Founderplus
Tentang Kami
Leadership & Team

Cara Bagi Equity Co-Founder yang Adil dan Transparan

Published on: Wednesday, Feb 25, 2026 By Tim Founderplus

Dua sahabat membangun startup bareng. Semuanya lancar sampai startup mulai dapat traction dan investor datang mengetuk pintu. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang selama ini dihindari: "Siapa yang punya berapa persen?" Dalam hitungan minggu, persahabatan 10 tahun hancur.

Kisah seperti ini bukan fiksi. Ini terjadi berulang kali di ekosistem startup Indonesia. Data dari berbagai riset menunjukkan bahwa konflik antar co-founder adalah salah satu penyebab utama kegagalan startup, dan pembagian equity yang tidak jelas ada di jantung konflik tersebut.

Masalah utamanya sederhana: kebanyakan founder Indonesia tidak membicarakan equity dari awal. Mereka terlalu fokus membangun produk, terlalu optimis soal hubungan personal, atau terlalu "sungkan" membahas uang dan kepemilikan. Hasilnya? Diskusi equity baru terjadi ketika sudah ada sesuatu yang dipertaruhkan, dan pada titik itu, setiap orang sudah punya ekspektasi yang berbeda.

Artikel ini akan memberikan framework praktis untuk membagi equity dengan co-founder secara adil dan transparan. Bukan teori MBA, tapi langkah-langkah yang bisa Anda pakai langsung.

Kenapa Bagi Rata 50/50 Hampir Selalu Salah

Ini mungkin pembagian yang paling umum, terutama di startup yang didirikan oleh dua sahabat. Logikanya terdengar fair: "Kita kan partner, jadi bagi rata saja."

Masalahnya, 50/50 split mengasumsikan bahwa kontribusi kedua co-founder persis sama. Dalam kenyataannya, ini hampir tidak pernah terjadi. Selalu ada perbedaan di beberapa dimensi:

  • Siapa yang punya ide awal dan sudah melakukan riset?
  • Siapa yang menaruh modal pertama?
  • Siapa yang full-time dari hari pertama, dan siapa yang masih kerja di tempat lain?
  • Siapa yang punya network ke calon customer atau investor?
  • Siapa yang menanggung risiko finansial lebih besar?

Pembagian 50/50 juga menciptakan masalah governance. Ketika dua orang masing-masing punya 50%, tidak ada mekanisme tiebreaker untuk keputusan yang deadlock. Ini bisa melumpuhkan startup ketika ada perbedaan pendapat soal arah strategis.

Bukan berarti 50/50 selalu salah. Kalau setelah penilaian yang jujur kontribusi memang setara, silakan. Tapi jangan jadikan 50/50 sebagai default karena "tidak enak" membahas perbedaan kontribusi.

Startup yang founding team-nya solid justru mampu membicarakan hal-hal sulit seperti ini secara terbuka sejak awal.

Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan

Sebelum menentukan angka, Anda perlu mengevaluasi kontribusi masing-masing co-founder di beberapa dimensi kunci. Berikut faktor-faktor yang paling relevan:

1. Ide dan Validasi Awal

Siapa yang datang dengan ide bisnis? Lebih penting lagi, siapa yang sudah melakukan validasi awal sebelum co-founder lain bergabung? Ide mentah punya nilai, tapi ide yang sudah divalidasi dengan riset dan customer interview punya nilai jauh lebih besar.

2. Modal Awal (Capital)

Apakah ada co-founder yang menaruh uang sendiri untuk memulai? Berapa besar dibanding kebutuhan awal startup? Modal awal menunjukkan skin in the game yang nyata.

3. Skill dan Expertise

Skill apa yang dibawa masing-masing co-founder, dan seberapa kritis skill tersebut untuk tahap awal startup? Seorang CTO yang bisa membangun produk dari nol punya leverage yang berbeda dengan seorang co-founder yang kontribusinya lebih di sisi ide dan networking.

4. Komitmen Waktu

Ini faktor yang sering bikin ribut. Co-founder yang full-time dari hari pertama jelas menanggung risiko dan memberikan komitmen yang berbeda dibanding yang masih part-time sambil kerja kantoran. Perbedaan ini harus tercermin di equity.

5. Network dan Akses

Siapa yang punya koneksi ke calon customer, investor, atau partner strategis? Network yang relevan bisa mempersingkat jalan startup secara signifikan.

6. Risiko yang Ditanggung

Ini sering dilupakan. Co-founder yang resign dari pekerjaan bergaji tinggi untuk full-time di startup menanggung opportunity cost yang jauh lebih besar. Risiko ini layak diperhitungkan.

Framework Scoring untuk Pembagian Equity

Agar diskusi lebih objektif, gunakan scoring framework berikut. Setiap co-founder memberikan skor 1-10 untuk masing-masing faktor, lalu hasilnya digunakan sebagai dasar persentase equity.

Faktor Bobot Co-Founder A Co-Founder B
Ide dan validasi awal 15% ... ...
Modal awal 15% ... ...
Skill/expertise kritis 25% ... ...
Komitmen waktu (full/part-time) 20% ... ...
Network dan akses 10% ... ...
Risiko yang ditanggung 15% ... ...
Total tertimbang 100% ... ...

Cara menghitungnya:

  1. Setiap co-founder memberi skor 1-10 untuk dirinya dan co-founder lain di setiap faktor
  2. Ambil rata-rata skor dari semua penilai
  3. Kalikan skor dengan bobot
  4. Jumlahkan total tertimbang masing-masing
  5. Konversikan ke persentase equity

Misalnya, kalau total tertimbang Co-Founder A adalah 7.2 dan Co-Founder B adalah 5.8, maka rasionya kira-kira 55:45.

Bobot di tabel ini bisa disesuaikan. Kalau startup Anda sangat teknis, mungkin bobot skill/expertise naik jadi 30%. Kalau butuh modal besar di awal, bobot capital bisa dinaikkan. Yang penting, sepakati bobot dulu sebelum mulai scoring.

Vesting Schedule: Mekanisme Wajib yang Sering Dilewatkan

Menentukan persentase equity baru setengah cerita. Bagian yang sama pentingnya adalah bagaimana equity itu diberikan dari waktu ke waktu. Di sinilah vesting schedule berperan.

Apa Itu Vesting?

Vesting adalah mekanisme di mana equity "diperoleh" secara bertahap selama periode waktu tertentu. Meskipun di atas kertas Anda punya 40% saham, equity tersebut baru benar-benar jadi milik Anda setelah melewati periode vesting.

Standar Vesting: Cliff 1 Tahun, Vesting 4 Tahun

Ini standar yang dipakai hampir semua startup di Silicon Valley dan semakin banyak diadopsi di Indonesia:

  • Cliff 1 tahun: Tidak ada equity yang vest selama 12 bulan pertama. Kalau seorang co-founder keluar sebelum 1 tahun, mereka tidak mendapat equity sama sekali
  • Vesting bulanan selama 4 tahun: Setelah melewati cliff, equity vest setiap bulan secara proporsional selama total 4 tahun

Contoh konkret: Andi mendapat alokasi 40% equity dengan vesting 4 tahun dan cliff 1 tahun.

  • Bulan 1-11: Equity Andi masih 0%
  • Bulan 12 (cliff tercapai): 10% langsung vest (40% / 4 tahun = 10% per tahun)
  • Bulan 13-48: Sekitar 0.83% vest setiap bulan
  • Bulan 48: Total 40% sudah fully vested

Kenapa Vesting Itu Wajib?

Tanpa vesting, Anda menghadapi risiko besar: co-founder yang mendapat equity signifikan lalu pergi dalam hitungan bulan, membawa saham yang tidak proporsional dengan kontribusinya. Ini bukan skenario hipotetis, ini terjadi sangat sering.

Vesting melindungi semua pihak. Co-founder yang committed tidak dirugikan karena mereka tetap mendapat full equity setelah periode vesting. Dan perusahaan terlindungi dari situasi "dead equity" yang dipegang oleh orang yang sudah tidak berkontribusi.

Contoh Skenario: Dua Co-Founder dengan Kontribusi Berbeda

Mari kita lihat contoh nyata yang sering terjadi di startup Indonesia.

Situasi: Rini dan Budi ingin membangun platform edtech.

  • Rini: Punya ide awal, sudah melakukan 30+ customer interview, punya background di pendidikan, akan full-time dari hari pertama, resign dari posisi manajer dengan gaji Rp25 juta/bulan
  • Budi: Software engineer senior, akan membangun seluruh platform, tapi masih kerja full-time di perusahaan lain dan hanya bisa part-time (20 jam/minggu) selama 6 bulan pertama. Invest Rp50 juta sebagai modal awal

Kalau pakai scoring framework:

Faktor Bobot Rini Budi
Ide dan validasi awal 15% 9 3
Modal awal 15% 2 9
Skill/expertise kritis 25% 6 9
Komitmen waktu 20% 9 4
Network dan akses 10% 8 5
Risiko yang ditanggung 15% 9 5

Perhitungan:

  • Rini: (9x0.15) + (2x0.15) + (6x0.25) + (9x0.20) + (8x0.10) + (9x0.15) = 1.35 + 0.30 + 1.50 + 1.80 + 0.80 + 1.35 = 7.10
  • Budi: (3x0.15) + (9x0.15) + (9x0.25) + (4x0.20) + (5x0.10) + (5x0.15) = 0.45 + 1.35 + 2.25 + 0.80 + 0.50 + 0.75 = 6.10

Rasio: 7.10 : 6.10 = kira-kira 54% : 46%

Pembagian ini jauh lebih fair dibanding 50/50 karena mencerminkan kenyataan bahwa Rini menanggung risiko lebih besar (resign full-time), sudah melakukan validasi, dan punya network di industri pendidikan. Sementara Budi membawa skill teknis yang kritis dan modal awal.

Tambahan penting: karena Budi part-time di 6 bulan pertama, mereka bisa sepakat bahwa vesting Budi baru mulai dihitung penuh setelah Budi full-time. Atau mereka bisa membuat milestone-based vesting untuk 6 bulan pertama Budi.

Mau belajar lebih dalam soal founding team? Course Co-Founding Team di Founderplus Academy membahas lengkap mulai dari cara cari co-founder, pembagian equity, sampai mekanisme conflict resolution. Hanya Rp50.000.

Founders Agreement: Dokumen Legal yang Dibutuhkan

Setelah angka-angka disepakati, semuanya harus dituangkan dalam dokumen legal yang disebut Founders Agreement. Ini bukan sekadar formalitas, ini adalah perlindungan untuk semua pihak.

Founders Agreement yang baik minimal mencakup:

Pembagian equity dan vesting schedule. Termasuk detail cliff period, jadwal vesting, dan kondisi accelerated vesting (kalau ada).

Peran dan tanggung jawab masing-masing founder. Siapa CEO, siapa CTO? Apa domain keputusan masing-masing? Ini penting untuk menghindari tumpang tindih dan deadlock.

Mekanisme pengambilan keputusan. Bagaimana keputusan besar diambil? Apakah perlu unanimous consent atau majority vote? Siapa yang punya tiebreaker kalau deadlock?

Intellectual property assignment. Semua IP yang dibuat untuk startup harus secara resmi menjadi milik perusahaan, bukan milik individu founder.

Skenario exit founder. Apa yang terjadi kalau seorang founder ingin keluar? Apakah ada buyback clause? Berapa valuasinya? Ini yang paling sering dilupakan dan paling sering bikin masalah.

Non-compete dan non-solicitation. Apakah ada batasan bagi founder yang keluar untuk membangun bisnis serupa atau merekrut karyawan dari startup?

Biaya untuk membuat Founders Agreement melalui lawyer startup di Indonesia berkisar Rp5-15 juta. Kalau Anda merasa ini mahal, bayangkan biaya sengketa hukum yang bisa mencapai ratusan juta. Atau lebih buruk, kehilangan startup Anda karena tidak ada dokumen yang jelas.

Langkah Praktis: Cara Diskusi Equity dengan Co-Founder

Diskusi equity memang tidak mudah. Tapi dengan pendekatan yang tepat, proses ini justru bisa memperkuat hubungan co-founder. Berikut langkah-langkahnya:

Langkah 1: Jadwalkan Waktu Khusus

Jangan bahas equity sambil lalu di sela-sela kerja. Jadwalkan waktu khusus minimal 2-3 jam, di tempat yang netral dan nyaman. Ini menunjukkan bahwa Anda menganggap topik ini serius.

Langkah 2: Mulai dengan Alignment Visi

Sebelum bicara angka, pastikan dulu Anda selaras soal visi besar. Ke mana startup ini akan dibawa dalam 3-5 tahun? Apa definisi sukses bagi masing-masing? Kalau visinya saja sudah berbeda, diskusi equity jadi tidak relevan. Ini sejalan dengan pentingnya memiliki goal yang jelas di level startup.

Langkah 3: Sepakati Faktor dan Bobot Penilaian

Gunakan framework scoring di atas. Tapi sebelum mulai scoring, sepakati dulu faktor apa saja yang relevan dan bobotnya berapa. Kalau Anda sudah setuju di level framework, proses scoring akan jauh lebih smooth.

Langkah 4: Scoring Independen

Masing-masing co-founder melakukan scoring secara independen, baik untuk diri sendiri maupun untuk co-founder lain. Jangan scoring bareng-bareng karena akan ada tekanan sosial yang membuat hasilnya tidak jujur.

Langkah 5: Bandingkan dan Diskusikan

Pertemukan hasil scoring masing-masing. Biasanya akan ada gap di beberapa faktor. Diskusikan gap tersebut dengan data dan fakta, bukan emosi. "Saya kasih skor 8 untuk komitmen waktu karena saya resign full-time dan melepas gaji Rp25 juta" lebih produktif dibanding "Saya harusnya dapat lebih besar."

Langkah 6: Tentukan Angka Final dan Vesting

Setelah scoring disepakati, konversikan ke persentase equity. Lalu sepakati vesting schedule. Standar 4 tahun dengan cliff 1 tahun biasanya jadi titik awal yang baik.

Langkah 7: Tulis dalam Founders Agreement

Jangan berhenti di kesepakatan lisan. Libatkan lawyer untuk menuangkan semuanya dalam Founders Agreement yang proper. Ini bukan soal tidak percaya satu sama lain, ini soal profesionalisme dan perlindungan bersama.

Langkah 8: Review Berkala

Sepakati untuk me-review pembagian equity di milestone tertentu, misalnya setelah fundraising pertama atau ketika ada perubahan signifikan di komitmen salah satu founder. Equity tidak harus final di hari pertama, tapi mekanisme perubahannya harus jelas.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Beberapa kesalahan yang sering terjadi di startup Indonesia:

Menunda diskusi equity. "Nanti saja kalau sudah jalan." Ini bom waktu. Semakin lama ditunda, semakin sulit dan emosional diskusinya.

Membagi equity ke terlalu banyak orang di awal. Advisor yang baru kenalan seminggu langsung dikasih 5%? Early employee dikasih 10% tanpa vesting? Ini akan menyulitkan Anda saat fundraising.

Tidak pakai vesting. Ini kesalahan fatal. Tanpa vesting, Anda tidak punya mekanisme perlindungan kalau co-founder pergi.

Mengabaikan aspek legal. Kesepakatan verbal tidak punya kekuatan hukum yang kuat. Selalu tulis dalam dokumen legal.

Membagi equity berdasarkan perasaan, bukan data. "Kita kan teman, bagi rata saja" adalah resep konflik. Gunakan framework yang objektif.

Tidak memperhitungkan dilusi. Ketika nanti ada fundraising, equity semua founder akan terdilusi. Pastikan Anda memahami konsep ini dan memperhitungkannya dalam perencanaan. Seorang investor yang melihat pitch deck Anda pasti akan bertanya soal cap table dan equity structure.

Kesimpulan

Pembagian equity adalah salah satu keputusan paling penting yang akan Anda buat sebagai founder. Lakukan dengan serius, jujur, dan berbasis data. Gunakan framework scoring untuk mengobjektifkan diskusi. Selalu pakai vesting schedule. Dan jangan lupa tuangkan semuanya dalam Founders Agreement yang proper.

Ingat, tujuan pembagian equity bukan untuk "menang" lebih banyak dari co-founder Anda. Tujuannya adalah menciptakan struktur kepemilikan yang membuat semua pihak merasa dihargai dan termotivasi untuk membangun startup bersama dalam jangka panjang. Startup dengan pendekatan lean perlu founding team yang solid dan selaras, dan itu dimulai dari diskusi equity yang transparan.

Kalau Anda sedang di tahap awal membangun startup dengan co-founder, jangan tunda diskusi ini. Ambil waktu weekend ini untuk duduk bareng dan mulai proses scoring. Ketidaknyamanan 3 jam diskusi equity jauh lebih baik dibanding berbulan-bulan konflik yang menggerogoti startup Anda dari dalam.

Bangun founding team yang solid dari awal. Di course Co-Founding Team oleh Andreas Senjaya, Anda akan belajar:

  • Framework mencari dan mengevaluasi co-founder
  • Template Founders Agreement siap pakai
  • Mekanisme decision-making dan conflict resolution
  • Studi kasus dari startup Indonesia

Hanya Rp50.000 di Founderplus Academy.

FAQ

Apakah bagi equity 50/50 itu selalu salah?

Tidak selalu salah, tapi jarang tepat. Pembagian 50/50 hanya masuk akal kalau kontribusi kedua co-founder benar-benar setara di semua dimensi: ide, modal, skill, waktu, dan risiko. Dalam praktiknya, ini sangat jarang terjadi. Pembagian yang tidak seimbang justru lebih sehat karena mencerminkan realitas kontribusi.

Kapan waktu yang tepat untuk diskusi equity dengan co-founder?

Idealnya sebelum mulai kerja bareng secara serius, atau paling lambat dalam 2-4 minggu pertama. Semakin lama ditunda, semakin sulit karena masing-masing sudah punya ekspektasi sendiri. Diskusi equity di awal justru menunjukkan kedewasaan dan profesionalisme.

Apa itu vesting schedule dan kenapa penting?

Vesting schedule adalah mekanisme di mana equity diberikan secara bertahap selama periode waktu tertentu, biasanya 4 tahun. Ini melindungi semua pihak: kalau satu co-founder keluar di bulan ke-3, mereka tidak membawa 50% saham perusahaan. Standarnya adalah cliff 1 tahun dan vesting bulanan selama 4 tahun.

Bagaimana kalau co-founder yang part-time ingin equity sama besar dengan yang full-time?

Ini salah satu sumber konflik paling umum. Solusinya adalah menilai kontribusi secara objektif menggunakan scoring framework. Waktu full-time vs part-time adalah salah satu faktor, bukan satu-satunya. Tapi umumnya, co-founder full-time wajar mendapat porsi lebih besar karena menanggung risiko dan opportunity cost yang lebih tinggi.

Apakah perlu notaris untuk Founders Agreement?

Sangat disarankan. Meskipun kesepakatan tertulis antar founder sudah punya kekuatan hukum, Founders Agreement yang diaktakan notaris memberikan perlindungan legal yang lebih kuat. Biayanya relatif terjangkau, sekitar Rp2-5 juta, dan ini investasi kecil dibanding potensi kerugian dari sengketa equity di kemudian hari.

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang