Founderplus
Tentang Kami
Business & Finance

Apa Itu Retained Earnings? Hubungannya dengan Pertumbuhan Bisnis

Published on: Thursday, May 21, 2026 By Tim Founderplus

Setiap akhir tahun, Anda melihat laba bersih bisnis di laporan keuangan. Lalu timbul pertanyaan: uang ini sebaiknya ditarik untuk kebutuhan pribadi, atau dibiarkan di dalam bisnis?

Jawaban atas pertanyaan itu menentukan angka retained earnings Anda. Dan angka ini, meskipun sering diabaikan oleh founder UKM, ternyata punya pengaruh besar terhadap kemampuan bisnis Anda untuk bertumbuh tanpa utang.

Artikel ini menjelaskan apa itu retained earnings, bagaimana cara menghitungnya, di mana posisinya di neraca, dan kenapa Anda harus mulai memperhatikannya sekarang. Jika Anda belum familiar dengan dasar manajemen keuangan startup, sebaiknya baca artikel pillar itu terlebih dahulu.

Definisi Sederhana Retained Earnings

Retained earnings adalah laba yang tidak ditarik oleh pemilik dan tetap tersimpan di dalam bisnis. Istilah Indonesianya: laba ditahan.

Bayangkan begini. Bisnis Anda menghasilkan laba bersih Rp50 juta tahun ini. Anda mengambil Rp10 juta untuk kebutuhan pribadi (ini disebut prive). Sisa Rp40 juta yang tidak diambil itulah retained earnings.

Laba ditahan ini bukan uang yang menganggur. Biasanya sudah "bekerja" dalam bisnis, entah dalam bentuk stok barang, peralatan baru, atau saldo kas yang siap digunakan untuk ekspansi.

Formula Retained Earnings

Rumusnya sangat sederhana dan hanya punya tiga komponen:

RE Akhir Periode = RE Awal Periode + Laba Bersih - Dividen/Prive

RE Awal adalah saldo laba ditahan dari periode sebelumnya. Laba Bersih adalah profit setelah semua biaya dan pajak. Dividen atau Prive adalah uang yang ditarik keluar oleh pemilik.

Kalau bisnis Anda rugi, maka laba bersih menjadi angka negatif. Artinya retained earnings akan berkurang. Sederhana, tapi implikasinya besar.

Contoh Perhitungan Dua Tahun

Mari kita pakai contoh bisnis kuliner "Dapur Sari" yang baru berdiri.

Tahun Pertama

Dapur Sari baru buka, jadi RE awal adalah Rp0. Di akhir tahun pertama, laba bersih Rp50 juta. Pemilik mengambil prive Rp10 juta.

Komponen Nilai
RE Awal Rp0
+ Laba Bersih Rp50.000.000
- Prive Rp10.000.000
= RE Akhir Rp40.000.000

Jadi di akhir tahun pertama, Dapur Sari punya laba ditahan Rp40 juta. Uang ini bisa digunakan untuk beli peralatan baru, tambah stok bahan baku, atau dijadikan buffer kas.

Tahun Kedua

Bisnis makin ramai. Laba bersih naik jadi Rp80 juta. Tapi pemilik juga butuh lebih banyak, jadi prive naik ke Rp35 juta.

Komponen Nilai
RE Awal Rp40.000.000
+ Laba Bersih Rp80.000.000
- Prive Rp35.000.000
= RE Akhir Rp85.000.000

Dalam dua tahun, Dapur Sari sudah mengakumulasi Rp85 juta laba ditahan. Ini adalah modal internal yang bisa digunakan tanpa harus pinjam ke bank atau cari investor.

Posisi Retained Earnings di Neraca

Kalau Anda membuka balance sheet (neraca), retained earnings ada di bagian Ekuitas. Tepatnya, di bawah modal disetor.

Struktur ekuitas di neraca biasanya terlihat seperti ini:

Komponen Ekuitas Nilai
Modal Disetor Rp100.000.000
Laba Ditahan (Retained Earnings) Rp85.000.000
Total Ekuitas Rp185.000.000

Modal disetor adalah uang yang Anda masukkan saat pertama kali mendirikan bisnis. Retained earnings adalah akumulasi laba yang tidak ditarik selama bisnis berjalan. Keduanya bersama membentuk total ekuitas, yaitu berapa nilai bisnis ini yang benar-benar milik pemilik.

Untuk memahami bagaimana retained earnings berhubungan dengan laporan keuangan secara keseluruhan, Anda perlu melihat koneksi antara laporan laba rugi dan neraca. Laba bersih dari laporan laba rugi "mengalir" ke retained earnings di neraca setiap akhir periode.

Prive vs Dividen: Apa Bedanya di Indonesia?

Banyak founder bingung antara prive dan dividen. Keduanya sama-sama uang yang ditarik dari bisnis, tapi konteksnya berbeda.

Prive digunakan dalam konteks usaha perseorangan atau CV. Ketika pemilik UD atau CV mengambil uang dari bisnis untuk keperluan pribadi, itu disebut prive. Tidak ada formalitas rapat pemegang saham. Cukup catat di pembukuan.

Dividen digunakan dalam konteks PT (Perseroan Terbatas). Pembagian dividen harus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan ada aturan hukum yang mengatur, termasuk kewajiban menyisihkan dana cadangan minimal 20% dari modal disetor sebelum dividen bisa dibagikan.

Keduanya punya efek yang sama terhadap retained earnings, yaitu menguranginya. Tapi mekanisme dan implikasi pajaknya berbeda.

4 Alasan Retained Earnings Penting untuk Bisnis Anda

1. Self-Funding Growth

Retained earnings adalah sumber pendanaan termurah. Anda tidak perlu bayar bunga seperti pinjaman bank, dan tidak perlu bagi kepemilikan seperti kalau cari investor.

Ketika bisnis Anda ingin buka cabang baru, beli mesin produksi, atau menambah stok menjelang Ramadan, retained earnings yang cukup memungkinkan Anda melakukannya dari kantong sendiri. Ini memberi fleksibilitas dan kecepatan yang tidak bisa ditandingi oleh sumber pendanaan eksternal.

2. Buffer Saat Krisis

Bisnis yang punya retained earnings tinggi punya bantalan saat situasi sulit. Pandemi, kehilangan klien besar, atau kenaikan harga bahan baku bisa ditanggung tanpa harus langsung potong gaji karyawan atau tutup operasional.

Retained earnings yang sehat ibarat "lemak tubuh" bisnis. Tidak enak dilihat saat banyak, tapi menyelamatkan nyawa saat kelaparan.

3. Syarat Pinjaman Bank

Bank melihat retained earnings sebagai sinyal bahwa bisnis Anda menguntungkan dan pemiliknya disiplin mengelola uang. Kalau retained earnings Anda konsisten naik dari tahun ke tahun, bank lebih percaya diri memberikan pinjaman.

Sebaliknya, retained earnings yang negatif atau stagnan membuat bank ragu. Mereka berpikir: kalau pemiliknya saja tidak mau menginvestasikan laba kembali ke bisnis, kenapa kami harus meminjamkan uang?

4. Sinyal Profitabilitas Jangka Panjang

Retained earnings yang terus bertumbuh menunjukkan bahwa bisnis Anda memang menghasilkan laba secara konsisten. Ini bukan hanya penting untuk bank, tapi juga untuk calon partner bisnis, supplier yang memberikan termin pembayaran, dan bahkan karyawan yang ingin tahu apakah perusahaan tempatnya bekerja punya masa depan.

Retained Earnings Negatif: Accumulated Deficit

Ketika total kerugian historis lebih besar dari total laba yang pernah dihasilkan, retained earnings menjadi negatif. Ini disebut accumulated deficit atau defisit akumulasi.

Contoh: startup yang rugi Rp200 juta selama tiga tahun pertama, lalu profit Rp50 juta di tahun keempat, masih punya accumulated deficit Rp150 juta.

Apakah ini selalu buruk? Tidak selalu.

Contoh paling terkenal adalah Apple. Pada tahun 2023, Apple melaporkan retained earnings negatif sebesar -$19,1 miliar. Bukan karena rugi, tapi karena Apple membeli kembali sahamnya sendiri (stock buyback) dalam jumlah sangat besar. Ini adalah keputusan strategis, bukan tanda kebangkrutan.

Untuk UKM Indonesia, konteksnya berbeda. Retained earnings negatif biasanya memang berarti bisnis belum pernah menghasilkan cukup laba untuk menutupi kerugian masa lalu. Ini menjadi tanda peringatan, terutama jika tren defisit terus membesar.

Implikasi Pajak di Indonesia

Banyak founder mengira laba ditahan aman dari pajak karena tidak dibagikan. Kenyataannya, ada aturan yang perlu Anda waspadai.

Berdasarkan UU PPh, laba setelah pajak yang seharusnya dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham tertentu (terutama yang berstatus wajib pajak luar negeri) tetap bisa dikenai pajak meskipun tidak benar-benar dibagikan. Ini dikenal sebagai deemed dividend.

Untuk PT yang seluruh pemegang sahamnya WNI, aturannya berbeda. Namun tetap ada kewajiban PPh Badan atas laba yang dihasilkan, terlepas apakah laba itu dibagikan atau ditahan.

Pesan praktisnya: jangan asumsikan laba ditahan bebas pajak. Konsultasikan dengan akuntan pajak Anda. Yang penting, pastikan Anda memahami bagaimana cashflow management berinteraksi dengan kewajiban pajak, agar tidak kaget saat jatuh tempo.

3 Kesalahan Umum Terkait Retained Earnings

1. Menyamakan Retained Earnings dengan Kas

Ini kesalahan paling sering. Retained earnings Rp85 juta tidak berarti ada Rp85 juta di rekening bank. Laba ditahan bisa sudah berubah bentuk menjadi stok barang, piutang pelanggan, atau mesin produksi.

Untuk tahu berapa kas yang benar-benar Anda punya, lihat laporan arus kas atau saldo bank, bukan retained earnings.

2. Prive Berlebihan Tanpa Perencanaan

Banyak founder UKM memperlakukan bisnis seperti ATM pribadi. Setiap ada uang masuk, langsung ditarik. Akibatnya, retained earnings tidak pernah bertumbuh, dan bisnis tidak punya modal untuk ekspansi.

Solusinya: tetapkan rasio prive yang jelas. Misalnya, maksimal 30-40% dari laba bersih untuk tahun-tahun awal, dan naikkan secara bertahap setelah bisnis punya buffer yang cukup.

3. Tidak Tracking Retained Earnings Sama Sekali

Kalau Anda tidak punya neraca yang rapi, Anda tidak akan tahu berapa retained earnings bisnis Anda. Tanpa angka ini, Anda tidak punya dasar untuk memutuskan kapan boleh ambil prive lebih besar, kapan harus menahan diri, atau kapan saatnya cari pendanaan eksternal.

Minimal, buatlah neraca sederhana setiap akhir tahun. Atau lebih baik lagi, setiap kuartal. Gunakan ini sebagai dasar pengambilan keputusan keuangan.

Cara Praktis Meningkatkan Retained Earnings

Ada dua cara meningkatkan retained earnings: naikkan laba bersih atau kurangi prive/dividen. Tapi mari kita jabarkan lebih spesifik.

Pertama, tingkatkan margin. Cari cara untuk mengurangi HPP tanpa mengorbankan kualitas. Negosiasi ulang dengan supplier, optimasi proses produksi, atau naikkan harga jika value proposition Anda mendukung.

Kedua, kontrol biaya operasional. Audit pengeluaran setiap kuartal. Banyak bisnis bocor di biaya-biaya kecil yang menumpuk: langganan software yang tidak terpakai, overtime yang tidak perlu, atau marketing yang tidak terukur.

Ketiga, disiplin prive. Buat aturan tertulis tentang berapa persen laba yang boleh diambil. Libatkan partner bisnis atau akuntan sebagai pengingat. Ini bukan soal pelit, tapi soal mendahulukan pertumbuhan jangka panjang.

FAQ

Apa perbedaan retained earnings dan kas di rekening?

Retained earnings adalah akumulasi laba yang tidak ditarik pemilik, tercatat di sisi ekuitas neraca. Kas adalah uang tunai di rekening bank, tercatat di sisi aset. Retained earnings bisa saja sudah berubah bentuk menjadi stok barang, mesin, atau piutang. Jadi angka retained earnings tinggi tidak otomatis berarti uang di bank juga banyak.

Apakah retained earnings yang negatif berarti bisnis pasti bangkrut?

Tidak selalu. Retained earnings negatif (accumulated deficit) berarti total kerugian historis lebih besar dari total laba yang pernah diperoleh. Banyak perusahaan besar seperti Apple pernah memiliki retained earnings negatif karena stock buyback masif. Yang perlu diwaspadai adalah jika defisit terus membesar tanpa ada rencana pemulihan.

Bagaimana cara menghitung retained earnings?

Formulanya sederhana: RE Akhir Periode = RE Awal Periode + Laba Bersih - Dividen atau Prive. Misalnya RE awal Rp40 juta, laba bersih Rp80 juta, dan prive Rp35 juta, maka RE akhir adalah Rp85 juta.

Apakah laba ditahan kena pajak di Indonesia?

Ya, ada potensi pajak tambahan. Berdasarkan UU PPh, laba ditahan yang seharusnya dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham tertentu bisa dikenai pajak (deemed dividend). Konsultasikan dengan akuntan pajak Anda untuk memastikan kepatuhan.

Berapa persen laba yang idealnya masuk retained earnings?

Tidak ada angka pasti karena tergantung fase bisnis. Startup tahap awal sebaiknya menahan 70-90% laba untuk pertumbuhan. Bisnis yang sudah stabil biasanya menahan 40-60% dan membagikan sisanya sebagai dividen atau prive. Yang penting, keputusan ini diambil secara sadar, bukan karena lupa atau tidak tahu.


Mau belajar lebih dalam soal keuangan bisnis? Founderplus Academy punya kursus Financial Statements Practice for Beginners yang membahas fondasi laporan keuangan untuk non-finance. Mulai dari Rp56.250 di academy.founderplus.id.

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang