Founderplus
Tentang Kami

Dari Akuisisi Mobile Legends terus Dijual, Kenapa ByteDance Mundur dari Gaming?

Published on: Saturday, Feb 28, 2026 • Updated: Sunday, Mar 01, 2026

Dari Akuisisi Mobile Legends terus Dijual, Kenapa ByteDance Mundur dari Gaming?
Sumber: Sejumlah staf ByteDance berjalan melewati kantor pusat ByteDance di Beijing, China, 8 Juli 2020. CFP

Pada 2021, ByteDance membuat langkah besar yang mengejutkan industri dengan mengakuisisi Moonton, studio di balik game Mobile Legends: Bang Bang. Nilai akuisisinya ditaksir mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp57,4 triliun saat itu. Ambisinya jelas dengan memperluas dominasi dari media sosial ke industri gaming global, bahkan disebut-sebut ingin menantang raksasa seperti Tencent.

Namun beberapa tahun berselang, kabar beredar bahwa ByteDance mempertimbangkan untuk menjual Moonton dengan valuasi yang bisa mencapai $6–7 miliar. Secara angka, ini terlihat seperti kemenangan finansial. Tapi secara strategi, cerita ini jauh lebih kompleks.


Mimpi Jadi Raja Gaming Global

Sumber: Logo Mobile Legends / HiTekno.com

Ketika ByteDance membeli Moonton, momentumnya terlihat tepat seperti TikTok sedang meroket secara global. Ekosistem konten pendek membuka peluang integrasi dengan industri game: distribusi promosi, kolaborasi kreator, hingga monetisasi berbasis komunitas.

Mobile Legends sendiri bukan pemain kecil, game ini memiliki basis pengguna besar di Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Filipina, serta ekosistem esports yang berkembang pesat. Dengan mengakuisisi Moonton, ByteDance tidak memulai dari nol. Mereka membeli IP atau Intellectual Property yang sudah matang, dengan cashflow dan komunitas yang kuat.

Strateginya terlihat masuk akal dengan membangun ekosistem hiburan lengkap dimulai dari konten, live streaming, hingga gaming seperti yang dilakukan Tencent di Tiongkok.


Ketika Tidak Berjalan Sesuai Rencana

Sumber: Mobile Esports Game of The Year 2024 / en.moonton.com

Di dalam industri game itu berbeda dengan media sosial, pertama, siklus hidup game sangat kompetitif. Popularitas bisa melonjak, tapi juga cepat turun jika tidak dikelola dengan pembaruan konten dan inovasi yang konsisten. Kedua, pengembangan game membutuhkan investasi jangka panjang dengan risiko tinggi. Tidak semua judul baru akan sukses, di tahun 2023, ByteDance melakukan restrukturisasi besar di divisi gaming mereka. Beberapa proyek dihentikan, dan ratusan karyawan dilaporkan terdampak pemutusan hubungan kerja. Ini menjadi sinyal bahwa ekspansi gaming tidak sejalan dengan ekspektasi internal.

Masalahnya bukan pada Moonton semata. Mobile Legends tetap menjadi salah satu game mobile paling populer di Asia Tenggara. Tantangannya ada pada ambisi lebih besar ByteDance: menjadikan gaming sebagai pilar utama bisnis global. Ambisi itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Kompetisi dengan Tencent dan publisher besar lainnya membuat ruang gerak semakin sempit. Tencent bukan hanya memiliki banyak studio, tetapi juga pengalaman puluhan tahun membangun dan mengelola portofolio game global. Masuk ke industri ini bukan sekadar soal modal besar, tapi juga soal DNA perusahaan.


Strategi yang Dipakai ByteDance, Rugi atau Untung?

Jika ByteDance benar menjual Moonton di kisaran $6–7 miliar, maka secara finansial mereka berpotensi mencatatkan keuntungan. Ini bukan cerita “rugi besar lalu kabur”. 

Namun di level strategi, ada pertanyaan lebih penting: apakah akuisisi ini berhasil mencapai tujuan awalnya?

Jika tujuannya adalah membangun dominasi gaming global dan menyaingi Tencent, maka hasilnya belum terlihat signifikan. ByteDance tetap lebih dikenal sebagai perusahaan media sosial dan teknologi berbasis algoritma, bukan raksasa gaming.

Di sinilah pelajaran penting untuk para founder: exit yang menguntungkan secara finansial belum tentu berarti strategi awalnya berhasil. Kadang, keputusan menjual justru menunjukkan bahwa perusahaan memilih fokus ulang atau refocus daripada memaksakan ego ekspansi.


ByteDance Sekarang Fokus ke Mana?

Sumber: Kompas.com / PYMNTS.com

Beberapa tahun terakhir, ByteDance terlihat semakin serius menggarap kecerdasan buatan atau AI, e-commerce, dan penguatan ekosistem TikTok secara global. Investasi pada AI bukan sekadar tren, tetapi selaras dengan kekuatan utama mereka: algoritma, data, dan personalisasi konten.

TikTok Shop, misalnya, menjadi bukti bahwa ByteDance ingin memperdalam monetisasi dari platform yang sudah kuat, bukan menyebar terlalu jauh ke industri yang berbeda karakter.

Ini adalah contoh klasik dari pivot strategis. Bukan karena tidak mampu bertahan, tetapi karena menyadari bahwa peluang terbesar ada di tempat lain.


Tau Kapan Harus Bertahan, dan Kapan Harus Mundur?

Dari kasus ByteDance, pelajaran terbesarnya bukan soal jual-beli Moonton, tapi soal keberanian menentukan arah. Banyak founder terjebak pada ambisi untuk terus ekspansi dan “menjadi segalanya”, padahal memperluas lini bisnis tanpa keunggulan kompetitif yang jelas justru bisa menggerus fokus, energi, dan sumber daya. Sinergi yang terlihat masuk akal di atas kertas belum tentu berhasil di lapangan, integrasi lintas industri membutuhkan kultur, talenta, dan struktur organisasi yang berbeda.

Di sisi lain, exit bukan selalu tanda kegagalan. Ketika sebuah unit bisnis tidak lagi sejalan dengan strategi jangka panjang, melepasnya bisa menjadi keputusan rasional. Fokus adalah strategi. Bahkan perusahaan sebesar ByteDance pun tetap harus memilih prioritas.

Dalam bisnis, mundur bukan berarti kalah. Ini bukan soal gengsi, melainkan soal alokasi sumber daya dan momentum. Keputusan untuk menjual bisa dibaca sebagai kegagalan ekspansi, tapi juga bisa dilihat sebagai kedewasaan strategi: tahu kapan berhenti dan memindahkan energi ke peluang yang lebih besar.

Pertanyaannya untuk setiap founder sederhana tapi krusial: apakah kamu bertahan karena itu memang strategis, atau hanya karena ego dan sunk cost? Kadang, langkah paling berani bukanlah terus maju tanpa henti, melainkan berani mengubah arah. Kalau kamu ingin insight strategi bisnis lain yang bisa langsung diterapkan ke startup atau bisnismu, jangan lupa baca artikel kami yang lain.

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang