Bayangkan ini: dashboard analytics Anda menunjukkan Monthly Active Users (MAU) naik 15% bulan lalu. Tim senang. Investor senang. Semua orang menganggap produk sedang dalam tren positif.
Tapi ada masalah yang tidak terlihat di balik angka itu.
Ketika Anda memecah data tersebut berdasarkan kapan user pertama kali mendaftar, ternyata user yang bergabung tiga bulan lalu hampir semuanya sudah berhenti menggunakan produk. Yang membuat MAU naik bukan karena retention bagus, tapi karena volume user baru yang masuk sangat besar. Begitu akuisisi melambat, angka MAU akan langsung terjun.
Inilah yang disebut aggregate metrics trap. Dan inilah mengapa cohort analysis menjadi salah satu alat paling penting yang harus dikuasai setiap founder startup.
Artikel ini adalah bagian dari panduan lengkap startup marketing journey dari nol yang membahas perjalanan growth dari awal. Di sini, kita akan membahas cara menggunakan cohort analysis secara praktis -- dari konsep dasar sampai membaca tabel cohort dan mengambil keputusan bisnis yang tepat.
Apa Itu Cohort Analysis dan Mengapa Penting?
Cohort analysis adalah metode analisis yang mengelompokkan user berdasarkan karakteristik atau pengalaman yang sama dalam periode waktu tertentu, lalu melacak perilaku mereka dari waktu ke waktu.
Kata kunci di sini: dari waktu ke waktu. Inilah yang membedakannya dari metrik aggregate biasa.
Ketika Anda melihat angka total user aktif, Anda melihat satu snapshot yang mencampur semua orang -- user yang baru mendaftar kemarin, user yang sudah setahun, dan semua di antaranya. Informasi ini berguna, tapi bisa sangat menyesatkan.
Cohort analysis memecah campuran ini menjadi kelompok-kelompok (cohort) yang bisa Anda bandingkan. Misalnya:
- Cohort Januari: Semua user yang mendaftar di bulan Januari.
- Cohort Februari: Semua user yang mendaftar di bulan Februari.
- Dan seterusnya.
Kemudian Anda melacak: dari setiap cohort, berapa persen yang masih aktif di bulan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya?
Dengan cara ini, Anda bisa menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh aggregate metrics: Apakah produk saya semakin baik dalam mempertahankan user? Kalau cohort terbaru punya retention lebih tinggi dari cohort sebelumnya, itu sinyal positif yang nyata. Kalau sebaliknya, Anda punya masalah yang harus segera ditangani -- tidak peduli seberapa bagus angka total di dashboard.
Ini juga berkaitan erat dengan konsep north star metric. Tanpa cohort analysis, Anda berisiko mengejar vanity metrics yang terlihat naik tapi sebenarnya tidak mencerminkan value yang dirasakan user.
Dua Jenis Cohort yang Perlu Anda Ketahui
Tidak semua cohort dibentuk dengan cara yang sama. Ada dua jenis utama yang paling sering digunakan, dan masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda.
Acquisition Cohort (Berdasarkan Waktu Bergabung)
Ini jenis yang paling umum dan paling mudah untuk memulai. User dikelompokkan berdasarkan kapan mereka pertama kali melakukan tindakan tertentu -- biasanya sign up atau first purchase.
Contoh: Anda mengelompokkan user berdasarkan bulan pendaftaran, lalu melacak berapa persen dari setiap kelompok yang masih aktif di minggu ke-1, minggu ke-4, minggu ke-8, dan seterusnya.
Acquisition cohort menjawab pertanyaan: Apakah perubahan yang kita buat di produk atau onboarding meningkatkan retention user baru?
Kalau Anda memperbaiki onboarding flow di bulan Maret dan cohort Maret menunjukkan retention minggu ke-4 yang lebih tinggi dari cohort Februari, itu bukti kuat bahwa perubahan Anda berhasil.
Behavioral Cohort (Berdasarkan Tindakan)
Behavioral cohort mengelompokkan user bukan berdasarkan waktu, tapi berdasarkan tindakan spesifik yang mereka lakukan. Misalnya:
- User yang menyelesaikan onboarding tutorial vs. yang skip.
- User yang mengundang teman dalam 7 hari pertama vs. yang tidak.
- User yang melakukan pembelian pertama dalam 48 jam vs. yang menunggu lebih dari seminggu.
