot traffic tinggi dan rotasi produk yang konsisten.

Kenapa harga Rp35.000 lebih efektif dari Rp30.000 atau Rp40.000?

Rp35.000 berada di sweet spot psikologis. Angka ini masih terasa "tiga puluh ribuan" (di bawah threshold Rp40.000), memberikan margin yang cukup untuk profitabilitas (dari harga beli Rp25.000), dan cukup tinggi untuk mengakomodasi variasi produk dengan kualitas yang layak.

Produk apa saja yang cocok dijual di toko serba 35K?

Produk yang margin-nya memadai dengan harga beli di kisaran Rp20.000-Rp25.000, seperti aksesoris fashion, peralatan dapur sederhana, peralatan sekolah, mainan anak, produk kebersihan, dan fashion basic seperti kaos kaki atau ikat pinggang. Hindari produk yang cepat rusak atau butuh penyimpanan khusus.


Sumber:

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang