Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Lulusan SMP dengan 700 Sapi dan 350 Hektar Nanas: Cara Muhammad Rofiq Bangun Ekosistem Bisnis Zero Waste

Published on: Sunday, Aug 23, 2026 By Tim Founderplus

Ketika mendengar "peternak sapi", bayangan kebanyakan orang mungkin adalah seorang bapak-bapak dengan beberapa ekor sapi di belakang rumah. Bukan seorang lulusan SMP yang mengelola 700 ekor sapi, 350 hektar kebun nanas, dan grup bisnis yang mencakup properti sampai farmasi.

Tapi itulah yang dilakukan Muhammad Rofiq, pemilik IBS Farm dan pendiri Irfai Group di Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur.

Yang menarik bukan sekadar skalanya. Yang menarik adalah bagaimana Rofiq membangun ekosistem bisnis di mana setiap unit saling menghidupi, limbah dari satu unit menjadi bahan baku unit lainnya. Istilahnya: integrated farming dengan pendekatan zero waste.

Artikel ini membedah model bisnis IBS Farm dan menarik pelajaran yang relevan untuk Anda yang sedang membangun atau mengembangkan bisnis, di sektor apa pun.

Profil Singkat: Dari Lulusan SMP ke Grup Bisnis Multi-Sektor

Muhammad Rofiq bukan lulusan fakultas peternakan atau MBA. Pendidikan formalnya hanya sampai SMP. Tapi track record bisnisnya berbicara lebih keras dari ijazah mana pun.

Berikut fakta-fakta yang sudah terverifikasi:

  • 700+ ekor sapi per 2025, dikelola di IBS Farm, Plosoklaten, Kediri
  • 350 hektar perkebunan nanas yang terintegrasi langsung dengan peternakan
  • Irfai Group sebagai induk usaha yang mencakup sektor properti, peternakan dan perkebunan, serta farmasi
  • Sapi kurban Presiden Prabowo pada Iduladha berasal dari Irfai Farm, seekor sapi PO seberat 893 kg dengan harga sekitar Rp100 juta (sumber: BeritaJatim)
  • Rencana impor 1.000 sapi perah dari Australia dengan dukungan Bupati Kediri (sumber: BangsaOnline)
  • Biaya operasional sekitar Rp600 juta per bulan untuk pakan dan gaji karyawan

Angka-angka ini menunjukkan skala operasi yang sudah melampaui kategori UMKM biasa. Tapi yang lebih menarik dari angkanya adalah sistemnya.

Baca juga: Cara Menyusun Strategi Bisnis Startup

Model Integrated Farming: Ketika Limbah = Input

Ini inti dari model bisnis IBS Farm yang perlu Anda pahami.

Dalam peternakan konvensional, kotoran sapi adalah masalah. Biaya pengelolaan limbah tinggi, belum lagi dampak lingkungan. Dalam perkebunan konvensional, limbah panen (daun, batang, kulit buah) biasanya dibuang atau dibakar.

IBS Farm membalik logika ini. Mereka menciptakan siklus tertutup:

Sapi menghasilkan kotoran. Kotoran ini diolah menjadi pupuk organik cair. Pupuk ini digunakan untuk menyuburkan 350 hektar kebun nanas. Hasilnya: biaya pupuk kebun nanas turun drastis karena tidak perlu membeli pupuk kimia dari luar.

Kebun nanas menghasilkan limbah panen. Daun nanas, batang, dan bagian buah yang tidak layak jual diolah menjadi pakan ternak. Hasilnya: biaya pakan sapi berkurang signifikan karena sebagian besar pakan sudah tersedia dari kebun sendiri.

Kalau digambarkan sederhana:

  • Sapi → Kotoran → Pupuk organik → Kebun nanas
  • Kebun nanas → Limbah panen → Pakan ternak → Sapi

Siklus ini berputar terus-menerus. Tidak ada limbah yang terbuang. Setiap "waste" dari satu unit menjadi "resource" untuk unit lainnya.

Konsep ini dalam dunia akademis disebut Integrated Farming System (IFS). Universitas Brawijaya bahkan secara aktif mempromosikan model zero waste integrated farming ini ke pemerintah daerah di Indonesia. Menurut riset yang dipublikasikan, model pertanian terpadu ini bisa menghasilkan 4F: fuel (bahan bakar), fertilizer (pupuk), feed (pakan ternak), dan food (makanan) dari satu ekosistem yang sama.

Kenapa Model Ini Secara Bisnis Sangat Kuat

Mari kita bedah dari perspektif bisnis, bukan pertanian.

1. Efisiensi Biaya Melalui Siklus Tertutup

Dalam bisnis apa pun, dua pos pengeluaran terbesar biasanya adalah bahan baku dan tenaga kerja. IBS Farm memangkas pos bahan baku secara struktural.