Behavioral cohort menjawab pertanyaan yang lebih spesifik: Tindakan apa yang paling berkorelasi dengan retention jangka panjang?
Kalau Anda menemukan bahwa user yang menyelesaikan tiga langkah tertentu dalam minggu pertama memiliki retention 3x lebih tinggi, Anda tahu persis apa yang harus didorong di onboarding.
Untuk startup tahap awal, mulailah dengan acquisition cohort karena lebih sederhana dan datanya lebih mudah didapat. Setelah Anda nyaman dengan konsepnya dan punya cukup data, baru eksplorasi behavioral cohort untuk insight yang lebih dalam.
Cara Membuat Cohort Analysis dengan Spreadsheet
Anda tidak butuh tools mahal untuk memulai. Google Sheets sudah cukup. Berikut langkah-langkahnya.
Langkah 1: Siapkan data mentah. Anda butuh minimal dua kolom: User ID, Tanggal Sign Up, dan Tanggal Aktivitas (setiap kali user melakukan tindakan utama). Ekspor data ini dari database atau analytics tool Anda.
Langkah 2: Tentukan definisi cohort. Putuskan: apakah Anda mengelompokkan per minggu atau per bulan? Untuk startup dengan volume user tinggi (ratusan per minggu), cohort mingguan lebih granular. Untuk yang lebih kecil, cohort bulanan sudah cukup.
Langkah 3: Tentukan metrik yang dilacak. Retention (user yang kembali aktif) adalah yang paling umum. Tapi Anda juga bisa melacak revenue per cohort, jumlah transaksi, atau tindakan lainnya.
Langkah 4: Buat tabel cohort. Formatnya seperti ini:
| Cohort | Bulan 0 | Bulan 1 | Bulan 2 | Bulan 3 | Bulan 4 |
|---|---|---|---|---|---|
| Jan 2026 | 100% | 40% | 28% | 22% | 19% |
| Feb 2026 | 100% | 45% | 32% | 25% | |
| Mar 2026 | 100% | 50% | 35% | ||
| Apr 2026 | 100% | 48% |
Bulan 0 selalu 100% karena itu bulan pertama user mendaftar. Angka selanjutnya menunjukkan persentase user dari cohort tersebut yang masih aktif.
Langkah 5: Visualisasikan. Buat line chart di mana setiap garis mewakili satu cohort. Sumbu X adalah "umur" user (bulan ke-1, ke-2, dst.), sumbu Y adalah persentase retention. Dengan visualisasi ini, tren antar-cohort langsung terlihat jelas.
Cara Membaca Tabel Cohort Retention
Membuat tabel cohort baru setengah perjalanan. Yang lebih penting adalah kemampuan membacanya dan menarik insight yang actionable.
Baca Secara Vertikal: Perbandingan Antar-Cohort
Lihat satu kolom (misalnya "Bulan 1") dari atas ke bawah. Apakah angkanya naik atau turun seiring waktu? Pada contoh tabel di atas, retention Bulan 1 bergerak dari 40% (Jan) ke 50% (Mar). Ini sinyal positif -- artinya setiap batch user baru semakin baik retention-nya, kemungkinan karena ada perbaikan produk atau onboarding.
Kalau trennya turun, itu alarm. Mungkin kualitas user yang masuk menurun (bisa jadi karena channel akuisisi yang berbeda), atau ada sesuatu yang rusak di produk.
Baca Secara Horizontal: Retention Curve Satu Cohort
Lihat satu baris dari kiri ke kanan. Ini menunjukkan bagaimana satu cohort "menua." Perhatikan di mana drop-off terbesar terjadi. Biasanya drop terbesar ada di Bulan 0 ke Bulan 1. Setelah itu, kurva biasanya melandai.
Kalau kurva terus turun tanpa pernah mendatar, itu masalah besar. Artinya produk Anda tidak punya "stickiness" -- tidak ada alasan kuat bagi user untuk terus kembali. Ini adalah sinyal untuk memprioritaskan strategi retention sebelum menambah effort akuisisi.
Baca Secara Diagonal: Efek Peristiwa Tertentu
Bacaan diagonal (dari kiri atas ke kanan bawah) menunjukkan apa yang terjadi pada titik waktu yang sama untuk semua cohort. Kalau ada penurunan tajam di diagonal yang sama, mungkin ada event spesifik yang mempengaruhi semua user -- misalnya bug besar, downtime, atau perubahan pricing.
Insight Actionable dari Cohort Data
Data tanpa tindakan hanyalah angka. Berikut cara mengubah temuan cohort analysis menjadi keputusan bisnis nyata.
1. Evaluasi Efektivitas Perubahan Produk
Setiap kali Anda merilis fitur baru atau mengubah onboarding, bandingkan cohort sebelum dan sesudah perubahan. Ini adalah cara paling akurat untuk mengukur dampak, jauh lebih baik daripada hanya melihat total angka yang berubah.
Contoh: Startup edtech di Jakarta menambahkan reminder email otomatis di hari ke-3 dan ke-7 setelah sign up. Cohort setelah perubahan menunjukkan retention Bulan 1 naik dari 30% ke 42%. Itu bukan kebetulan -- itu dampak yang terukur.
2. Identifikasi Channel Akuisisi Terbaik
Buat cohort terpisah berdasarkan sumber akuisisi: organik, paid ads, referral, partnership. Bandingkan retention masing-masing. Sering kali Anda akan menemukan bahwa channel dengan CAC terendah belum tentu menghasilkan user dengan retention terbaik.
Ini relevan dengan bagaimana Anda menghitung customer acquisition cost yang sebenarnya. CAC bukan hanya soal biaya mendapatkan user, tapi juga soal kualitas user yang didapatkan.
3. Temukan Aha Moment Produk Anda
Dengan behavioral cohort, Anda bisa mengidentifikasi tindakan spesifik yang berkorelasi kuat dengan retention. Facebook terkenal menemukan bahwa user yang menambahkan 7 teman dalam 10 hari pertama jauh lebih likely untuk menjadi user aktif jangka panjang.
Startup Anda juga punya "magic number" seperti ini. Mungkin user yang mengunggah foto profil, menyelesaikan satu transaksi, atau mengundang satu teman. Cohort analysis membantu Anda menemukannya.
4. Prediksi Revenue dan Churn
Kalau Anda sudah punya data cohort beberapa bulan, Anda bisa memprediksi berapa revenue yang akan dihasilkan cohort tertentu dalam 6-12 bulan ke depan berdasarkan pola retention mereka. Ini sangat berguna untuk growth planning dan financial forecasting.
5. Prioritaskan Retention vs. Acquisition
Salah satu keputusan paling kritis di startup: kapan fokus mendapatkan user baru, kapan fokus mempertahankan yang ada? Cohort analysis memberikan jawabannya.
Kalau retention curve Anda mendatar di angka yang cukup sehat (misalnya 20-30% setelah 6 bulan untuk consumer app), maka masuk akal untuk push acquisition. Tapi kalau curve terus turun tanpa pernah stabil, menambah user baru sama saja mengisi ember bocor.
Untuk memahami lebih dalam kapan waktunya push acquisition vs. retention, pelajari juga framework lengkap di panduan startup marketing journey dari nol.
Kesalahan Umum dalam Cohort Analysis
Beberapa jebakan yang sering ditemui, terutama bagi yang baru mulai.
Cohort terlalu besar atau terlalu kecil. Kalau satu cohort berisi ribuan user, Anda kehilangan granularitas. Kalau hanya 10-20 user, hasilnya tidak reliabel. Sesuaikan ukuran cohort dengan volume user Anda.
Tidak konsisten dalam definisi "aktif." Apakah "aktif" berarti login, melakukan transaksi, atau membuka aplikasi? Definisikan sekali dan gunakan konsisten di semua analisis. Mengubah definisi di tengah jalan membuat perbandingan antar-cohort tidak valid.
Hanya melihat angka tanpa konteks. Retention turun 5% di cohort tertentu bisa berarti banyak hal: mungkin ada long weekend, mungkin ada kompetitor baru, mungkin onboarding diubah. Selalu cari konteks di balik angka.
Tidak melakukan cohort analysis sama sekali. Ini kesalahan terbesar. Banyak startup Indonesia yang mengambil keputusan growth berdasarkan aggregate metrics saja. Mereka merasa MAU naik, revenue naik, jadi semuanya baik-baik saja -- sampai tiba-tiba angka terjun dan mereka tidak tahu kenapa.
FAQ
Apa bedanya cohort analysis dengan melihat total user aktif?
Total user aktif (aggregate metric) mencampur semua user menjadi satu angka. Cohort analysis memisahkan user berdasarkan kapan mereka pertama kali bergabung, sehingga Anda bisa melihat apakah user bulan ini lebih bagus retensinya dibanding bulan lalu. Tanpa cohort, Anda bisa tertipu oleh angka yang terlihat naik padahal sebenarnya setiap batch user baru semakin cepat churn.
Berapa jumlah user minimum untuk mulai melakukan cohort analysis?
Tidak ada minimum absolut, tapi idealnya setiap cohort punya minimal 30-50 user agar polanya cukup reliabel secara statistik. Kalau user Anda masih sangat sedikit (di bawah 100 per bulan), gunakan cohort mingguan atau gabungkan beberapa minggu menjadi satu cohort. Yang penting, mulai tracking dari awal agar datanya tersedia saat dibutuhkan.
Tools apa yang paling mudah untuk pemula membuat cohort analysis?
Google Sheets atau Excel sudah cukup untuk memulai. Masukkan data user dengan kolom tanggal signup dan tanggal aktivitas, lalu buat pivot table. Untuk yang lebih otomatis, tools seperti Mixpanel, Amplitude, atau bahkan Google Analytics 4 sudah menyediakan fitur cohort analysis bawaan. Mulai dari spreadsheet dulu agar Anda benar-benar paham logikanya.
Seberapa sering harus melakukan cohort analysis?
Idealnya setiap bulan untuk review bulanan, dan setiap minggu kalau Anda sedang menjalankan eksperimen growth. Cohort analysis bukan sesuatu yang dilakukan sekali lalu ditinggalkan. Nilainya justru muncul dari perbandingan antar-cohort dari waktu ke waktu, sehingga Anda bisa melihat apakah perubahan produk benar-benar memperbaiki retention.
Apakah cohort analysis hanya berguna untuk produk digital atau SaaS?
Tidak. Bisnis apapun yang punya pelanggan berulang bisa menggunakan cohort analysis. Toko online bisa menganalisis repeat purchase per cohort. Restoran bisa melacak kunjungan ulang. Bisnis subscription box bisa melihat churn per batch pelanggan. Prinsipnya sama: kelompokkan pelanggan berdasarkan waktu pertama transaksi, lalu lacak perilaku mereka dari waktu ke waktu.
Mulai dari yang Sederhana, Tapi Mulai Sekarang
Cohort analysis bukan sesuatu yang membutuhkan data scientist atau tools mahal. Spreadsheet dan data dasar sudah cukup untuk memulai. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan melihat data bukan sebagai angka total, tapi sebagai kelompok-kelompok user yang bisa Anda bandingkan dan pelajari.
Mulailah dengan tiga langkah ini minggu ini:
- Ekspor data user Anda (tanggal sign up + tanggal aktivitas terakhir).
- Buat tabel cohort retention sederhana di Google Sheets.
- Bandingkan retention Bulan 1 dari tiga cohort terakhir.
Kalau Anda menemukan bahwa retention membaik, cari tahu apa yang menyebabkannya dan double down. Kalau memburuk, itu adalah alarm yang harus segera ditindaklanjuti.
Untuk mendalami cohort analysis dan teknik analytics lainnya secara lebih terstruktur, Founderplus Academy menyediakan rangkaian course tentang startup analytics dan growth metrics -- dari dasar sampai advanced. Dengan 52 course tersedia (mulai Rp18.000 hingga Rp650.000), Anda bisa belajar sesuai kecepatan sendiri di academy.founderplus.id.
Dan kalau Anda ingin bimbingan langsung dari praktisi untuk menerapkan cohort analysis dan strategi growth lainnya di startup Anda, pertimbangkan program BOS (Building Outstanding Startups) di bos.founderplus.id. Dengan investasi Rp1.999.000 untuk 15 sesi selama 2 bulan mentoring, Anda mendapat pendampingan hands-on untuk membangun sistem growth yang terukur.
Data tanpa analisis yang tepat hanyalah noise. Cohort analysis mengubah noise itu menjadi sinyal yang bisa Anda gunakan untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas. Dan di dunia startup, keputusan yang tepat berdasarkan data yang tepat adalah perbedaan antara growth yang berkelanjutan dan growth yang hanya ilusi.