Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Apa Itu ROA dan ROE? Perbedaan dan Cara Hitung untuk Founder

Published on: Saturday, May 23, 2026 By Tim Founderplus

Anda baru saja melihat laporan keuangan akhir tahun. Laba bersih Rp60 juta. Apakah itu bagus? Jawaban jujurnya: tergantung. Rp60 juta dari bisnis dengan aset Rp4 miliar sangat berbeda maknanya dibanding Rp60 juta dari bisnis dengan aset Rp200 juta.

Di sinilah ROA dan ROE masuk. Dua rasio ini membantu Anda mengukur bukan hanya berapa besar laba, tapi seberapa efisien Anda menghasilkan laba itu dari sumber daya yang ada.

Artikel ini menjelaskan kedua rasio dengan bahasa sederhana, contoh angka Rupiah nyata, dan benchmark yang relevan untuk bisnis di Indonesia. Jika Anda ingin memahami konteks lebih luas tentang manajemen keuangan startup, artikel pillar kami bisa jadi titik awal.

ROA: Seberapa Produktif Seluruh Aset Anda?

ROA = Net Income / Total Assets

ROA (Return on Assets) menjawab pertanyaan: dari setiap Rupiah aset yang bisnis Anda miliki, berapa Rupiah laba yang dihasilkan?

Aset di sini mencakup semuanya. Kas di bank, piutang, stok barang, mesin, kendaraan, properti. Semua yang tercatat di sisi kiri neraca.

Kalau ROA Anda 15%, artinya setiap Rp100 aset menghasilkan Rp15 laba bersih. Semakin tinggi ROA, semakin produktif aset Anda.

ROA sangat berguna untuk mengevaluasi apakah investasi aset yang Anda lakukan memang memberikan hasil. Beli mesin baru Rp200 juta tapi ROA turun? Berarti mesin itu belum menghasilkan sesuai harapan.

ROE: Seberapa Produktif Modal Pemilik?

ROE = Net Income / Shareholders' Equity

ROE (Return on Equity) menjawab pertanyaan berbeda: dari setiap Rupiah modal yang Anda sebagai pemilik tanamkan, berapa Rupiah laba yang dihasilkan?

Equity di sini hanya modal pemilik, yaitu Total Aset dikurangi Total Utang. Ini bisa dilihat di bagian bawah neraca pada seksi ekuitas.

Kalau ROE Anda 24%, artinya setiap Rp100 modal pemilik menghasilkan Rp24 laba. Angka ini selalu lebih tinggi dari ROA kalau bisnis Anda punya utang, karena denominator (equity) lebih kecil dari total assets.

Contoh Nyata: Bakso Pak Joko

Mari kita pakai satu bisnis untuk menghitung keduanya.

Bakso Pak Joko punya data keuangan akhir tahun sebagai berikut:

Komponen Nilai
Laba Bersih (Net Income) Rp60.000.000
Total Aset Rp400.000.000
Total Utang Rp150.000.000
Ekuitas Pemilik Rp250.000.000

Sekarang hitung:

ROA = Rp60 juta / Rp400 juta = 0,15 = 15%

Artinya setiap Rp100 aset yang dimiliki Bakso Pak Joko (gerobak, stok daging, freezer, kas) menghasilkan Rp15 laba bersih. Untuk bisnis F&B, ini angka yang sangat sehat.

ROE = Rp60 juta / Rp250 juta = 0,24 = 24%

Artinya setiap Rp100 modal milik Pak Joko sendiri menghasilkan Rp24 laba bersih. ROE lebih tinggi dari ROA karena sebagian aset dibiayai utang (Rp150 juta).

Koneksi ROA dan ROE: Equity Multiplier

ROA dan ROE bukan dua angka yang terpisah. Keduanya terhubung lewat satu faktor: equity multiplier.

ROE = ROA x Equity Multiplier

Equity multiplier = Total Assets / Shareholders' Equity.

Untuk Bakso Pak Joko: Rp400 juta / Rp250 juta = 1,6.

Cek: ROE = 15% x 1,6 = 24%. Cocok.

Equity multiplier ini pada dasarnya mengukur leverage. Semakin besar utang relatif terhadap modal, semakin besar multiplier, dan semakin tinggi ROE dibanding ROA.

Ini pedang bermata dua. Utang bisa "mendongkrak" ROE sehingga terlihat bagus, padahal bisnis sebenarnya bergantung pada leverage. Untuk memahami lebih dalam tentang metrik profitabilitas, pastikan Anda tidak hanya melihat satu angka.

Kapan Pakai ROA, Kapan Pakai ROE?

Situasi Gunakan Alasan
Evaluasi efisiensi operasional ROA Mengukur produktivitas semua sumber daya, tanpa distorsi leverage
Bandingkan bisnis di industri sama ROA Menghilangkan perbedaan struktur modal
Evaluasi return untuk pemilik ROE Fokus pada apa yang pemilik dapatkan dari modalnya
Pitching ke investor ROE Investor ingin tahu return atas equity yang mereka tanamkan
Bisnis tanpa utang Keduanya sama Kalau tidak ada utang, equity = total assets, jadi ROA = ROE
Bisnis dengan utang besar Keduanya Bandingkan ROA vs ROE untuk memahami efek leverage

Sebagai aturan praktis: selalu lihat keduanya bersamaan. ROA tanpa ROE tidak lengkap. ROE tanpa ROA bisa menyesatkan.

Benchmark: Berapa Angka yang "Bagus"?

Benchmark Global per Industri

Industri ROA ROE
Software/SaaS 7-15% 15-36%
Retail 3-8% 12-26%
Manufaktur 4-8% 10-20%
Perbankan 1-2% 8-15%
F&B 5-10% 12-22%

Kenapa perbankan punya ROA sangat rendah tapi ROE lumayan? Karena bank beroperasi dengan leverage sangat tinggi. Aset bank sebagian besar adalah uang nasabah (utang bagi bank), bukan modal sendiri. Jadi equity multiplier-nya besar.

Benchmark Indonesia

Data dari IDX (Bursa Efek Indonesia) memberikan gambaran untuk perusahaan publik:

Metrik Angka
Median ROE perusahaan IDX 7,35%
ROE sektor farmasi 9,28%
ROE sektor perbankan 10-14%
ROE sektor consumer goods 12-18%

Untuk UKM yang tidak listed di bursa, angka ROE yang realistis dan sehat berkisar 15-25%. Jika bisnis Anda menghasilkan ROE di atas 20% secara konsisten, Anda sudah berada di teritori yang akan menarik perhatian investor manapun.

Warren Buffett dan Filter ROE

Warren Buffett terkenal dengan filter investasinya: cari perusahaan dengan ROE konsisten di atas 20% selama minimal 5-10 tahun.

Logikanya sederhana. ROE tinggi yang konsisten menunjukkan bahwa bisnis punya keunggulan kompetitif yang bertahan lama (durable competitive advantage). Bisnis yang ROE-nya naik turun drastis biasanya bergantung pada kondisi pasar, bukan kekuatan internal.

Untuk Anda sebagai founder, prinsip yang sama berlaku. Jangan hanya bangga dengan ROE tinggi di satu tahun. Tanyakan: apakah angka ini bisa Anda pertahankan atau tingkatkan di tahun-tahun berikutnya? Kalau jawabannya ya, Anda sedang membangun bisnis yang bernilai.

Ini juga relevan jika suatu saat Anda ingin menjual bisnis atau mencari investor. Untuk memahami bagaimana ROE mempengaruhi valuasi startup, lihat panduan kami tentang metode valuasi.

4 Kesalahan Umum Saat Menggunakan ROA dan ROE

1. Pakai Angka Akhir Periode, Bukan Rata-rata

Banyak founder menghitung ROA dengan Total Assets di akhir tahun saja. Masalahnya, jika Anda beli aset besar di bulan Desember, angka Total Assets membengkak padahal aset itu belum berkontribusi ke laba.

Yang lebih akurat: gunakan rata-rata aset, yaitu (Total Assets awal + Total Assets akhir) / 2. Hal yang sama berlaku untuk equity saat menghitung ROE.

2. Mengabaikan Leverage dalam ROE

ROE 40% terdengar luar biasa. Tapi kalau dicapai karena utang Anda 5x lipat dari modal sendiri, itu bukan efisiensi, itu risiko. Selalu cek equity multiplier.

Kalau ROA hanya 5% tapi ROE 40%, artinya multiplier Anda 8x. Satu guncangan ekonomi bisa membuat bisnis yang leverage-heavy ini kolaps. Bandingkan selalu ROA dan ROE secara berpasangan.