Pupuk untuk 350 hektar nanas? Diproduksi sendiri dari kotoran sapi. Pakan untuk 700 sapi? Sebagian besar dari limbah nanas. Yang masih perlu dibeli dari luar tentu ada, tapi porsinya jauh lebih kecil dibanding peternakan atau perkebunan yang berdiri sendiri.

Ini bukan sekadar "hemat". Ini adalah keunggulan kompetitif struktural. Pesaing yang menjalankan peternakan saja atau perkebunan saja harus menanggung biaya penuh untuk bahan baku mereka. IBS Farm tidak.

2. Diversifikasi Revenue yang Saling Melindungi

IBS Farm tidak hanya menjual sapi. Mereka juga menjual nanas segar, produk olahan (susu murni mulai Rp2.500, sari nanas murni tanpa gula tanpa pengawet), dan bahkan bergerak di sektor properti melalui Irfai Group.

Kalau harga sapi turun, masih ada revenue dari nanas dan produk olahan. Kalau panen nanas kurang bagus, peternakan tetap berjalan. Ini prinsip diversifikasi yang sederhana tapi sering diabaikan.

Baca juga: Business Model Canvas: Panduan Lengkap untuk Startup Indonesia

3. Trust Building Sampai Level Kepresidenan

Salah satu indikator kredibilitas bisnis yang paling kuat adalah siapa klien Anda. IBS Farm berhasil menjadi penyedia sapi kurban untuk Presiden Prabowo, sapi PO 893 kg senilai sekitar Rp100 juta.

Ini bukan kebetulan. Untuk bisa menjadi supplier di level itu, ada standar kualitas, kesehatan ternak, dan reputasi yang harus dipenuhi. Bupati Kediri sendiri bahkan membeli 4 sapi Limosin dari IBS Farm untuk kurban.

Pelajarannya: kualitas produk yang konsisten pada akhirnya membangun reputasi yang membuka pintu ke klien-klien premium. Dan klien premium ini menjadi validasi yang menarik klien-klien lainnya.

4. CSR Sebagai Bagian dari Model Bisnis

IBS Farm tidak memperlakukan CSR sebagai kewajiban atau sekadar "pencitraan". Mereka menjadikannya bagian integral dari operasi bisnis:

  • 1,5 ton beras per bulan didistribusikan untuk warga sekitar
  • Sarapan gratis setiap Jumat di 4 kota
  • Membiayai pengobatan warga yang membutuhkan

Dalam konteks bisnis di daerah, CSR seperti ini menciptakan social capital yang sangat berharga. Warga menjadi pendukung, bukan penentang. Perizinan lebih mudah. Tenaga kerja lokal loyal. Hubungan dengan pemerintah daerah terjaga baik.

Ini bukan idealisme. Ini strategi bisnis yang sangat pragmatis.

Rencana Ekspansi: Impor 1.000 Sapi Perah dari Australia

IBS Farm tidak berhenti di skala saat ini. Mereka sedang merencanakan impor 1.000 sapi perah dari Australia, dengan fase pertama 500 ekor (100 ekor sudah dalam proses karantina).

Langkah ini menunjukkan dua hal penting:

Pertama, diversifikasi produk. Dari sapi potong ke sapi perah berarti menambah lini produk susu. Dengan 350 hektar lahan dan infrastruktur peternakan yang sudah ada, biaya tambahan untuk mengakomodasi sapi perah relatif lebih efisien dibanding membangun dari nol.

Kedua, dukungan pemerintah. BangsaOnline melaporkan bahwa Bupati Kediri secara aktif mendukung investasi sapi perah IBS Farm. Ini menunjukkan bahwa track record mereka sudah cukup kuat untuk mendapatkan dukungan institusional.

Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan ekspansi bisnis, pelajaran dari IBS Farm jelas: ekspansi yang paling efisien adalah yang memanfaatkan infrastruktur dan ekosistem yang sudah ada.

Baca juga: Framework Ekspansi Bisnis: Sinyal Siap Buka Cabang

Pelajaran untuk Bisnis Anda (di Sektor Apa Pun)

Anda mungkin berpikir, "Saya bukan peternak, apa relevansinya?" Relevansinya ada di prinsip-prinsipnya.

Prinsip 1: Identifikasi "Limbah" di Bisnis Anda

Setiap bisnis menghasilkan "limbah" yang sebenarnya bisa menjadi input untuk proses lain.

Restoran menghasilkan minyak jelantah? Bisa dijual ke produsen biodiesel. Konten marketing yang sudah usang? Bisa di-repurpose menjadi ebook atau materi training. Data pelanggan yang tidak terpakai di satu divisi? Bisa menjadi insight berharga untuk divisi lain.

Tanyakan pada diri sendiri: apa yang selama ini Anda buang atau abaikan, yang sebenarnya bisa menghasilkan nilai?

Prinsip 2: Bangun Ekosistem, Bukan Silo

IBS Farm tidak menjalankan peternakan dan perkebunan sebagai dua bisnis terpisah. Mereka merancangnya sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan.

Prinsip yang sama bisa diterapkan di bisnis Anda. Kalau Anda punya toko online dan toko offline, jangan jalankan sebagai dua entitas terpisah. Traffic online bisa mendorong kunjungan offline, dan pengalaman offline bisa mendorong review online.

Baca juga: Supply Chain Startup Indonesia: Strategi dan Tantangan

Prinsip 3: Scaling Tidak Membutuhkan Gelar

Muhammad Rofiq adalah lulusan SMP. Tapi dia memahami prinsip efisiensi, diversifikasi, dan pembangunan reputasi lebih baik dari banyak lulusan MBA.

Yang membedakan bukan pendidikan formal, tapi kemampuan untuk melihat peluang dalam masalah, dan keberanian untuk mengeksekusi dalam skala yang terus membesar.

Kalau Anda merasa latar belakang pendidikan Anda "kurang", ingat bahwa pasar tidak pernah bertanya soal ijazah. Pasar hanya bertanya: apakah Anda bisa memberikan nilai?

Prinsip 4: CSR yang Menghasilkan ROI

Jangan anggap CSR sebagai pengeluaran tanpa return. Kalau dirancang dengan benar, CSR justru menghasilkan social capital yang bernilai tinggi.

1,5 ton beras per bulan mungkin terdengar mahal. Tapi dukungan komunitas lokal, kelancaran perizinan, loyalitas karyawan, dan reputasi di mata pemerintah daerah? Nilainya jauh melebihi biaya beras tersebut.

Yang Bisa Anda Mulai Sekarang

Anda tidak perlu memiliki 700 sapi untuk menerapkan prinsip integrated farming dalam bisnis Anda. Mulailah dari langkah sederhana:

  1. Audit "limbah" bisnis Anda. Apa saja output yang selama ini tidak dimanfaatkan? Data, konten, material sisa, waktu kosong karyawan?
  2. Cari koneksi antar-unit. Kalau bisnis Anda punya beberapa lini atau divisi, di mana output satu divisi bisa menjadi input divisi lain?
  3. Hitung biaya yang bisa dipangkas. Berapa banyak yang bisa Anda hemat kalau "limbah" internal bisa menggantikan bahan baku yang selama ini dibeli dari luar?

Kalau Anda ingin mendalami cara membangun sistem bisnis yang efisien dan saling terintegrasi, program mentoring di bos.founderplus.id membahas framework operational efficiency yang bisa langsung diterapkan di bisnis Anda. 15 sesi selama 2 bulan, fokus pada membangun sistem yang bekerja untuk bisnis Anda, bukan sebaliknya.

Atau jika Anda ingin mulai dari pemahaman dasar tentang business model dan strategi, academy.founderplus.id menyediakan 52 courses dengan harga mulai Rp18.000 yang bisa Anda akses kapan saja.

FAQ

Apa itu integrated farming dan kenapa relevan untuk UKM?

Integrated farming adalah sistem pertanian terpadu yang menggabungkan beberapa unit usaha (misalnya peternakan dan perkebunan) sehingga limbah dari satu unit menjadi input untuk unit lainnya. Relevan untuk UKM karena prinsip efisiensi siklus tertutup ini bisa diadaptasi di berbagai skala bisnis, bukan hanya pertanian.

Bagaimana model zero waste IBS Farm bekerja?

Kotoran sapi diolah menjadi pupuk organik cair untuk kebun nanas. Sebaliknya, limbah panen nanas (daun, batang, kulit) diolah menjadi pakan ternak sapi. Siklus ini mengurangi biaya produksi di kedua sisi sekaligus menghilangkan limbah.

Berapa biaya operasional IBS Farm per bulan?

Berdasarkan data yang beredar, biaya operasional IBS Farm untuk pakan dan gaji karyawan mencapai sekitar Rp600 juta per bulan. Angka ini mencerminkan skala operasi yang besar dengan 700 ekor sapi dan 350 hektar lahan.

Apakah model bisnis IBS Farm bisa ditiru skala kecil?

Prinsipnya bisa diadaptasi. Peternak skala kecil dengan 10-20 ekor sapi pun bisa menerapkan siklus limbah-pupuk-pakan dalam skala yang lebih sederhana. Kuncinya adalah mengidentifikasi limbah dari satu proses yang bisa menjadi bahan baku proses lainnya.

Apa hubungan IBS Farm dengan Irfai Group?

IBS Farm adalah unit usaha peternakan dan perkebunan di bawah Irfai Group. Irfai Group sendiri adalah grup bisnis yang bergerak di beberapa sektor termasuk properti, peternakan dan perkebunan, serta farmasi, semuanya dikelola oleh Muhammad Rofiq.


Sumber:

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang