Hal-Hal Mental yang Jarang Dibahas Saat Orang Bilang “Yuk, Bangun Bisnis”

Published on: Tuesday, Jan 20, 2026 • Updated: Tuesday, Jan 20, 2026

Hal-Hal Mental yang Jarang Dibahas Saat Orang Bilang “Yuk, Bangun Bisnis”

Kalau bicara soal bangun bisnis, obrolannya hampir selalu berputar di satu tempat: modal, peluang pasar, dan gimana caranya cepat cuan. Ada juga yang fokus ke strategi scaling, pitch deck, sampai growth hacking. Semua terdengar logis dan masuk akal. 

 

Tapi ada satu hal yang jarang benar-benar dibahas sejak awal: kesiapan mental orang yang menjalankannya. Padahal, seiring bisnis berjalan, justru bagian inilah yang paling sering diuji. Bukan cuma soal tahan banting atau pantang menyerah, tapi soal emosi, tekanan, dan perasaan-perasaan yang sering tidak punya ruang untuk dibicarakan. 

 

Di balik cerita sukses dan angka pertumbuhan, ada realita mental yang hampir selalu dialami founder, namun jarang diangkat ke permukaan. 


1. Kesepian di Tengah Banyak Orang

 

Salah satu mental yang paling jarang dibicarakan adalah rasa kesepian. Padahal, banyak founder mengalaminya. Ironisnya, kesepian ini sering muncul justru ketika seorang founder dikelilingi oleh tim, partner, atau klien. 

 

Sebagai pemimpin, tidak semua keresahan bisa dibagikan ke tim. Ada kekhawatiran yang harus disimpan sendiri agar tidak menular menjadi kecemasan kolektif. Ada keputusan berat yang tidak bisa dibicarakan ke siapa pun. Di titik ini, posisi sebagai founder membuat seseorang harus terlihat “baik-baik saja”, meski di dalamnya penuh tekanan. 

 

Topik ini jarang muncul di artikel mental bisnis yang cenderung fokus pada ketangguhan dan daya juang, bukan pada konsekuensi emosional dari posisi kepemimpinan itu sendiri. 

 

2. Harus Tetap Memutuskan Meski Tidak Yakin

 

Di banyak artikel bisnis, pengambilan keputusan sering digambarkan sebagai proses rasional: kumpulkan data, analisis, lalu tentukan langkah terbaik. Kenyataannya, dunia bisnis jarang sesederhana itu. 

 

Founder sering kali harus mengambil keputusan ketika data tidak lengkap, kondisi pasar berubah cepat, dan waktu terus menekan. Beban mentalnya bukan hanya soal takut salah, tetapi soal bertanggung jawab atas dampak keputusan tersebut terhadap orang lain—tim, mitra, bahkan keluarga. 

 

Artikel tentang mental pengusaha umumnya mendorong kepercayaan diri dan keberanian. Namun, jarang membahas tekanan psikologis ketika founder harus berkata, “kita ambil jalan ini,” tanpa benar-benar yakin hasil akhirnya. 

 

  1. 3. Rasa Takut yang Tidak Pernah Dibicarakan 

 

Rasa takut adalah emosi yang paling sering disembunyikan oleh founder. Takut gagal, takut mengecewakan tim, takut kehilangan kepercayaan investor, atau bahkan takut mengakui bahwa strategi yang dijalankan tidak berhasil. 

 

Dalam banyak konten bisnis, rasa takut sering diposisikan sebagai sesuatu yang harus “dikalahkan”. Padahal, dalam praktiknya, rasa takut itu tidak selalu hilang. Ia tetap ada, hanya saja dipendam dan dijalani bersamaan dengan tanggung jawab. 

 

Jurnal.id memang menyinggung pentingnya menjaga kesehatan mental, tetapi pembahasan tentang tabu emosional founder, bahwa takut adalah bagian dari proses dan masih jarang diangkat secara jujur. 

 

  1. 4. Ketika Rencana Tidak Berjalan Seperti yang Dibayangkan 

 

Tidak semua fase bisnis adalah fase bertumbuh. Ada fase bertahan. Ada masa ketika semua strategi sudah disiapkan, tapi hasilnya tetap jauh dari harapan. Di fase ini, mental founder diuji bukan oleh ambisi, melainkan oleh kelelahan. 

 

Banyak artikel bisnis fokus pada bagaimana cara scale up, mempercepat pertumbuhan, dan mengejar peluang. Padahal, secara mental, fase stagnan atau penurunan sering kali jauh lebih berat. Founder harus tetap hadir, tetap memimpin, sambil memproses kekecewaan yang tidak bisa ditunjukkan secara terbuka. 

 

  1. 5. Terjebak Di Zona Abu-abu 

 

Sabar, disiplin, dan optimis sering disebut sebagai mental wajib pengusaha. Namun dalam praktiknya, sifat-sifat ini bisa berubah menjadi pedang bermata dua. Terlalu sabar bisa membuat founder menahan beban sendirian. Disiplin bisa bergeser menjadi overwork. Optimisme bisa berubah menjadi penyangkalan terhadap masalah nyata. 

 

Memahami bahwa mental ideal tidak selalu sama dengan mental yang sehat adalah langkah penting. Di sinilah gap besar dari banyak artikel bisnis: jarang ada ruang untuk membahas sisi abu-abu dari mental founder. 

 

Pelajaran Penting Dibaliknya

 

Membicarakan mental yang jarang diomongkan bukan berarti melemahkan citra founder. Justru sebaliknya. Mengakui bahwa membangun bisnis juga berarti berhadapan dengan kesepian, ketakutan, ketidakpastian, dan fase bertahan adalah bentuk kesiapan yang lebih jujur. 

 

Bisnis bukan hanya soal strategi dan angka, tapi juga tentang bagaimana seseorang membangun fondasi mental yang cukup kuat untuk menjalaninya dalam jangka panjang. Bukan untuk menghilangkan tekanan, tapi untuk tahu cara mengelolanya. 

 

Kalau kamu ingin membangun fondasi itu sejak awal, Founderplus Academy menghadirkan EntrepreneurMindset Course yang membahas pembentukan mental founder secara praktis dan relevan. 

 

Semua dibahas dengan pendekatan yang ringan, dekat dengan realita, dan bisa langsung kamu latih lewat kehidupan sehari-hari. 

kamu bisa pelajari semuanya di sini. 

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang
Details