3 Perusahaan yang sukses dengan Bootstrapping
Banyak perusahaan terbesar di dunia saat ini memulai bisnis mereka dengan sumber daya terbatas dan tanpa pendanaan dari luar. meskipun begitu ada beberapa diant …
The Tenth Man Rule atau "aturan orang kesepuluh" adalah sebuah decision making rule yang lahir dari kegagalan strategi—terutama kegagalan membaca ancaman dan blind spot. Intinya sederhana: tim kalah bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka terlalu yakin semua orang sudah sepakat bahwa mereka benar.
The Tenth Man Rule | Gambar: Themindcollection.com
Gagasan ini dipopulerkan lagi dalam buku “Why Dissent Matters,” sebagai cara praktis mencegah groupthink: situasi berbahaya di mana semua orang dalam tim mengangguk, tidak ada yang berani mempertanyakan, dan keputusan tetap jalan meskipun ada sinyal merah besar di depan.
Aturannya begini:
Kalau dalam satu kelompok ada sepuluh orang, dan sembilan orang setuju untuk ambil satu keputusan… maka orang ke-10 HARUS ambil posisi sebaliknya.
Bukan “boleh”, bukan “kalau mood”. Wajib.
Tugas orang ke-10:
Kenapa perlu dipaksa kayak gitu? Karena secara psikologi tim, orang jarang mau jadi “si negatif” di ruang meeting. Apalagi kalau ruangan isinya founder, direktur, investor. The Tenth Man Rule bikin peran itu jadi role resmi, bukan pembangkangan. Ini mirip konsep pre-mortem yang sering dipakai sebagai decision-making rule yang efektif untuk melihat blindspot keputusanmu (/decision-making-rule-yang-efektif-untuk-melihat-blindspot-keputusanmu).
Dalam konteks operasional, strategi, fundraising, hiring, sampai product launch, The Tenth Man Rule kasih tiga efek penting:
Orang ke-10 berfungsi sebagai radar risiko internal.
Contohnya:
Sisi brutalnya: orang ke-10 tugasnya bukan bikin semua orang nyaman. Tugasnya bikin semua blind spot kelihatan sebelum itu jadi kerugian nyata.
Ini yang sering orang salah paham.
The Tenth Man Rule bukan cuma “nyari celah salah”. Dia juga memaksa tim untuk buka opsi baru.
Contoh:
Dissent dipakai sebagai alat eksplorasi jalur alternatif, bukan cuma alat nge-rem.
Budaya kerja yang sehat = orang aman buat speak up.
Kalau dissent dianggap ancaman, tim bakal yes-man. Kalau dissent dianggap peran resmi, tim jadi dewasa: boleh beda pendapat, tapi setelah keputusan diambil semua tetap komit eksekusi (disagree and commit).
Ini nyambung banget sama pondasi budaya kerja yang berfungsi di tim yang performanya tinggi — misalnya pola “radikal kejujuran, ekspektasi tinggi, dan tanggung jawab individu” yang sering jadi dasar saat perusahaan ingin punya budaya kerja yang efektif (/bagaimana-pondasi-netlix-membangun-budaya-kerja-yang-efektif).
Pakai untuk keputusan berdampak (strategi, hiring kunci, pricing, pendanaan, product bet besar). Skip untuk keputusan kecil/operasional harian (pilih font deck, atur snack, dsb).
The Tenth Man Rule bukan soal jadi “si negatif”. Ini adalah mekanisme tim untuk:
Kalau sembilan orang sudah setuju, pastikan ada satu orang yang resmi bertugas untuk tidak setuju—demi keputusan yang tahan banting di realitas bisnis.
Banyak perusahaan terbesar di dunia saat ini memulai bisnis mereka dengan sumber daya terbatas dan tanpa pendanaan dari luar. meskipun begitu ada beberapa diant …
Sumber: Charlie Munger (kiri) bersama Warren Buffett (kanan) dalam sesi diskusi strategi bisnis dan investasi di pertemu …
Sumber: Ilustrasi Penggunaan ChatGPT / inilah.comBanyak tim marketing terlihat sangat aktif setiap harinya, dimulai dari kalender dipenuhi meeting brainstorming …
Sumber: Freepick / rawpixel.comSetiap hari, ribuan produk baru diluncurkan ke pasar digital. Sebagian lahir dari ide yang matang, tim yang solid, dan teknologi …
Konsultasi dan integrasi AI bersama praktisi: dari audit, implementasi AI agent dan otomasi, sampai adopsi tim. Mulai dari sesi diagnostic AI gratis 60 menit.
Konsultasi AI via WhatsApp