Cara pakai kalkulator ini
- Isi AOV (Average Order Value), yaitu nilai rata-rata satu transaksi di bisnis Anda. Kalau ragu, bagi total omzet bulan lalu dengan jumlah transaksinya.
- Untuk tiap channel iklan, isi tiga angka: spend (total biaya iklan), jumlah leads yang masuk, dan conversion rate (persentase leads yang jadi pembeli).
- Hasilnya langsung terhitung: tabel perbandingan ROI, revenue, CPA, dan CPL per channel, diurutkan dari channel dengan ROI tertinggi.
- Cek indikator kesehatan di bawah tabel untuk tahu apakah channel terbaik Anda sudah lewat ambang ROI 200%.
Rumus yang dipakai
Kalkulator ini menghitung tiap channel dengan rumus berikut:
Pelanggan = Leads x Conversion Rate / 100 (dibulatkan ke bawah)
Revenue = Pelanggan x AOV
Profit = Revenue - Spend
ROI = Profit / Spend x 100%
CPL = Spend / Leads, dan CPA = Spend / Pelanggan
Kalau Anda terbiasa dengan ROAS: ROAS = Revenue / Spend, jadi ROI = (ROAS - 1) x 100%. ROAS 3x sama artinya dengan ROI 200%.
Cara membaca hasilnya
Tabel diurutkan dari ROI tertinggi, jadi baris paling atas adalah channel yang paling efisien mengubah budget menjadi profit. Patokan praktisnya: ROI 200% ke atas (setara ROAS 3x) sehat, 50-200% masih bisa dioptimalkan, di bawah 50% berarti channel itu nyaris atau sudah rugi. Jangan berhenti di ROI: bandingkan juga CPA dengan gross profit per transaksi Anda. Kalau CPA Rp150 ribu sementara margin kotor per order hanya Rp100 ribu, channel itu tetap bocor walau terlihat ramai. Gunakan angka CPL untuk menilai kualitas targeting, lalu geser budget bertahap ke channel teratas sambil memperbaiki conversion rate channel yang tertinggal.