3. Membandingkan Lintas Industri

ROA 5% di industri perbankan itu luar biasa. ROA 5% di industri software itu mengkhawatirkan. Setiap industri punya karakteristik aset dan modal yang berbeda.

Bandingkan ROA dan ROE Anda hanya dengan bisnis sejenis, idealnya di pasar yang sama. Benchmark global bisa jadi referensi, tapi konteks lokal tetap yang utama.

4. Menyamakan ROA/ROE dengan Cash Return

ROA dan ROE dihitung dari laba bersih, bukan arus kas. Bisnis dengan ROE 20% bisa saja punya cashflow negatif kalau labanya masih tertahan di piutang yang belum dibayar pelanggan.

Jangan mengandalkan ROA/ROE saja untuk menilai kesehatan bisnis. Selalu pasangkan dengan analisis arus kas. Laba di atas kertas tidak berguna kalau kas di rekening kosong.

Cara Praktis Meningkatkan ROA dan ROE

Meningkatkan ROA:

  • Naikkan laba tanpa menambah aset (efisiensi operasional)
  • Jual atau lepas aset yang tidak produktif
  • Optimasi inventory turnover agar stok tidak menumpuk
  • Percepat penagihan piutang

Meningkatkan ROE:

  • Semua cara meningkatkan ROA juga meningkatkan ROE
  • Gunakan leverage secara bijak (tambah utang produktif yang returnnya lebih tinggi dari biaya bunga)
  • Kurangi modal yang menganggur (jangan over-capitalize)
  • Tingkatkan profit margin

Kuncinya tetap sama: fokus pada efisiensi. Menghasilkan lebih banyak dari sumber daya yang lebih sedikit.

FAQ

Apa perbedaan utama antara ROA dan ROE?

ROA mengukur seberapa efisien bisnis menggunakan seluruh asetnya untuk menghasilkan laba, dengan formula Net Income dibagi Total Assets. ROE mengukur seberapa efisien bisnis menggunakan modal pemilik saja, dengan formula Net Income dibagi Shareholders Equity. ROE selalu lebih tinggi dari ROA jika bisnis punya utang, karena equity lebih kecil dari total assets.

Berapa ROA dan ROE yang bagus untuk UKM di Indonesia?

Untuk UKM Indonesia, ROA di atas 10% dan ROE di atas 15% umumnya dianggap sehat. Tapi ini sangat bergantung industri. Bisnis jasa dengan aset ringan bisa punya ROA 15-25%, sementara manufaktur yang padat aset mungkin hanya 5-8%. Yang penting bukan angka absolutnya, tapi tren dari tahun ke tahun dan perbandingan dengan kompetitor di industri yang sama.

Kenapa ROE yang sangat tinggi bisa jadi tanda bahaya?

ROE yang sangat tinggi bisa disebabkan oleh leverage (utang) yang besar, bukan efisiensi operasional. Kalau equity kecil karena utang mendominasi, ROE akan terlihat tinggi meskipun bisnis sebenarnya rapuh. Selalu periksa ROA bersamaan dengan ROE. Jika ROA rendah tapi ROE tinggi, artinya leverage yang mendongkrak angka, bukan kinerja operasional.

Apa itu equity multiplier dan hubungannya dengan ROA dan ROE?

Equity multiplier adalah Total Assets dibagi Shareholders Equity. Ini mengukur seberapa besar aset dibiayai oleh utang vs modal sendiri. Koneksi pentingnya: ROE = ROA x Equity Multiplier. Jadi ROE selalu merupakan ROA yang diperbesar oleh faktor leverage. Semakin besar utang, semakin besar multiplier, semakin tinggi ROE relatif terhadap ROA.

Apakah ROA dan ROE bisa digunakan untuk bisnis yang baru berdiri?

Bisa, tapi dengan catatan. Bisnis baru biasanya punya ROA dan ROE negatif karena belum profit. Yang lebih berguna adalah melihat tren perbaikan dari kuartal ke kuartal. Jika ROA bergerak dari minus 20% ke minus 5% dalam setahun, itu sinyal positif bahwa bisnis menuju profitabilitas. Jangan bandingkan ROA/ROE bisnis baru dengan bisnis yang sudah mature.


Mau belajar lebih dalam soal keuangan bisnis? Founderplus Academy punya kursus Financial Statements Practice for Beginners yang membahas fondasi laporan keuangan untuk non-finance. Mulai dari Rp56.250 di academy.founderplus.id.

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang