Pada 2021, investor menggelontorkan Rp159 triliun ke startup Indonesia. Di Q1 2025, hanya Rp749 miliar yang masuk. Itu penurunan 85,86 persen dalam empat tahun.
Yang lebih menarik: sebagian besar keruntuhan ini bukan karena produknya buruk. eFishery benar-benar membantu petani ikan. Investree benar-benar memfasilitasi pinjaman. TaniHub benar-benar menghubungkan petani dengan pasar.
Mereka gagal karena masalah yang jauh lebih mendasar—dan masalah yang sama persis bisa terjadi di bisnis Anda.
Tiga Kasus yang Wajib Dipahami Setiap Pemilik Bisnis
eFishery: Ketika Unicorn Menjalankan Dua Buku
eFishery didirikan Gibran Huzaifah di Bandung pada 2013. Idenya sederhana tapi brilian: mesin pakan ikan otomatis yang terhubung ke aplikasi. Pada 2023, valuasi mereka mencapai US$1,4 miliar (sekitar Rp22 triliun), didukung SoftBank dan Temasek.
Lalu semuanya runtuh.
Audit yang dilakukan FTI Consulting setelah Gibran dicopot pada Desember 2024 mengungkap kenyataan yang mengejutkan. Untuk periode Januari-September 2024: laporan yang dikirim ke investor mengklaim pendapatan Rp12,3 triliun, padahal angka nyatanya hanya Rp2,6 triliun—selisih 4,8 kali lipat. Laporan eksternal mengklaim profit Rp261 miliar, sementara secara internal perusahaan merugi Rp578 miliar. Jumlah fasilitas pakan diklaim 400.000 lebih, kenyataannya hanya 24.000.
Yang paling mencengangkan: manipulasi ini dimulai sejak 2018, bukan mendekati kehancuran. Dalam wawancara Bloomberg pada Maret 2025, Gibran mengakui memulai pemalsuan untuk "menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan"—bukan dari niat mencuri sejak awal.
Baca juga: Cara Baca Laporan Keuangan untuk Owner Non-Akuntan
Investree: CEO yang Kabur ke Qatar
Investree adalah platform P2P lending yang mengumpulkan total pendanaan US$254 juta. CEO Adrian Gunadi diduga menghimpun dana publik secara ilegal senilai minimal Rp2,7 triliun menggunakan dua special purpose vehicle di luar izin operasional Investree, dari Januari 2022 hingga Maret 2024.
Ketika tingkat kredit macet melonjak di awal 2024 dan masalah mulai terungkap, Adrian mundur dari posisi CEO pada Januari 2024. OJK memberi sanksi administratif, lalu mencabut izin Investree sepenuhnya pada Oktober 2024. Adrian masuk daftar pencarian Interpol setelah diketahui kabur ke Qatar, dan baru ditangkap saat dideportasi kembali ke Indonesia pada September 2025.
Pandu Sjahrir, Ketua Umum Aftech, menyebut dampak kasus ini melampaui kerugian finansial: "Dampak itu sebenarnya bukan soal uangnya, tapi soal market trust. At the end, our business itu soal trust."
TaniHub: Menutup Lubang dengan Lubang Baru
TaniHub didirikan 2016 untuk menghubungkan petani dengan restoran dan ritel. Valuasi mereka mencapai US$200 juta setelah pendanaan Seri B sebesar US$65,5 juta dipimpin MDI Ventures (Telkom) pada 2021.
Setelah Seri B, mereka pivot agresif ke B2B dan ekspansi cepat melalui lending arm TaniFund. Ketika default pinjaman mulai menumpuk, TaniFund dilaporkan menggunakan dana venture capital untuk menutup default tersebut—pola yang persis menyerupai skema Ponzi. Ketika dana baru tidak bisa lagi menutupi lubang yang ada, seluruh struktur runtuh.
OJK mencabut izin TaniFund per 3 Mei 2024. TaniHub masuk proses likuidasi paksa. Lebih jauh, eksekutif senior MDI Ventures dan BRI Ventures ikut ditahan dalam kasus korupsi terkait investasi ke TaniHub.
Sumber: Unsplash
Pola yang Sama di Semua Kasus
Prof. Gatot Soepriyanto dari BINUS menegaskan bahwa kegagalan lima startup fintech besar Indonesia ini berakar pada masalah kepemimpinan dan tata kelola, bukan masalah produk. Ini dikonfirmasi oleh analisis lintas kasus: "Internal controls were weak. Independent commissioners existed on paper but lacked authority. Audits were perfunctory, and whistleblowers had little protection."
Tiga pola yang berulang:
1. Satu orang memegang kendali penuh atas keuangan. Di eFishery, Gibran dan sekelompok kecil eksekutif kepercayaannya bisa menjalankan dua buku selama bertahun-tahun karena tidak ada mekanisme pengawasan independen yang berfungsi nyata.
2. Laporan dibuat untuk penampilan, bukan untuk keputusan. Laporan keuangan yang dibuat "untuk investor" atau "untuk bank" tanpa mencerminkan kondisi nyata bisnis adalah benih kegagalan. Ketika keputusan operasional diambil berdasarkan angka yang tidak akurat, masalah terakumulasi diam-diam.
3. Pertumbuhan diprioritaskan di atas profitabilitas. Rama Mamuaya, Wakil Ketua Amvesindo, menyatakan: "Bukan lagi sekadar pada 'valuasi besar' maupun 'pertumbuhan cepat tanpa arah', melainkan pada kualitas pendapatan, tata kelola, dan fundamental model bisnis."
Baca juga: Panduan Cashflow Management untuk Founder Non-Finance
Apa yang Bisa Dipelajari Pemilik UKM
Kasus ini terasa jauh karena melibatkan unicorn dan investor miliar dolar. Tapi polanya identik dengan masalah yang sering terjadi di UKM skala lebih kecil.
Banyak UKM Indonesia juga menjalankan dua buku: satu untuk kebutuhan pajak, satu untuk kondisi nyata. Bedanya, bukan untuk menipu investor, tapi kebiasaan ini mengikis kemampuan pemilik bisnis untuk membuat keputusan berdasarkan data yang benar.
Empat pelajaran konkret yang bisa langsung diterapkan:
Pertama, pisahkan rekening bisnis dan pribadi sepenuhnya. Ini bukan sekadar praktik akuntansi—ini adalah perlindungan diri. Ketika uang bisnis dan pribadi tercampur, Anda tidak tahu berapa sebenarnya bisnis menghasilkan atau menghabiskan. Gibran memulai dari sini, dan seterusnya semakin dalam.
Kedua, jangan biarkan satu orang memegang semua akses keuangan. Approval transaksi di atas jumlah tertentu harus melibatkan dua orang. Ini bukan soal tidak percaya pada staf—ini soal membangun sistem yang melindungi semua pihak, termasuk karyawan yang jujur dari tuduhan di kemudian hari.
Ketiga, laporan keuangan harus mencerminkan kenyataan. Jika laporan keuangan Anda terlihat jauh lebih baik dari yang Anda rasakan saat mengelola bisnis sehari-hari, ada yang salah. Laporan yang jujur adalah alat navigasi—bukan dokumen untuk pamer ke pihak luar.
Keempat, pertumbuhan harus ada profitnya. Jika pendapatan naik tapi kas semakin tipis setiap bulan, berarti model bisnisnya belum sehat. TaniHub tumbuh cepat tapi margin tidak cukup untuk menutup cost of capital. Zenius punya 20 juta pengguna tapi tidak bisa menemukan model monetisasi yang berkelanjutan—dan tutup setelah 20 tahun beroperasi.
Kalau Anda ingin membangun fondasi bisnis yang lebih kuat dari dalam, program mentoring BOS by Founderplus dirancang untuk membantu pemilik bisnis membenahi sistem keuangan, operasional, dan tata kelola sebelum masalah besar datang. Cek selengkapnya di bos.founderplus.id.
Baca juga: Financial Checklist UKM: Cara Tahu Bisnis Kamu Sehat atau Tidak
Konteks yang Lebih Luas: Tech Winter dan UKM
Penurunan investasi startup Indonesia tidak sepenuhnya disebabkan skandal lokal. Laporan Indonesia Startup Report 2026 dari DiscoveryShift menyebut penurunan lebih mencerminkan pengetatan likuiditas global dan kenaikan suku bunga AS dibanding kelemahan struktural ekonomi digital Indonesia. Skandal lokal memperburuk tren yang sudah ada, bukan penyebab tunggalnya.
Namun dampaknya terasa nyata bagi UKM yang bergantung pada ekosistem digital. Ketika kepercayaan investor ke startup turun, mitra teknologi memotong layanan, platform fintech lending memperketat syarat, dan berbagai integrasi digital yang UKM andalkan menjadi tidak pasti.
Indonesia masih masuk 5 besar negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia—lebih dari 2.400 startup aktif per 2023. Seleksi alam memang sedang terjadi sekarang, dan yang berhasil bertahan adalah yang punya fundamental sehat: arus kas positif, model bisnis yang terbukti menghasilkan profit, dan tata kelola yang bisa dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan.
Sinyal Bahaya yang Wajib Diwaspadai
Berikut lima tanda yang sama berlaku untuk startup unicorn maupun warung mie ayam:
- Arus kas negatif lebih dari tiga bulan berturut-turut tanpa rencana perbaikan yang konkret.
- Satu orang memegang semua akses keuangan tanpa mekanisme pengawasan.
- Laporan keuangan hanya dibuat saat ada keperluan eksternal, bukan sebagai alat manajemen rutin.
- Pengeluaran terus naik sementara margin semakin tipis.
- Pertumbuhan pendapatan tidak disertai peningkatan keuntungan bersih.
Kalau Anda mencentang dua atau lebih dari daftar ini, saatnya membenahi sistem sebelum masalah kecil berubah menjadi krisis.
Cek burn rate dan runway bisnis Anda sekarang—lebih baik tahu lebih awal daripada terkejut di akhir.
Untuk panduan lebih lengkap membenahi keuangan bisnis dari dasar, program BOS by Founderplus menyediakan 15 sesi mentoring selama 2 bulan bersama mentor berpengalaman. Tidak ada ceramah teoritis—hanya implementasi langsung di bisnis Anda. Lihat detailnya di bos.founderplus.id.
FAQ
Apa penyebab utama kegagalan startup Indonesia seperti eFishery dan Investree?
Penyebab utamanya bukan masalah produk, tapi masalah tata kelola dan kejujuran laporan keuangan. eFishery menjalankan dua laporan berbeda: satu angka nyata untuk internal, satu angka dipercantik untuk investor. Investree menggunakan dana publik untuk kepentingan di luar izin operasional. Keduanya berakar pada lemahnya kontrol internal dan tidak adanya pengawasan independen.
Apa relevansi kegagalan startup ini bagi pemilik UKM biasa?
Sangat relevan. Pola kegagalannya sama: satu orang memegang kendali penuh atas keuangan, rekening bisnis dan pribadi dicampur, laporan keuangan dibuat untuk "terlihat baik" bukan untuk pengambilan keputusan nyata. Bedanya hanya skala. Pelajaran yang sama bisa mencegah kejatuhan bisnis Anda, apapun ukurannya.
Bagaimana cara mencegah masalah tata kelola keuangan di bisnis skala UKM?
Empat langkah dasar: (1) pisahkan rekening bisnis dan pribadi, (2) minta laporan keuangan dibuat oleh orang yang berbeda dari yang memegang kas, (3) lakukan rekonsiliasi bulanan, (4) audit sederhana tahunan oleh akuntan independen. Tidak perlu mahal, tapi harus konsisten.
Apakah startup winter di Indonesia berarti ekosistem digital sudah selesai?
Tidak. Penurunan investasi lebih banyak disebabkan pengetatan likuiditas global dan kenaikan suku bunga AS, bukan kelemahan struktural Indonesia. Startup yang fokus pada digitalisasi UMKM, e-commerce, dan integrasi AI justru tumbuh positif di 2025. Yang berguguran adalah model bisnis yang dari awal tidak punya fundamental sehat.
Apa tanda-tanda awal bisnis menuju krisis yang bisa dideteksi lebih dini?
Lima sinyal yang sama berlaku untuk startup maupun UKM: (1) arus kas negatif berturut-turut lebih dari 3 bulan, (2) satu orang memegang semua akses keuangan tanpa pengawasan, (3) laporan keuangan dibuat hanya saat diminta investor atau bank, (4) pertumbuhan pendapatan tidak diimbangi peningkatan profitabilitas, (5) pengeluaran terus naik sementara margin menyempit.